
Malam yang mendung, tanpa sinar rembulan dan bintang. Seorang gadis, menangis tersedu-sedu diatas lantai yang dingin di sebuah rumah sakit.
"Tuhan. Apa yang harus aku lakukan?"
Ia bangkit dari duduknya, sembari menghapus air mata. Kemudian, ia berjalan ke ruang IGD. Ia melihat seorang wanita paruh baya disebuah tempat tidur. Dengan mengenakan selang oksigen dihidung dan selang infus dipunggung tangan kanannya. Gadis itu kembali menangis.
Seorang dokter menghampiri gadis itu. Mata yang sudah memerah akibat menangis terlalu lama, tak bisa ia sembunyikan daei dokter muda itu.
"Maaf. Apa adik keluarga pasien?" tanya dokter itu.
"Iya, saya keluarganya, Dok."
"Apa tidak ada keluarga lain selain anda?"
"Sebentar lagi kakak saya kemari, Dok."
"Baiklah, nanti suruh kakaknya ke ruangan saya, ya!! Ruangan saya ada disebelah."
Pembicaraan yang membuat gadis itu pusing. Pikirannya kosong, ia tak bisa berpikir dengan jernih. Pandangannya kembali beralih kearah wanita paruh baya itu. Terdapat gelang berwarna merah muda dipergelangan tangan kanannya, terdapat tulisan dokter yang memang sulit dibaca dari gelang tersebut. Walau demikian, huruf M yang masih bisa dilihat dengan jelas, membuat tulisan itu mudah ditebak oleh gadis itu "Martini". Jadi, nama pasien itu adalah Martini. Sebuah nama sederhana, namun, sangat melekat dibenak gadis itu.
"Bu, cepat sembuh, ya. Jangan tinggalin Lia. Lia nggak mau sendiri." dengan terbata-bata, gadis itu berbicara.
Oke. Nama gadis itu adalah Lia. Dia gadis yang tidak begitu menarik, dengan segudang masalah yang selalu menumpuk dihidupnya. Kini, masalah baru menimpanya, setelah ia bergunjing dengan seseorang yang tak akan pernah ia sebutkan.
Setelah selesai makan dengan ibunya. Sang ibu mulai lemas dan tak sadarkan diri. Maka dari itu, ia dan keluarganya, membawa sang ibu ke rumah sakit.
"Lia makan dulu!!" ucap seorang laki-laki dengan mengenakan jaket abu tebal. Mengagetkan Lia, yang sedang melamun dengan menatap wajah sang ibu.
"Iya. Nanti aku makan, Kak" ucapnya.
"Makan dulu, nanti kamu sakit. Apa kamu mau dirawat disini juga?" ucap kakaknya kesal.
Kondisi sang ibu, membuat kakaknya stres berat. Belum lagi mengurus anak-anaknya yang masih kecil. Itu adalah rintangan yang berat, yang harus kakaknya lalui dengan tegar.
Lia mengangguk pelan. Ia pun kembali keluar menuju sebuah warung kecil dipinggir jalan dekat rumah sakit. Lia menarik napasnya dengan kasar, sebelum memesan makanan.
"Bu, beli bakso satu." ucapnya
"Aku benci rumah sakit." Pekik Lia dalam hati.
Lia memang dari dulu takut rumah sakit. Bau obat yang menyengat, terlebih lagi, pikirannya yang selalu memikirkan jaenazah-jenazah yang berada dirumah sakit. Membuat bulu kudunya merinding.
Namun, kini ia tidak bisa menghindari yang namanya rumah sakit ini. Kondisi ibunya, membuatnya harus melawan rasa takutnya. Kini, ia lebih takut kehilangan ibunya ketimbang takut akan jenazah-jenazah ataupun bau obat-obatan rumah sakit.
Tiga puluh menit berlalu, bakso yang dihadapannya pun habis. Sungguh gadis yang lambat. Ya, dia memang lambat. Gerakannya semakin melambat akibat beban yang ia rasakan dalam dirinya ini.
"Berapa, Bu?"
"Lima ribu saja, Dik."
Lia merogoh kantung celananya, lalu menyodorkan uang kepada pedagang itu. Tak lupa ia tersenyum tipis lalu, mengucapkan terima kasih.
Sudah menjadi kebiasaan, apapun yang ia beli, setelah membayar ia selalu mengucapkan terima kasih. Entah sejak kapan ia memulai kebiasaan itu.
Setelah membayar. Ia kembali ke ruang IGD untuk menemui sang kakak dan ibunya. Ia kembali melihat sang ibu yang masih tertidur pulas, dan juga sang kakak yang masih berbicara dengan dokter muda itu.
"Bagaimana keadaan ibumu, Li?" seseorang sekali lagi mengagetkannya.
Lia menoleh kebelakang, dengan tangannya masih memegang tangan sang ibu yang hangat. Terlihat seorang laki-laki paruh baya, yang menggendong anak kecil berusia lima tahun.
"Entahlah, Pak." ucapnya
"Kamu sudah makan?"
"Sudah. Baru saja Lia selesai makan."
Sang kakak menghampiri mereka. "Bapak." ucap gadis kecil dihadapannya. Gadis kecil itu adalah ponakannya Lia. Anak dari kakak laki-lakinya.
Drrtt... drrrt... drrrt!!
Handphone