She Is Princess

She Is Princess
kita teman



"Lo gamau masuk sekarang? Udah telat nih!" Andira masih setia menunggu alisya yang tengah sibuk menyisir rambut di depan cermin kamar mandi cewek.


Alisya bergeming, tidak menanggapi pertanyaan andira. "Alisya!" Andira mengulangi panggilannya.


"Males gue, udah telat banget juga kan?" alisya menoleh sejenak, sebelum kembali sibuk dengan rambutnya.


Andira mendengus kesal melihat tingkah alisya yang selalu tidak peduli pada lingkungan sekitar.


"Trus apa gunanya Lo kuliah kalo males masuk kelas ****?" Andira mulai kehilangan kesabaran. mendengarnya alisya kembali menoleh menatap sahabatnya yang tengah marah.


"Yaelah Andira, gue ga bolos semua mata kuliah kan? cuma pelajaran pak Hendro doang, gue males dia ngoceh panjang lebar dan ternyata ujung-ujungnya ga ada sangkut pautnya sama pelajaran, kan bisa buang-buang waktu gue!"


"Tapi alisya, Lo harus-"


"Sttt!" alisya menempelkan jarinya pada bibir andira, menyuruh sahabatnya ini untuk diam.


"Udahlah, Lo gausah mikirin gue dan sekarang Lo masuk kelas ya, nanti gue traktir es krim pas pulang kalo Lo ga cerewet lagi, setuju?" mata alisya terbinar menatap Andira yang mengangguk kecil, walaupun dari wajahnya alisya bisa tahu kalo Andira sedang kesal.


"Tapi nanti Lo masuk ya?" ucap Andira sebelum pergi. "Iya baby, gemes deh!" setelah itu andira meninggalkan alisya sendiri.


setelah puas menyisir rambutnya, alisya mengepang rambutnya dengan begitu indah, kamar mandi cewek hari ini cukup sepi membuat alisya tidak perlu terburu-buru untuk keluar.


"Gue mau ke perpus ah!" kaki alisya melangkah keluar dari kamar mandi.


"Eh kamu!" suara bariton yang tidak ia ketahui terdengar ke telinganya. membuat alisya spontan menoleh.


"Saya?" ucap alisya memastikan, kepalanya sibuk mencari orang lain di sekitarnya. tapi nihil, hanya dia yang sedang berdiri di sini.


"iya kamu! sini!" cowok itu melambaikan tangan kepadanya, memintanya untuk mendekat.


Namun bukannya mendekat alisya malah menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap sinis pada cowok yang berdiri beberapa meter darinya.


"Emang Lo siapa berani banget nyuruh gue? ha? Lo pikir gue pembantu?"


"ha?" cowok itu mengerjit bingung mendengar ucapan cewek di hadapannya ini.


"Lo ga bisa minta tolong yang sopan? 'mbak saya bisa minta tolong ga?' gitu semisal?" ucap gadis itu dengan angkuh.


"Oh, maaf"


gadis itu nampak tersenyum tipis. "Bagus deh kalo Lo minta maaf" ucapnya.


"Maaf Mbak, bisa minta tolong ga?"


gadis itu tersenyum makin lebar, puas.


"Iya, ada yang bisa gue bantu?" kakinya melangkah mendekat ke arah cowok itu berdiri.


"Saya Ridwan, dan ini pertama kalinya saya ke sini, saya tadi habis dari ruang rektor dan sekarang saya mau ke perpustakaan, katanya perpustakaan kampus ini lengkap ya?"


gadis itu manggut-manggut. "Gue alisya, oke kebetulan gue juga mau ke perpustakaan, dan seperti yang Lo bilang, perpustakaan di kampus ini emang lengkap apalagi novelnya"


"oke, yaudah yuk kesana" alisya berjalan mendahului.


***


"oke ini dia perpustakaannya, kalo ada apa-apa bilang aja sama petugasnya jangan sama gue karena gue juga mau menikmati waktu santai gue, bye" alisya mendorong pintu perpustakaan dan segera masuk meninggalkan ridwan di depan.


"Lucu banget deh ni cewek!" Ridwan menyusul masuk. hawa dingin dari AC langsung menyentuh kulitnya membuatnya sedikit merinding.


