The Bad Love

The Bad Love
eps 3



Semua orang di rumah Airena sudah kembali ke kamarnya, jarum jam menunjukkan tengah malam. Airena langsung turun dari kasurnya dan mengambil jaketnya, jendela menuju kebun jeruk dibukanya. Telapak kakinya menyentuh rumput kecil, dengan cepat di berlari memasukin kebun jeruk keluarganya. Malam itu gak ada yang tau bahwa nona kecil ini pergi entah kemana


***


" Ma, aku lapar" Keluhan Sarah yang duduk di kursi makan. Dia gak terlalu ribet hari ini karena hari ini hari sabtu.


" Ntar, mama siapa ini roti. Selagi menunggu kamu panggil Airena sarapan " Ucap mrs. Sofie yang sedang mengoleskan selai , tak lama mr. Hans datang bergabung di meja makan.


" Pagi sayang" Sambut mrs. Sofie


" Anak-anak kemana? " Tanya Hans sambil mengambil selembar roti di depannya.


" Sarah sedang memanggil Airena sarapan" Jawab mrs. Sofie.


Tak lama kedengaran suara teriak Sarah memanggil Sofie sambil turun dari tangga,


" Ma.. Airena gak ada di kamarnya. " Bilang Sarah.


" Apa? Kemana dia? " Khawatir Sofie.


Hans hanya diam menikmati roti nya, Sofie melihat tingkah suaminya langsung berkacak pinggang.


" Hans, anak kamu sedang kabur" Kesel Sofie.


" Tenanglah, ntar sore aku menemukan nya. Biarin aja dia dulu ntar aku yang menjemput nya pulang" Jawab Hans dengan tenang.


Sofie dan Sarah saling tatap gak mengerti dengan Hans.


***


" Paman, biar saya aja yang petik! "


" Duh, non Airena jangan, nanti non jatuh dari pohon"


Seorang paruh baya terlihat khawatir melihat anak majikannya yang sedang memanjat pohon apel, Airena gak peduli. Dia terus manjat sambil memetik semuah apel yang sudah merah. Langit sore terlihat indah dari atas pengunungan yang sedikit jauh dari rumahnya, posisi dia berada di villa keluarga Weber. Tak lama sebuah mobil sedang datang membuat airena cemberut di atas pohon. Abraham penjaga villa langsung menyambut tuan Hans yang turun dari mobil.


" Selamat sore, tuan Hans"


" Sore Abraham. Di mana Airena? " Tanya Hans melihat sekelilingnya.


" A... Anu.. Tuan, nona Airena ada di atas pohon apel"


Hans melihat ke atas pohon, Airena gak peduli papanya melihatnya. Hans langsung mendekati pohon yang Airena dan menyuruh Abraham meninggal kan mereka.


" Ngapain papa di sini? Biasanya pergi ke kantor " tanya Airena.


" Minta papa satu apel. Yang manis"


Airena langsung melemparkan apel yang dia petik. Hans langsung duduk dan menikmati apel tersebut sambil memandangi sunset.


" Hah, pemandangan yang indah bukan Airena " Ucap Hans


Airena hanya diam di atas pohon, Hans melihat putrinya dari bawah. Sebuah memori terlintas di pikiran nya.


" Gimana persiapan pernikahan mu? " Tanya Hans


" Aku gak memikirkan nya, hanya Bryan yang mengurusi semuanya " Jawab Airena


" Kalian itu mengingat kan kisah papa dan mama kamu, dia gadis yang judes dan jutek. Meskipun begitu kami saling mencintai "


" Terus kenapa papa meninggal mama yang sakit- sakitan sekarang? Gak peduli dengan kesehatan mama" Celetuk Airena.


" Kamu akan tau sendiri nanti jawaban dari mama kamu" Bilang Hans.


Hans langsung berdiri dan melihat ke atas.


" Dah sekarang turun bentar lagi malam"


Saat Airena turun tidak sengaja kakinya terpeleset membuatnya jatuh dari atas dengan keras , dengan cepat Hans mendekati Airena.


" Aww... Aw.. Sakit... " Ngeluh Airena sambil memegang kakinya yang sedikit membiru dan bangkak.


" Bagian mana yang sakit, kita bawa ke rumah sakit "


" Aku gak mau ke rumah sakit! " Marah Airena sambil merasakan kakinya sakit luar biasa .


Hans langsung mengangkat tubuh Airena sambil membawanya ke villa, tak lama dokter dekat villa datang. Airena masih meringis kesakitan.


" Baik dokter, Terima kasih "


Setelah di pasang gibs, Hans langsung mengangkat tubuh anaknya, meskipun umurnya 40 tahunan mengangkat 2 anaknya yang udah besar masih mampu. Airena merasa geli dirinya di gendong papa nya.


