
Mentari yang sinarnya meredup, awan jingga yang akan tergantikan dengan gelapnya malam.
Disebuah daratan kecil yang letaknya jauh dari peradaban manusia. Terdapat sebuah desa tua yang berpenghuni kan tujuh orang.
"Lihat aku! sihir apiku sangat kuat!" Ucap senang bocah berusia sembilan tahun.
"Keren!" Sahut salah satu dari mereka, yaitu sang adik kecil yang sangat terkesima melihat aksi kakaknya barusan.
Dengan tatapan iri kakak pertama tidak ingin kalah dari adiknya itu. Dia juga menunjukkan sihir yang dia miliki.
"Hiyaat! , apimu tak sebanding dengan sihir anginku!" Ucap angkuh kakak pertama, dengan harapan adik kecilnya lebih mengaguminya.
Namun, disaat kedua kakaknya itu bertengkar sang adik tidak peduli yang mana lebih unggul, mereka selalu bersaing untuk dapat perhatian lebih dan dikagumi orang-orang keluarganya.
'Aku tak peduli hal itu, yang aku kagumi adalah mereka bisa mengeluarkan sihir.'
Ucap batin sang adik.
Manusia didunia ini terlahir dengan sebuah berkah dapat menggunakan esensial energi magis yang disebut dengan Sihir, siapapun orang didunia ini pasti bisa menggunakannya. Terkecuali Azhar, sang anak bungsu dari keluarga yang aneh.
Azhar sejak lahir selalu memiliki keinginan bisa meluncurkan energi magis miliknya dihadapan kakak-kakaknya. Tetapi sayang, takdir dia berbeda dari kedua saudaranya itu.
Rion memiliki energi magis yang bertipe sihir api. Sejak kecil dia berlatih dengan ayahnya juga bersama sang kakak, yaitu Gama yang memiliki sihir angin.
"Azhar, ayo pulang!" Sahut keras orangtua mereka.
"Azhar gak akan pulang sebelum bisa pakai sihir, ayah!" Seru dirinya dengan ketus dan Egois.
Ayahnya menggeleng kepala, heran dengan kelakuan anaknya. Mau bagaimanapun ia tahu, Azhar mustahil menggunakan energi sihir, karena ia tak merasakan esensial magis apapun dalam diri Azhar.
"Sudahlah, Azhar... Kamu masih terlalu kecil, jadi kamu sulit mengeluarkan sihirmu."
Ujar ayah, meyakinkan dirinya.
'Tidak...'
Azhar sudah muak dengan semua ucapan ayahnya, dia tahu, mau sampai kapanpun ia takkan bisa menggunakan sihir.
"Sudahlah! Ayah tidak usah berbohong lagi padaku! yang kak Rion katakan itu benar.. Aku tidak bisa menggunakan sihir, kan!?"
Ia membentak, tepat dimana awan gelap dengan gemuruh guntur menyelimuti langit malam.
"Sebentar lagi hujan, lebih baik kita pulang. Hari sudah gelap, kamu bisa sakit."
Azhar nurut dengan perkataannya barusan. Sementara itu di rumah yang mereka huni sudah tercium harumnya masakan.
"Wangi sekali." Azhar mengendus hingga dia terpikat masuk kedalam rumah.
"Syukurlah, kemana saja kau? baru tiba di larut malam seperti ini?" Tanya sosok laki-laki yang mengangkut panci besar.
Ia adalah Alen, pria yang menemani ayah dari ketiga putranya sejak mereka tinggal di desa tua ini.
Alen adalah sahabat sejati sang ayah, Ragha. Sejak dahulu sewaktu muda Ragha dan Alen selalu bersama mengembara ataupun berlatih sihir.
Ragha melirik kepada putranya itu, dengan wajah cemberut yang terlihat jelas di wajah Azhar, Alen memahami apa maksudnya.
Mereka bersiap-siap untuk makan malam, Alen menyuruh Rion memanggilkan tetangga mereka, seorang pasangan bernama Baron dan Talita.
Lalu, Alen mengajak Azhar keluar rumah sebentar, menghirup udara hujan.
"Sudahlah, tidak perlu difikirkan begitu." Ia tersenyum kecil.
"Apa maksud kak Alen? , aku tidak paham.. Bagaimana aku bisa terus diam. Diam, diam dan diam." Keluh Azhar.
"Apakah kau tahu, orang yang bersabar itu adalah orang yang spesial, mereka marah namun bisa menyembunyikannya."
