
"Jadi selama ini, ayah berbohong tentang dunia luar?" Ucapan itu dilanturkan oleh Rion.
Gama masih bersikap dewasa, dia tak akan mempercayai asumsi apapun dari kedua adiknya.
"Bagaimana dengan hewan buas yang ayah katakan?"
Gama menggeleng, "itu benar, aku sudah pernah berburu bersama kak Alen, di hutan luar sana. Banyak sekali hewan buas." Jawabnya.
Azhar yang sudah terbayangkan bagaimana kehidupan diluar desa mereka yang sangat maju dan seru. Tak bisa berhenti memikirkannya.
"Bagaimana kalau kita keluar hutan?" Ucap Azhar mengusul ide yang gila.
"Tetapi, pasti ayah dan kak Alen serta paman Baron dengan mudah menemukan kita sebelum sampai."
"Benar juga."
Mereka mengingat kejadian dua tahun lalu, saat Azhar berusia empat tahun bersama Gama yang tersesat di hutan. Ragha dengan cepat datang dari dahan-dahan pohon besar diatas mereka.
"Bagaimana kita melawan mereka?" Seru Rion dengan kegilaannya itu.
Rion memikirkan aksi keren yang mereka bisa tunjukkan kepada Ragha dan Alen.
"Kau sudah gila? Atau kepalamu terbentur batu?" Sindir Gama.
Rion berkecik, sesaat Ragha dan Alen selesai berbicara didalam kamar, mereka membuka pintu yang membuat Azhar dan yang lain terkejut.
Ketiga saudara itu berpura-pura sedang membersihkan perabotan rumah. Gama yang berpura-pura mengelap jendela, lalu Rion yang membersihkan vas bunga, dan Azhar yang menyapu debu di lantai.
"Wah, kalian rajin sekali. Padahal baru saja aku ingin membersihkannya." Seru Alen dengan tertawa riang.
"Teruskan ya, pasti Alen lelah. Baru saja pulang dari perjalanan jauh."
'Tidakkk...' Jerit batin mereka semua.
......................
Usai membersihkan satu rumah dengan sangat terpaksa dan beberapa kejahilan. Mereka bersantai di tempat latihan hingga matahari ingin surut.
"Hiyaaaa!"
Azhar terus menerus mengerahkan posisi telapak tangan yang menjulur dengan harapan ada percikan sihir yang dapat mengenai sasaran latihan.
"Kesalnya!!"
Nada kesal di iringi dengan hentakkan kaki, kecewa.
Gama yang melihat adiknya susah payah seperti itu, menimbulkan rasa iba dalam hati.
'Aku tak bisa melakukan apapun untuk membantumu, Azhar. Maafkan kakakmu yang tak berguna ini.'
Ucap batinnya dengan irama yang cukup dramatis.
"Menyebalkan sekali." Keluh Azhar.
Mereka bersantai selepas melakukan latihan. Duduk beralaskan rerumputan kecil dan disapu oleh angin sepoi.
"Menurut kak Gama, apakah diluar hutan ada tempat yang lebih ramai dan menyenangkan?"
Tanya Azhar sembari menenggekkan kepalanya.
Gama menghela nafas , "Tidak pasti." ucapnya dengan penuh kebingungan.
"Seumur-umur, aku hidup bersama kalian... Akulah kakak tertua kalian. Tetapi paman ataupun kak Alen tak pernah memberitahu dunia luar seperti apa."
Pembicaraan mereka teralihkan sesaat melihat Rion menghampiri dengan senyuman jahil.
"Aku pernah mendengar, kalau tidak salah. Diluar hutan ada sebuah tempat bernama kerajaan."
Celetuk Rion yang ikut duduk berdekatan dengan mereka.
"Kerajaan?" Sahut Azhar dengan bingung.
Gama juga baru pertama kali mendengar kata itu, sepertinya asing bagi mereka.
"Kerajaan, benar. Aku pernah mendengarnya, kalau tidak salah ayah bilang dia baru saja pulang dari sebuah kerajaan." Jelas Rion.
Gama menganggap ucapan Rion sebagai kebohongan belaka.
"Ah, sudahlah. Kita tidak tahu pasti, ayo pulang sebelum dimarahi kak Alen." Ajaknya.
"Maksudmu aku berbohong?" Tanya Rion dengan penuh kekesalan.
Azhar menghentikan perselisihan mereka menarik Gama untuk berjalan bersamanya.
"Dia itu selalu saja, menyebalkan, dasar sialan!" Gumam Rion dari belakang.
Selepas mereka berjalan ke rumah yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat latihan. Ketiganya di sambut oleh Ragha yang sedang duduk santai di halaman rumah.
