
Ubay bin Ka'ab adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Ubay merupakan sahabat yang mampu menghafal Al-Qur'an. Dia dipercaya menjadi sekretaris Nabi untuk penulisan wahyu dan surat-surat Nabi.
Ubay adalah seorang sahabat yang berasal dari kaum Anshar dari suku Khazraj. Ubay selalu berada di sisi Rasulullah. Dia ikut dalam Bai'at Aqabah, Perang Badar, dan perang-perang lainnya.
Ubay juga merupakan sahabat yang bertakwa kepada Allah SWT. Dia selalu menangis setiap kali menyebut Allah. Orang-orang yang mendengar Ubay membaca Al-Qur'an juga ikut menangis.
Al-Qur'an turun pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira pada 17 Ramadan. Peristiwa ini dikenal dengan nuzulul quran. Sejak saat itu Al-Qur'an turun secara bertahap. Ayat yang pertama kali turun adalah Surat Al-Alaq ayat 1-5. Setiap selesai menerima wahyu, Nabi Muhammad menyebarkan dan mengajarkan Al-Qur'an kepada para sahabat dan umat Islam lainnya.
Suatu hari, Rasulullah pernah bersabda kepada Ubay.
"Wahai Ubay bin Ka'ab, sesungguhnya aku diperintahkan untuk menunjukkan Al-Qur'an kepadamu," kata Ubay, seperti dikutip dari Biografi 60 Sahabat Rasulullah SAW karya Khalid Muhammad Khalid.
Mendengar ucapan Rasulullah, Ubay pun penasaran bertanya
"Wahai Rasulullah, apakah namaku disebut kepadamu?" tanya Ubay
Rasulullah pun menjawab bahwa nama Ubay disebut penduduk langit.
"Benar, nama dan nasabmu (disebutkan) di penduduk langit," ungkap Nabi Muhammad.
Semasa hidupnya, Ubay juga dikenal sebagai panutan. Umar bin Khattab pernah menyebut Ubah adalah junjungan kaum Muslimin.
"Saat wafat, banyak umat Islam memenuhi jalanan mengantar jenazah Ubay bin Ka'ab," tulis Mahmudah Mastur dalam Seri Ensiklopedia Anak Muslim, 125 Sahabat Nabi Muhammad SAW.
Ubay bin Kaab selalu berpegang kepada ketakwaan dan zuhud terhadap dunia, hingga tak dapat terpengaruh dan terpedaya. Karena ia selalu memandang hakikat sesuatu pada akhir kesudahannya. Sebagaimana juga corak hidup manusia.
Betapa pun ia berenang di atas lautan kesenangan dan kancah kemewahan, tetapi pasti ia menemui maut di mana segalanya akan berubah menjadi debu, sedang di hadapannya tiada yang terlihat kecuali hasil perbuatannya yang baik atau yang buruk.
Mengenai dunia, Ubay pernah melukiskannya sebagai berikut, “Sesungguhnya makanan manusia itu sendiri, dapat diambil sebagai perumpamaan bagi dunia. Dikatakannya enak atau tidak, tetapi yang penting menjadi apa nantinya?”
Bila Ubay RA berbicara di hadapan khalayak ramai, maka semua leher akan terulur dan telinga sama terpasang, disebabkan sama terpukau dan terpikat, sebab apabila ia berbicara mengenai agama Allah tiada seorang pun yang ditakutinya, dan tiada udang di balik batu.
Tatkala wilayah Islam telah meluas, dan dilihatnya sebagian kaum Muslimin mulai menyeleweng dengan menjilat pada pembesar-pembesar mereka, ia tampil dan melepas kata-katanya yang tajam, “Celaka mereka, demi Tuhan! Mereka celaka dan mencelakakan! Tetapi aku tidak menyesal melihat nasib mereka, Hanya kusayangkan ialah kaum Muslimin yang celaka disebabkan mereka!”
Karena kesalehan dan ketakwaannya, Ubay selalu menangis setiap mengingat Allah dan hari yang akhir. Ayat-ayat Alquranul Karim, baik yang dibaca atau yang didengarnya semua menggetarkan hati dan seluruh persendiannya.
Tetapi suatu ayat di antara ayat-ayat yang mulia itu, jika dibaca atau terdengar olehnya akan menyebabkannya diliputi oleh rasa duka yang tak dapat dilukiskan. Ayat itu berbunyi, “Katakanlah, Ia (Allah) Kuasa akan mengirim siksa pada kalian, baik dari atas atau dari bawah kaki kalian, atau membaurkan kalian dalam satu golongan berpecah-pecah dan ditimpakan-Nya kepada kalian perbuatan kawannya sendiri.” (QS. Al-An’am: 65).
Yang paling dicemaskan oleh Ubay terhadap umat Islam ialah datangnya suatu generasi umat yang saling berbantah-bantahan sesama mereka. Ia selalu memohon keselamatan kepada Allah, berkah karunia serta rahmat-Nya, Ubay memperolehnya. Ia menghadap Allah dalam keadaan beriman, tenteram dan mendapat limpahan pahala-Nya.