Skara In Lies

Skara In Lies
Berkata Jujur



Bagaskara kembali menghampiri Purnama tapi sesampainya di meja mereka, wanita buta itu sedang tidak ada disana. Bagaskara terlihat panik dan menatap bodyguard nya secara bergantian hingga seorang pria dengan jas hitam nya menghampiri Bagaskara.


"Tuan Bagaskara, tadi Nona Purnama di jemput oleh Nyonya Airin" ungkap Harry


"Ibu membawa nya kemana?!" tanya Bagaskara dengan wajah heran


"Tadi Daniel menelpon ku setelah mengantar Nyonya dan Nona, katanya mereka sedang berada di Graha Mall" jawab Harry


Harry adalah ketua bodyguard yang paling di percaya Bagaskara dan keluarga nya sedangkan Daniel adalah sopir kepercayaan keluarga Skara.


"Siapkan mobil, kita susul mereka di sana" perintah Bagaskara


Dan Harry pun dengan segera menjalankan tugas dari Tuan nya.


Mereka telah tiba di Graha Mall tapi sementara masih mencari keduanya. Airin tidak bisa di hubungi dan itu membuat Bagaskara semakin pusing sedangkan Purnama tidak memiliki handphone, lalu bagaimana dia bisa menemukan kedua wanita kesayangannya itu?


"Kerahkan masing-masing 2 bodyguard bawahan mu untuk berjaga di pintu masuk dan keluar" perintah Bagaskara kembali


"Siap Tuan" Harry pun menghubungi bodyguard bawahannya dan mengerahkan mereka untuk berjaga-jaga


Bagaskara memutari Mall hingga tak sadar jika dirinya sedang tidak menyamar. Wajahnya terpampang jelas di Big TV Mall tersebut hingga membuat para wanita berteriak histeris lalu menghampiri Bagaskara


"Aaaaa, Tampan sekali"


"Bagaskara, bolehkah aku mengambil foto bersamamu?"


"Ottoke, aku masih hidup kan? Malaikat darimana ini?"


"Wajahnya begitu bersinar! Lihatlah ketampanannya, sungguh tidak manusiawi"


"Hidung nya, matanya, bibirnya dan semuanya bagai candu. Ibumu saat itu mengidam apa Tuan?!"



Sorak-sorak wanita itu di dalam Mall dan menjadi pusat perhatian sedangkan Bagaskara terlihat memijat pelipisnya, ingin emosi dan marah di depan mereka semua tapi hal itu akan menghancurkan karir nya. Maka dengan pilihan terbaik hanyalah diam. Beberapa bodyguard langsung menghampiri Bagaskara dan mencarikan jalan untuk bisa keluar dari kerumunan wanita-wanita tengil itu.


"Biar saya dan Daniel saja yang mencari Nyonya dan Nona, Tuan" sahut Harry yang melihat wajah panik dari Bagaskara


"Tidak, aku akan berganti pakaian. Aku hanya perlu menambahkan masker dan topi"


Bagaskara telah berganti pakaian dan terlihat sangat berbeda. Harry dan Daniel sedikit terkejut dengan penampilan Tuan nya.



"Tuan, penampilan mu seperti-"


"Aku tau. Jangan membahas dia disini" potong Bagaskara


"Maaf Tuan"


"Tidak masalah. Sekarang kita masuk kembali"


Bagaskara, Harry dan Daniel pun kembali ke dalam Mall dan saat memasuki pintu utama, mata Bagaskara langsung tertuju ke lift transparan yang sedang menuju ke lantai 4. Airin dan Purnama berada di lift tersebut.


Bagaskara pun berlari diikuti Harry dan Daniel di belakang nya.


Airin dapat melihat Bagaskara yang sedang menghampiri dirinya dan Purnama


"Huft, anak bandel itu mengapa bisa sampai disini" gumam Airin yang terdengar oleh Purnama


"Ada apa Bu?" tanya Purnama sedikit memiringkan kepalanya


"Kekasih mu itu, dia pasti khawatir karena aku membawa mu jadi dia menghampiri kita disini" jawab Airin


Purnama hanya tersenyum malu mendengar itu. Hingga di saat Bagaskara tiba dan langsung menarik tangannya


Purnama tersentak kaget tapi mencoba meraba tangan yang sedang menggenggam nya, Purnama kembali tersenyum saat tau siapa pemilik dari tangan tersebut.


"Ibu, lain kali kabari aku jika ingin membawa Purnama" ucap Bagaskara dengan nafas tak beraturan


"Atur nafas mu dulu! dan ingat yah, dia itu calon menantu ku jadi aku tidak perlu meminta izin darimu"


Seketika wajah Bagaskara kembali murung, mengingat pernyataan yang di lontarkan oleh Lidya di Restaurant tadi.


