
Sampai di hari dimana Bagaskara menjanjikan sebuah pernikahan untuk dirinya dan tentunya dengan Purnama. Tanpa kehadiran seorang Ibu, Bagaskara tetap bertekad karena tidak ingin mengecewakan hati wanita yang sangat ia sayangi.
Bagaskara kini berada di samping Alaskara yang lengkap dengan jas rapi nya, sangat tampan.
Haru bercampur ragu, Bagaskara hanya menatap Sang Adik yang kini sedang bermain dengan kuku nya.
"Alaskara, jangan gugup" sahut Bagaskara sambil menepuk bahu Sang Adik
"Kak, aku tidak ingin menikah!"
"Kau menyayangi aku dan Ibu bukan? Maka, turuti ini semua, dia cantik dan baik. Kelak, istri mu itu akan merawat mu dengan senang hati" ucap Bagaskara walau di hatinya kini sangat merasakan kepedihan
Langkah seorang mempelai wanita, yang sedang di tuntun menuju Altar, Bagaskara yang melihat itu merasa sangat takjub akan kecantikan kekasih nya, tapi sekarang bukan lagi.
Tiba di Altar, Alaskara mulai mengerti dan ikut naik kesana, Purnama tersipu malu dan berusaha menggapai tangan Sang calon Suami. Ia merasakan jari-jari yang dingin, pikir nya, Bagaskara mungkin terlalu gugup untuk ini.
Kedua mempelai di persilahkan untuk berciuman, sorak-sorak tamu undangan membuat Purnama sedikit malu tapi ia memberanikan diri dan mencondongkan wajahnya perlahan sedangkan Alaskara, merasa heran dengan apa yang akan Purnama lakukan. Bagaskara sedikit pasrah tapi ia naik dan membantu Alaskara dengan memajukan kepalanya agar membuat bibir mereka menyatu.
Tepat di depan mata kepala Bagaskara, ia menyaksikan hal tersebut, ia bahkan belum pernah melakukan tindakan ini kepada Purnama tapi bagian itu sudah di rebut langsung oleh Suami wanita kesayangannya itu sendiri. Purnama, kini dengan status sebagai adik Ipar Bagaskara.
Acara telah selesai, setiap ia berada di samping Purnama, ia selalu membayangkan betapa bahagianya malam pertama mereka jika itu terjadi tapi...takdir berkata lain, Alaskara lah yang akan mengambil alih atas semua itu dan tentunya, bukan dirinya!
Bagaskara mendekatkan mulutnya ke telinga Alaskara, berbisik tentang sesuatu
"Bawa dia ke kamar mu"
"Tapi---"
"Kenapa Kak?" tanya Purnama sedikit kaget dengan pertanyaan Alaskara yang di tujukan kepada Bagaskara
Bagaskara menggeleng, mengisyaratkan Alaskara untuk berkata 'tidak' dan Alaskara pun menyaut
"Tidak apa-apa. Mari ke kamar"
"Iya Kak" Purnama pun meraih tangan Alaskara dan di tuntun naik menuju ke kamar milik Alaskara
"Ini kamar ku" ucap Alaskara sambil menyalakan lampu dan mulai membuka jas nya
"Gerah! Jas ini terlalu tebal" omel Alaskara dan terdengar jelas di telinga Purnama
"Kak, bukankah kau tidak pernah protes dengan jas yang kau kenakan selama ini? Dan aku merasa, AC nya juga teratur dengan suhu yang pas" sahut Purnama terlihat mengerutkan alisnya
"Aku tidak suka dengan jas ini, sudahlah! Aku ingin tidur"
Purnama sedikit heran tapi ia mengerti dengan suasana hati Sang suami, mungkin ia terlalu lelah karena acara hari ini tapi bukankah...? Purnama tidak bisa memaksa, itu bisa terjadi jika ada kehendak dan kemauan hasrat dari kedua nya.
Pagi menjelang, Purnama belum tau letak kamar mandi dan akhirnya terpaksa membangunkan Alaskara,
"Kak, kamar mandi di sebelah mana?"
Alaskara menggeliat malas, ini bahkan masih jam tidur tapi tidurnya di ganggu oleh wanita yang bersama nya tidur semalaman.
"Hey, kau tidur disini? Lantai luas, seharusnya kau tidur disana atau jika tidak, di sofa saja" ucap Alaskara dengan nada tak terima, ini kasurnya dan belum pernah ada seseorang yang berani menduduki nya sekalipun
Purnama sedih mendengar itu, apa sikap Bagaskara seperti ini sebelumnya? Ia bahkan tidak pernah mendengar Bagaskara menaikkan nada nya seperti yang Alaskara ucapkan saat ini
"Kak" lirih Purnama
"Kau Bagaskara kan?"
