Stars In The Rain

Stars In The Rain
Revisi



Pagi hari yang indah dikediaman Naury. Naury yang masih mandi sembari bernyanyi-nyanyi ria. Ya, selain membaca, hobi Naury lainnya yaitu menyanyi di kamar mandi.


Entah dari mana asalnya, ketika Naury bernyanyi di kamar mandi munurutnya suaranya selalu bagus. Dan, kalau disuruh bernyanyi di luar dari kamar mandi ia merasa tidak percaya diri. Bahkan, pernah ngamuk karena dipaksa untuk bernyanyi di depan umum. Sungguh kejadian yang memalukan.


Setelah selesai mandi, Naury melilit tubuhnya dengan handuk panjangnya. Dibukanya knop pintu kamar mandi. Lalu, ia berjalan menuju ke arah cermin full body. Ia mendongakkan wajahnya ke arah cermin. Ia menolehkan wajahnya ke arah kanan dan kiri di depan cermin.


"Oke!! Naury, kau bisa, kau kuat dan kau hebat." Ucap Naury menyemangati dirinya.


Dibukanya lilitan handuk ditubuhnya. Lalu, ia berjalan kearah kasur big size di kamarnya. Dan dikenakannya seragam sekolah yang tergeletak diatas kasur.


Setelah selesai mengganti baju, ia kembali berjalan ke arah meja riasnya. Lalu, menyisir rambutnya yang acak-acakan. Matanya yang sayu, tiba-tiba melotot.


"Ponsel." Ucap Naury, dan ia pun berlari kecil ke arah tas yang ia pakai kemarin ke sekolah. Ia merogoh tasnya hingga menemukan ponselnya.


Diketuknya layar ponsel itu hingga menyala. Satu notifikasi Chat dari nomor yang tidak ia kenal.


+628... : "Hai, ini nomorku, Kirana. Tolong di save dan untuk jadwal mata kuliah hari ini ada Matik, Biologi, Kimia dan Bhs Inggris."


"Aku pikir dia lupa mengirimiku jadwal." Gerutu Naury, dengan masih berkutik di depan layar ponselnya.


Naury pun, secepat kilat mengetik dengan jari-jarinya yang telah terlatih mengetik pada keypad ponselnya.


Naury : "Oke!! Terima kasih teman baikku😘"


Naury cekikikan sendiri dengan apa yang sudah ia lakukan. Pasalnya, ini pertama kalinya ia menggunakan emotikon pada saat mengechat seseorang.


Naury pun mengeluarkan semua buku yang ia bawa kemarin. Lalu, menggantinya dengan yang baru. Ia pun bersiap-siap masuk ke sekolah.


Naury membuka knop pintu kamarnya. Lalu, di ruang tamu yang berada satu ruangan dengan meja makan. Sudah berdiri seorang pelayan, yang selalu bersedia membuatkan apapun yang Naury inginkan. Bahkan, ketika ia tiba-tiba lapar pada saat tengah malam sekalipun. Nama pelayan yang selalu setia menemani Naury dirumah yaitu bik Kristy.


Bik Kristy, sudah lebih dari 5 tahun bekerja di rumah Naury. Setiap Naury libur, hanya wanita paruh baya itulah yang selalu setia menemaninya di rumah.


Maklum, Naury memang anak semata wayang dari keluarga terhormat. Ayahnya adalah seorang Kepala Staf Angkatan Laut. Itu sebabnya, rumah itu selalu kosong dan sepi. Karena, ayahnya sudah tinggal di Asrama, begitu juga dengan ibunya. Naury memang sudah mandiri dari kecil. Tidak heran, jika ia tidak keberatan tinggal sendirian di rumah sebesar ini. Itu pun ia tinggal di rumah ini hanya sementara waktu saja. Kalau tugasnya sudah selesai, maka ia pun akan kembali ke Asrama.


Sebenarnya, sudah berbulan-bulan Naury tidak pulang ke rumah. Jadi, jika ia tidak ada di rumah, bik Kristylah yang mengurus semua pekerjaan rumah. Sesekali, jika rumput halaman sudah panjang. Bik Kristy juga yang biasanya memanggil tukang potong rumput, untuk memotong rumput halaman rumahnya.


"Selamat pagi non Bell." Ucap bik Kristy dengan senyumnya yang tulus.


