Stars In The Rain

Stars In The Rain
Revisi



"tentu saja" Naury tersenyum bangga akan dirinya


Kirana masih membeku diam dengan mulut ternganga, ia masih tidak mempercayai Naury, bagaimana mungkin gadis secantik dan sepertinya dia gadis yang polos, masak dia bisa berkelahi, berbeda dengannya yang tomboy ini.


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, ayo kita ke kelas" giliran Naury yang menarik lengan Kirana yang masih membeku, sehingga Kirana tersadar dan menyamakan langkahnya dengan Naury.


Disepanjang koridor yang mereka lewati masih terdapat beberapa siswa yang berlalu lalang, walaupun bel masuk kelas sudah 10 menit berlalu. Langkah mereka semakin cepat menuju ke kelas, namun langkah Naury terhenti secara tiba-tiba, sehingga Kirana yang selangkah didepannya, mundur ke belakang mendekati Naury.


Naury menatap sebuah ruangan yang terbengkalai disebrang koridor yang mereka lewati. Ia menatap dengan sangat dalam sehingga matanya menyipit. Kirana yang melihat Naury pun menaikkan salah satu Alisnya, ia masih heran kenapa Naury melihat tempat itu dengan tatapan penuh dengan tanda tanya dan curiga.


"itu gudang sekolah Naury, tidak ada yang istimewa dari tempat itu" jawab Kirana sembari memukul pundak Naury, membuat Naury terkejut dan menoleh ke arahnya.


Naury pun mengerti, ia menganggukkan kepalanya beberapa kali hanya berkata "oh".


" udah ayo kita ke kelas keburu ada guru yang mengajar, bisa mati kita" sahut Kirana sambil berjalan mendahului Naury.


" apa yang mereka anggap tidak penting, itu adalah sesuatu yang sangat penting bagiku dan harus ku selidiki apa isi gudang itu" Yuri masih mematung di tempat.


"Naury mau ke kelas atau mau membolos aja sekalian?" sahut Kirana sambil membalikkan badan ke arah Naury lalu melipat kedua tangannya dan didekatkan ke dadanya.


Naury yang masih mencurigai gudang tersebut, pandangannya beralih ke arah Kirana, Naury hanya mengangguk pelan lalu berlari kecil menghampiri Kirana yang sudah sedikit jauh di depannya.


"apa yang salah dengan gudang itu?" pikiran Kirana mencari tahu apa yang dipikirkan oleh Naury mengenai gudang tersebut.


tok..tok..tok!!


Setelah mengetuk pintu kelas lalu dibukanya knop pintu itu dengan pelan oleh Kirana, ia mencari-cari sosok guru yang sedang mengajar, mereka menoleh ke kanan dan kekiri, hanya terdapat beberapa murid yang berada di kelas, ada yang memperhatikan mereka dan beberapa lainnya sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


"huh aman" Kirana mengelus-elus dadanya lalu melangkah masuk ke kelas disusul oleh Naury di belakangnya.


"kalian dari mana saja?" tanya seorang siswa yang memang menatap mereka dari tadi.


"anak-anak lain kemana?" Naury bertanya balik kepadanya


Siswa itu hanya mengangkat bahunya yang menandakan bahwa ia tidak tahu keberadaan teman-temannya yang lain.


Mereka berdua pun berlalu meninggalkan pertanyaan siswa itu tanpa menjawabnya, lalu mereka kembali ke tempat duduk mereka di pojok paling belakang.


"hhhm Naury memang kenapa dengan gudang itu?" tanya Kirana penasaran.


"bukan hal yang penting, aku hanya penasaran saja, soalnya aku baru melihat gudang itu" Ucap Naury tanpa ragu, namun tidak melihat Kirana, ia masih sibuk mengambil alat tulis di dalam tas miliknya.


Kirana hanya menganggukan kepalanya beberapa kali, lalu ia pun ikut merogoh tasnya mencari buku pelajaran dan alat tulisnya.


" dia tidak mencurigaiku kan?" Naury yang nampak ragu dengan mengerutkan keningnya sambil melirik ke arah Kirana yang sedang merogoh tas miliknya sendiri.


Mereka pun terdiam beberapa saat, tidak ada yang mau memulai pembicaraan, bangku mereka pun terlihat hening. Berbeda dengan bangku-bangku lainnya yang penuh warna akan canda tawa dan gosip murahan, kelas nampak riuh dengan tidak adanya guru yang mengajar.


Beberapa murid yang sudah kembali dari aktivitasnya diluar pun dengan santainya memasuki kelas tanpa rasa berdosa sedikit pun. Di kelas itu seperti tidak asing lagi dengan suasana kelas yang memang tidak pernah ada yang peduli satu sama lain.


Hanya sekretaris kelas dan ketua kelas yang memang bertanggung jawab akan kehadiran seluruh siswa di kelas itu. Naury memandang seseorang yang tadi menyapa dan menanyakan mereka tadi. Ia melihat orang itu sedang berbicara kepada salah satu siswa yang baru datang dari luar kelas, nampaknya siswa itu sangat kesal dengannya.


Kirana yang terus membaca novel yang sempat ia tunda tadi melirik Naury, lalu ikut melihat seseorang yang dilihat Naury. Sepertinya ia bisa menebak lagi apa isi pikiran Naury.


"namanya Angga Adhitama nama panggilannya Angga dia itu ketua kelas disini" Naury terkejut dengan suara Kirana yang begitu tiba-tiba, ia pun menoleh ke arah Kirana hingga tanpa sadar wajah mereka berdekatan.


"bagaimana? apa ada yang kau tanyakan lagi?" tanya Kirana kepada Naury sembari menaikkan kedua alisnya.


"bagaimana kau bisa tau isi pikiranku?" tanya Naury dengan penasaran


"kau melihatnya dengan sangat dalam sehingga matamu yang lebar itu menyipit, jadi aku tahu kalau kau ingin mengetahui mengenai orang itu, sama halnya dengan gudang tadi" Kirana hanya tertawa sambil mengambil kembali novelnya yang ia letakkan di atas meja.


Naury menganggukkan kepalanya "oh, ternyata kau tipe orang yang peka ya" dengan senyuman terpaksanya, lalu Naury mengambil pulpen lalu memainkan pulpen tersebut. Kirana tidak melihat ekspresi Naury tadi karena wajahnya sudah ditutup oleh novel, dan ia hanya fokus untuk membaca novel kegemarannya itu.


"apa bagusnya novel itu" Naury berdecak namun tidak dihiraukan oleh Kirana. Ia semakin kesal sekarang, lalu diambilnya novel itu secara paksa olehnya.


"apa bagusnya novel ini? sepertinya tidak menarik" Naury mengangkat novel itu lalu dijauhkan dari jangkauan Kirana sehingga Kirana tidak bisa mengambilnya.


"Naury kembalikan novelku, sifatmu kekanak-anakan" ucap Kirana menahan emosi.


Naury yang melihat Kirana yang emosi semakin menjauhkan Novel itu dari jangkauan Kirana sambil tertawa tebahak-bahak.


"NAURYYYYY" Kirana berteriak hingga suasana kelas yang riuh seketika menjadi sunyi, semua murid menatapnya dan juga Naury.


"hei bisa tidak jangan caper jadi orang" ucap salah satu siswi yang sedang memandangi mereka dengan sinis dengan memegang ponselnya.


Mereka berdua pun kembali duduk dengan manis, Naury meletakkan novel milik Kirana di atas meja. mereka berdua hanya diam dan kelas kembali riuh seperti semula.