Skara In Lies

Skara In Lies
Melihat Kembali



Pagi kembali menjelang, Purnama bangun lebih awal dan menuruni tangga. Menghampiri Bibi Marni yang tengah sibuk dengan menu sarapan hari ini.


"Aroma nya enak sekali Bi"


Bibi Marni tersenyum lembut, menoleh dan berkata " Nyonya duduk saja, sarapannya akan segera saya sajikan"


Purna membenarkan posisinya, "Panggil Purnama aja Bi"


Namun Bibi terlihat kikuk, ia merasa tidak sopan dengan panggilan jika hanya memanggil dengan nama, ia berkata dengan lembut "Iya Non" dan Purnama hanya tersenyum, ia tidak perlu memaksa dan ia sendiri sangat bersyukur karena berada di keluarga yang saling menghormati dan menyayangi nya.


"Purnama" panggil Bagaskara dari tangga lalu berlari menghampiri Purnama sambil memeluk nya


"Ada yang bersedia mendonorkan mata untukmu" Bagaskara dengan bahagia nya mencium kening Purnama. Sedangkan wanita buta itu hanya menangis haru, sebentar lagi, ia akan melihat dunia beserta suami nya kembali


Bagaskara tersadar, ini salah! Purnama adalah istri adiknya.


Ia merogoh jas nya dan mengambil ponsel untuk segera mengirim pesan kepada Alaskara 'Datanglah ke rumah sakit, Purnama akan menjalani operasi ' pesan itulah yang di baca oleh Alaskara, sambil mendengus kesal, ia memakai baju milik Bagaskara yang telah di siapkan. Melihat dirinya di cermin sambil bergumam "Kau terlalu percaya akan kebodohan ku Kak, padahal kita sama tapi tujuan kita berbeda"


Sampailah Alaskara di rumah sakit, di lihatnya lampu operasi yang masih menyala, tanda Purnama dalam masa operasi.


Lampu tersebut padam, Dokter dan Bagaskara keluar dari ruangan tersebut dan mendapati Alaskara yang tengah duduk di kursi tunggu.


Bagaskara menghampiri nya "Ambillah" ia menyodorkan sebuah kunci


"Bawa Purnama ke Apartement ku, kau harus menjaganya disana" lanjut Bagaskara dan mampu membuat Alaskara menatap nya dengan heran


"Kak?"


Bagaskara merengkuh tubuh Alaskara "Tolong jaga dia, Purnama akan melihat diriku dalam dirimu. Wajah kita memanglah sama tapi orang yang ia cintai adalah Aku! Kau harus terbiasa dengan panggilan Kak darinya, bagi Purnama, kau adalah Bagaskara. Kau mengerti?"


Bagaskara melepaskan pelukannya dan mengusap rambut Alaskara dengan lembut "Kau anak baik, Kakak menyayangimu"


Alaskara tersenyum, mata nya berbinar dan mulutnya mulai bergetar "Kau mencintai nya?"


"Sangat, aku sangat mencintai nya" jawab Bagaskara dengan lembut


Alaskara menjawab dengan tegas "Baiklah, aku akan mencintai nya juga tetapi sebagai dirimu!"


Bagaskara menatap nya dengan sendu, ia mengangguk perlahan "Pulanglah, akan ku kabari jika perban nya sudah di buka"


"Hmm, aku pulang Kak" Alaskara berlalu dan Bagaskara masih menatap kepergian nya


"Tapi ku mohon, jangan cintai dia sebagai dirimu, Alaskara. Purnama hanya milikku, akan ku ambil kembali jika aku sudah bertanggungjawab atas Lidya" ucap Bagaskara lalu masuk ke dalam ruang istirahat Purnama


1 minggu lamanya, Purnama akhirnya memasuki tahap pembukaan perban di matanya. Bagaskara menunggu dengan tidak sabar, ia memang meminta kepada Alaskara untuk datang setelah ia pergi. Hal ini hanya ia inginkan karena Purnama akan melihat lagi sedangkan Purnama berharap kepada Bagaskara agar dialah orang yang pertama kali ia tatap dengan mata yang kini berfungsi kembali.


"Buka mata mu perlahan"


Mendengar itu, Purnama sedikit menggerakkan kelopak matanya. Membuka perlahan demi perlahan. Masih terlihat buram tapi kini sudah terlihat jelas karena tatapan nya yang berada tepat di depan Bagaskara.


Purnama menangis, tangannya terangkat dan kini menghampiri hidung Bagaskara.


Tangannya tepat di sana, ia mulai meraba hidung mancung itu dan tersenyum lebar.


"Kak, aku merindukan mu, sangat!" sahut Purnama dengan deraian air mata bahagia


Bagaskara langsung memeluk Wanita kesayangannya ini. Purnama pun begitu, ia membalas pelukan itu tak kalah erat.


Sudah lama, mereka pun saling melepas pelukan dan saling menatap, Purnama menatap keseluruhan wajah Bagaskara yang baru pertama kali ia lihat karena memang, selama mereka berpacaran, Purnama sudah mengalami kebutaan dan wanita itu hanya menerima dengan pasrah.


"Kau sangat tampan Kak" sambung Purnama, menatap lekat ke arah Bagaskara


Sedangkan pria itu hanya tersenyum tipis, ia mengalihkan pembicaraan dan membantu Purnama untuk berdiri.