"Gila, luas banget ini perpustakaan"


kakinya berjalan mengikut rak-rak buku yang di susun rapi. jemarinya menelusuri buku-buku yang tersusun rapi di rak.


Brukk


perhatiannya teralihkan pada suara berisik di sudut ruangan.


"Aduhh, gimana sih ni petugasnya, udah tau raknya tinggi dan ga semua mahasiswa di sini tinggi pake ga di kasih tangga lagi, **** dipelihara!"


"Kamu ga papa?"


alisya berdecak kesal, masih menepuk-nepuk kakinya yang terasa sakit.


"Mata Lo itu buta atau gimana? udah tau gue jatoh pake nanya segala lagi! jelas sakitlah ****!" alisya mendongak mendapati cowok yang tadi ikut dia ke perpustakaan.


cowok itu hanya tersenyum lebar mendapatkan sorotan tajam dari alisya, tanpa menunggu teriakan ke 2, ridwan memunguti beberapa buku tebal yang jatuh berserakan dan mengembangkannya pada tempat semula.


sedangkan alisya masih duduk dengan wajah kesal yang sangat kentara.


"Kamu ga mau bangun?" Ridwan berucap selembut mungkin, khawatir gadis di sampingnya ini akan berubah lebih ganas.


"bukunya aja jatuh di tolongin, masa gue jatuh ga Lo tolongin sih?"


Ridwan tersentak karena sebelumnya ia tak pernah menyentuh seorang perempuan secara langsung. lagi pula selama ia dipesantren ada banyak larangan mengenai bersentuhan dengan lawan jenis.


"Tapi, aku nggak pernah-"


"ga pernah apa? ga pernah nolongin kalo ada cewek yang jatuh?"


"bukan, aku ga pernah nyentuh-"


"Alay banget sih Lo! gue ga nyuruh Lo ngelakuin tindakan kriminal kali gausah gugup gitulah!" alisya merentangkan tangannya seperti anak kecil yang ingin di bantu berdiri.


"aku ga bisa nyentuh kamu" setelah berkali-kali di potong ucapannya oleh alisya, ridwan akhirnya bisa menyelesaikan kalimatnya.


"Kok tega banget sih Lo ga tolongin gue? gue ga penyakitan kali sampe Lo gamau nyentuh gue!" alisya menatap sebal karena lagi-lagi di acuhkan, ia merasa sedang di permalukan sekarang.


"Bukan, bukan begitu maksudku"


"Yaudah gue berdiri sendiri, minggir Lo!" kedua tangannya mendorong kaki Ridwan untuk menjauh, lalu berusaha untuk berdiri. tapi baru tiga langkah ia berjalan, sekali lagi ia mengaduh.


"Aduh, gila parah tuh buku, jatuh ke kaki gue ga kira-kira main timpuk aja, di pikir gue maling apa?" alisya mendudukkan diri di salah satu bangku baca.


"Mana yang sakit?" Ridwan berjongkok di depan alisya. Tangannya mengeluarkan obat merah dari dalam tasnya.


"Gausah nyentuh gue!" alisya menjauhkan kakinya. Mata Ridwan tak sengaja melihat bekas lebam kebiruan dan sedikit luka lecet di dekat mata kaki alisya.


"Aku mau obatin kamu, kaki kamu berdarah Lo alisya" wajahnya mendongak menatap alisya yang justru membuang muka ke arah lain.


"Gue ga mau di sentuh sama orang yang sok kayak Lo!"


ridwan bergeming, entah kenapa gadis ini begitu kasar, namun dari sikap beraninya dalam bicara, boleh diakui kalo sekarang ridwan terkesan.


"Maaf, aku ga maksud kayak gitu tadi, cuma aku emang ga pernah nyentuh cewek secara langsung sebelumnya"


alisya terperangah, bagaimana bisa cowok keren di depannya ini ga pernah nyentuh cewek sebelumnya?


"Ahahahahaha"


"kamu kenapa tertawa?"


"tunggu-tunggu, jadi Lo itu anak alim yang ga pernah nyentuh cewek? kok gue baru sadar ya? pantesan Lo kaku banget, manggil gue aja pake Aku-kamu" alisya memegangi perutnya yang terasa kaku.


