She Is Princess

She Is Princess
Sebuah fakta tidak terduga



"Eh, gue ke kantin dulu deh" Adena pamit pergi. "Gue juga mau ke perpus dulu ya sya" Andira tersenyum lebar sebelum beranjak pergi. Alisya mendengus kesal, kenapa semua orang jadi meninggalkannya?


alisya berjalan menyusuri koridor fakultas bisnis dan ekonomi atau biasa di sebut FBE. fakultas humaniora masih jauh di depan sana.


tak sengaja matanya melirik ke ruang rektor dan mendapati seseorang keluar dari sana. "Ridwan!" alisya melambaikan tangan.


Seperti biasa, Ridwan menoleh cepat dan berjalan ke arahnya. "Perasaan gue ketemu lo terus ya?" alisya terkekeh. "Btw nomor WhatsApp Lo mana, gue jadi ga bisa ngirim Poto kemaren deh, mau gue kirim lewat direct messenger di Instagram gue juga ga tau Lo punya Instagram atau nggak" alisya menyodorkan hpnya.


"Habis kamu juga ga ngingetin sih, nih coba kamu miss call" Ridwan mengembalikan hp alisya.


tak lama kemudian terdengar suara nada dering dari arah dekat. ya, benar. dari hp Ridwan yang tersimpan di saku celana.


"Perasaan gue tiap hari ketemu sama Lo ya?"


"Heem, kalo aku sih suka aja ketemu kamu, lagi pulakan temen aku masih kamu aja, mau kemana?"


"Masuk kelas, hari ini mata kuliah kesukaan gue, makanya pengen masuk" alisya meneruskan langkahnya dengan Ridwan berjalan beriringan dengannya.


"Alhamdulillah kalo gitu, emang mata kuliah kesukaan kamu apa?"


Alisya menoleh singkat lalu tersenyum ceria.


"Pengkajian puisi, gue suka sama puisi, gue suka nulis puisi, dengerin puisi, pokoknya apapun tentang puisi gue suka.


"Wah keren dong, aku aja ngerasa kalo puisi itu susah"


"Ga susah sebenarnya kalo kamu pake perasaan, nulis puisi itu harus sepenuh hati"


"Oiya, kemaren gue bikin puisi buat Lo ni" alisya membuka totebag yang ia pakai dan menyerahkan selembar kertas pada ridwan.


"Kok tiba-tiba? kenapa?" Ridwan membaca puisi itu sekilas, dari matanya tersirat penasaran yang kentara.


"Kemarin itu ada tugas bikin puisi dan gue ga tau mau nulis apa, eh tiba-tiba aja keinget sama lo, yaudah gue tulis aja akhirnya"


"Bisa kebayang-bayang aku juga ternyata" Ridwan tergelak dan mau tak mau alisya ikut tertawa. Ia merasa bahwa mereka sudah akrab.


"Habis Lo itu unik menurut gue"


"Unik? unik gimana?" Ridwan mengangkat dagunya meminta jawaban.


"Ya baru pertama kali ini gue ketemu sama cowok kayak Lo yang ga pernah temenan sama cewek sebelumnya kan aneh banget gitu, hari gini woi!"


"Sebenarnya dulu aku itu ga sekolah umum kayak kalian, aku beda" langkah Ridwan terhenti. tak terasa mereka sudah berada di depan ruang kelas.


"Maksudnya Lo sekolah di SLB?" Alisya terbelalak. "Hahahaha, ya nggaklah bukan itu maksudku, udahlah nanti aku cerita kok tapi sekarang kamu masuk dulu,oke?" tangan kanan Ridwan terulur mengusap puncak kepala alisya yang entah mengapa membua alisya menegang.


Dengan kikuk alisya mengangguk. Ridwan melangkah pergi dengan alisya yang masih melamun di depan kelas.


"Sumpah! seumur hidup cuma papa dan Ricky yang pernah ngelakuin itu tanpa gue tolak, trus kenapa gue tadi diem aja sih?"


***


Ridwan masuk ke ruangannya menatap seluruh ruangan dengan seksama. perfect! ruangan ini sempurna untuk belajar. Cat dinding dengan warna biru yang soft dan tatanan ruangan yang elegan membuat siapapun betah berlama-lama untuk tinggal.


Ridwan duduk di kursinya, tangannya merogoh saku mencari selembar kertas yang tadi di berikan oleh alisya.


