
saat mataku terbuka ku lihat di sana sudah terdapat fara, bibi, Liya dan alka di samping tempat tidur ku.
mereka sangat senang melihat ku tersadar dari pingsan.
"kakak!" ucap Fara yang langsung memelukku.
ku balas pelukan nya dengan hangat dan pikiran ku cepat kembali pada kejadian tadi yang ku harap Fara tidak akan mengetahui nya.
namun, tak di sangka Fara tau atas semua ini karena diam-diam tadi dia menguping pembicaraan ku dengan papa dan sampai dia tau perlakuan papa terhadapku tadi.
Fara menangis di pelukan ku aku pun tidak bisa menahan semua apa yang terjadi apa keluarga ku, kami kehilangan mama, dan sekarang masalah baru datang lagi, ya Allah hukuman apa ini?
mereka yang ada di sekeliling ku menyemangati ku dengan tulus, aku hanya mempunyai mereka saat ini, bibi, liya, alka dan adik ku.
"Fara, gak boleh sedih ya ada kakak disini" ucapku menenangkan nya dan memeluk nya dengan sangat erat dan hangat.
"kakak, aku pengen keluar dari ini!" ucap Fara menangis sesenggukan.
kalimat itu tak aku jawab, aku bingung harus jawab apa atas pertanyaan Fara.
"kakak akan pikirin lagi hal itu ya Ra" ucapku.
*****
aku, Liya dan alka ingin menyelesaikan semua ini, dan sementara adik ku sudah tertidur pulas di sampingku.
"sudah ku putuskan, aku akan meneruskan pekerjaan mama ku, menjadi seorang model, waktu itu aku juga di tawarin buat nerusin karir mama, aku gak mau hidup dan terus bergantung pada uang papa dan sisa tabungan uang mama yang sudah jatuh ke aku, akan aku gunakan untuk membeli sebuah rumah agar gak ada lagi rasa muak di dalam rumah Ini, kalian faham kan? " ucapku.
"apa itu gak terlalu berat she? sekolah dan menjadi seorang wanita karir itu gak mudah, apalagi umur kamu yang masih sangat muda" jawab Liya.
namun keputusan ku ini sudah bulat, aku akan mencari uang sendiri dengan hasil keringat ku sendiri, aku berjanji akan menjaga adik ku dan menyekolahkan nya menjadi anak yang sukses nantinya.
******
keesokan paginya, aku bertekad untuk membeli sebuah rumah dengan uang tabungan mama, dan kemudian menyetujui atas tawaran menjadi penerus mama sebagai seorang model.
semoga ini adalah jalan baru yang terbaik buat aku dan fara.
aku gak butuh izin dari papa! aku bakal buktiin kalau aku bisa hidup tanpa dia.
pagi ini, aku, Liya, alka dan fara mencarikan rumah yang layak, alhasil kami sudah menemukan yang cocok untuk ku, aku langsung membeli nya dan membawa barang-barang ku masuk ke dalam rumah baru ku itu, dan tidak ku sangka bahwa tabungan uang mama masih sisa buat ku dan fara, aku begitu bersyukur sekali.
"gilaa!! gede banget rumah kamu yang baru" ucap Liya.
"wkwkw biasa aja kali, eh kamu masih mau kan tinggal disini sama aku" ucap ku memohon.
"kakak, Fara ikut tinggal disini ya!" ucap Fara.
"iya dong sayang! ini kan rumah Fara juga" ucapku.
kami pun membersihkan rumah bersama sambil bercanda riang melepaskan semua beban hidup.
tak lama pun papa datang dan langsung marah atas semua yang aku lakukan.
dia memaki ku jika aku sudah keterlaluan memakai uang mama sebesar itu untuk membeli sebuah rumah.
aku tidak memperdulikan semua omongan Papa, karena niat ku untuk membuktikan bahwa aku bisa hidup tanpa yang dari papa.
tanpa aku pikirkan saat ini, papa mengatakan kata-kata yang sangat menusuk hati ku.
"oke! jangan pernah anggap papa ini sebagai papamu lagi !" ucapnya dan pergi meninggalkan ku.
aku tau yang ku lakukan ini adalah salah, namun, aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bisa hidup dan membiayai sekolah adikku, aku tidak perduli apapun resiko nya.
saat aku menangis, alka tiba-tiba memeluk ku dengan erat, ku balas pelukan nya dan menangis di dalam dekapan alka.
"sudahlah, kami disini untuk kamu dan kamu tau? bibi akan ikut bersama mu disini, katanya dia tidak perduli walaupun tidak di gaji she, yang penting dia terus ingin menjagamu " ucap alka.
aku hanya mengangguk di dalam pelukan alka yang membuat ku terasa nyaman berada di dekatnya.
***
saat semua sudah beres dan bibi juga sudah ikut di rumahku kami memasak makanan buat makan siang hari ini, kami makan bersama layak nya seperti keluarga bahagia yang tidak pernah merasa ada beban hidup.
"eh Shea! Minggu depan kamu ada foto shoot ya? bisa dong aku Anter model yang cantik ini" ucap alka
aku hanya mengangguk mengiyakan ajakan alka dan kami melanjutkan makan serta membahas tentang ujian akhir yang akan kami laksanakan tahun ini.
tak lama kemudian selesai makan alka pun pamit untuk pulang, karena memang dia sudah dari pagi main dirumahku, ku persilahkan dia pulang.
setelah itu, Fara dan Liya memutuskan untuk tidur siang sambil menunggu azan ashar hari ini, dan aku sedang asik di ayunan depan kolam renang belakang rumahku dan ku buka diaryku ku tulis semua kejadian hari ini dan apa saja yang menimpa keluarga ku, untuk sedikit melepas semua beban hidup yang akhir-akhir ini membuat ku semakin ingin pulang pada Tuhan.
aku rindu seseorang mama yang selalu menyemangati ku, apa mama akan marah di sana saat aku menggunakan uang nya untuk membeli sebuah rumah? agar tidak lagi merasakan bahwa aku bukan lah anak yang manja dan bisa mencari uang sendiri atas kerja keras ku.
aku tau kalian pasti berfikir kalau hal ini adalah keputusan yang sangat tiba-tiba dan mungkin keputusan ini bukan lah keputusan yang bijak?
itu hak kalian, aku gak butuh kalian suka terhadap semua keputusan ku ini, yang aku mau saat ini hanya ingin merasakan sebagai wanita yang tidak bergantung kepada siapa pun kecuali tuhanku, dan aku ingin membuktikan kepada papa bahwa aku bisa hidup tanpa tumpangan nya.
aku akan buktikan semua ini sendirian! aku ingin seperti mama yang selama ini adalah wanita yang tangguh dan pekerja keras sampai bisa menyekolahkan aku dan fara, aku tau kalau mama gak bakal setuju niatku meninggalkan papa, tidak! niat ku tidak seperti itu, aku hanya ingin membuktikan semua ini bahwa aku anak yang telah ia tampar waktu itu dan seorang anak yang sudah tidak lagi di anggap bisa hidup dan suatu saat nanti bisa membalas semua kebaikan papa 18 tahun selama aku hidup di bumi ini.