She Is Princess

She Is Princess
sebuah doa



"Sayang bangun dong" sebuah tangan yang terasa lembut menyentuh lengannya, membuat tidur Ridwan sedikit terusik.


"Sayang, ayo dong! udah siang ini" tangan itu masih setia menggoyangkan tubuhnya. Ridwan mengucek matanya sebentar lalu menarik tubuhnya kuat-kuat, menggeliat di atas kasur bersprei biru langit.


"Nanti ah! masih ngantuk!" ucapnya pelan berharap tangan lembut itu kembali mampir ke lengannya, namun nihil.


"Jam segini baru bangun! kamu ga ngajar kuliah? cepet bangun!" justru suara cempreng yang masuk dalam gendang telinganya.


Ridwan membuka mata. "Mama?" tubuhnya tegak terduduk. Ridwan menepuk jidatnya kesal, Ia baru saja bermimpi ternyata.


"Kamu itu sudah tua ridwan, masih aja susah kalo di bangunin! cepet mandi, udajdi tunggu in semuanya untuk sarapan!" omel rosela-mama Ridwan.


"Iya mama cantik" ridwan bangun lalu mengecup pipi mamanya singkat. "Jangan cium-cium! masih bau juga!"


Ridwan masuk ke kamar mandi, menatap cermin bundar di hadapannya. "Kenapa mimpi aku selalu gitu? setiap aku akan melihat wajah gadis itu, aku selalu terbangun"


Lantas Ridwan segera membasuh wajahnya dan kembali menatap cermin. "Apa dia jodoh aku?"


***


Semuanya tengah menunggu di meja makan. "Pagi semua!" sapa ridwan begitu duduk di kursinya bersama yang lain.


"Kamu itu le, wes gede panggah mbangkong ae" Oma mengambil Nasi mengawali semua orang, karena memang begitu tradisi kami, Oma harus di dahulukan.


"Habis begadang Oma, biasa tugas anak-anak pada numpuk di laptop aku, belum aku koreksi sama sekali" Ridwan mulai mengambil makanan setelah yang lainnya.


"Ojo mekso awakmu le! ngunu iku ga apik!" Oma menatap Ridwan yang duduk tepat di sebelahnya. mendengarnya Ridwan hanya tersenyum.


"Lek awakmu sibuk terus kapan nggolek mantu gawe Oma le?"


"nggeh oma, tapi mboten sak Niki" Ridwan tersenyum lembut pada Oma yang selalu memintanya agar segera menikah, padahal ia sedang tidak ingin memikirkan hal itu.


setelah percakapan singkat itu semuanya diam, sibuk dengan makanan dan pikiran masing-masing.


setelah selesai ridwan segera berpamitan pada semua orang dan bergegas menuju kampus baru. Iya, ia pindah hari ini.


***


"Yaelah Sya! rambut Lo di Iket aja kenapa sih!?" Dira menarik ujung rambut alisya dengan keras, membuat alisya menjerit.


"Apaan sih Lo! biarin Napa sih dir! gausah sirik gitu juga kali! gausah pegang-pegang deh rusak ntar rambut gue!" alisya mengibaskan rambutnya seperti iklan sampo.


"Habis itu rambut ganggu Lo makan sya!" Dira dengan perhatian membawa rambut alisya ke belakang leher saat sesendok bakso hendak masuk dalam mulut alisya.


"Habis gue maskerin itu rambut, jadi biarin ajalah Ra, bagus juga kan rambut gue" sanggah alisya setelah menelan suapan pertamanya.


"Btw, Lo udah ngerjain tugas dari pak Hendra belum?" dira kembali membuka suara. alisya menggeleng.


"Males gue! ngapain juga? palingan suruh ngerjain doang ga di koreksi!"


"Sumpah Sya! mending Lo kuncir dulu deh rambut Lo!" Dira menaikkan volume bicaranya. Namun alisya tetap menggeleng, bersikeras dengan keputusannya.


Seorang mahasiswa dengan Rambut bobnya berjalan menuju meja dimana alisya dan Dira duduk.


"Hai girls" sapanya dengan senyum merekah. "Widihh..pagi-pagi udah bahagia banget tuh keliatannya, habis di kasih apa sama Nathan?" tanya dira.


"Biasalah coklat harian" gadis itu mengeluarkan sebatang coklat Silverqueen dari dalam tasnya.


"Enak banget sih Lo den, punya pacar ganteng,kaya, perhatian lagi, ya gak sya?"


