She Is Princess

She Is Princess
kantin kampus



"Lo masuk kelas kan hari ini alisya?" Adena menarik tangan alisya yang hendak keluar dari mobilnya.


"Iyaaa, Dena bawel amat sih!" alisya menatap Dena singkat lalu kembali mengarahkan pandangan ke kaca depan.


"Habisnya elo sih bandel amat kalo di bilangin!" Adena mencubit paha Alisya keras membuat alisya mengaduh.


"Yaudah gausah main fisik dong! gue laporin bebeb gue tau rasa Lo!" alisya mengelus pahanya yang terasa sakit.


"Habis kesel banget sama Lo! bebeb bebeb mana punya Lo? bebek aja Lo ga punya apalagi bebeb!"


alisya mendengus kesal. "Udah ah gue masuk kelas dulu bye!" alisya membuka pintu mobil lalu membantingnya keras. Ia mendekatkan kepalanya ke kaca mobil lalu menjulurkan lidahnya ke adena.


"Sialan!" umpat Adena bersiap akan keluar. Melihat itu alisya segera bergegas pergi.


Ditengah koridor ia tak sengaja melihat seseorang keluar dari sebuah kelas, sontak alisya memanggilnya.


"Eh, Ridwan!"


alisya melambaikan tangan. cowok yang di panggil menoleh cepat lalu tersenyum manis seperti pertama mereka bertemu.


"Eh, Lo anak humaniora juga ternyata?" alisya memukul bahu ridwan membuatnya tersentak. "Ape sih Lo? gitu doang kaget! payah!"


"kamu dari mana?"


"gue? gue dari parkiran tadi berangkat sama dena" alisya berjalan bersandingan dengan Ridwan.


"Kamu ga masuk kelas?" Ridwan bertanya lagi, sedangkan alisya hanya mengangkat bahunya acuh.


"Kamu itu niat kuliah apa nggak sih?" Ridwan berhenti mendadak, mengikuti alisya yang mengerem mendadak di depannya.


"lo laper ga? kantin yuk! kemarin Lo gajadi ikut gue ke kantinkan gara-gara Lo tiba-tiba di panggil rektor" mata alisya berbinar membuat ridwan tak tega menolaknya.


"Lo mau ga? siomay kantin kita enak banget tau gak? top seantero Surabaya percaya deh sama gue,Yuk!" alisya tersenyum makin lebar.


"Tapi kamu ada kelas ga? kamu jangan kebiasaan bolos deh"


"kelas gue ntar siang, udah Lo gausah mikirin gue, pikirin aja perut gue, laper banget ni" alisya menampilkan pupy eyes pada ridwan berharap dia luluh.


"Tapi alisya-"


"Sttt!" alisya menempelkan jarinya pada bibir Ridwan. "Udah Lo gausah banyak omong! ayooo!" alisya menarik lengan ridwan, menyeret Ridwan ke kantin.


setibanya di kantin alisya memesan 2 piring siomay lalu duduk di depan ridwan. "Kamu beneran ga ada kelaskan sekarang?" Ridwan menatap alisya yang makan dengan lahap.


"alisya, kamu beneran ga ada kelaskan?" Ridwan mengulangi pertanyaannya. "Hmm" alisya Hanya bergumam singkat masih sibuk dengan siomaynya.


Ridwan menatap alisya dalam diam, tersenyum melihat tingkah gadis itu yang sangat tidak acuh bahkan pada dirinya sendiri. Ridwan mengambil selembar tisu hendak membersihkan sisa makanannya yang belepotan di bibir alisya, namun tangannya berhenti tepat di depan wajahnya.


alisya tersadar. menatap bingung pada Ridwan dengan tangan yang menggantung di udara tepat di depan wajahnya.


"Kenapa Lo?" alisya menunjuk dengan dagunya. tapi Ridwan masih bergeming.


"Udah ada siomay lezat di depan Lo, ngapain Lo ngambil tisu? lu mau makan tisu?" alisya bertanya dengan sinis.


"Itu di bibir kamu, belepotan" Ridwan menyodorkan tisu pada alisya. Tapi alisya hanya tersenyum membuat ridwan mengerutkan keningnya bingung.


"kenapa senyum-senyum? nih lap tuh" Ridwan masih menyodorkan tissue pada alisya, gadis itu malah tersenyum semakin manis hanya menatap tissue yang disodorkan Ridwan membiarkannya menggantung di udara.


"Lo gamau lap in bibir gue? biar kayak di sinetron-sinetron gitu" alisya menaik turunkan alisya.


"nih lap in dong" alisya mendekatkan wajahnya. perlahan Ridwan mendekatkan tissue yang ia pegang pada bibir alisya.


Entahlah kenapa jantungnya berdegup kencang. "kenapa aku grogi sih" batinnya.


Alisya duduk kembali. "Lo kenapa sih pucet gitu? cuma ngelap bibir gue pake tisu bukan pake bibir Lo" alisya terbahak.


Ridwan nampak salah tingkah, wajahnya sedikit memerah. "Lo kenapa blusing gitu sih? gila! gue cuma bercanda jangan Lo pikir gue mesum beneranlah!" alisya tertawa terbahak melihat tingkah Ridwan yang begitu lucu.


"Aku ga pernah-"


"Ngelap bibir cewek yang belepotan karena habis makan? yaelah! Lo itu apa-apa kok ga pernah sih? terus Lo pernahnya apa?" alisya mengambil botol air mineral dan meminumnya.