Lantas dengan itu, Alaskara langsung tersadar, ia terbangun dan duduk di hadapan Purnama yang sudah berderai air mata, Alaskara merasa bersalah dan mulai mengangkat tangannya untuk mengusap pipi Purnama, lalu mengatakan dengan lembut
"Maafkan aku, mari ku antar ke kamar mandi" tawar Alaskara sambil mulai membantu Purnama turun dari tempat tidur
"Ini handuk nya" ucap Alaskara menyodorkan sebuah handuk lebar dengan warna peach
"Terima kasih" balas Purnama dan mulai masuk
Setelah bergantian mandi, Purnama lebih dulu turun dengan berhati-hati, ia sedikit hafal setelah semalam menaiki tangga dengan bantuan Alaskara
Tapi, tiba di tangga terakhir, kakinya menapak lebih jauh hingga membuatnya hampir terjatuh tapi dengan cepat, Bagaskara menahan tubuhnya
"Kau tak apa?" tanya Bagaskara khawatir.
"Kak, bukankah tadi kau baru mengenakan baju? Mengapa secepat itu?" Purnama heran, tapi jika mata nya berfungsi, ia bahkan bisa melihat baju yang sedang Alaskara dan Bagaskara kenakan, tapi dia buta!
"Aku tau jika kau akan menuruni tangga, makanya aku mengenakan baju dengan terburu-buru" jawab Bagaskara mengelak dengan jawaban yang bisa saja di percayai oleh Purnama
"Terima kasih Kak"
"Bibi sudah memasak, kemarilah" ajak Bagaskara masih menuntun Purnama sampai di meja makan
Dan langkah kaki terdengar oleh Bagaskara, Alaskara turun dengan kaos oblong hitam, sedikit merapikan rambutnya yang basah
Bagaskara menaruh telunjuk bibirnya sendiri, mengisyaratkan agar Alaskara tidak keceplosan dan memanggilnya di depan Purnama
Alaskara pun mengangguk cepat, ia mulai paham dengan kebiasaan ini. Bagaskara dengan keberadaan tersembunyi bagai hanya dirinya dan Purnama yang sedang menikmati sarapan di pagi cerah ini. Hari pertama setelah pernikahan mereka.
Alaskara duduk di samping Purnama dan membulatkan matanya karena menu pagi ini, Bibi Marni memang sangat pandai memasak bahkan dengan menu masakan favoritnya
Purnama mencium aroma parfum yang berbeda, mencoba mengendus-endus aroma tersebut dan mendapati lengan Alaskara yang sedang memegang sendok, bersiap untuk menyuapkan nasi ke dalam mulutnya
"Kak, kau ganti parfum?" tanya Purnama dan itu membuat Bagaskara kaget, penciuman Purnama begitu tajam
Bagaskara menyaut, mewakili Alaskara "Iya, aku baru membeli nya kemarin"
Huffftt, Alaskara bernafas lega, tapi itu membuat Purnama curiga. Alaskara ada di sampingnya namun suaranya terdengar seperti berada di hadapannya, dimana Bagaskara sebenarnya?
"Kak?" tangan Purnama merentang, mencari keberadaan Bagaskara tapi dengan cepat, Alaskara menariknya dan menggenggam kuat tangan Purnama
"Aku disini" sahut Alaskara
Bagaskara ikut bernafas lega, ia segera menghabiskan sarapannya dan kembali ke kamar. Hingga menyisakan mereka berdua dengan dentingan sendok dan garpu.
"Kak, aku sudah kenyang" sahut Purnama sambil meletakkan gelas nya
"Kita kembali ke kamar atau---"
"Ke kamar saja Kak, aku ingin merapikan baju ku di lemari" potong Purnama dan mereka pun melangkah naik kembali ke kamar
Sesampainya, Alaskara langsung menutup pintu. Sedangkan Purnama, ia mencari koper miliknya di pojok kamar, ia sangat ingat dengan posisinya bahkan saat meraba koper itu, Purnama senang karena bisa menemukan koper nya sendiri tanpa bantuan siapapun
"Kak, bisa bantu aku membuka kunci nya?" pinta Purnama dan Alaskara berjalan mendekati nya
"Berapa kuncinya?" tanya Alaskara memegang koper tersebut
"Ha?"
"Berapa kuncinya? Kau tuli?" ucap Alaskara mengulang pertanyaan nya
"1230" jawab Purnama ragu dan koper nya pun terbuka
Alaskara bangun dan melangkah keluar, Purnama yang mengetahuinya langsung bertanya
"Kau mau kemana Kak? Apa aku boleh bertanya?"
"Ck, tanya apa? Cepat! Aku ingin bermain"
"Kau---sudah lupa dengan kunci koper ku?" tanya Purnama dan membuat Alaskara membulat, ia tak habis pikir dengan wanita ini, bahkan Bagaskara pula dengan bucinnya mengetahui semua tentang Purnama, pikirnya.
"Koper mu terlihat baru, makanya aku bertanya. Sudahlah, aku ingin keluar bermain dan jika kau butuh sesuatu, ada bel di dekat pintu. Kau tinggal menekannya maka Bibi Marni akan muncul dan membawakan keperluan mu" jawab Alaskara dan berlalu meninggalkan Purnama di dalam kamar
"Kak, entah hanya perasaan ku atau kau yang memang sudah berubah" lirih Purnama setelah kepergian Alaskara dari kamar itu