
s 2
Airena meletakkan kepalanya di meja belajarnya, kepalanya di penuhin dengan kejadian tadi. Apa ini adalah pilihan terbaik ya tanyanya pada diri sendiri, tak lama seseorang mengetuk pintu kamarnya.
" Ya masuk" Teriaknya.
Mrs, sofie masuk dengan beberapa pelayanan rumah, Airena memmutar kursi belajarnya menghadap ke ibu tirinya.
" Ada apa ini? " Tanyanya sambil mengerutkan dahinya.
" Papa kamu menyuruh tante untuk mengukur badanmu. Bentar lagi desainer gaun pengantin datang" Bilang mrs. Sofie.
" Duh... Gak bisa besok gitu setelah pulang sekolah, ini udah malam aku mau tidur. " Keluh Airena, saat dia berdiri dari bangku belajar nya. Para pelayan langsung mengelilingi nya dan dengan cepat mengukur seluruh tubuhnya.
" Eh.. Ehh... " Kaget Airena.
Tak lama seorang pelayan datang ke kamarnya.
" Nyonya, sang desainer telah datang ". Bilangnya.
" Suruh dia ke sini" Perintah mrs. Sofie
" Hey, bisakah suruh dia datangnya besok, aku mau istirahat " Protes Airena.
" Waktu adalah harta, semakin cepat kamu di buat gaun pengantin nya semakin baik" Jawab mrs. Sofie sambil tersenyum.
Ugh... Sialan dalam hati nya.
***
Setengah jam kemudian
Mrs. Sofie masih melihat katalog gaun pernikahan, dia sangat kagum dengan desain-desain nya. Sedangkan Airena, dia udah ngantuk berat melihat Sofie ketagihan melihat-lihat.
" Wah, ini semua sangatlah indah, kamu mau pilih yang mana, Rena? " Tanya Sofie melihat Airena yang hampir ketiduran.
" Ngg.. Terserah kamu saja aku ngantuk mau ke kamar " Unjar Airena yang meninggal kan nya. Sofie hanya menghela nafas melihat anak tirinya, Maria temannya dan desainer gaun pengantin yang duduk di samping nya menyilangkan tangan.
" Anak itu gak sopan dengan mu Sofie, kenapa kamu mau sih ngurusin dia? " Tanya Maria.
" Dia adalah anak dari suamiku, dan aku akan selalu menyayangi nya seperti anakku sendiri" Bilangnya sambil dia berhenti di sebuah gambar gaun yang membuat nya terpanah.
" Eh... Maria, apakah gaun ini belum ada yang punya? " Tanya Sofie.
" Ah... Ini baru aku buat kemarin desainnya kebetulan belum pernah aku bikin, ini keliatan bagus banget bagiku"
" Terserah ya... Oke aku milih yang ini ukuran badan Airena udah ku ukur" Bilang Sofie.
" Baiklah, kau adalah ibu tiri yang baik ya Sofie. Ini adalah pilihan yang tepat" Puji Maria
***
2 minggu kemudian
Semenjak kejadian Airena di jemput seorang pria tampan, banyak anak perempuan yang membicarakan nya. Ada juga yang menggoda nya, dan ada juga yang membencinya. Tapi bagi Airena itu tak masalah, Sahabat nya juga pernah bertanya siapa pria yang menjemput nya.
" Dia keponakan papa jarang dia berkunjung ke rumahku" Jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Airena dan Matthew sedang latihan taekwondo di aula olahraga. Hari ini jadwal ekstrakurikuler di sekolah nya, koisu ikutan eskul badminton sedangkan Laura ikutan paduan suara.
" Hah, aku gak akan kalah lagi Ai"
" Kita lihat saja" Tantang Airena yang mulai pasang kuda.
Setelah pertandingan selesai kemenangan berpihak di Airena, Matthew yang kecapean melawan sahabat tersenyum.
" Kamu memang susah di kalahkan" Ucap Matthew sambil menerima tangan Airena.
" Makanya jangan remekan lengan ini" Bangga Airena sambil menunjukkan otot kecil di lengannya.
