THE DEEPEST

THE DEEPEST
perselingkuhan



pagi ini, adalah waktu dimana aku bisa sedikit mengurangi kerja otak ku, yang biasanya bangun pagi sekolah dan belajar, aku bisa dengan santai nya duduk di sofa sambil menonton acara kesukaan ku.


sementara Liya, Liya sedang asik dengan kamar mandi nya, apa lagi kalau bukan mandi ahahah.


pikiran ku masih saja tidak mau untuk menunggu aku menangis harus mengingat tugas, dia ingin bersantai pagi ini.


hey!! bukan nya aku bolos sekolah tapi hari ini adalah hari dimana para pelajar menunggunya, apalagi kalau bukan hari libur para guru hari ini ada kepentingan jadi kami diliburkan untuk 2 hari kedepannya


"tettttt!!" bunyi bel rumah ku.


sepertinya ada seorang tamu hari ini, ku lihat papa yang tadi sedang asik dengan majalah dan kopinya kemudian dengan sesegera membuka kan pintu untuk nya.


papa mempersilahkan untuk dia masuk ke rumah, dan ternyata adalah Dimas dan ku heran mengapa dia kesini? bahkan tidak izin terlebih dahulu sama aku.


"temen kamu she" ucap papa kemudian Melangkah pergi lagi melanjutkan untuk membaca majalah nya.


aku hanya mengangguk dan mempersilahkan duduk.


"Dimas ? ada apa? janjian sama Liya ya dia lagi mandi, sebentar aku panggil" ucap ku.


"bukan aku kesini nyari kamu" jawabnya.


ku balas dengan mimik muka heran, untuk apa dia mencari ku sedangkan sebelum nya aku dan dia sama sekali tidak janjian untuk bertemu di rumahku


"ada apa, kaya nya kita nggak ada janji deh mau ketemu pagi ini?" tanya ku heran.


"aku pengen bicara sama kamu, tapi nggak Disini buruan ganti baju terus kita keluar ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu she" terangnya.


masih dengan tatapan sama aku terheran-heran dengan semua perlakuan Dimas 2 hari ini yang gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba seorang cowok yang terkenal cool itu selalu menganggu waktuku.


kemudian aku mengangguk dan mengiyakan ajakan nya, aku menyuruh Dimas untuk menunggu ku dan aku bergegas untuk pergi ke kamar, ganti baju dan izin ke Liya dan papa.


kemudian aku dan Dimas pergi ke sebuah caffe yang gak jauh dari rumahku.


"ngapain kita kesini?" tanya ku.


"Shea! kamu harus tau ini" ucap Dimas serius.


aku yang mendengar nya tiba-tiba saja tertawa kecil.


"yaelah serius amat!" ledekku.


"aku nggak lagi bercanda!" jawabnya yang membuat aku sedikit kesal.


"dengerin aku! papa kamu udah buat rumah tangga keluarga ku hancur she!" ucap Dimas.


aku yang mendengar hal itu jelas kaget, apa yang di katakan Dimas sebenernya pikiran ku mulai merajai semua isi dalam hatiku.


"apa maksud kamu!" tanyaku.


"mama ku selingkuh dengan papa kamu she! dan papa ku tau semua ini, sementara saat ini mereka sedang mengurus surat perceraian mereka! mama memilih papa kamu she! apa yang harus aku lakuin saat ini?" jelasnya.


"gak mungkin dim, mamaku baru aja meninggal dan papa gak mungkin kaya gitu!!" bentakku.


air mata tak bisa aku tahan saat ini, dan aku langsung meninggalkan Dimas pergi tanpa berkata apapun, namun Dimas mencegah ku pergi.


"Sheaa biar ku antar pulang" ajak nya.


namun aku tak memperdulikan nya, aku terus saya berlari dan mencari ojek lalu pulang ke rumah.


sampainya di rumah dengan bercucuran air mata yang semakin deras membasahi pipiku, aku langsung menuju kamar dan menangis sejadinya di sana, tak mungkin jika papa adalah seorang perusak rumah tangga orang beliau orang baik yang selama ini menjadi penguat ku dan ku harap ucapan Dimas adalah sebuah kebohongan yang hanya ingin membuat ku semakin down.


"shea? kamu kenapa?" tanya liya yang tiba-tiba membuka pintu kamarku dan duduk di sebelahku.


ku peluk tubuh Liya tanpa harus menjawab perkataan nya, sumpah saat itu aku nggak bisa menghentikan air mata ku yang mengalir deras membasahi pipiku.


aku rasa dunia ku hancur saat ini dan ku rasa nggak ada guna nya lagi aku hidup.


Liya membalas pelukan ku dengan erat dan berusaha untuk menenangkan diri ku aku mulai sedikit tenang dan menceritakan semua yang tadi aku tau tentang Dimas, awalnya Liya kaget dan merasa bahwa semua ini tidak mungkin, kemudian supaya lebih jelas Liya menyarankan ku untuk bertanya langsung kepada papa tentang semua ini.


lalu ku beranikan diri untuk bertanya kepada beliau mengenai hal ini saat dia pulang kerja nanti.


*****


saat papa sudah pulang aku beranikan diri untuk bertanya semua yang sudah aku ketahui tentang hubungan papa dan mama nya Dimas.


ku jelaskan semua kepada papa, namun apa yang aku dapat? aku di tampar dengan keras oleh papa ku sendiri saat aku bilang bahwa papa sudah merusak rumah tangga orang.


aku bertanya lagi saat tamparan itu berhasil mendarat di pipiku.


"apa maksud semua ini pa? tamparan! apakah yang Dimas katakan semua benar?!" tanyaku tak kuasa menahan air mata.


"kamu gak ada gak buat tau semua ini she!! masuk kamar! atau mau papa tampar untuk yang kedua kali?!" bentak papa.


namun aku tidak memperdulikan perintah papa itu sebelum aku mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang membuat mental ku semakin rusak!


tak perduli berapa kali papa menampar wajahku, yang ku mau hanya jawaban jujur dari papa atas semua ini.


dan saat ku desak papa akhirnya mau menceritakan semuanya bahwa dia ingin menikahi mama nya Dimas.


dan bahkan saat mama masih hidup pun papa sudah memiliki rasa cinta kepada mama nya Dimas


tidak mungkin! tidak mungkin kalimat itu terucap di bibir seorang lelaki yang ku kenal papa itu.


Hancurr sudah rasanya hidupku, apa aku harus menerima kenyataan ini? tidak!!! aku harus bisa memisahkan mereka karena aku gak mau papaku menjadi seseorang perusak rumah tangga!


Namun apa daya semua ucapan ku tentang ini hanya terbalas oleh tamparan yang berkali-kali melukai pipiku, aku tidak perduli atas rasa sakit ini! yang aku mau papa kembali kepada jalan yang benar, bukan sebagai lelaki yang hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri.


"sebaik nya kamu cepat masuk kamar! sebelum papa melukai kamu lebih banyak lagi" ucap papa.


"apa pa!! bunuh saja anakmu ini, lagi pula untuk apa kau hidup! ga ada gunanya !!" ucapku sesenggukan.


kemudian mendengar ucapan ku itu, papa meninggal ku sendirian disana, badanku lemas dan tergeletak di lantai tak lama Liya datang dan mencoba untuk memberi ku semangat, namun semua itu hal yang sia-sia hatiku terlalu hancur untuk bangkit lagi.


Liya memeluk ku saat itu aku menangis tak karuan dan seketika semua berubah menjadi gelap gulita