Starry Night

Starry Night
Prologue



"Fan, yakin lo mau ke perpus?" Rifa menyikut pelan lengan tangan Fanny. Sebenarnya Rifa merasa tidak nyaman berada di gedung jurusan MIPA, gedung dimana perpustakaan sekolah berada.


"Yakin, kenapa?" Fanny tetap melangkahkan kakinya menuju perpustakaan, tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya yang menatap mereka dengan aneh.


"Ya nggak apa sih, cuma kan kebanyakan anak-anak MIPA yang ke perpus. Masa kita anak Bahasa ke sana." Rifa berusaha menutupi rasa tidak nyamannya.


Keberadaan mereka di gedung jurusan MIPA sangatlah mencolok, mungkin karena seragam sekolah antar jurusan yang berbeda.


"Kenapa? Lo takut ma anak MIPA?" Fanny melirik Rifa, Rifa diam tak menjawab bersamaan dengan pintu perpustakaan sekolah yang otomatis terbuka saat mereka berada di depannya.


"Ikut nggak lo?" Fanny memastikan sahabatnya akan ikut dengannya, namun Rifa malah masih memandangi seisi perpustakaan.


Dengan kesal Fanny melangkahkan kakinya memasuki ruang perpustakaan, meninggalkan Rifa yang masih enggan memasuki ruang perpustakaan.


"Eh Fan! Tunggu!" Rifa sedikit berlari menyusul langkah Fanny, menahan malu ditatap pengunjung perpustakaan karena berteriak.


Perpustakaan ramai seperti biasanya, dan banyak didominasi oleh anak jurusan MIPA. Mungkin anak jurusan MIPA memang banyak tugas, sehingga seringkali memenuhi perpustakaan.


Fanny mendekati rak buku bagian kamus dan buku bahasa, mencari buku yang dibutuhkannya. Usai mendapatkan apa yang dibutuhkannya Fanny menatap sekitarnya, mencari-cari tempat duduk yang kosong.


"Rame kan! Cabut aja kuy!" Rifa menarik pelan tangan Fanny menuju pintu perpustakaan, namun Fanny menahannya. Mata Fanny menangkap dua kursi kosong yang hanya diisi satu orang cowok di depannya, tanpa menunggu lagi Rifa ia segera melangkahkan kakinya.


"Fan.." Suara Rifa sedikit tertahan, mengingat bahwa ia sedang berada di perpustakaan. Huft! Kondisikan suara mu Rifa! batin Rifa memperingatkan dirinya sendiri.


DRRRT!


Ponsel Rifa bergetar, dengan segera Rifa membuka ponselnya. Tak sadar dengan Fanny yang sudah dekat dengan meja yang dituju, setelah mengecek ponselnya Rifa memperhatikan cowok yang duduk di bangku tujuan Fanny.


DEG!


Rifa yang hendak menyusul Fanny seketika menahan langkahnya, saat menyadari meja siapa yang didekati oleh Fanny.


"Aduh!" Rifa memijat dahinya merasa khawatir, dari pada mengikuti langkah Fanny ia memilih melangkahkan kakinya keluar dari perpustakaan.


BRUUK!


Fanny meletakkan buku-buku yang diambilnya dari rak ke meja, membuat cowok yang duduk diseberang meja meliriknya sekilas.


"Kosongkan?" Fanny bertanya singkat, bukannya menjawab pertanyaan Fanny cowok itu malah kembali melakukan pekerjaannya. Fanny menghembuskan nafas pelan, segera duduk tanpa menghiraukan manusia dihadapannya.


DRRRT!


Sebuah pesan masuk dalam ponsel Fanny, membuatnya harus merogoh saku rok abu-abunya. Mencari benda pipih yang tadi bergetar.


Rifa:


Fan!


Lo beneran duduk di bangku depan tu cowok?!


Dengan malas Fanny mengetik pesan balasan untuk sahabatnya.


Fanny:


Kenapa?


Fanny menengok ke arah sekelilingnya, entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang kurang.


Rifa:


Lo nggak tau siapa cowok yang duduk didepan lo?


Fanny melirik manusia yang sedang mengerjakan tugas dihadapannya, tapi ia tak mengenalinya.


Fanny:


Nggak


Fanny meletakkan ponselnya di atas meja, mulai membuka buku-bukunya.


DRRRT!


Ponsel Fanny bergetar lagi, membuat cowok dihadapannya meliriknya lagi. Fanny menatap wajah cowok itu sekilas dan kembali memperhatikan ponselnya.


Rifa:


Lo nggak nyadar gue tinggal?


Fanny memejamkan matanya, pantas saja ia merasa ada yang kurang. Ia sampai lupa kalau tadi Rifa ikut bersamanya.


Rifa:


Fan gue di luar, lo masih yakin duduk di situ?


Lo diliatin ma anak MIPA!


Fanny mematikan ponselnya, tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh orang sekitarnya. Lagi pula ia hanya duduk dan tidak membuat kerusuhan di perpustakaan.


KRIIING! KRIIING! KRIIING!


Bel tanda masuk kelas berbunyi, namun Fanny masih berkutat dengan buku-bukunya.


"Woi Rel! Lo nggak denger dah bel?" seseorang berteriak dari arah belakang Fanny, Fanny mengerutkan keningnya. Rel? Apa jangan-jangan dia Farrell, batin Fanny.


"Rel, Farrell! Lo denger gua nggak sih?!" cowok yang memanggil Farrell itu menepuk pundak lurus Farrell.


Mampus gua! batin Fanny.


🌟🌟🌟