THE DEEPEST

THE DEEPEST
belum terbiasa



"Al, mampir itu di seberang jalan,mampir dulu ya, aku mau beliin Liya martabak manis" ucap ku.


"iya siap she" jawab alka.


kami pun berhenti di seberang jalan dan beli bungkus martabak buat Liya.


"hmm Shea, kamu beli Martabak banyak banget? buat siapa?" tanya alka.


"ya buat mama lah! siapa lagi?" ucapku tak sadar jika mamaku sudah tiada.


saat aku sadar atas ucapan ku, rasanya aku ingin menangis, namun aku gak boleh nangis aku takut mama sedih disana melihat ku terus menangisinya, aku hanya tersenyum terpaksa kepada alka yang melihat ku kasian.


saat semua sudah beres kami pun lanjut perjalanan pulang.


**********


sampai nya di rumah, aku langsung mencari si Liya yang ternyata sedang asik di kamar, aku bergegas untuk mengajaknya ke ruang tamu dan kami makan martabak bersama dengan alka.


"eh ada tugas sekolah gak sih?" tanya alka.


"nggak tau juga sih, coba tanya sana Liya" ucapku.


"hmm ada kayanya, itu lho matematika halaman 130 soal 1-10, lagian aku juga belom ngerjain" ucap Liya yang asik makan itu.


"ya udah kalau begitu nanti malam aku balik kesini, kita ngerjain bareng ya sekarang aku pulang dulu " ucap alka.


aku dan Liya mengangguk tanda mengiyakan.


kemudian alka pun pulang.


******


malam hari, aku dan Liya sibuk sekali di depan laptop dan buku, tak lupa kita mendiskusikan tentang pr yang membuat ku sedikit pusing.


"lho mana si alka" tanya Liya.


"hmm, gak tau, coba kamu wa tuh anak" jawabku.


namun tak lama alka datang dan kami persilahkan dia masuk.


"sorry-sorry telat, tadi ada urusan" ucap alka.


"santai aja kalii" ucap Liya.


kami pun mengerjakan tugas bersama.


"kling!!" bunyi suara hp ku yang menandakan pesan masuk.


"dari siapa?" tanya alka.


"kepo banget sih" ucapku bercanda.


saat ku buka pesan itu, ternyata dari Dimas, woh Dimas? kesambet apa dia menghubungi ku?


dia adalah ketua OSIS di sekolahku, anak yang lumayan keren dan terkenal, yah siapa sih yang gak tau ketua OSIS di sekolahnya.


"Dimas?" ucapku lirih.


"apa!!!!!" teriak Liya.


"berisik tauuuuu!!!" ucapku pada Liya.


"siapa dia?" tanya alka.


kemudian ku jelaskan siapa Dimas kepada alka.


isi pesan:


"hai, maaf menganggu waktunya, Shea, besok bisa gak luangin waktu buat ketemu aku di perpustakaan? ada hal penting yang mau aku omongin"


balesan aku:


"hmm oke, aku ajak Liya ya besok"


"Jangan, kamu sendiri aja, aku gak mau ngapa-ngapain kamu kok she"


aku tak membalas pesan itu, dan lanjut untuk mengerjakan tugas, namun Liya yang sudah kepo banget merampas hp ku dan membaca isi pesan itu dan bersorak kegirangan entah apa yang dia pikirkan terhadap isi pesan itu.


"besok kamu mau ketemu saya Dimas she?" tanya liya.


aku hanya mengangguk mengiyakan sambil tetap terjaga pada buku ku.


"besok aku ikut" ucap alka dingin.


"gak usah, dia menyuruhku untuk sendiri menemuinya" ucapku pada alka.


namun dia memaksaku untuk mengiyakan


omongan nya bahwa dia akan ikut menemani ku, aku hanya mengangguk pasrah padanya.


***********


keesokan harinya, alka tetap saja membututi aku kemana saja walaupun aku sedikit risih, aku tetap tidak memperdulikan nya.


sampai-sampai aku dan alka dikira sebagai seorang yang pacaran.


aku tau alka cuma gak mau aku datang sendiri waktu bertemu dengan Dimas.


"alka! stop!! aku tuh ketemu sih Dimas masih nanti istirahat" ucap ku.


"hmm aku gak perduli" ucap alka.


kemudian dia menarik ku untuk masuk ke kelas, tak lama kemudian guru pun datang dan memulai pelajaran nya.


istirahat tiba aku pun memenuhi omongan dimas, ku datang bersama alka ke perpustakaan.


"Dimas" sapaku.


"hai" jawabnya.


aku pun duduk di sebelah nya, dan disusul oleh alka.


Dimas ajak sedikit tidak suka dengan kehadiran alka, aku bisa merasakan lewat tatapan dia pada alka.


"ada apa dim" tanyaku.


''hmm bisakah kita ngomong berdua saja?" tanya Dimas.


"bis.."


"gak bisa!" jawab alka.


omongan ku terpotong oleh omongan alka yang tiba-tiba mengambil alih jawaban ku.


"aku nanya sama Shea bukan sana kamu" ucap Dimas.


"terus klau aku gak kau pergi kamu mau apa hah!" balas alka.


sontak mereka berdiri bertatapan, aku yang melihat nya langsung ikut berdiri dan menarik si alka.


" hm Dimas kita bicara lain kali ya, aku pergi dulu" ucap ku menarik alka.


aku takut mereka membuat keributan disana, dan terpaksa aku mengakhiri percakapan ku pada Dimas.


jujur aku kesal pada perlakuan alka hari ini yang aneh, dia tidak tau betapa malunya aku hari ini karena nya.


"kamu kenapa sih Al" tanyaku kesal.


"aku udah janji kan? selama aku disini gak ada yang boleh nyentuh kamu! apalagi nyakitin kamu!" jelasnya.


kesal banget sumpah pada alka, buat apa sih alka kek gitu sama aku?


"ini kan hak aku alka" ucapku.


"udah nurut aja!" jawab singkat alka.