Starry Night

Starry Night
Agree With Your Challenge



Fanny segera merapikan buku-bukunya, niat untuk belajar di perpustakaan sepanjang jam kosong berlangsung urung dilakukannya. Setelah mengetahui bahwa manusia dihadapannya adalah Farrel, cowok yang paling dingin seantero sekolah. Menurut rumor yang beredar di sekolah, siapa pun yang mengganggunya maka akan kena imbasnya.


"Kenapa pergi?" tanya cowok yang baru saja datang, Fanny menatap cowok itu, berusaha mencari-cari alasan.


"Eum, itu dah bel." alibi Fanny singkat, cowok itu memandangi seragam Fanny dari atas hingga bawah.


"Lo anak Bahasa kan?" tanya cowok itu yang membuat Fanny mengangguk, "Bukannya anak Bahasa lagi jamkos ya?" Fanny merutuki kebodohannya dalam hati, seharusnya ia ingat pengumuman jamkos anak Bahasa diumumkan di pengeras suara.


"Iya," namun jawaban Fanny malah membuat cowok itu menatapnya dengan tanda tanya, "Oh gua ditunggu ma temen." imbuh Fanny.


"Oh ditunggu temen, kenalin, gua Dani." cowok bernama Dani itu mengulurkan tangannya, Fanny menatap tangan itu sekilas.


"Oh, gua Fanny. Sorry, gua duluan ya." Fanny berjalan keluar dari perpustakaan sekolah, tanpa menghiraukan tangan yang Dani yang masih terulur.


Fanny? batin Farrel sambil menatap langkah gadis tersebut.


"Sumpah tu cewek, baru kali ini tangan gua digantungin ma cewek." Dani memandangi tangannya, Farrell yang merapikan bukunya berdehem mengejek.


"Tangan lo nggak level kali ma dia." Farrell berjalan meninggalkan Dani.


"Wah ngejek lu Rel! Gini-gini gua banyak yang naksir ya!" sanggah Dani dan mengikuti langkah Farrell.


Farrel berjalan kedepan, dengan pandangan yang masih tertuju pada gadis yang bernama Fanny.


Apa dia yang namanya Fanny anak bahasa? Bocah Bahasa yang nilainya diatas anak MIPA?! batin Farrel sambil menatap langkah gadis tersebut.


 


🌟🌟🌟


 


"Fanny!" Rifa bertariak saat melihat sahabatnya berjalan keluar dari perpustakaan, pelampiasan dari rasa gemasnya.


Fanny hanya menengok, dan melihat perubahan di wajah sahabatnya.


"Hmm." Fanny berjalan mendekati Rifa, namun ekspresi wajah yang ditunjukkan Rifa masih terlihat aneh.


"Kenapa..." belum usai Fanny menyelesaikan kalimatnya Rifa sudah menarik tangannya dan berjalan menjauhi perpustakaan.


"Sumpah Fan! Gila!!" Rifa mulai mengeluarkan suaranya, Fanny menatap sahabatnya aneh.


"Lo sehat?" Fanny memastikan.


"Ah! Lo malah bercanda! Gua serius!" kesal Rifa. Fanny memilih diam, masih belum mengerti dengan apa yang terjadi pada sahabatnya.


"Tau nggak Fan?!" Rifa menatap manik mata Fanny, Fanny menggeleng pelan.


"Si Farrell tadi waktu jalan keluar dari perpustakaan ngeliatin lo terus!" ujar Rifa bersemangat, Fanny menghembuskan nafas pelan.


"Gua kira apaan tau nggak!" kesal Fanny, saat Fanny ingin bangkit dari duduknya Rifa malah menariknya.


"Yakin lo nggak tertarik?" goda Rifa, Fanny memutar bola matanya malas.


"Dih ogah! Ngapain juga kepoin balok es!" ujar Fanny, Rifa memejamkan matanya berusaha mencari ide.


"Gua punya ide!" Rifa tersenyum penuh arti, membuat Fanny sedikit waspada. Rifa mendekatkan mulutnya pada telinga Fanny, membisikkan ide yang baru saja ia dapatkan.


"Oh, Lo nge challenge gua?" simpul Fanny setelah mendengar ide Rifa, Rifa mengangguk.


"Yaps! Lo buktiin seberapa kuat lo ngelawan tu bocah!" tantang Rifa bersemangat.


"Oke, kalo gua harus deketin tu balok es lo harus deketin si Dani!" ujar Fanny tak mau kalah, Rifa membelakkan matanya.


"Nggak adil lo! Lo kan tau gue suka ma Dani, masak gue yang PDKT in dia." tolak Rifa kesal.


"Bodo! Harus adil, gua Farrell lo Dani!" putus Fanny, Rifa menghela nafas.


"Deal! Gue setuju." putus Rifa.


" Oke Deal!" Fanny menjabat tangan sahabatnya.


Oke, cuma deketin balok es doang! batin Fanny.


🌟🌟🌟