Skara In Lies

Skara In Lies
Koma



Tiba di Rumah Sakit, perawat disana dengan cepat membawa Airin ke ruang UGD


Belum sempat Bagaskara mengikuti Ibu nya sampai ke dalam, Perawat itu langsung menghalau nya


"Maaf Pak, Anda boleh menunggu di luar saja"


"Lakukan yang terbaik untuk Ibu ku!" ucap Bagaskara panik


"Tentu saja Pak, saya permisi"


Perawat itupun meninggalkan Bagaskara dan Daniel yang berdiri di luar ruangan sambil menumpu dagu nya.


Harry baru saja sampai, melihat Tuan nya terlihat gelisah. Ia lebih memilih menghampiri Daniel yang juga sedang menatap nya.


"Nyonya? Bagaimana bisa?!" tanya Harry kebingungan


"Husttt" Daniel mengisyaratkan Harry untuk tidak bertanya lalu dengan cepat ia menyuruh Harry untuk mengikutinya keluar


"Hei, ada apa dengan mu?" tanya Harry lagi


"Jangan bahas tentang Nyonya dan Tuan sekarang, sepertinya masalah ini begitu rumit" jawab Daniel


"Rumit? Rumit seperti apa?" sementara Harry terus bertanya, tiba-tiba saja Daniel mendapat telfon dari Bagaskara dan menyuruh mereka berdua untuk pulang


"Tuan menyuruh kita pulang, sepertinya dia ingin berbicara lebih serius dengan Nyonya setelah ini"


"Argh, kau ini membuat ku semakin penasaran saja" omel Harry


"Kau akan tau sendiri nantinya, sekarang mari kita pulang" ajak Daniel dan berlalu meninggalkan Harry yang masih menggaruk kepalanya


"Ada apa sebenarnya?!" gumam Harry bertanya-tanya


Sementara di dalam rumah sakit, sudah 3 jam berlalu namun Bagaskara belum juga mendengar kabar tentang keadaan sang Ibu


"Ibu, bertahanlah. Kumohon" lirih Bagaskara terus melihat ke arah pintu


Tak memakan waktu lama, pria berjas putih itu keluar sambil melepas stetoskop yang menempel di telinganya nya sedari tadi.


Bagaskara dengan cepat menghampiri dokter tersebut dan bertanya dengan rasa panik nya.


"Bagaimana keadaan Ibu saja Dok?"


"Maaf Tuan Bagaskara-"


Belum sempat Dokter itu meneruskan kata-kata nya, Bagaskara lebih dulu memotong dan berteriak di depan dokter tersebut


"Apa maksud dari kata Maaf mu?!"


"Ibu anda mengalami serangan jantung dan membuat beliau, Koma"


Bagaskara terduduk lemas mendengar pernyataan dari dokter, dengan mata memerah, ia bangkit dan menarik kerah si pria berbaju putih itu


"Katakan jika Ibu ku baik-baik saja!!!" teriak Bagaskara yang membuat seluruh perujuk, perawat dan dokter lain kini menoleh ke arah mereka


Beberapa perawat berusaha melerai Bagaskara dan melepaskan genggamannya pada kerah baju dokter tersebut namun Amarah di dalam dirinya semakin membara hingga membuat perawat itu menjadi takut karena Bagaskara terkenal dengan sifat nya yang rendah hati namun kali ini, mereka dapat melihat langsung sisi lain dari seorang Bagaskara.


Siapa yang akan tenang jika mendengar kabar buruk dari sang Ibu? Kini, ia harus melakukan apa? Bahkan jika memberi semua harta yang ia punya untuk Dokter dan rumah sakit ini, maka tentu saja tidak berguna. Ini membuat dirinya semakin frustasi.


Ayah? Bagaskara sudah lama menjadi yatim karena seseorang yang telah membunuh Suami dari Ibu nya.


Sampai sekarang, ia masih mendalami identitas pelaku namun ini sudah 19 tahun.


Salah satu bukti, sebuah Jam Tangan yang ia temukan baru-baru ini dari tempat kejadian perkara, membuat rahangnya semakin mengeras.


Siapa orang ini, mengapa identitas nya begitu sulit untuk Bagaskara temui.