"Udah berapa lama si Lo pacaran?" alisya angkat bicara setelah menghabiskan semangkuk bakso di hadapannya, lalu mengelap mulutnya dengan tissue.


"Lama deh kayaknya, udah 5 tahun kayaknya" Adena tersenyum manis, mengingat hubungannya dengan Nathan begitu romantis.


"Jangan sampe putus Lo ya! awas aja kalo putus! pokoknya kalian ga boleh ada yang selingkuh, masa pacaran 5 tahun ga berujung nikah?" alisya menampilkan wajah judesnya, membuat kedua sahabatnya terkikik.


"Idihh sok-sokan lo, Lo sendiri mana gandengannya? pake sok-sokan ngebahas nikah" Andira mencibir.


"Ya nanti pasti ada gandengan gue, udah pokoknya kalian berdua ga usah khawatir" alisya menengguk segelas jus jeruk dengan cepat.


"Lo sama Aldo gimana? jadi putus?" alisya mengalihkan pembicaraan.


"Ga jadi dong, lagian dia cuma bercanda Waktu itu" Andira tersenyum.


"Emang bangke tuh orang! enak aja kayak gitu di bilang bercanda! liat aja ntar gue pukul sampe monyong bibirnya.


"Dih, jahat banget sih Lo, jangan kasar-kasar deh! Lo itu cewek!" Andira mendorong bahu alisya pelan.


"Iya nanti gue kalo gue jadi kalem pada kaget lagi" alisya tertawa. "nanti gue berubah kok"


"Nantinya tuh kapan?" Adena angkat bicara, gemas melihat tingkah sahabatnya yang begitu kasar dan keras kepala.


"Nanti kalo udah di suruh sama jodoh gue, hahahaha" alisya terbahak, tangannya sibuk mengobrak-abrik isi tas nya, mencari karet rambut.


"kalo Lo kek gini terus mana mau jodoh Lo! ilfeel duluan dianya oon!" Adena menoyor jidat alisya pelan.


"Lo itu jadi cewek yang anggun dong! mana ada yang mau sama cewek kayak gini?" andira melempar bulatan tissue ke wajah alisya.


"Ada! kalian ga percaya banget sih? mana ada yang tau masa depan? siapa tau malah gue yang nikah duluan, kan?"


"Udah kebelet nikah Lo?"


"Ya nggak gitu onta! habis kalian ngeledekin terus sih!" alisya menyambar piring nasi goreng yang baru saja di pesan oleh Adena.


Nasi goreng dalam piring itu masih mengepulkan asap, tapi alisya tak peduli dengan hal itu, ditiupnya cepat sesendok nasi goreng yang siap dilahap.


"Heh! punya gue itu! udah makan bakso juga ih! kalo begini makin takut gue kalo ga ada yang mau sama Lo!"


"Iya nih, takut juga gue den, makannya sekarung ni bocah, heran deh!" Andira turut menanggapi membuat alisya memutar mata dengan jengah.


Kesal dengan kelakuan kedua sahabatnya yang selalu saja merecokinya dengan banyak hal yang tidak ia suka. Contohnya saja saat ini, menyuruhnya anggun, menyuruhnya berpakaian dengan modis yang sesuai mode tren, atau memintanya bicara dengan lebih lembut.


"yee.. calon suami gue itu harus mau Nerima gue apa adanya lah! Lagian kalian tuh harusnya bersyukur masih ngeliat sahabat kalian yang paling unyu ini doyan makan, Alhamdulillah gitu kek! heran gue!"


"Gue ga bisa jadi anggun kayak kalian, walaupun kalian selalu ngomel soal mode dan penampilan gue coba deh pikir, mana pernah gue nyinyir soal kalian? harusnya kalian itu mau Nerima gue apa adanya dong, bikin kesel deh!"


"Ya maaf, bukannya gitu sya, kita itu cuma peduli sama Lo, ya kan den?" Andira menggenggam tangan kiri alisya, sedangkan tangan kanannya tengah sibuk menyiapkan nasi goreng ke mulutnya.


Adena hanya mengangguk, menatap piring nasi gorengnya yang ludes.


"Ya gue ga mau berubah! ist me guys! I love my self!" alisya menjauhkan piring nasi goreng yang sudah kosong.


"Ya pokoknya Lo liat aja besok gue bakal punya suami yang ganteng plus tajir dan yang pasti mau nerima gue apa adanya" ucap alisya dengan percaya diri.


kedua sahabatnya hanya tertawa dan mengangguk, tapi tanpa mereka tahu ucapan alisya melesat ke angkasa, menembus awan-awan dan menggantung bersama doa yang lainnya.