"Pagi bik, hari ini sarapan apa?" tanya Naury, sembari membuka tudung saji.


"Nasi goreng kesukaan non Bell." Sahut bik Kristy dengan terus melemparkan senyuman kepada Naury.


"Wah, sudah lama aku tidak makan nasi goreng buatan bik Kristy." Ucap Naury sambil menarik kursi ke belakang lalu ia segera duduk di kursi itu.


Dimakannya nasi goreng itu dengan lahap. Sampai nasi goreng itu tidak tersisa sedikitpun di piringnya. Bik Kristy pun senang melihat nonanya itu memakan nasi goreng buatannya dengan lahapnya.


Selesai sarapan Naury pun langsung pergi ke sekolah. Tidak lupa, ia berpamitan terlebih dahulu kepada bik Kristy yang sudah ia anggap sebagai bagian dari keluarganya.


Belum sampai ia di gerbang rumahnya. Sudah terlihat mobil Ferrari berwarna kuning terparkir di depan gerbangnya. Naury pun tersenyum lebar, hingga terlihat jelas lesung pipitnya.


Ya, siapa lagi yang berani parkir di depan pintu gerbang rumahnya Naury, kalau bukan Nata.


"Dasar, orang itu selalu seenaknya saja." Gumam Naury sembari terus berjalan mendekati mobil mewah itu.


"Selamat pagi Bell." Ucap Nata sembari membuka kaca mobilnya. Tidak lupa ia tersenyum ceria hingga memperlihatkan giginya yang putih.


Naury tidak menanggapi ucapan Nata, ia langsung membuka pintu depan mobil. Lalu, duduk di samping Nata yang mengemudi.


"Jalan, kita jemput Kirana terlebih dahulu." Titah Naury.


Nata menarik napasnya kasar. "Kau memang selalu seenaknya." Batin Nata dalam hati.


(---^•^---)


(Sementara itu di kediaman Kirana)


Kirana yang sudah berpakaian sekolah dengan rapi. Dan kini, ia sedang menunggu jemputan dari Naury di depan rumah sederhana miliknya. Dengan memakan sepotong roti yang ia beli kemarin malam. Ia menunggu Naury, karena ia tadi mendapat kiriman pesan dari Naury. Bahwa, Naury yang akan menjemputnya, untuk pergi ke sekolah bersama-sama.


"Kenapa Naury belum datang juga? Ini sudah hampir pukul 7, bisa-bisa aku bakalan telat ke sekolah." Ucap Kirana dengan muka masamnya.


®®®(---^~^---)®®®


"Hei, bisa cepat sedikit tidak. Bawa mobil aja lambat kayak siput." Pekik Naury dengan kesal sambil melirik Nata dengan sinis.


Nata tidak menanggapi omelan dari Naury. Ia pun langsung menancap pedal gasnya. Lalu, mobil pun melaju dengan sangat cepat.


"Kau sudah gila? Kalau begini caranya. Sama saja kau mengundang malaikat maut untuk mencabut nyawa kita berdua." Naury berteriak mengomeli Nata, sembari memegangi sabuk pengamannya.


Dengan semangatnya, Nata mempercepat laju mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia tidak memperdulikan omelan dari Naury. Karena ia sudah terbiasa dengan omelan Naury, walaupun Naury lebih muda darinya. Namun, ia membiarkan begitu saja ketika Naury mengomelinya.


Akhirnya setelah mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Beberapa menit kemudian, mereka berdua pun sampai di rumah Kirana. Nata segera menginjak rem dengan tiba-tiba. Membuat, Naury yang berada di dalam mobil bersama Nata kaget setengah mati.


"BRENGSEK KAU." Pekik Naury dengan matanya membelalak kearah Nata.


Kirana yang tepat berada di samping mobil itu pun tidak kalah terkejutnya. Ia bahkan sempat mundur beberapa langkah agar tidak tertabrak mobil Nata. Sedangkan Nata, hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar.


"Nona Naury, aku sudah bawa mobil pelan dibilang kayak siput, sekarang aku sudah membawa mobil ini dengan kecepatan penuh kau memarahiku lagi. Maumu apa sih?" tanya Nata dengan suara datarnya.


Naury hanya bisa mengernyitkan dahinya tidak percaya.