"Memang apa bedanya panggilan Aku-kamu sama Lo-gue?" ridwan mengoleskan obat merah pada luka alisya.


"Ya beda lah, Lo-gue itu lebih santai, kalo Aku-kamu biasanya dipake buat orang yang spesial atau orang yang lebih tua, bisa di bilang yang lebih sopan gitu"


"Kamu anak mana sih?"


"Gue dulu waktu kecil di Bandung, trus pindah ke Surabaya pas SMA, jadi ya gitu lihat gue ga bisa ilang, aww.. pelan dong"


"iya ini udah pelan, jadi kamu bukan asli orang Jawa dong?"


"Nenek gue dulu orang Jawa, rumahnya di malang, gue suka disana, Lo orang mana?"


"aku asli Surabaya"


"oh, pantes deh" alisya mengangguk.


"Pantes kenapa?" Ridwan memasukkan obat merah kedalam tasnya, lalu memasangkan kembali sepatu alisya di kakinya.


"Pantes muka Lo mirip buaya" tawa alisya pecah, mengganggu ketenangan perpustakaan yang hening. sontak saja ia mendapat teguran dari petugas.


"Hei, jangan berisik ya!"


Alisya menutup mulutnya cepat, menatap canggung pada petugas perpus.


"Lo sibuk ga? gue laper nih makan yuk di kantin" alisya mengelus perutnya.


sekali lagi ridwan tersentak kaget. "Kamu ngajak saya makan?" tanyanya memastikan.


"emang gue ngajakin siapa kalo bukan Lo? mbak perpus yang galak itu?" alisya memelankan suaranya, berbisik tepat di samping telinga ridwan membuat detak jantungnya tak beraturan.


"aku ga pernah-"


"Lo ga pernah makan sama cewek juga?"


"hm iya"


"yaudah makanya ayo biar pernah, btw kita temenan ya sekarang" alisya mengulurkan jari kelingkingnya.


Ridwan tidak mengerti, ia mengerutkan dahi menatap alisya. melihatnya alisya mendengus kasar. "ini gini, gue kasih tau caranya" alisya menarik kelingking Ridwan lalu mengaitkan dengan jemarinya.


"Lo sekarang temen gue" senyum tulus terbit di wajahnya.


***


"Alisya!!" begitu di panggil alisya langsung menoleh dan mendapati 2 sahabat cerewetnya sudah berada di dekatnya, berjalan ke arahnya.


"Lo ga masuk kelas tadi?" Adena menatap dengan tatapan menyelidik sedangkan alisya hanya mengangkat bahu, bersikap bodoamat seperti biasanya.


"Males gue"


sontak kedua sahabatnya itu terbelalak dan mengeram kesal.


"Apa? klise banget alasan Lo? M-A-L-E-S? gila Lo ya!" Adena menaikkan volume bicaranya.


"marahin tuh den, susah banget emang kalo di bilangin!" Andira menyilangkan tangan di depan dada, menatap jengah pada alisya yang selalu tidak peduli dengan sekitar.


"Gue males bahas itu, dan kalo Lo tanya apa gue gila? iyalah! orang 5 tahun temenan sama Lo berdua yang gesrek juga!"


"Enak aja Lo bilang gue gesrek!" Adena mendorong kepala alisya.


"Tau tuh! bocah ga tau diri amat ya!" Andira menendang kaki alisya yang lecet.


"Aduh! aduh Andira ****! kaki gue bukan bola pingpong gausah di tendang juga!" alisya mengaduh keras berjongkok memegangi kakinya yang lecet.


"Kaki Lo kenapa?" Andira ikut berjongkok, dari raut wajahnya terlihat bila alisya benar-benar kesakitan.


"Lo habis kepleset di kamar mandi di gangguin mbak Kunti?" adena masih berdiri, menatap alisya yang kesakitan.


"Lo itu udah tau ga tahan sakit pake sok jatuh-jatuh segala!"


"Andira **** banget si! emang kalo gue jatuh itu udah gue rencanain? Lo pikir gue akting! gue juga ga mau lah kalo jatuh!"