"Kalau aku dan ayahmu, pasti tak bisa melakukannya." Alen tertawa kecil.
"Benarkah?" Tanya Azhar dengan polos. mood-nya kembali membaik.
Alen menganguk, "aku bisa saja menghancurkan sebuah gunung jika marah, bahkan ayahmu bisa menghabiskan seratus penyihir dalam sekejap."
Meskipun terdengar sangat aneh, kata-kata inilah yang menjadi pacuan Azhar kembali bersemangat lagi.
"Orang sepertimu itu, sulit di jumpai tahu. Sebenarnya bagaimana cara kalian bersabar dan terus diam, itu sedikit aneh. Dan unik!"
Setelah mengobrol berdua di tengah derasnya rintik hujan itu, mereka kembali masuk ke dalam rumah.
"Maaf ayah, Azhar janji tidak akan marah lagi."Ia memeluk hangat tubuh orangtuanya itu.
"Aku sangat iri sekali, tidak ada yang memelukku." Ucap Alen yang meninggalkan mereka.
Azhar menghampiri, "kak Alen bisa memelukku kok!"
"Aku bercanda tahu! Hahaha!"
Baron dan Talita datang bersama Rion, lalu Rion mengeluh karena habis terpeleset di dekat rumah mereka.
Semua orang tertawa, malam ini dipenuhi canda tawa yang riang oleh seluruh orang di rumah.
..........
"Ayah, mengapa kita tidak di perbolehkan keluar desa?" Tanya Azhar.
Ragha menghembuskan nafas panjang, "diluar desa banyak sekali binatang buas yang berbahaya."
"Tetapi, setidaknya izinkan aku pergi berburu dengan Kak Alen." Azhar menggembungkan kedua pipi halusnya.
Ragha menaruh buku yang ia baca, menatap mata Azhar lamat-lamat.
"Ayah tidak ingin kamu tergores sedikitpun, Azhar." Ucapnya sembari mengecup kening.
"T-tapi, aku sudah besar."
"Usiamu baru delapan tahun, dasar sok dewasa." Ragha meninggalkan Azhar di sofa.
'Selalu saja tidak boleh....' Gumam batin Azhar dengan kesal.
Pagi ini Ia mengunjungi rumah tetangganya, alias bibi Talita.
"Mengapa kau kesini, Azhar?" Tanya Bibi Talita yang mengajaknya masuk.
Sembari berjalan menuju sofa hangat rumahnya, Azhar melihat kesana kemari.
"Rumah bibi dan paman berbeda dari sebelumnya ya?"
"Wah, kau menyadarinya? Sangat teliti ya." Sahut Baron.
Azhar bermain bersama Talita, membuat kue ataupun mengecat pagar rumah bersama Baron. Meskipun mereka berdua menggunakan sihir, Azhar selalu memerhatikan dengan seksama.
"Oiya paman, aku heran. Kapan aku bisa menggunakan sihir?" Ia menenggekkan kepala.
Baron kesulitan menjawab, "mungkin tahun depan saat kau ulang tahun?"
"Entahlah Azhar, tidak ada yang tahu. Tetapi aku percaya kau bisa menggunakannya nanti."
"Kapan waktunya itu tak penting, selagi kita yakin pasti kita bisa."
"Kata-kata paman Baron keren, sayangnya aku tak begitu mengerti." Ujarnya.
Baron mencoret hidung Azhar dengan kuas. "Jahil sekali paman ini." Mereka bercanda riang memainkan kuas untuk saling mengotori wajah.
Sementara itu, disisi lain tanpa dilihat. Talita dan Ragha sedang berdiri tegap melihat kelakuan mereka sejak tadi seperti patung.
"Ehem!"
Sore hari tiba, Alen baru saja kembali dengan mengenakan pakaian yang biasa dia gunakan saat berpergian jauh.
"Bagaimana, apakah kau dapat kabar dari kerajaan?" Tanya Ragha di kamarnya.
Saat sibuk berbincang didalam, Rion dan Azhar yang tepat diluar menguping tentang perbincangan ayahnya dan Alen.
"Hey!" kefokusan mereka menguping hilang seketika mendengar suara Gama menggertak.
"Apakah kalian ingin ku adukan kepada Ayah dan Kak Alen?" Dengan pose sangat keren Gama mengatakannya
"T-tidak-tidak-tidak!" Jawab mereka berdua.
Namun, Rion dan Azhar malah menyuruh Kami ikut menguping, karena yang di bicarakan adalah rahasia yang selama ini di tutupi.
"Raja?"