***Lentera dalam petang


bumi memanggil mentari untuk bersembunyi dari kejaran malam yang pekat menyelimuti.


dari kejauhan tampak mata sayu


dengan wajah ayu


duduk bersandar di sebuah pagar kayu


tangisnya mendayu mengusik dinding kalbu


jiwa yang merasa sendiri


jiwa yang bergelung dalam sepi


jiwa yang pintunya terkunci


aku datang menjemputmu dalam ikatan suci


bersama lentera api***


"Gue udah nutup hati gue sejak 5 tahun yang lalu, mungkin saat ini gue ga mau kenal cinta dulu"


"Baiklah, semesta tidak sejahat itu hingga membiarkanmu terkubur luka masalalu, kadang kala ia ramah membawa penyembuh dari dukamu" Ridwan menatap kertas puisi alisya dengan seksama sebelum akhirnya memasukkannya kedalam map biru.


***


"Darimana aja Lo?" Andira langsung bertanya begitu melihat alisya duduk di sebelahnya.


"Gue habis ketemu Bu Erika buat bahas puisi gue yang tadi" mendengar itu Andira hanya ber-oh ria. Alisya mengeluarkan novel dari dalam totebagnya.


"Lo tau dosen keren kita yang baru ga?" Andira mulai bertanya lagi. "emang ada?" pandangan alisya tidak lepas dari novelnya bahkan barangkali sedetik.


"Ada alisya! ganteng banget sumpah! gue udah papasan sama dia tadi di perpus"


"hmm"


"Hari ini dia ngajar kelas ini Lo" mendengar itu alisya langsung menoleh. "apa? jadi bukan pak dino yang ngajar?"


Andira menggeleng. "Bukan alisya sayang pak dino katanya ijin nungguin istrinya lahiran anak ke 3 dan akhirnya gue dapet info kalau yang gantiin pak dosen ganteng"


Alisya bersorak dalam hati. " oke deh makasih ya andira buat infonya, kalau pak dino ga ada gue mau makan aja ke kantin"


hendak berdiri tapi tangan alisya di cegah oleh andira. "tunggu, Lo mau ke kantin? Lo ga mau gitu nemui dosen ganteng plus muda plus hot yang jadi berita terkini di kampus kita?"


Alisya hanya menggeleng, sungguh ia tidak minat untuk hal itu.


"Seriously?" Andira masih terus bertanya seimbang seperti jawaban alisya yang terus menggeleng.


"gue mau ke kantin ni dir! ntar tu dosen keburu ke sini lagi, bye!"


baru beberapa langkah hendak keluar langkah alisya berhenti tepat di tengah pintu. "Kamu mau kemana alisya?" Pemilik suara bariton yang sudah mulai akrab di telinganya berdiri di depannya, menghadang langkahnya.


"Eh, hai Ridwan gue pengen ke kantin ni, dosen gue ga masuk soalnya, katanya lagi nunggu istrinya lahiran"


"Kamu ga boleh ke kantin" ucap Ridwan dingin. alisya merasa aneh dengan sikap dingin ridwan.


"Kenapa?"


"Masuk alisya" Ridwan mendorong tubuh alisya kembali ke kelas.


"Apaan sih Lo! gausah dorong-dorong!"


"kalo gitu jangan bolos"


"Bukan urusan Lo!"


"tentu saja ini urusan saya"


"Sejak kapan si Lo jadi Sok ngatur gue gini"


"mulai hari ini mungkin"


"gue mau ke kantin, minggir!"


"Gak boleh!"


"Kenapa sih! Lo siapa?!"


tanpa ada jawaban Ridwan menggandeng tangan alisya dan menyuruh ia duduk di bangku paling depan.


"selamat pagi semua, hari ini karena pak dino sedang ada urusan maka saya akan menggantikan beliau mengajar kalian hari ini, perkenalkan saya Aqilurridwan kalian bisa panggil saya pak Ridwan" mata Ridwan menatap lurus pada alisya yang nampak kaget.


"Saya minta dengan sangat ke kalian supaya memperhatikan pelajaran yang saya sampaikan dengan baik dan jangan berani bolos di jam pelajaran saya, mengerti?"


"Alisya ? kamu mengerti?"


alisya mengumpat keras dalam hati "shit! kenapa dia bisa tiba-tiba jadi dosen di sini sih? malu gue!"


"Alisya?"


"Ah iya pak, saya ga pernah bolos kok pak, mana berani anak baik-baik kayak saya ini bolos" ia memamerkan deretan gigi putihnya.


Ridwan tersenyum tipis, "Bagus"