Bagaskara melepaskan genggamannya dari baju dokter itu dan menatap nya lagi sambil berkata


"Maafkan atas kegaduhan yang telah aku perbuat, sekarang katakan! Kapan Ibu ku akan sadar dari Koma nya?" tanya Bagaskara yang tak pernah menurunkan pandangan nya


Dokter itu masih terlihat takut untuk mengeluarkan suara namun Bagaskara kembali menyakinkan dirinya


"Tidak perlu takut. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi, sekarang katakan"


"Nyonya Airin akan mengalami Koma selama 3 bulan dan bisa saja lebih lama dari itu karena ini bukan yang pertama baginya namun kali ini hal yang membuat dia terkena serangan jantung yaitu karena sesuatu yang ia dengar secara tiba-tiba" ucap Dokter tersebut


Bagaskara kembali menunduk sambil meneteskan air matanya, ini semua salah nya namun entah mengapa, sesuatu tiba-tiba terlintas di pikiran nya dan membuat nya kembali mendongak menatap dokter itu


"Aku boleh menemui nya?!"


"Silahkan Tuan"


Bagaskara mendorong pintu dan melihat Airin dari kejauhan, hatinya begitu sakit. Ia menghampiri Airin dan menarik kursi untuk mendekat ke ranjang pasien.


Bagaskara menciumi kedua punggung tangan sang Ibu dan menatap lekat wajah Airin


"Maafkan aku Bu" lirih Bagaskara


"Namun jika aku diam dan tidak memberitahukan hal ini kepadamu maka mungkin akan menjadi kesalahan yang semakin besar dan membuatku menyesal, serta Ibu yang tidak akan pernah memaafkan diriku. Namun apa setelah kau sadar, kau akan memaafkan aku Bu? Anakmu ini meminta maaf, maaf karena hanya ini jalan yang ku punya. Janin yang ada di dalam perut Lidya itu adalah anakku, dia kelak akan mencari Ayah nya. Aku tidak ingin anakku menjadi seperti ku, hidup tanpa Ayah itu tidak menyenangkan. Aku merindukan Ayah, Bu. Maaf, aku akan menikahi Lidya"


"Dan Purnama... "


"Akan ku nikahkan dengan Alaskara"




"Tuan! Buka pintunya" Harry mengedor-gedor sebuah pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam



"Aku akan mengintip" Daniel mengangkat kakinya dan berpijak di kursi namun dengan cepat, Harry menahan lengannya




"Aku tidak tahu. Lalu bagaimana sekarang?!" tanya Daniel kembali



Mereka berdua terlihat kebingungan hingga terdengar suara langkah kaki dengan sepatu slop hitam yang kini menghampiri keduanya



"Akhirnya kau tiba Tuan, dia tidak ingin membuka kamar mandinya. Hampir 2 jam dia berada di dalam" sahut Harry yang terlibat pasrah



"Minggir lah, biar aku yang memanggilnya"



Bagaskara pun maju dan dapat ia dengar, jika di dalam ada seseorang yang sedang bermain dengan shower.



"Sekarang, apa kau belum ingin keluar dan menemui Kakak mu ini?!" teriak Bagaskara, lalu pintu pun terbuka.



Menampakkan seorang pria dengan handuk pink yang melilit bagian pinggang nya



"Hyung! 보고 싶었어요 ( Bogo Sipeosseoyo ) / ( Aku Merindukanmu )" ucap pria itu sambil memeluk Bagaskara



"나도 ( Na do ) / ( Aku juga )" balas Bagaskara



"Bagaimana? Aku sudah bisa berbicara Korea seperti mu kan?!" tanya nya kembali memeluk sang Kakak



"Kau mendengar ku saat itu?" tanya Bagaskara kembali



"Hehe, aku mengintip saat kau bersama temanmu di ruang tamu" jawab nya



"Alaskara! Lain kali jangan keluar kamar tanpa izin dari ku. Mengerti?!"



"Mengerti Kak" jawab Alaskara lesu



"Cepatlah sembuh Alaskara, ada seseorang yang harus kau jaga setelah ini" ucap Bagaskara yang membuat Alaskara menatap nya bingung



"Siapa?!"



"Kau akan tau sendiri, namun pakai lah baju mu dulu. Kita akan makan bersama" perintah Bagaskara



"Okeeyyy"



Alaskara pun menuju ruang ganti dan memakai baju santai nya



"Sudah Kak, apa aku sudah Cantik?"



![](contribute/fiction/3921215/markdown/31789006/1641557459697.jpg)



Bagaskara hanya tersenyum lalu mengangkat tangannya untuk menyentuh kepala sang Adik



"Bukan Cantik, melainkan Tampan. Kau sangat Tampan"



"Oh, Ta-Tampan? Oke"



"Alaskara, Taaampan sekali" sambung Alaskara yang membuat Bagaskara hanya terkekeh melihat kelakuannya