"Apa kau bilang? Hei, apa kau sadar? Sedetik saja kau tidak menginjak rem, cepat atau lambat, temanku pasti akan dijemput oleh ambulan karenamu." Lagi-lagi Naury memarahi Nata.


Nata tidak ingin berdebat dengan anak itu sekarang, ia hanya menganggukkan kepalanya pelan. Kemudian, ia membuka kaca jendela mobil. Ia mendongakkan kepalanya.


"Hai Kirana, ayo masuk ke mobil." Ucap Nata kepada Kirana.


Kirana menganggukkan kepalanya lalu berkata "iya". Lalu, ia segera bergegas menghampiri mobil itu dan membuka pintu mobil belakang.


"Hai Naury, aku pikir kau lupa menjemputku." Ucap Kirana dengan girangnya.


"Mana mungkin aku melupakan temanku." Sahut Naury.


"Tunggu, kenapa kak Nata berpakaian rapi sekali?" tanya Kirana.


"Jadi kamu tidak tahu ya. Sekarang aku resmi menjadi guru di sekolahmu." Ucap Nata sembari membanting stir kemudi, untuk memutar mobilnya. Lalu, dengan segera ia menginjak pedal gas untuk mempercepat sedikit kendaraannya.


"Hah, aku benci mata pelajaran sekarang." Gerutu Kirana. Namun, masih bisa didengar oleh dua orang yang berada di depannya.


"Jangan seperti itu. Nelson Mandela pernah mengatakan bahwa Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan, maka kamu dapat mengubah dunia. Jadi intinya, kamu harus belajar dengan tekun, agar kamu menjadi orang yang berpendidikan. Walau kamu tidak bisa merubah dunia. Ya, setidaknya kamu merubah hidupmu yang tadinya tidak tahu menjadi tahu. Dan, yang lebih penting kamu tidak dipandang sebelah mata oleh orang-orang." Ucap Nata kepada Kirana sambil matanya tetap fokus mengemudi.


Kirana pun merasa malu, mendengarkan perkataan dari Nata. Sedangkan Naury hanya memutarkan bola matanya malas.


"Kirana, hiraukan saja ceramahnya yang tidak berguna itu. Dengarkan kata-kataku ya. Fitzhugh Dodson mengatakan, tanpa sasaran dan rencana meraihnya, kamu seperti kapal yang berlayar tanpa tujuan. Jadi, kalau memang ini bukan skillmu buat apa menekuninya. kau tidak harus menguasai semua mata pelajaran di sekolah. Setidaknya, kau harus memiliki satu skill yang memang benar-benar kau kuasai. Kau pun harus mengembangkan skillmu itu. Maka, kau akan menjadi orang yang sangat sukses karena satu skillmu itu." Ucap Naury kepada Kirana dengan melirik Nata dengan sinis.


"Apa bedanya dengan ucapanku tadi?" Tanya Nata sinis.


"Ya bedalah, kau bilang pendidikan. Kalau pendidikan itu mencakup semua mata pelajaran yang murid-murid pelajari di sekolah. Sedangkan aku bilangnya skill, yaitu keterampilan seseorang. Jadi, seseorang pasti telah memiliki keterampilan mereka masing-masing. Mereka hanya harus mengembangkan skill mereka dengan baik, untuk menjadi sukses. Tidak perlu menghafal semua mata pelajaran disekolah. Mereka hanya perlu mempelajarinya. Kalau semua mata pelajaran di sekolah harus dikuasai semua murid. Otak mereka bisa pecah. Apalagi, pelajaran matematika dan juga sejarah sebuah negara. Bisa gila mereka kalau memang harus mengetahui sampai sedetail-detailnya." Jawab Naury dengan penuh semangat.


"Terserahmu, kapan sih kau pernah kalah kalau berdebat denganku." Ucap Nata pasrah.


Kirana hanya diam, mendengar perdebatan mereka bedua. Sesampainya di sekolah, banyak pasang mata melihat mereka bertiga. Kirana nampak tenang sekarang, karena ia tidak jadi telat. Sedangkan Naury, masih sangat kesal dengan Nata. Dan lagi, murid-murid yang melewati mereka, secara bergantian berbisik karena mereka diantar oleh seseorang yang akan segera menjadi guru di sekolahnya.