Semuanya mengacuhkan pandangan, berpura-pura tak mendengar.
"Hey, jawab!" Ucap Ragha sambil mengernyitkan dahinya.
Gama hendak menjawab tetapi kedatangan Alen yang membawa hasil buruan begitu banyak mematahkan amarah Ragha.
"Astaganaga, apa lagi yang kau lakukan?" Tanya Ragha, menghampiri Alen.
Sementara itu mereka bertiga menyelinap masuk meninggalkan Ragha dan Alen berbincang diluar.
Rion menghembuskan nafas lega, "Untung saja, kak Alen datang."
"Kalau tidak kita bisa habis di omeli hingga malam." Celetuk Azhar.
Waktu silih berganti, semua bersiap untuk makan malam. Alen biasa menjadi koki rumah bersama Gama.
"Ayah, aku tadi di tempat latihan bisa sedikit memaGama sihir loh!" Seru Azhar.
Ragha sedikit tidak yakin akan hal itu, "Memangnya iya?" tanya dirinya memastikan.
"Bercanda, ahahahaha!" Ia tertawa penuh keceriaan, entah itu asli ataupun palsu, tak ada yang mengetahuinya.
"Rion! Dimana kamu? Cepat bantu ayah bawakan piring-piring ini."
"Baik ayah!" Sahut Rion yang datang.
Makan malam dimulai dengan hidangan daging sapi yang dipanggang menggunakan saus kacang bersamaan dengan mentega yang mereka buat.
Telur ayam membalut daging ayam dan digoreng sematang mungkin. Siapa yang tak akan tergiur oleh kenikmatan ini.
"Aku rasa, Kak Alen adalah juru masak terbaik di dunia." Puji Rion sambil menyantap hidangan.
Ragha menuangkan air di gelas, lalu meminumnya. Membiarkan tenggorokannya dibasahi setelah memakan hidangan yang kering.
"Apakah Kak Alen adalah dewa masakan?" Tanya Gama.
"Dewa? Apa itu?" Azhar balik bertanya.
Ragha menarik nafas, "Dewa adalah julukan yang diberikan ketika seseorang memiliki kemampuan yang tinggi, contohnya Kak Alen, dia sangat pandai memasak. Karena itu, Gama menyebutnya dewa koki." Ia menjelaskan dengan detail.
Azhar ber-oh lalu menghabiskan makanan di piringnya.
Azhar memikirkan sebuah pertanyaan yang sedari tadi masih mengganjal di benaknya. "Oh ya, Ayah. Kerajaan itu apa?"
Pertanyaan yang diluar dugaan, ini bahkan membuat Alen dan Ragha terkejut mendengarnya.
"Dari mana kau tahu kata itu?" Sahut Ragha yang bingung.
Hal itu membuat suasana hening seketika. Tak lama Ragha angkat bicara.
"Kerajaan.. Bagaimana menjelaskannya?" sambil menggaruk kepala.
"Itu keahlianmu loh." Sahut Alen dengan tawa kecil.
Gama dan Rion menghampiri usai membereskan meja makan. Mereka semua menyiapkan telinga dengan seksama.
"Kerajaan adalah tempat yang indah dan ramai akan orang-orang disana. Sepertinya begitu."
Dengan tatapan berbalik kecewa Azhar tak puas mendengar penjelasan dari Ayahnya itu.
"Hanya itu?" Tanya Azhar dengan mata lucunya.
Ayahnya menatap "Iya benar." mendengar kata itu Azhar sangat kecewa. Dia mengira akan mengetahui banyak hal tentang kerajaan.
"Bukankah ayah sering pergi kesana?" Tanya Rion yang memecahkan suasana.
Alen menghampiri "Benar, ayahmu sering kesana setiap satu bulan sekali."
"Kenapa hanya satu bulan sekali?" Tanya Gama yang mulai menarik daun penasarannya.
Alen dan Ragha sempat berdebat kecil tentang apa yang Alen bilang barusan.
"Ayo kita pergi kesana, ayah!" Ajak Azhar dengan penuh semangat.
"Iya benar, aku penasaran ada apa diluar hutan." Seru Gama.
"Ayah dan kak Alen selalu saja tidak memperbolehkannya, memangnya kenapa?"
Ragha dan Alen diserbu oleh pertanyaan mereka. Sayangnya, dinding kesabaran Ragha sudah menipis.
"Cukup!!" Satu kata yang di ucapkan. Namun, bisa mematikan semua pertanyaan.
"Sudah tidak ada yang perlu dibahas, semuanya pergi masuk untuk tidur!"