Tak lama Abraham datang membawa makan malam yang di pesan Hans. Mereka pun menikmati makan malam dengan pemandangan langit gelap penuh dengan bintang.


" Kamu ingat waktu kecil kamu suka nantang papa menghitung bintang di langit ? " Bilang Hans


Airena yang tadinya fokus menyantap ramennya melihat ke papanya, tangannya mengambil air di samping nya dan melihat langit.


" Mama yang selalu tau jawaban banyak bintang di langit " Senyum Airena.


" Papa minta maaf menyutuhmu menikah dengan Bryan "


" Papa tau kamu masih banyak masa depan yang kamu impikan, alasan papa ingin menikah kan mu karena mama mu yang menginginkan nya sebulan yang lalu. Bukan papa yang ingin kamu menikah "


Hati Hans terasa pedih mengingat kembali kejadian sebulan yang lalu, Airena yang lihat wajah papanya mengerti apa yang dia rasakan. Tangan nya menyentuh tangan papanya yang dingin, dan tersenyum lembut. Hans melihat wajah Airena yang begitu hangat baginya mengingat kan dia pada Rena cinta pertama dan terakhir kalinya setelah memiliki Airena di dunia.


" Aku sudah memikirkan nya pa, aku harus mengutamakan keinginan kalian dari pada impianku. Aku akan melakukan nya untuk kebahagiaan papa dan mama" Ucap Airena, meskipun di dalam hati nya merasa bersalah telah membuat kontrak bersama Bryan.


Hans mengacak rambut putri yang dia sayang dan berdiri.


" Habisin ramen papa, besok pagi sekali kita harus pulang. Kan kamu sekolah " Ingat papanya.


" Hah... Kan kakiku sakit pa, gak bisakah aku izin sakit" Bujuk Airena.


" No, no. Kamu tetap sekolah atau papa ambil kembali semua PlayStation yang kamu beli diam-diam. " Ancam papanya sambil senyum


Eh... Sialan papa tau aku beli PlayStation ucapnya dalam hati. Hans melihat wajah putrinya tertawa dan pergi kekamar nya.


***


Bel sekolah telah bunyi, Airena merasa capek dan kesusahan dengan kakinya. Laura dan Matthew membantu nya berjalan.


" Duh kamu tuh, masuk sekolah dengan kaki yang di gibs kayak gini. Harusnya istirahat aja" Bilang Matthew .


" Kalau bukan papa yang paksa sekolah aku gak mungkin ada di sini, memang iblis kejam dia" Keluhnya.


" Eh... Kamu pulang pakai apa Ai? " Tanya Laura melihat sekeliling gerbang.


" Kalian bantu aku sampai sini aja, biar aku lanjut sampai halte bus"


" Aih... Biasanya di jemput sama supir rumah bukan? " Tanya Laura.


" Dia udah jadi supir Sarah antar-jemput, kalau supir papa sedang antar papa keluar kota" Bilang Airena.


Akhirnya Airena pergi sendiri ke halte bus, sesampainya di San dia pun duduk. Menunggu bus menuju daerah rumahnya. Setengah jam dia menunggu busnya gak datang-datang.


Duh kok gak datang- datang, aku bisa sampai malam pulang nya kesalnya dalam hati. Tak lama sebuah mobil berhenti di depannya, dengan sigap dia langsung berdiri dan pergi. Sialan... Sialan... Dia kenapa di sini ucapnya dalam hati. Tanpa sengaja kakinya menambrak pot,..


" Wahhh.... "


Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggang nya menahannya jatuh ke tanah, Airena terdiam sambil menelan ludah.


" Hampir saja terjatuh lagi, dasar ceroboh " Bisikan Bryan dibelakang nya yang masuk memeluk nya.


Wajahnya mulai sedikit kepanasan, detak jantung nya mulai gak karuan, dengan cepat dia melepaskan tangan Bryan yang masih di pinggang nya.


" Lepasin aku, om" Bilang nya


" Jangan panggil aku om, sebut aja namaku" Perintah Bryan .


" Dih, orang udah tua juga, lepasin gak om. Kita di lihatin orang-orang " Resah Airena melihat orang-orang melihat tingkah mereka.


" Gak, kalau masih bilang om aku gak akan lepasin" Ancam Bryan gak peduli dengan sekitar nya. Airena menghela nafas menyerah.


" Okey, lepasin aku Bryan " Ucap Airena.


Bryan hanya terdiam, dan dengan cepat dia mengendong tubuh Airena. Dengan refleks Airena gak sengaja merangkul leher Bryan, membuat telinganya meledak. Airena langsung melepaskan dan melihat ke sekitar. Kakinya langsung berjalan menuju mobil dan tancap gas meninggal daerah tersebut.


Duh... Kenapa deg-degkan gini sih, uh terkutuklah aku suara hati Airena berkicau kicau membuatnya langsung menutup wajahnya dengan tasnya


***