
Tahun 995 Sterben
Ahh pagi ini cerah sekali sama seperti hari-hari biasanya, Sepertinya ibu mebuat masakan yang banyak dan tentunya super enak hari ini yah itu karena hari ini aku sedang ulang tahun.
Terdengar suara ketokan pintu “Franz, ayo bangun ibu sudah memasak yang enak spesial untuk mu”
“Iya ibu, aku akan madi terlebih dahulu lalu segera turun kebawah untuk makan”
Setelah selesai mandi dan menuju ke bawah aku sangat terkejut karena makanan yang ibu
masak hari ini sangat banyak, walaupun setiap aku ulang tahun ibu selalu memasak banyak makanan tetapi ibu tidak pernah memasak sebanyak ini sebelumnya.
“Ibu, ini sangat berlebihan sekali lagipula perutku juga gak bakal muat kalo makan sebanyak ini”
“Karena hari ini spesial untukmu jadi ibu tidak mau mengecewakan mu, maaf jika ini terlalu
berlebihan”
“Sudah-sudah,
Franz sekarang kamu duduk aja terus makan sebentar lagi kamu berangkat sekolah Kan”
“yaudah deh”
“Franz nanti pas mau berangkat sekolah biar Eria-san aja ya yang nganterin biar kamu gak telat lagi”
“Enggak ah, Lebih enak jalan kaki kan sekalian olah raga, hehe. Emm ibu apakah aku boleh membawa beberapa makanan?”
“Ya boleh dong”
Akhirnya sesi makan pun selesai, aku bergegas berjalan kaki untuk menuju kesekolah. Di zaman
ini ketimpangan sosial sangat dirasakan apalagi Kerajaan menerapkan kebijakan
schwierig dimana semua orang atau keluarga harus membayar sekitar 100.000,00
syr perbulan kecuali untuk keluarga bangsawan dan Keluarga yang memiliki
pengaruh di kerajaan. Mungkin untuk keluarga kaya seperti keluargaku itu tidak
masalah tetapi bagi kaum bawah itu sangatlah merugikan, bagi mereka buat makan
aja sudah susah apalagi buat bayar kebijakan ini.
Dari kejuhan terlihat seorang wanita muda bersama dengan seorang anak kecil terbujur lemas,
langsung saja aku hampiri mereka.
“Nona kenapa kau lemas begitu, apakah kau belum makan?”
“Iya,tuan sudah beberapa hari ini kami tidak makan”
menabung “Kalau begitu ambil makanan dang uang ini”
“Terimakasih tuan, tapi aku tidak bisa menerimanya begitu saja apakah ada hal yang bisa aku
lakukan untuk membalas kebaikan tuan?”
“Tidak ada yang perlu kau lakukan aku ikhlas memberinya, yasudah nona aku mau berangkat
sekolah”
Hari sudah mau siang dan aku belum sampai kesekolahan, sepertinya hari ini aku bakal telat
lagi. Sesampainya di depan sekolah terlihat ada seseorang disitu.
“Franz, Kau telat lagi!”
“Hehe, Maaf Carl-san”
Ah lelah sekali hari ini aku dihukum jalan jongkok memutari lapangan sebanyak sepuluh
kali, rasanya kaki-kaki ini seperti mau copot. Karena itu aku tidak langsung
menuju ke kelas namun menuju ke kantin untuk membeli minum.
Dengan nafas terengah-engah “Ibuuu, aku beli minumnya dong”
“Eh Franz ini kan masih jam pelajaran ngapain kamu ke kantin?”
“Hadeh ya jelas beli minum lah bu, tadi abis di hukum jalan jongkok sepuluh kali muterin
lapangan capek tauu”
“Makannya, jangan telat lagi dong hampir tiap hari kamu telat, lagian kamu kan juga dari
keluarga yang sangat kaya kok berangkat sekolahnnya cuma jalan kaki?”
“emm cuma pengen aja sih”
“Ya udah deh ini minumannya”
Sungguh nikmat sekali minuman ini, mungkin karena lelah habis di hukum minumannya jadi terasa
nikmat seperti ini, Karena waktu sudah semakin siang aku harus segera ke kelas
tapi tampaknya hari ini adalah hari kesialan ku.
“Woy Franz!!”
Teriak Carl-san