Sweet

Sweet
Ch 3 - Sahabat



Elderick van zwei dia biasa ku panggil elde teman baikku sejak kecil, Dia adalah anak dari menteri


perekonomian di kerajaan ini sejujurnya aku agak benci dengan ayahnya, karena


gara-gara ayahnya lah kebijakan schwierig di berlakukan akibatnya banyak rakyat


miskin yang tersiksa.


“Franz emang gak kapok apa tiap hari telat terus?” Elde bertanya dengan ekspresi yang serius


“Entahlah, Bagiku yang terpenting aku masuk sekolah itu sudah cukup” Aku menjawabnya dengan nada


agak bercanda


“Yah sebagai teman mu aku kan jadi kasihan melihat dirimu setiap hari dimarahi dan dihukum,


lagian kenapa sih setiap berangkat sekolah kamu jalan kaki? Padahal kan rumah mu jauh dari sekolah”


Berbicara di dalam hati “Gilaa hari ini udah 3 orang yang tanya gitu, gak ada pertanyaan lain apa?”


Ketika aku mau menjawab pertanyaannya tiba ada seseorang yang menyaut “Karena Franz Cuma pengen jalan


kaki sekaligus olahraga, Betul gak Franz?”


“Hahaha betul banget tuh”


Elde menjawab dengan sedikit kesal “Apaan sih Regard, Tiba-tiba nyaut”


“Gitu aja marah, Baperan ah” Regard dengan nada menggoda


“Kita berantem aja yuk”


Melihat pertengkaran kecil itu aku pun segera melerai mereka “Eh udah udah jangan berantem, Kayak anak kecil aja”


“habisnya Regard asal nyaut aja sih, Kan ngeselin”


“Ahh gitu doang baper” Ejek Regard


“Hadeuhh udah jangan berantem lagi, Mending maaf-maafan sana”


Dengan terpaksa mereka saling meminta maaf.


“Eh Franz besok kita main kemana gitu, mau enggak? Ajak Regard


“Boleh juga tuh, Emangnya mau kemana?”


“ada deh, Besok juga tau”


“Ah iya juga besok aku enggak ada acara, Daripada bosen dirumah mending jalan-jalan” Jawab Elde


Regard langsung menyahut perkataan Elde “Emangnya ada yang ngajak kamu?”


Mendengar itu Elde jadi sangat kesal “Berantem aja yuk”


Lagi-lagi mereka berdua terlibat pertengkaran, Aku heran mengapa setiap mereka bertemu pasti


selalu bertengkar dan itu terjadi sejak kami masih kecil tapi jujur kadang aku merasa


terhibur akan perkelahian mereka dan walaupun mereka sering berselisih menurutku


mereka cocok jadi pasangan kekasih.


“Malah berantem lagi, Gini aja deh besok kita bertiga jadikan?”


“Ya jadi tapi ngapain pake ngajak Elde segala?


“Udahlah kita ini temenan dari kecil masa kalian mau berantem mulu”


“Ok kalau gitu besok mau ngumpul dimana?”


“Kalau itu mending dirumah mu aja Franz soalnya searah” Sahut Regard


“Ngomong-ngomong Ibu mu jago masak kan? sekalian dong suruh Ibu mu masak buat besok soalnya tempat itu gak ada yang jual makanan, gak perlu banyak kok yang penting  cukup buat kita bertiga”


“Gampang kalau masalah itu”


"Oh iya satu lagi besok habis kumpul dirumah mu, kita berangkatnnya jalan kaki saja ya?"


"Emangnya kenapa harus jalan kaki?" Tanya Elde


"Biar seru saja"


"Yaudah yang penting besok kita bertiga jadi jalan"


Waktu pun berlalu, keesokan harinya aku langsung bersiap diri dan menyuruh Ibu masak untuk keperluan kita nanti”


“Franz emangnya kamu mau kemana sih?” Tanya Ibu


“Enggak tau, Si Regard kemarin Cuma ngomongnya cuma mau ngajak ke suatu tempat”


“Oh gitu”


Tiba-tiba suara bel rumah berbunyi, Aku pun langsung bergegas membuka pintu, Ketika aku membuka pintunya ternyata Elde sudah datang


“Ah Elde cepat sekali kamu datangnya”


“Iya dong, Udah gak sabar aku buat hari ini” Elde sangat


bersemangat


“Kalau begitu masuk dulu soalnya Regard belum datang”


Karena menunggu Regard aku mengajak Elde ngobrol


“Wah cantik banget kamu hari ini”


Elde tersipu malu saat mendengar itu “Wah jelas dong kalau itu, Tapi nggak cuma hari ini setiap hari aku juga cantik hahaha”


“Hahaha terserah kamu deh”


"Ngomong-ngomong Masakannya Bibi sudah jadi? Kalau belum aku ingin membantu"


"Kalau masakannya sepertinya sudah jadi tadi"


Selang bebrapa menit kemudian terdengar suara bel berbunyi “Sepertinya itu Regard, Tunggu dulu ya aku mau buka pintunya”


“Siap”


Membuka pintu “Akhirnya kamu datang juga Regard, langsung masuk kedalam aja ya”


"Ok"


Regard dan aku langsung masuk ke dalam rumah “Nah berhubung kita semua udah kumpul, Sekarang kita pamit dulu ya sekalian ambil makanan yang tadi dimasak ibuku”


Lalu kami menghampiri ibu di dapur "Ibu kita berangkat dulu ya"


"Oh iya, Sekalian ini makanan yang tadi ibu masak"


Elde langsung menerima makanan itu "Terimakasih Bibi"


“Nah udah siap semua kan? Kalau begitu langsung kita mulai saja perjalanan hari ini!”