Selesai latihan koisu dan Matthew pulang dulu, Laura udah di jemput sepupunya.
" Dah, Airena " Bilang Laura sambil melambaikan tangan.
Airena tersenyum dan membalasnya, tinggal dia sendiri yang di depan gerbang sekolah. Dia pun melirik iphonenya, baterai nya low batt.
Ini mobil siapa tanyanya dalan diam.
Setelah kacanya di buka Airena kaget melihat nya, Bryan!.
" Cepat naik" Perintahnya.
" Gak, aku mau pulang sendiri" Tolak Airena meninggal kan nya. Saat dia mulai jauh dari mobil Bryan tiba-tiba seseorang mengangkat tubuhnya membuat Airena was- was.
" Hey, turunin aku" Berontak Airena.
" Diam " Ucap Bryan dingin.
" Ugh.... Lepasin gak turunin aku"
Bryan tetap membawanya ke mobilnya gak peduli orang di sekelilingnya menatap mereka.
" om, lepasin gak"
" Diam atau aku cium kamu di depan umum" Ancam Bryan dengan tatapan serius. Ancaman itu udah cukup membuat Airena terdiam. Bryan memasukkannya ke mobil dan dia cepat menginjak pedal gas meninggal lokasi tersebut. Dijalan Airena udah bete duluan dengan tindakan Bryan yang keterlaluan.
" Turunin aku di sini" Kesel Airena.
" Kita di suruh ke butik teman ibu kamu"
" Ngapain? "
" Mana aku tau! "
Ish... Ngapain bareng dia segala. Ucapnya dalam hati.
***
Maria sudah menyambut mereka di depan butiknya, dan langsung menyuruh mereka ke ruang ganti, Airena terlihat kaku dan gak mau masuk ke ruang ganti.
" Tante aku harus pakai gaun ini? " Tanya Airena gak yakin.
" Aih... Kamu lupa ya, kan kamu suruh Sofie terserah memilih gaun pernikahan kamu kan! " Ingat Maria dengan percakapan temannya. Airena menepuk jidatnya dia telah melakukan kesalahan besar.
***
Bryan sudah memakai jas pernikahannya, tenang Bryan ini hanya pernikahan setahun doang, hamilin si bocah tengil dapat anaknya itu langsung kembali ke Anna ucapnya dalam hati sambil menatap dirinya di cermin. Tak lama iPhone nya berdering di meja. Anna calling..
"Hallo, Bryan. Kamu lagi dimana?" Tanya seseorang dengan lembut di sembarang telpon
"Aku ada di butik, gimana kondisi mu? " Tanya Bryan sambil duduk.
" Ah... Seperti biasa, gak ada kamu jadi sepi " Curhat Anna.
" Ntar aku ke sana, oke."
" Oke peterpan, hehe, miss you"
" Miss you tinkerbell "
Selesai telepon Maria menyuruhnya berdiri di depan tirai besar, saat di buka Bryan terkejut melihat Airena. Tampilan nya berubah drastis, dia cantik nya bukan main- main. Semua pria yang melihat nya pasti akan meluluh hatinya, rambutnya yang di sanggul dengan bunga, gaun putih berbalut di kulit putih susu Airena berpaduan yang cocok. Airena terlihat malu, bukannya malu di lihat Bryan tapi punggung dan dadanya terlihat jelas. Saat Airena melihat Bryan yang melongo melihatnya membuat pipi nya merah.
" Gimana, Airena cantik sekali kan. Kalau tante jadi prianya pasti gak nyesal nikahin dia"
Bryan masih melihat nya tanpa kedip, dia cantik sekali ucapnya dalam hati gak sadar.
" Woy,mau sampai kapan dilihatin! " Protes Airena membuyarkan lamunan Bryan.
Dia udah gelisah melihat Bryan yang melihat nya terus menerus. Bryan langsung mengusap wajahnya dan pergi.
" Hey, gimana? " Tanya Airena.
" Hmm" Jawab singkat.
Bryan masih terlihat panas telinganya melihat Airena , duh... Sialan, kenapa aku jadi gini kesal Bryan sambil memukul dadanya yang berdetak sangat kencang.
***