"Ayok pulang, gue pengen tidur dirumah" alisya menyeret kedua sahabatnya dengan kesal. kakinya masih terasa nyeri tapi ia paksakan untuk berjalan.


"tunggu-tunggu, Lo punya utang sama gue, inget ga?"


"utang apa lagi sih?"


"Es krim, Lo lupa?" Andira menunjuk sebuah supermarket di seberang jalan.


"Yaudah buruan !"


***


"Assalamualaikum" Ridwan masuk mendapatk mama Rosela tengah mengaji di ruang tengah.


"Eh, kamu sudah pulang ternyata. gimana? udah kamu urusin semuanya?"


Ridwan menyenderkan kepalanya di sofa lalu melirik mama Rosela lagi. "Udah mama, besok aku mulai ngajar disana"


"Kampusnya baguskan? mahasiswanya ada yang bagus juga ga?" mama Rosela menyenggol bahu putranya, menggoda.


"Mama apa sih, ya bagus semualah itukan kampus negeri Akreditasinya bagus"


"Alhamdulillah deh kalo gitu, udah ada yang nyantol Brati?"


"Mama ah, mulai lagi deh!" Ridwan merajuk. melihat itu mama Rosela tertawa.


"emang kriteria calon menantu mama yang gimana sih?" Ridwan menatap mama rosela. sungguh pertanyaan Ridwan kali ini membuat mama Rosela tersentak kaget.


"Jadi kamu udah punya calon?"


Ridwan kembali mendengus kesal. "Nggak mama! Ridwan cuma nanya aja!"


"Yang baik pasti, yang cantik kalo bisa, terus yang bisa ngaji biar adem hati mama tiap denger dan yang bisa masak"


"Kenapa harus yang bisa masak sih ma? kan aku nyari istri bukan pembantu"


"Hei, seorang istri harus bisa masak untuk suami dan anak-anaknya, masa mau beli online terus tiap hari?"


"Ya kalo istri aku wanita karir mau gimana lagi?" Ridwan menyenderkan kepalanya di sofa, pening dengen keinginan mama rosela.


"kalo bisa masak kan lebih tau mana yang sehat mana yang nggak, lebih selektif milih sayur yang seger yang bagus"


"yaudahlah ma, Ridwan capek mau istirahat, doain aja semoga calon menantu mama memenuhi semua kriteria mama" Ridwan beranjak melangkah menuju ke kamarnya.


menghempaskan tubuhnya ke kasur yang empuk dan lembut. tangannya hendak meraih buku di atas meja sebelahnya namun tangannya malah terantuk sudut meja dan tergores.


"Mata Lo itu buta atau gimana? udah tau gue jatoh pake nanya segala lagi! jelas sakitlah ****!"


Ridwan tersenyum, baru kali ini dia bertemu dengan gadis sekonyol itu, tapi lucu mengingatnya.


ia merebahkan tubuhnya lagi, mengangkat kelingkingnya di atas wajah. "Sekarang kamu temen aku juga alisya"


***


Malam semakin larut begitu juga Ridwan yang semakin larut dalam dzikirnya. Setelah selesai ia mengangkat kedua tangannya dan berdoa.


"Ya Allah, segala puji buat-Mu tuhan pencipta semesta yang tak karuan indahnya. hari ini Ridwan menemukan sebuah keindahan yang lama terpendam. Ia bukan permata, ia juga bukan mutiara, namun di dekatnya detak jantung hamba tak karuan berdebarnya. Entah ini cinta seperti di seperti kisah Rosulullah dan Aisyah atau hanya nafsu karena jiwa hamba yang tak pernah di ketuk oleh perempuan? bila ia memang jodoh hamba maka dekatkanlah ia pada hamba namun bila rasa ini hanya nafsu belaka bunuh ia Ya allah, jangan biarkan hamba jatuh dalam maksiat. Sungguh tiada sesuatu yang lebih mulia daripada Engkau Ya Allah, Amiin"


Setelah doa itu Ridwan mengambil Al Quran dan mengaji tapi sebelumnya Ridwan termenung. "Apa ini yang namanya cinta? berdebar tak karuan saat di dekatnya? Ah alisya! kamu membuat aku gila dengan pesonamu, kamu berbeda dan itu yang membuatmu istimewa"