The Fantasia

The Fantasia
Carnival



Keesokan pagi, mereka bertiga berkumpul bersama di tempat latihan dengan perasaan yang campur aduk.


"Mengapa ayah bersikap seperti itu." Seru Azhar yang melamun melihat sebuah mawar.


Gama melirik sedikit kepadanya, "Entahlah, aku baru kali ini melihat ayah marah hingga seperti kemarin."


Dia beranjak pergi duduk disamping Azhar. Sebagai seorang kakak dirinya harus berperan dalam menjaga adiknya, maupun perasaan ataupun mental.


"Ah sudahlah tidak usah memikirkan itu lagi, sekali ayah melarang.. Kita harus mematuhinya." Ucap Rion.


Dia melempar mantra apinya tepat pada sasaran latihan.


"Kondisiku sedang prima. Gama, kau harus latih tanding melawanku sekarang."


Ajak Rion dengan pose kuda-kuda yang siap serta lengan yang di ayun menyerupai cakar beruang, tersenyum tipis. Merasa ia sudah melakukan pose terbaik sepanjang hidupnya.


Gama melepaskan sebuah energi sihir yang cukup besar. Mengintimidasi Rion dari kejauhan, seakan Kau sedang marah terhadap dirinya itu.


"Ugh-. Aku hanya bercanda kok, tcih. Lagi-lagi aku kalah." Gumam Rion dengan hentakan kaki, kesal.


Azhar memainkan jari-jemarinya itu, merasa sangat bosan. Dia bahkan tak bisa menggunakan semangatnya lagi untuk berlatih.


Azhar berlari meninggalkan mereka berdua, "Hey mau kemana?!" Seru Gama dengan keras, lalu menyusul, ikut berlari.


Azhar dengan perasaan kesalnya yang memuncak dikala itu. Dia bergegas menuju hutan dengan harapan dia bisa melihat kerajaan selepas menyusuri hutan.


"Azhar!!! Tunggu!!" Suara Gama menyusul dari kejauhan.


Ia menatap ke belakang sejenak, "Aku ingin melihat kerajaan!" Teriaknya dengan keras.


Rion juga berlari bersama Gama untuk mengejar Azhar, "Bagaimana kalau aku lapor ke Kak Alen?" Tanyanya sambil berlari.


Gama menggeleng, "Justru kita akan mendapat masalah lebih besar jika Kak Alen mengetahuinya!"


Azhar berlari tanpa arah yang jelas, melewati batang-batang pohon yang tumbang, terlihat sebuah cakaran besar disebuah dahan yang membuatnya berhenti berlari.


"Cakar apa ini?" Ucap dirinya, mendekatkan diri dan melihat lebih jelas.


Azhar adalah anak yang haus akan mengetahui segala sesuatu yang unik, walaupun tergolong anak kecil, di usianya ini memang sekali gemar bertanya, tetapi dia jauh lebih aktif bertanya ketimbang anak yang seusia dengannya.


"Azhar!!! Awasss!" Gama dengan sigap menarik Azhar jauh dari tempatnya barusan.


DRUMMMMM!!!


Seekor binatang berbulu dan besar disertai cakar yang besar dan runcing menampakkan diri. Beruang Hutan.


"Hiiyaaaaaa!!!" Rion menghempaskan sihir api miliknya ke beruang itu.


Ia tersenyum sedikit, "Beruang itu takut api, benar bukan?"


Namun, hal yang terjadi diluar yang di fikiran oleh bocah berusia sembilan tahun itu.


"Rion cepat kemari!!" Ucap Gama dengan lantang, membuat Rion tak berfikir panjang mengikuti arahannya.


Gama menjadi sosok tameng bagi para adik-adiknya. Dia berfikir dalam benaknya 'Aku tidak akan bisa mengalahkan beruang ini.' itu membuat ia terintimidasi dengan mudah.


"Kak Gama, pasti kau bisa!" Ucap Azhar menyemangati.


"Huh, ini bukan waktunya untuk ragu!" Plakkk! , Gama menampar wajahnya hingga merah. Menandakan semangatnya telah berkobar.


'Aku adalah kakak tertua, aku tidak akan kalah meski harus terluka!' Gumam dalam batinnya.


Gama melancarkan sayatan sihir angin yang membuat tubuh beruang itu kehilangan keseimbangannya, lalu terjatuh.


DUMMM!!!


"Ayo, kak Gama kau kuat! Pasti bisa!" Seru Azhar.


Rion hanya bisa terdiam, mengikuti ucapan Gama, sebaiknya jangan gegabah untuk ia melakukan tindakan apapun saat ini juga.


"Azhar, tetaplah dibelakang aku, ya!" Rion mengayunkan tangannya dengan kuda-kuda yang cukup bagus.


Azhar menganguk, dia berbinar. Menatap Rion dengan penuh kekaguman.


Sementara itu, pertempuran berlangsung, Gama terus-terusan menerjang beruang itu dengan sihir miliknya.


