Stay With Qur'An

Stay With Qur'An
Aisyah



Setia hingga Maut Memisahkan


Aisyah binti Abu Bakar merupakan salah satu istri Nabi Muhammad SAW yang paling dikenal umat muslim. 


Aisyah binti Abu Bakar merupakan satu-satunya istri Nabi yang dinikahi dalam keadaan masih gadis. Dalam menjalani rumah tangganya Nabi Muhammad SAW, Aisyah menjadi suri teladan terbaik bagi umat Islam karena penuh ketakwaan dan keromantisan. 


Ketika istrinya Khadijah meninggal dunia, Rasulullah merasa sangat sedih. Di tengah kesedihanya, beliau kerap mengunjungi rumah sahabat-sahabatnya, termasuk Abu Bakar Ash-Shiddiq. 


Sejak itulah beliau mengenal Aisyah sebagai putri dari Abu Bakar sahabatnya. Hingga pada akhirnya Rasulullah menikahi Aisyah atas petunjuk Allah SWT. Ibnu Abu Mulaikah menyatakan bahwa Aisyah RA berkata, Jibril datang kepada Nabi SAW (dalam mimpi) dengan membawa gambarnya dalam sepotong kain sutra hijau seraya berkata, “Inilah istrimu di dunia dan akhirat.” (HR. Tirmidzi).


Mimpi itu dialami Rasulullah selama tiga malam hingga pada akhirnya beliau mengutus Khaulah binti Hakim bin Al-Auqash, istri Utsman bin Mazh’un, untuk datang ke rumah Abu Bakar dan meminta putrinya menjadi istri beliau. 


Menurut salah satu riwayat, kala itu Aisyah baru menginjak usia enam tahun.  Namun, keduanya dikatakan baru tinggal serumah dan menjalani biduk rumah tangga ketika usia Aisyah menginjak sembilan tahun atau tiga tahun setelah pernikahan keduanya digelar. Tepatnya setelah peristiwa Perang Badar.


Rasulullah SAW dikenal sebagai yang baik dan tawadhu terhadap istri-istrinya. Beliau juga dikenal sebagai seorang yang romantis dan lembut kepada istrinya termasuk Aisyah. 


Kemesraan ini tentunya melibihi kemesraan makan sepiring berdua. Hal ini diriwayatkan oleh Aisyah RA. Dia berkata: “Terkadang Rasulullah SAW disuguhkan sebuah wadah (air) kepadanya, kemudian aku minum dari wadah itu sedangkan aku dalam keadaan haid.


Lantas Rasulullah SAW mengambil wadah tersebut dan meletakkan mulutnya di bekas tempat minumku. Terkadang aku mengambil tulang (yang ada sedikit dagingnya) kemudian memakan bagian darinya, lantas Rasulullah SAW mengambilnya dan meletakkan mulutnya di bekas mulutku.” (HR Ahmad).


Selain itu, Nabi Muhammad juga mempunyai panggilan khusus untuk Aisyah. Rasulullah SAW memanggil Aisyah RA dengan panggilan Humaira’ yang artinya adalah putih kemerah-merahan. Qadhi Iyadh menyebutkan dalam Masyariqul Anwar: “Perkataan beliau kepada Aisyah ‘Ya Humaira’ adalah bentuk tasghir (panggilan kecil) kasih sayang dan cinta.” (juz I, halaman 702).


Sudah selayaknya pasangan suami istri memiliki perbedaan pendapat dan dapat mengatasinya dengan baik. Hal ini dimaksudkan agar perbedaan itu tidak memicu amaran dan berakhir menjadi konflik. Hal ini pernah dialami oleh Nabi Muhammad saat melihat Siti Aisyah marah.


Ibnus Sunni dalam Amalul Yaum wal Lailah, meriyawatkan hadis dari Aisyah: “Ketika Aisyah marah, maka Nabi SAW mencubit hidungnya dan berkata, “Wahai ‘Uwaisy (panggilan kecil Aisyah), katakanlah,‘Ya Allah, Tuhan Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah kemarahan di hatiku dan selamatkanlah aku dari fitnah yang menyesatkan’.”


Kisah romantis Nabi Muhammad dan Siti Aisyah bukan hanya terjadi saat mereka hidup. Dicatatkan sebagai kisah cinta yang sejati, Aisyah tidak pernah menikah lagi setelah Rasulullah SAW meninggal dunia.


Mengingat banyaknya momen-momen indah yang pernah mereka lalui bersama, Aisyah merasakan rasa duka yang begitu mendalam karena kehilangan. Bagaimana tidak, sosok yang begitu dicintainya itu meninggal dalam pangkuannya.


Alasan Rasulullah menikahi Aisyah


Aisyah adalah istri Nabi Muhammad yang paling cerdas.


Selain itu, Rasulullah SAW menikahi Aisyah saat usia putri Abu Bakar itu masih 6 tahun.


Nabi Muhammad menikahi Aisyah setelah bermimpi sebanyak tiga kali.


Mimpi seorang nabi merupakan wahyu atau petunjuk langsung dari Allah.


"Dari Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, 'Aku bermimpi tentangmu selama tiga malam. Malaikat membawamu dalam sebuah tempat yang terbuat dari sutera. Malaikat itu kemudian berkata, 'Ini adalah istrimu.' 'Aku buka wajahmu ternyata engkau di dalamnya.' Aisyah berkata, 'Jika ini datang dari Allah, maka akan berlanjut.'"


Diketahui, Allah SWT meminta Nabi Muhammad menikahi Aisyah karena suatu alasan.


Yakni, karena kecerdasan yang dimiliki oleh Aisyah.


Tak sekadar cerdas, kepandaian Aisyah bahkan dikabarkan mengalahkan kecerdasan para laki-laki pada masa itu.


Dengan otak encer yang dimilikinya, Aisyah bisa merekam jejak kehidupan Nabi Muhammad yang tak terjangkau oleh para sahabatnya.


Dari situ, Asiyah banyak meriwayatkan hadis.


Ia juga menjadi corong intelektual pada zamannya.


Berkat Aisyah, banyak ulama yang terbantu atas kontribusinya.


Pernikahan Nabi Muhammad dan Aisyah sendiri dilaksanakan saat bulan Syawal.


Dimana pada masa itu, bangsa Arab memiliku pantangan untuk menikah di bulan Syawal.


Namun, pantangan itu dipatahkan setelah Nabi Muhammad menikah dengan Aisyah.


Pernikahan keduanya berlangsung selang tiga tahun sejak Khadijah istri pertama Nabi Muhammad meninggal dunia.


Dari situ, Asiyah banyak meriwayatkan hadis.


Ia juga menjadi corong intelektual pada zamannya.


Berkat Aisyah, banyak ulama yang terbantu atas kontribusinya.


Pernikahan Nabi Muhammad dan Aisyah sendiri dilaksanakan saat bulan Syawal.


Dimana pada masa itu, bangsa Arab memiliku pantangan untuk menikah di bulan Syawal.


Namun, pantangan itu dipatahkan setelah Nabi Muhammad menikah dengan Aisyah.


Pernikahan keduanya berlangsung selang tiga tahun sejak Khadijah istri pertama Nabi Muhammad meninggal dunia.