Skara In Lies

Skara In Lies
Sangat Mencintainya



Hari yang begitu indah, kisah akan di mulai dan cinta kita akan bersemi. Itulah impian ku!


Seorang wanita dengan tongkat di tangannya sedang berjalan menelusuri taman di iringi lagu Romantis yang di rencanakan oleh sang kekasih.


Mata yang indah, alis tebal, dan bulu mata yang sangat lentik membuat seorang pria tak bosan memandangi wajah cantiknya, bak seorang Bidadari dengan dress putih. Sang kekasih tak hentinya menatap wanita buta yang sangat ia sayangi itu.


Memilih menghampiri dan melingkarkan kedua tangan di pinggang ramping wanita nya.


"Parfum mu masih sama, Sakura" sahut pria itu mendekatkan bibirnya di telinga wanita tersebut


"Benar, aroma nya begitu menenangkan" jawab wanita itu sambil membalikkan badannya


"Akan ku hadiahkan se truk untukmu My Heart, tunggu lah" ucapnya kembali


"Tidak perlu sebanyak itu Kak, aku takut tidak bisa menghabisinya" ucap wanita itu sambil terkekeh


"Ups, sudah terlambat! Truk nya akan tiba di rumah baru kita nanti"


"Maksud Kakak?!" wanita itu terlihat heran namun dengan cepat pria tersebut mendekap nya.


"Cepatlah sembuh, aku ingin kau melihat wajahku" lirih pria itu dalam pelukan


"Meraba hidung mancung mu adalah hobby ku. Sekarang biarkan aku menelusuri bagian favorit ku itu" wanita itu mengangkat tangan dan menyentuh hidung mancung sang kekasih


Mata sang pria sudah berkaca-kaca bahkan kini telah berderai air mata. Memandang wajah polos wanitanya dengan mata yang terbuka dan jarang berkedip.


"Apa kau tidak lelah seperti ini?!" tanya pria tersebut


"Aku bersyukur atas ini. Semuanya sudah di tuliskan dan inilah takdir ku. Takdir yang di tujukan kepada Purnama" ucap wanita itu, bernama Purnama


Semakin deras, ia tidak ingin Purnama merasakan air matanya yang masih menetes.


Hingga saat mendekati tetesan air mata tersebut, pria itu langsung menahan tangan Purnama dan kembali merengkuh tubuh mungil nya.


"Jangan pernah berubah Kak dan terima kasih karena telah memilih ku" sahut Purnama dalam dekapan kekasih nya.


"Aku Bagaskara, tidak akan meninggalkan Kekasih ku ini, karena kebahagiaan mu adalah kebahagiaan ku. Sungguh aku sangat mencintaimu Purnama" Bagaskara pun mengucapkan janji kepada Purnama dan terlihat dari mimik wajah dari keduanya, sangat bahagia bahkan seperti tidak akan ada penghalang bagi mereka untuk berpisah


Bagaskara mengantar Purnama ke rumah kontrakannya dan sesampainya, ia tak lupa mengecup kening kekasih nya. Ah ternyata tidak mengecup bahkan mencium bagian itu terlalu lama.


"Kak, sepertinya 5 menit sudah berlalu" kekeh Purnama


Bagaskara tersadar dan sedikit mengambil jarak dari Purnama. Mengelus rambut lurus serta panjang itu lalu mengucapkan salam untuk kembali bertemu di keesokannya.


"Aku pulang, jaga dirimu. Ingat! Tongkat mu tidak boleh jauh darimu dan-"


"Tanpa kau beritahu, tongkat ini akan ku temukan sendiri. Rumah ini begitu kecil dan sangat mudah untuk menemukannya" potong Purnama sambil melemparkan senyum tulusnya


Kembali merasa bersalah, Bagaskara kembali memeluk tubuh Purnama.


Menyalurkan rasa sayang nya kepada manusia favorit yang sedang berada di dekapannya.


"Baiklah. Besok aku akan kembali dan membahas tentang persiapan pernikahan kita" sahut Bagaskara yang kini melonggarkan pelukan mereka.


Purnama mendongak, berharap saat ini sedang menatap calon suaminya namun keadaan serta takdir selalu membuat nya sadar, kini ia kembali menunduk.


"Secepat itu, kapan tepatnya Kak?" tanya Purnama yang masih setia menunduk


"Lusa, bersiaplah" ungkapan Bagaskara mampu membuat Purnama tersentak kaget.


"Terlalu cepat Kak, aku gugup"


Bagaskara menggapai tangan kanan Purnama dan mengusap nya pelan


"Lebih cepat lebih baik Sayang"


"Apa kau tidak akan menyesal Kak?!" tanya Purnama sedikit ragu


"Untuk apa menyesali hal yang memang aku impikan sejak dulu?"