'Tenanglah! , Kau tidak boleh panik, Gama!' Ucap batinnya itu.


Gama menghindar saat cakar beruang melesat dengan cepat ingin merobek tubuhnya itu.


Slashhh!


Ia terus menghindar ketika beruang itu melancarkan serangan, Gama berada di tingkat kefokusan tertingginya saat ini.


"ROAAAAARRRRR!!!"


Auman beruang yang super keras memecah kefokusan Gama, diiringi dengan kicauan burung yang terbang meninggalkan dahan pohon mereka.


BRUSSSRT-!


Sihir api yang kuat melesat membakar apapun yang ada dihadapan Gama, termasuk beruang barusan.


"Rion?!" Ia menoleh dengan tatapan sangat tak percaya.


Rion mengacungkan jempol, "Teruslah melawannya!" ia terlihat letih karena mengeluarkan sihir sebesar itu.


"Kak!" Azhar membantu Rion untuk berdiri dengan kedua kakinya.


Tubuh Rion sangat lemas, energi magis dalam tubuhnya terkuras abis karena itu ia juga kehilangan stamina tubuhnya.


"Dasar!!! Beruang sialannn!!!"


"HIYAAAAAAAAAAA-!!!!!!"


Gama melesatkan elemen angin yang berbentuk sebuah tombak yang runcing menuju beruang itu.


SLASSSHHHH!!!


Tiga detik setelah tombak itu melesat melalui kepala beruang, tubuhnya melemas dan terjatuh tumbang. Beruang itu berhasil dia kalahkan dengan satu serangan pamungkas.


"Astaganaga. Beruang ini sungguh merepotkan, Huh!" Hela nafas yang terdengar berat di hembuskan.


Sekarang mereka duduk terdiam sambil beristirahat sejenak di dalam hutan itu.


"Bagaimana caranya kita pulang?" Tanya Rion sambil membuka matanya.


Gama melihat kesana kemari, semua pohon di hutan ini sangat tinggi, "Aku tidak tahu arah mana yang benar." Keluhnya.


"M-maaf.. Mungkin aku tahu arahnya?" Ucap Azhar sedikit takut mengatakan.


Gama menatap tidak percaya , "Sungguh?" ia balik bertanya.


"Iya, kalau tidak salah melewati jalur sebrang itu, kita akan melihat sungai yang biasa Kak Alen memancing ikan."


"Ah yang benar saja, Kak Alen memancing ikan itu..-" Lagi-lagi ucapan Rion terhenti.


Gama dan Azhar menoleh, "Kenapa?" Rion berfikir keras karena dia lupa dimana Alen mancing bersama sebelumnya.


"Entah, aku lupa, Hehehe."


"Sudah ikuti aku saja!" Azhar beranjak bangun, lalu bersiap pergi bersama kedua saudaranya itu.


Mereka menyusuri hutan yang tak pernah mereka injak sebelumnya. Bagaimana Azhar tahu jalan keluar.


"Mungkin Instingku akan bekerja lebih baik jika kita tersesat." Seru Azhar sedikit tersenyum.


Saat hendak melihat sebuah jalan, tanah yang dipijak mereka habis. Sisanya menyusur kebawah seperti lembah. Namun, jaraknya hanya beberapa meter kebawah.


"Apakah kita berhasil keluar hutan?" Tanya Rion melihat ke arah depan.


"Siapa yang tahu." Ujar Gama memeriksa sekitarnya.


Dari kejauhan terdengar sebuah langkah kaki hewan yang ingin melintas melalui mereka.


"Semuanya sini!" Bisik Azhar.


Mereka mengumpat disebuah semak kecil, lalu ada delapan orang yang melintasi jalur dihadapan mereka.


"Apakah kita sudah menyebar pengumuman ini ke penjuru desa?" Tanya salah seorang disana.


Mereka yang menunggangi kuda memakai sebuah pakaian aneh dari besi serta menutup wajahnya dengan topeng berkuncup bulu merah.


"Siapa mereka?" Bisik Rion, terus memerhatikan.


"Ayo kita hampiri mereka?!" Azhar yang hendak keluar dari semak ditarik kembali oleh Gama.


Mata Gama yang memerah, menandakan ia sedang marah. "Kau gila? Azhar?" Ucapnya.


"Ingat pesan Kak Alen, Jika bertemu orang yang tidak kita kenal, jangan sembarangan bertemu mereka!" Bisiknya dengan kesal.


Azhar menganguk, "Baiklah..." dengan wajah cemberut mengatakannya.


Beberapa menit setelah mereka semua berbincang, salah seorang memacu pedal kuda itu lalu dibarengi dengan yang lainnya.


"Huh, Untung saja. Lain kali jangan bertindak sembarangan!" Omel Gama pada Azhar.


Rion memungut selembar kertas yang terjatuh dari para pasukan kerajaan tadi.


"Hey lihatlah ini?" Lengannya terbuka, menunjukkan isi kertas itu.


Gama membaca dengan seksama , "Surat undangan pesta Carnival kerajaan Ardhania?"