"Hei, kenapa lagi? Apa kau marah padaku?" tanya Airin sambil terus menatap wajah murung Bagaskara


"Tidak Bu. Hm apa kalian masih ingin berbelanja?" tanya Bagaskara kembali


"Sepertinya sudah cukup tapi apa kau tidak ingin menghadiahkan sesuatu kepada calon istri mu ini?" goda Airin menatap Purnama


"Ibu, Kak, tidak perlu. Belanjaan ini saja sudah banyak. Ini semua pasti sangat mahal kan?" tanya Purnama begitu khawatir


"Apapun itu akan ku berikan untuk mu Sayang. Sekarang katakan, apa yang sangat kau inginkan saat ini?" tanya Bagaskara kembali sambil mengelus rambut Purnama


"Hanya cinta kekal darimu Kak. Aku ingin itu untuk selamanya" jawab Purnama


Jawaban Purnama membuat Bagaskara tanpa sadar meneteskan air mata. Airin yang melihat nya merasa sedikit heran dan haru.


Bagaskara terdiam lalu menarik tangan Purnama untuk segera berada di dalam pelukannya.


Mengelus kepala nya dan mencium kedua matanya yang sudah tertutup


"Aku akan selalu mencintai mu Sayang" bisik Bagaskara tepat di telinga Purnama


Purnama semakin mengeratkan pelukannya.


Bagaskara menatap Airin yang juga menangis haru melihat keduanya.


"Ah, Ibu menjadi nyamuk disini" sahut Airin mengusap pipinya dan membuat keduanya kini saling melepas pelukan


"Maaf Bu" Purnama membalikkan badannya ke arah Airin


Sedangkan Airin hanya mengelus rambut panjang Purnama sambil mencium kening calon menantu nya itu


"Semoga secepatnya ada pendonor yang bersedia memberikan mata kepadamu. Seberapa mahal bagian itu, maka akan kami ambil tanpa melirik harganya" ucap Airin menatap kedua mata Purnama yang walau tidak berfungsi namun terlihat sangat indah


"Aku akan terus bersabar Bu tapi jika ada, maka akupun akan sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan serta kalian"


"Baiklah. Sekarang, kita bisa pulang?!" tanya Bagaskara


"Haha, mari kita pulang" balas Airin serta Purnama yang hanya mengangguk sambil tersenyum


Airin dan Bagaskara telah mengantar Purnama tepat di teras rumah. Mereka pun pamit dan meninggalkan kawasan rumah Purnama.


Di mobil, hanya ada keheningan di antara Ibu dan Anak itu hingga saat Bagaskara telah mengumpulkan keberanian dan membuka suara serta berkata jujur kepada Ibu nya.


"Ibu" panggil Bagaskara yang membuat Airin langsung menatap Putra kebanggaan nya


"Ada apa?" tanya Airin mengedipkan matanya berkali-kali


"Ku mohon setelah ini jangan marah kepadaku"


"Hmm, akan Ibu usahakan tapi apa?" tanya Airin semakin penasaran


"Ibu tau Lidya kan? Mantan ku semasa Kuliah?" tanya Bagaskara kembali yang mampu membuat Airin mengerutkan keningnya


"Ouuhh! Aku masih ingat siapa dia, wanita tukang morot itukan? Bagaimana bisa dulu kau sebodoh itu Bagas?! Bisa-bisanya kau memilih dia menjadi pacarmu dulu. Lalu, setiap dia berkunjung ke rumah, penampilan nya begitu mencolok, lengkap dengan make up nya yang menor. Sangat berbeda dengan calon menantuku yang sekarang, begitu natural dan tau cara berpakaian yang baik dan sopan. Tidak seperti si Lidya itu" ucap Airin terus mengomel dan itu membuat Bagaskara sampai kesusahan menelan saliva nya sendiri


"Ibu, maafkan aku" lirih Bagaskara


"Ada apa denganmu? Atas dasar apa sampai kau meminta maaf kepada Ibu?" tanya Airin heran karena mendengar permintaan maaf dari sang putra sembari terus menunduk


"Aku telah membuat kesalahan besar dan mungkin tidak akan Ibu maafkan"


"Lidya se-sedang hamil anakku" ungkap Bagaskara membuat Airin membulatkan mata serta rasa syok yang membuat dirinya sampai tidak bisa berkata-kata hingga nafas nya tersenggal dan membuat nya kini tak sadarkan diri


"IBU! Bangun Bu" teriak Bagaskara yang membuat Daniel sampai menginjak rem secara mendadak


"Tuan, ada ap-"


"Putar balik dan bawa Ibu ke Rumah Sakit" perintah Bagaskara kepada Daniel


"Baik,Tuan"