"Sebenarnya kamu temen cewek aku yang pertama" ucap Ridwan, setelah itu ia menyumpal mulutnya dengan satu gigitan besar siomay.


"Uhukkkk!"


"Kamu gapapa? pelan-pelan dong alisya!" Ridwan berdiri tangannya menepuk-nepuk punggung alisya pelan.


"ni minum lagi sya!"


"nggak-nggak, udah kenyang"


"lo bilang apa tadi? maksudnya Lo ga punya temen cewek selain gue?" alisya terbelalak.


"lupain aja" Ridwan kembali duduk. "Jawab gue ridwan, Lo ga punya temen lain selain gue?"


"Iya, kamu temen cewek aku yang pertama"


"maksudnya?"


"Maksud gue Lo serius?" alisya berdiri lalu berjalan kearah ridwan. Ia membuka kamera yang ada di hpnya lalu menaruhnya di depan ridwan.


"coba deh Lo ngaca" alisya mendorong kepala Ridwan mendekat ke layar hpnya. "gue heran, padahal Lo ganteng ridwan, lumayan keren juga, kok bisa sih ga ada cewek yang mau temenan sama Lo?" alisya menempelkan kepalanya pada kepala ridwan.


"aduh jantung gue kenapa sih?! jangan deg-degan gini dong!"


tiba-tiba alisya memencet tombol potret membuat wajah keduanya terekam ke disana. "Cengo banget sih, nanti gue kirim ke WhatsApp Lo ya? hadiah dari teman pertama Lo" alisya mengusap rambut ridwan, membuat jantung Ridwan maraton, lagi.


"Lo pasti ga pernah foto sama cewek juga kan?" Alisya terduduk kembali.


"Pernah" Ridwan mengotak-atik siomaynya lagi. enggan melihat alisya.


"Masa sih? katanya gue yang pertama, emang Lo foto sama siapa?"


"sama mama" ucapnya dingin, membuat alisya berdecak.


"CK, dih ngapa Lo? ngambek? yakan gue cuma nanya"


"Kamu seakan-akan berfikir kalau aku manusia primitif yang tidak punya teman"


"Siapa yang bilang? elu sendiri yang bilang bukan gue, udah ah ngambek segala kek cewek! gue aja yang cewek ga ngambekan" alisya meraih tangan Ridwan yang memegang sendok penuh siomay lalu menyuapkan ke mulutnya.


"Emang kamu cewek?" tatapan mereka bertemu tapi dalam keadaan yang salah. Ridwan tidak menatap alisya dengan hangat melainkan tatapan meremehkan.


"Otak Lo gesrek apa? ya jelas lah! ish!" Ridwan diam, tidak berniat membalas perkataan alisya.


"Lo makan lama banget sih, pake ada acara ngambek segala lagi" alisya menarik piring Ridwan ke hadapannya.


"Buka mulut!"


Ridwan terbelalak, bagaimana mungkin alisya menyuapinya di tempat umum seperti ini?


.


"Aku bisa makan sendiri alisya!"


"Nggak! Lo lama! udah cepetan buka mulut apa susahnya sih?"


"Tapi malu si liatin orang nanti"


"Hahaha, siapa yang mau ngeliat? Lo yang ga liat apa mereka yang ga terlihat?" alisya terkekeh kecil menyadari Ridwan yang tak sadar pada sekitar.


"Ga ada orang di sini selain kita! coba deh Lo liat heran gue dari tadi Lo ga peka terhadap sekitar ternyata?"


kepala ridwan langsung celingak-celinguk mencari sosok orang lain selain dirinya dan alisya.


"Udah buka mulut, masih mending gue baik ini, kurang apa coba? temen pertama Lo, cantik, baik pula, keren kan?"


Ridwan tersenyum. "Muji diri sendiri karena ga ada yang muji?" sukses kalimat itu langsung mendapat pelototan dari alisya.


sesuap siomay berhasil masuk dalam mulutnya begitupun dengan suapan selanjutnya, walaupun beberapa suapan memang masuk dalam mulut alisya.


"Btw, kamu juga ga punya temen kayak aku?"


alisya melirik sebentar, setelah akhirnya kembali fokus pada piring siomay.


"Punyalah! gue pinter bergaul ga kaya Lo!"


"Trus kok aku ga pernah lihat kamu sama mahasiswa lain?"


"emang kalo temenan harus banget gitu jalan berdua?"


"Ya nggak sih"


alisya menghela nafas. "Sebenarnya bukan mereka yang ga mau temenan sama gue, cuma emang gue-nya aja sih yang terlalu menutup diri, gue ga pengen terlalu deket sama seseorang tapi akhirnya malah seret! bikin sakit tau ga!"


"jadi maksudnya? ya sama aja dong kamu ga punya temen berarti"


alisya mendelik ke ridwan. "Dibilangin punya!"


"cewekkan?"


"cowok juga punya" alisya menarik bibirnya tipis, sebuah lengkungan kecil terbit diwajahnya.


"tapi dia ga di sini Sekarang, dia lagi jauh banget dari gue" alisya terlihat memaksakan senyumnya.


"Dia temen apa pacar, sedih banget mukanya" Ridwan mulai banyak bicara, ia mulai nyaman berteman dengan alisya yang begitu nyablak dan tidak terlalu jaga image, ia rasa alisya menyenangkan.


"Dia orang yang paling berharga di hidup gue, selain keluarga gue" alisya mengalihkan pandangannya ke arah ridwan.


"Dia sahabat gue"


.