Giliran Purnama yang meneteskan air mata tapi dengan cepat Bagaskara mengusap pipi mulus nya itu


"Entahlah Kak, ini membuatku bahagia serta-" belum sempat melanjutkan perkataannya, Bagaskara langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir ranum Purnama


"Tidak perlu di lanjutkan, percaya padaku" kata Bagaskara kembali menyakinkan Purnama


"Aku percaya padamu Kak" balas Purnama


Keesokannya, Purnama dan Bagaskara telah berada di Restaurant Bagaskara's. Selain menjadi Model, dia juga membuka Restaurant dan mencakup banyak menu yang terbilang murah. Karena terkenal murah, peminatnya menjadi sangat banyak. Di saat sedang asik menikmati coklat panas nya, Bagaskara di hampiri seorang Wanita dengan dress merah sepaha.


Purnama tidak mengetahui keberadaan wanita tersebut hingga di saat Bagaskara meminta waktu sekitar 15 menit untuk meninggalkan Purnama dengan beberapa bodyguard kepercayaannya.


"Mengapa kau menghampiri ku disini, apa kau liat? Aku sedang sarapan dengan calon istri ku!" ucap Bagaskara pelan dengan memasang wajah emosi


"Calon istri? Tuan Bagaskara! Lihatlah benda ini" wanita itu menyodorkan sebuat test pack yang telah di gunakan.


"Positif?!" gumam Bagaskara lalu mendongak menatap manik mata wanita tersebut


PLAKKK


Wanita itu, Lidya. Memegang pipi nya yang terasa panas akibat tamparan yang ia dapat dari Bagaskara.


"Kau hamil?! Aku sudah memberimu pil pencegah kehamilan kan? T-tapi bagaimana bisa?!" Bagaskara seketika gugup lalu lemas dan terduduk di sudut tembok, mengusap kasar wajahnya dan menarik rambutnya frustasi.


"Sekarang, aku meminta pertanggungjawaban atas kehamilan ku ini. Bagas! Anak ini membutuhkan ayah nya" teriak Lidya sambil menangis


Bagaskara bangkit dan mencengkram kuat dagu Lidya, wanita itu meringis kesakitan dikala kuku panjang Bagaskara melukai pipi nya.


"Aku tidak akan bertanggungjawab!" tolak Bagaskara mentah-mentah lalu menghempaskan tangannya dari pipi Lidya


"Bagas! Apa kau tega dengan anak kita?! Hiks, kau adalah Ayah yang tak mengenal rasa tanggungjawab!" air mata Lidya mengalir begitu deras, lalu Bagaskara?


"ARGHHH, BAGAIMANA SEKARANG?!!" teriak Bagaskara frustasi


"Kau harus menikahi ku Bagas!" lantas dengan kata yang baru saja keluar dari mulut wanita yang sedang mengandung anaknya itu, Bagaskara mendongak dengan mata yang memerah


"Ti-tidak mungkin! Bagaimana dengan Purnama?!" lirih Bagaskara kembali mengusap wajahnya


Lidya hanya terdiam namun tiba-tiba dia bersuara dan memberikan Bagaskara jalan keluar yang mungkin saja masih di tolak olehnya namun hanya ini solusi terbaik untuk mereka.


"Nikahkan dia dengan saudara kembar mu!" saran dari Lidya membuat Bagaskara kembali menampar pipi wanita itu di bagian yang sama. Lidya hanya meneteskan air mata nya seraya menatap Bagaskara sang calon Ayah dari anaknya itu.


"Kau terlalu kasar Bagaskara! Aku ini calon Ibu dari anakmu!" teriak Lidya sembari memegang perut rata nya


"Jangan berharap terlalu tinggi Lidya! Tinggalkan tempat ini sekarang juga, aku akan mempertimbangkan ini lagi" lirih Bagaskara sambil berbalik dan meninggalkan Lidya yang masih terpatung disana


Sementara Lidya hanya mengusap air matanya lalu mengambil cermin di tas Channel miliknya.


Melihat bekas tangan Bagaskara yang masih menempel di pipi nya.


"Ini memang terasa sakit bahkan sangat sakit, tapi setelah semuanya berjalan dengan lancar, maka rasa sakit yang telah ku rasakan ini akan terbalaskan dan hilang dengan sendirinya" gumam Lidya sambil menyeringai


Hai everyone, ini cerita pertama aku disini.


Semoga suka yah🤗


Jangan lupa juga buat vote ataupun komen


Apapun itu, aku berterima kasih banyak sama kalian.


Maaf OOT!


Cerita lainnya, aku post di Wp dengan judul


𝐎𝐁𝐀𝐓 dan 𝐂𝐑𝐔𝐒𝐇 𝐎𝐍 𝐘𝐎𝐔


Kalau minat, bisa berkunjung juga kesana


username nya : vy_flower9


Happy Reading Bestie 😘💞