Simply Love

Simply Love
Sanksi Pertama



Apel sore adalah hal rutin yang dilakukan santri agar tidak


ada yang telat pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat maghrib. Setiap


melaksanakan apel, perwakilan masing masing asrama  wajib melaporkan jumlah penghuni asrama,


melaporkan berapa santri yang sholat, santri yang halangan, santri yang sakit


dan santri yang pulang.


Setelah apel, semua santri menuju ke masjid dan membawa


Al-Qur’an, buku tulis dan kitab yang sesuai dengan jadwal pengajian rutin tiap


malam.


Selesai sholat maghrib, para santri pun duduk berbaris


kebelakang sesuai dengan aturan yang sudah di tentukan.  Santri kelas VII MTs banat (santri perempuan)


menempati tempat duduk bagian depan dan seterusnya sampai kelas XII Aliyah


duduk paling belakang untuk mengawasi adek adek kelas yang tidak memperhatikan


pengajian. Hal yang sama juga berlaku untuk santri banin.


“Bismillahirrahmanirrahiim, jadi karna malam ini adalah


pengajian pertama kalinya untuk santri baru, jadi saya mukaddimah dulu, mungkin


ada di antara kalian yang masih belum terbiasa dengan kebiasaan disini yang


berbeda dengan kebiasaan kalian dirumah. Mulai dari sholat wajib yang dilakukan


secara berjamaah, sholat duha yang harus dilakukan setiap pagi, menyetor bacaan


qur’an tiap hari, belum lagi dikelas ada hifdzan(menghafal Al-Qur’an) tapi itu


semua pada dasarnya untuk kebaikan Ananda sekalian, semua pasti ada hikmahnya


yang mungkin belum bisa ananda rasakan sekarang. Mungkin untuk sekarang terasa


berat untuk dijalankan, mungin terasa sangat terpaksa mungkin diawali dengan


keluhan. Kenapa seperti itu? Karena kalian belum terbiasa. Bagaimana caranya


supaya terbiasa? Ya harus di mulai, harus paksakan dulu dan yang paling penting


harus ikhlas menjalaninya. Apabila kalian sudah ikhlas, Insya Allah disitulah


kita akan dapat berkahnya. ”


*kok ucapan pak Amirul seolah olah untuk aku yah?* batin


Audi sambil memperhatikan pengajian.


Pengajian masih berlangsung dan semua santri, khususnya


santri baru menyimak setip ucapan pak Amirul didepan.


“eh, perasaan aku aja atau memang kak Maher liatin kamu


terus?” Mhyta bertanya ke Audi sambal bisik bisik.


“makanya jangan pake perasaan” Audi membalas ucapan Mhyta


sambal berbisik juga


“Aku udah liatin dia dari tadi. Matanya gak pernah lepas


dari kamu” Akhirnya Mhyta menulis di bukunya karna takut ketahuan sama kakel


XII Aliyah di belakang.


“Ya trus kenapa klo dia liatin aku?” Audi membalas ucapan


Mhyta dengan menulis di buku pengajian juga.


“kalau menurutku yah, dia suka sama kamu” tulis Mhyta lagi.


“Impossible. Aku masih baru banget kaleee disini. Baru satu


pekan juga” tulis Audi lagi


“ya gak ada hubungannya sih. Kemarin aja kamu ditemani ke


kantin sama ke ruangan pa Rifki” Balas Mhyta lagi


“Intinya, it’s impossible” tulis Audi lagi


“Possible” tulis Mhyta lagi


“Impossible” balas Audi lagi


“Tsummassalam Assalamu alakikum warahmatullahi wa barakatuh”


pak Amirul menutup pengajian tanpa mereka berdua sadari.


menggelar sejadah.


Setelah pengajian dilanjutkan dengan sholat isya setelah


itu, santri Kembali ke asrama masing masing dan ke dapur untuk makan malam.


Pulang dari dapur pesantren, Audi mendengar namanya dari


kejauhan setelah berada didepan asrama, Audi dipanggil oleh Rafikah santri


kelas XII Aliyah tang bertugas sebagai seksi keamanan di masjid selama


pengajian.


“Audi, nanti ke Aula pertemuan Aspuri  (asrama putri) yah dan tolong panggilakan


Mhyta juga ” kata Rafikah sambil mengecek kertas ditangannya.


“iya kak, berdua aja ya kak?” Audi memastikan


“iya. Kan yang melanggar Cuma kalian berdua” kata Rafikah


lagi


“melanggar apa ya kak? Perasaan saya tidak pernah melanggar


deh ” Audi berpikir kapan tepatnya dia melanggar


“hmmmm sebelum kalian berdua surat suratan kan kalian bisik


bisik dulu. Dengar gak tadi pak Amirul bilang apa dipengajian? ” balas Rafikah


lagi


“dengar dong kak, aku juga catat sampai satu halaman penuh”


kata Audi dengan bangganya


“intinya, kalian surat suratan dan tidak memperhatikan


pengajian sampai akhir. Udah masuk sana jangan lupa panggil  Mhyta juga ” kata Rafikah sambal merapikan


kertas ditangannya.


“iya kak. ”


**


“Mhytaa … taaa … mhyt… Allaku Akbar malah main HP. Kita di


sanksi tau gara gara surat suratan. Kamu sih pake bisik bisik trus lanjut tulis


surat” Audi mulai menarik tangan Mhyta supaya bangun


“itu hal biasa dalam dunia silat” jawab Mhyta asal


“what do you mean? Udah cepetan kita disuruh ke aula


pertemuan aspuri” Audi menuruni tanggal ranjang Mhyta.


Ranjang yang digunakan disini adalah ranjang tingkat dan


untuk Audi sendiri lebih memilih di ranjang bawah.


 “termyata Cuma kita


berdua yang dari Aliyah hahahahah” Mhyta duduk didepan Rafikah


“Iya. Itu karna Cuma kalian berdua yang cerita pada saat


pengajian” Rafikah mulai mode serius


“maaf kak. Tadi Cuma penasaran aja sama something dan


kebetulan Audi duduk dekat aku” balas Mhyta


“hmmm. Jadi Sanski kalian adalah, membersihkan MCK besok


siang dan sekalian buang sampahnya” kata Rafikah sambil menuliskan sesuatu dikertas.


“iya kak. Satu hari aja kan kak?” Audi ingin memastikan


“iya satu hari aja, tapi kalau mau lebih dari satu hari juga


gak apa apa. Oh iya kamu hati hati aja sama Maher atau santri banin yang


menurut kamu agak aneh. Jangan di ladenin” Rafikah berdiri dari duduknya siap


siap keluar


“kenapa kak?” Audi tidak mengerti maksud Rafikah


“udah, keluar yuk. Jangan lupa sankskinya yah”


Rafikah keluar terlebih dahulu dari aula pertemuan Aspuri.