Starry Night

Starry Night
Olympic Club 2



"Jes, gua mau anggota olim lo tambah." tiba -tiba Farrell melemparkan map ke meja Jessy.


Jessy melirik Farrel yang masih berdiri di dekat meja mereka, ternyata teman-temannya sudah duduk di meja sebelah.


"Oh, gue dah punya calonnya!" ceplos Jessy sambil melirik ke arah Fanny, Fanny memejamkan matanya memberikan isyarat.


Bukannya menjawab Farrell malah duduk di meja sebelah, ikut bersama teman-temannya.


"Kenapa sih?" Zara bingung, tak mengerti apa yang terjadi.


"Lupain aja, oh iya Jumat ini panti mana Ay?" Rifa sebagai sekertaris memastikan, sekaligus mengalihkan pembicaraan agar tak ada yang curiga.


"Panti Deket sini kok," Ayra meletakkan es tehnya, "Soalnya kemaren ada yang mau jadi donatur trus rumahnya deket sini." tangan Rifa dengan lincah mencatat penjelasan Ayra.


"Oh, tapi nanti donaturnya ikut acara nggak?" tanya Zara membuat Ayra berfikir, Ayra menggeleng pelan.


"Nggak tau ih, aku lupa belom nanya." Ayra langsung mengecek ponselnya, memberikan pesan pada donatur acara mereka esok Jumat.


"Kita besok pake baju apa?" Fanny yang bingung harus membahas apa akhirnya mendapatkannya.


"Warna hijau aja kali, kan lambang kegiatan kita warna hijau." usul Jessy, semua mempertimbangkan.


"Oke, besok Jumat kita harus semangat!" pekik Rifa keras.


🌟🌟🌟


Jessy melangkahkan kakinya keluar dari ruang olympic club, rasanya ia sudah terlalu banyak mengerjakan soal-soal hari ini.


"Jessy." suara panggilan Farrell membuat langkah Jessy tertahan, Jessy membalikkan tubuhnya dan mendapati Farrel berdiri di ambang pintu.


"Ya?!" Jessy menjawab sesingkat mungkin, tiba-tiba Farrell melemparkan satu jaket olympic club. Membuat Jessy menangkapnya dengan terkejut, ia menarik napas kesal. Dengan heran Jessy memandangi jaket tersebut, lalu memandang ke arah Farrell.


"Terserah lo siapa aja, lo yang ngetes!" perintah Farrell dan pergi begitu saja meninggalkan Jessy, Jessy yang hendak menolak mengurungkan niatnya.


Jessy segera melipat jaket tersebut dan memasukkan ke dalam tas ranselnya, sekarang tugasnya hanya satu mengetes Fanny dengan soal yang diberikan Farrell.


🌟🌟🌟


"Aaahhh!!!" Fanny berteriak kencang, Jessy yang tengah memaninkan ponselnya di ranjang Fanny menoleh.


"Gila! Lo ngasih gua tes apa tes hah?!" Fanny menumpahkan kekesalannya mengacak-acak rambutnya sendiri, Jessy tertawa pelan bangkit dari posisi tidur.


"Sorry ya, gue cuma menyampaikan soal dari ketua club. Bukan gue juga yang buat." Jessy duduk di ranjang, memandangi Fanny yang tengah stress dengan soal olimpiade di meja belajar.


"Kalo gue yang buat, gue jamin anak smp bisa ngerjain!" Fanny malah mengerucutkan bibirnya.


"Ah dasar lu!" Fanny kembali menatap soalnya.


"Fan!" panggil Jessy, Fanny menoleh malas ke arah Jessy.


"Tada!" Jessy menunjukkan jaket olim yang diberikan oleh Farrell, mata Fanny berbinar.


"Semangat lah! Ntar lo bisa pake ni jaket. Dan biar lo gampang ikut lombanya." Jessy menaik turunkan alisnya.


"Baiklah, walau nilai gua bagus gara-gara lo." Fanny menatap kearah Jessy yang duduk di ranjang.


"Tapi gua bakalan buktiin kalo gua BISA!" Fanny berteriak dan kembali mengerjakan soal-soal olimpiade.


Jessy memperhatikan kalimat Fanny, rupanya sahabatnya itu masih ingat kejadian tahun lalu.


Dimana ia menjadi sorotan anak IPA karena nilai ulangan IPAnya lebih tinggi dari anak IPA, untung Fanny tak begitu menggubris sehingga tak ada yang tau bahwa Jessy yang mengajari Fanny.


🌟🌟🌟