Starry Night

Starry Night
Olympic Club



Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, namun Fanny masih belum bisa memejamkan matanya. Rasanya ia harus melakukan sesuatu hal untuk dapat ikut serta dalam lomba.


"Pikir Fan! Lo harus butuh bantuan orang!" Fanny meyakinkan dirinya sendiri. Fanny meraih ponselnya, melihat-lihat kontak.


"Oiya, Jessy kali ya!" Fanny segera menekan panggilan telepon dengan Jessy, sekarang ia membutuhkan bantuannya.


"Jes! Lo sibuk nggak?" Fanny membuka pembicaraan setelah Jessy mengangkat panggilannya.


"Hmm, nggak kok Fan. Tumben lo nelpon gue jam segini, ada apaan?" Jessy membenarkan posisi ponselnya, sebenarnya ia sedang mengerjakan soal-soal olimpiade.


"Gua butuh bantuan lo nih!" ucap Fanny bersemangat.


🌟🌟🌟


"Gimana-gimana Fan!" Jessy menyilangkan kedua tangannya di depan dada, kesal dengan Fanny yang tak kunjung menyampaikan keinginannya.


"Oke-oke, gua mau tanya." Fanny mulai serius, "Club olimpiade nerima personil baru nggak??" Fanny menatap wajah Jessy.


Jessy yang awalnya kesal langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung harus menjawab apa.


"Gimana ya Fan, kemaren sih ada yang keluar satu anggota. Gue sebagai wakil kalo lo mo masuk oke-oke aja, tapi yang susah ma ketuanya." jelas Jessy menyesal.


"Ah, nanti gua bantu bujuk deh! Kayaknya bisa deh ya!" pinta Fanny, Jessy menghembuskan nafasnya.


"Emang lo tau siapa ketua club?" tantang Jessy, Fanny menggelengkan kepalanya pelan.


"Si Farrell, yang gue pernah bilang es baloknya jurusan MIPA." jelas Jessy yang membuat Fanny juga menghembuskan nafasnya.


Aduh! Farrell ketuanya?! Gimana caranya gue bisa lolos seleksi lomba?! batin Fanny.


"Emang gue sih berani bilang, tapi apa dijawab nanti? Gue nanya rumus aja kaga dijawab." kesal Jessy.


"Eh Jes, lo ikut seleksi lomba cerdas cermat nggak?" Fanny mulai mengalihkan pembicaraan, malas membahas balok es.


"Ikutlah, si Ayra gue ajak nggak mau. Lo ikut kah?" tebak Jessy, Fanny pelan mengangguk. Sebenarnya Fanny malu, karena ini adalah pertama kalinya ia ikut seleksi lomba.


"Siaap, tumben lo ikut beginian. Pantes aja pengen ikut club olimpiade." goda Jessy.


"Gue dapet challenge nih ceritanya." jelas Fanny, Jessy mengacungkan jempolnya.


"Siap, lagian lo sebenarnya bakat ko di MIPA, cuma harus kerja keras gitu." jelas Jessy, Fanny menghembuskan napas.


"Gua juga suka MIPA, tapi ya gitu enak di bahasa. Tapi masa mama nyuruh gua masuk kedokteran, kan nggak nyambung la ya sama bahasa?" Fanny bingung.


"Aduh pusing gua!" Fanny memegangi kepalanya, "Eh, Jes bentar lagi mau masuk. Gua cabut dulu ya?!" Fanny menepuk bahu Jessy.


"Siaap, ntar kantin yak! Kumpul-kumpul, sekalian bahas buat besok Jumat." Jessy sedikit berteriak, Fanny mengacungkan jempolnya setuju.


DEG!


Fanny menoleh ke belakang, ia merasa menabrak sesuatu di belakangnya.


"Eh sorry-sorry," Fanny membalik kan badannya, tadi ia berjalan mundur karena menjawab usulan Jessy.


Cowok yang di tabraknya hanya diam, sembari meraih ponselnya yang terjatuh. Fanny menahan napasnya, berharap ponsel yang terjatuh itu baik-baik saja.


"Nggak pa-pa kan?" tanya Fanny ragu karena tak tahu siapa manusia yang telah di tabraknya.


Cowok itu meliriknya sekilas, membuat Fanny benar-benar tak bisa bernafas.


"Itu..." belum habis kalimat Fanny cowok itu berlalu, meninggalkan Fanny. Fanny menarik nafas kesal, berbalik badan dan mengepalkan tangannya ke arah cowok bernama Farrell tersebut.


Farrell tiba-tiba menoleh, membuat Fanny tersenyum tipis dan melepaskan kepalanya tangannya. Jessy yang melihat kejadian tersebut tertawa tertahan, membuat Fanny menatapnya kesal kembali berjalan ke arah kelasnya.


🌟🌟🌟


Kanti selalu ramai, mana ada sejarahnya kantin sekolah sepi paling-paling waktu liburan. Hari ini tak hanya Rifa dan Fanny, tapi ada Jessy, Ayra, dan Zara.


Jessy adalah anak jurusan MIPA, suka banget sama yang namanya matematika, cita-cita simpel mau jadi dokter anak.


Nah si cantik yang berkerudung namanya Ayra, ia dari jurusan agama. Suaranya paling bagus diantara mereka.


Kalau si Zara jangan ditanya, yang bentuk duduknya paling petangkringan dan nggak bisa diem, cewek tomboinya anak IPS.


Tapi mereka dengan perbedaan yang ada, atau mungkin bisa dibilang benyak perbedaan mereka ini cukup akrab. Yah mungkin karena dulunya satu almamater SMP.


"Eh, besok Jumat kayak biasa kan?" Jessy mulai membahas kegiatan rutin hari Jumat mereka.


"Iyalah, kegiatan Jumat kita nggak boleh berhenti." tegas Fanny.


"Jes, gua mau anggota olim lo tambah." tiba -tiba Farrell melemparkan map ke meja Jessy, Jessy melirik Farrel.


Sejak kapan dia mau ngomong ma gue?! batin Jessy.


🌟🌟🌟