Bagaskara mengajak nya ke taman, Purnama dengan senang mengikuti langkah Bagaskara, di samping nya, Purnama menggenggam erat tangan Bagaskara.


"Belikan aku coklat Kak"


Bagaskara menghentikan langkahnya dan menatap Purnama dengan lembut "10?" tanya nya


Purnama hanya mendengus "Kebiasaan!" ia mencubit kecil pinggang Bagaskara


"1 aja cukup Kak!" sambung nya dan Bagaskara hanya terkekeh melihat wajah Purnama yang begitu menggemaskan.


"Hari ini, kita akan menghabiskan waktu bersama. Kau dan Aku, memulai pagi yang cerah dan mengakhiri nya di malam hari" ucap Bagaskara dengan tatapan sendu bercampur bahagia


"Pasti, aku (Alaskara) tidak akan meninggalkan dirimu" ucap Bagaskara namun tersempil nama Alaskara dalam batinnya.


Purnama tersenyum kembali, kali ini dialah yang memimpin langkah keduanya, menghabiskan waktu begitu banyak untuk hari ini. Hari dimana, Purnama mengucapkan syukur kepada Allah karena anugrah dan keluarga yang di berikan kepada nya.


"KAK, AKU MENCINTAIMU! PURNAMA SANGAT MENCINTAI BAGASKARA!" teriak Purnama begitu lantang di taman itu, udara yang sejuk seakan mendukung kebersamaan mereka untuk saat ini.


Bagaskara mendekat dan merentangkan kedua tangannya. Purnama pun berlari dan merengkuh tubuh tegap itu, sangat nyaman. Tubuh suami nya ini selalu memberi kehangatan untuk dirinya.


"Kemana kita setelah ini?" tanya Bagaskara sambil melonggarkan pelukan mereka


"Ke pantai"


Sampailah mereka disana, Bagaskara sebenarnya mempunyai jadwal potret hari ini, tapi ia mengurung hal itu dan meminta kelonggaran waktu karena hari ini adalah hari terakhir, dimana hanya ada tawa, pelukan, serta dia dan wanita kesayangannya.


Bagaskara banyak mengambil gambar di setiap gerak-gerik Purnama, sesekali ia memeluk nya dari belakang.


"Kau sangat cantik" puji Bagaskara membuat sang empu menjadi tersipu


"Dan Kau juga sangat tampan Kak" balas Purnama tapi kali ini di akhiri dengan sebuah kedipan.


Bagaskara menatap tidak percaya, nakal sekali wanita nya ini. Ia berlari dan bertujuan untuk memberi Purnama sebuah hukuman kecil tapi wanita itu lebih dulu berlari dan sesekali melempari Bagaskara dengan air laut.


"Hei, basah!"


Purnama terhenti, ia tertawa dari kejauhan "Biarin, wlee" kali ini dengan juluran lidah membuat Bagaskara semakin mempercepat langkahnya untuk menangkap Purnama


Hap! Bagaskara berhasil.


"Masih mau nakal hmm?"


Purnama berbalik, ia mengecup bibir Bagaskara sekilas membuat pria itu langsung melepaskan pelukannya.


"Sudah senja, mari kita pulang" melihat itu, Purnama merasa aneh. Bagaskara bahkan tidak pernah menolak dan memberinya ekpresi seperti tadi.


"Kak!?" panggil Purnama membuat Bagaskara kembali berbalik


"Ayo naik" ajak Bagaskara pula


"Kak! Cium aku!" pinta Purnama yang sudah berdiri di hadapan Bagaskara


Bagaskara menelan saliva nya dengan susah payah, ini yang ia takutkan jika Purnama mengingat masa lalu kebersamaan mereka.


"Kenapa diam? Cium aku!" tegasnya lagi sambil meminta


Namun Bagaskara hanya menarik tangannya dan mengajak Purnama agar pulang. Tapi, wanita itu menahan pergerakan Bagaskara. Ia berdiri tepat di hadapan nya.


"Kau Bagaskara? Suami ku kan?" tanya Purnama dengan mata yang mulai berkaca-kaca


"I-iya!" jawab Bagaskara walau masih terbata-bata


Purnama menggeleng "Tapi kau keberatan untuk mencium ku!"


Bagaskara pun mengelus surai Purnama dengan lembut "Ini tempat umum, Purnama"


"Dulu, kau bahkan tidak pernah mengenal tempat untuk mencumbui ku!" Bagaskara menunduk, entah elakkan apa lagi yang harus ia katakan kepada Purnama


Cup


Bagaskara mundur, ia merasa bersalah karena telah mencium istri dari adiknya.


"Bukan di kening, tapi disini" ujar Purnama sambil menunjuk bibir tipisnya


Mata Bagaskara membulat, hal ini tidak bisa ia lakukan! Mereka bukan suami istri, dan hanya Alaskara yang bisa melakukan tindakan itu!


"Purnama, akan semakin malam jika---"


"Kenapa? Kurasa kau berubah Kak" potong Purnama membuat Bagaskara mendongak heran, bagaimana bisa, Purnama menyimpulkan seperti itu?


"Kau salah---"


"Kau bukan Bagaskara!" Purnama berlari dan meninggalkan Bagaskara sendiri di pantai tersebut.


Bagaskara menatap sendu kepergian Purnama, ia mulai bergumam dengan air mata yang sudah membasahi pipi nya "Aku Bagaskara, tapi aku bukanlah orang yang akan berada di samping mu setelah ini, maafkan Kakak, Purnama"