
Sial aku ketahuan Carl-San pada saat minum di kantin, Padahal baru saja aku mau berangkat menuju
ke kelas, Sepertinya aku akan di hukum lagi.
“Bukannya langsung menuju ke kelas malah mampir ke kantin duluan, ehmm padahal baru saja
kau ku beri hukuman”
“Maaf Carl-San,Habisnya tadi hukumannya lebih berat dari biasanya sih jadinya aku mampir ke
kantin dulu hehe”
“Ya sudah, Kali ini kau akan ku beri hukuman yang lebih ringan”
“Yahh hukuman lagi”
“Bacot, Cepat sini ikut aku”
Lagi-lagi aku di beri hukuman, entah apa nanti hukuman apa yang akan di berikan kepadaku semoga
bukan hukuman fisik lagi. Setelah aku mengikuti Carl-San sepertinya arah ini
menuju ke gudang.
“Ok Franz, Sekarang cepat bersihkan gudang ini!”
“Hadeuhh, Ok deh”
Kali ini aku di hukum membersihkan gudang ya memang hukuman ini lebih ringan ketimbang hukuman
jalan jongkok sepuluh kali memutari lapangan, Tapi yang namanya hukuman
tetaplah hukuman mana gudang ini kotor banget lagi. Ketika aku sedang
membersihkan gudang tiba-tiba memberi sebuah pertanyaan kepadaku.
“Franz kenapa setiap hari kau selalu terlambat masuk sekolah?”
“Ya karena aku berangkatnya jalan kaki”
“Kenapa kau jalan kaki, apa kau dari keluarga kalangan bawah? Tapi setahu ku hanya anak dari
keluarga kalangan atas saja yang boleh sekolah”
“Bukan begitu, Aku hanya ingin jalan kaki saja sekalian olahraga”
“Franz seharusnya kau bersyukur lahir di keluarga yang kaya karena itu kau bisa bersekolah, di
luar sana banyak orang yang ingin bersekolah tapi tidak bisa karena lahir dari
keluarga kalangan bawah”
“iya dan aku sangat benci dengan aturan ini, kenapa keluarga dari kalangan bawah tidak boleh
bersekolah?, Padahal semua orang itu sama saja?
atas yang mampu membayar uang sekolah selain itu masyarakat kalangan bawah itu
penurut walaupun mereka di tindas mereka tidak akan berani melawan, itu terjadi
karena kurangnya pendidikan”
“benar juga, jika mereka di berikan pendidikan yang cukup mereka pasti akan melawan pemerintah
yang bodoh ini”
“Sudah sudah lanjutkan membersihkan gudangnya”
Dalam hati kecilku ini aku sering membayangkan jika ada tatanan masyarakat tanpa kelas pasti
sangat indah, Tidak ada lagi yang namanya status sosial lagi, Tidak ada lagi
yang namanya kaya dan miskin, ahh membayangkannya saja sudah sangat indah sekali.
“Carl-San aku sudah selesai membersihkan gudang ini”
“Kalau begitu langsung masuk ke kelas, awas kalo kekantin lagi”
“Siap”
Karena sudah semakin siang aku langsung menuju ke kelas, Sesampainya di kelas rasanya
seperti di introgasi, guru yang pada saat itu sedang mengajar langsung menghujaniku beberapa
pertanyaan.
“Kenapa kamu baru masuk sekarang?”
“Maaf bu, tadi aku terlambat masuk sekolah lalu di hukum”
“Ada apa?, Biasanya kalo kena hukuman tidak sampai sesiang ini"
“Soalnya tadi aku ke kantin dulu terus ketahuan sama Carl-San jadi di hukum lagi”
“Udah tau terlambat masih aja mampir ke kantin”
“Habisnya capek banget bu tadi dihukum jalan jongkok muterin lapangan sepuluh kali, Rasanya kaki saya seperti mau copot”
“ya sudah lainkali terlambat langsung ke kelas jangan ke kantin, Sana duduk terus mengikuti pelajaran”
“Ok”
Ketika aku duduk tiba-tiba ada seseorang yang memanggil ku.
“Woy Franz, Parah banget lo udah telat ke kantin dulu lagi”
“Berisik ah”