She Is Princess

She Is Princess
Cucu Thanos



Ridwan memijit pelipisnya pusing karena tidak bisa fokus pada materi yang sedang dipelajarinya.


ingatannya selalu tertuju pada sosok gadis menyenangkan yang mampu membuat jantungnya berdegup begitu kuat.


Ceklekk...


pintu kamar Ridwan terbuka, di ambang pintu Oma berdiri sambil membawa segelas susu putih.


"Oma ngapain berdiri di sana? Monggo Oma, duduk sini" Ridwan menggeser duduknya, menyisakan ruang untuk Oma.


"awakmu Ki sinau ga bar-bar to le"


Oma meletakkan segelas susu putih di atas meja. Ridwan mendengus kasar.


"karena Menuntut ilmu itu ga boleh puas Oma, harus selalu haus" Ridwan tersenyum lembut.


"Tapi kamu sampai lupa membahagiakan Oma" mata Oma sendu, tangannya lekas menggenggam erat tangan Ridwan.


"Ridwan sayang sama Oma, dan ga bakal bikin Oma kecewa, Ridwan ga mau liat Oma kayak gini, doain Ridwan Oma" tangannya merengkuh tubuh renta oma, membawanya ke dalam pelukan.


"Oma sudah tua le! Oma masih ingin melihat kamu menikah, Oma juga ingin liat cicit Oma"


Ah, kalau sudah begini Ridwan bingung ingin menjawab apa. "Kamu kapan menikah le?" Oma kembali bertanya dengan suara parau.


"Iya oma, nanti kalau sudah ada jodohnya, Oma doain aja" tangannya mengelus punggung Oma dengan lembut dan penuh perasaan.


"Nantinya itu kapan?"


"Nanti kalo udah ada waktu yang pas pasti aku bawa princess aku ke sini Oma,ya?"


"Jadi kamu sudah punya calon?" Oma menatap Ridwan senang matanya terlihat begitu terbinar. Ridwan mengangguk, tak ingin merusak momen bahagia Oma.


"Doain aja ya Oma, semoga dia bisa jinak sama Ridwan"


***


"Aduh parah! harusnya kan tadi gue minta nomor WhatsAppnya si Ridwan, aduh payah! trus gimana gue ngirim fotonya?"


"Apa lewat Instagram aja ya, tapi kan gue juga ga tau Instagramnya apa, huh!"


hari ini Surabaya begitu panas, alisya tengah bersantai menikmati indahnya Surabaya dari atas apartemennya. kasur king size yang tepat menghadap ke balkon memang sungguh tepat untuknya yang senang menatap langit.


Sore hampir berlalu, dan alisya masih berkutat dengan buku-buku puisinya. sesekali ia membaca puisinya kembali dan tertawa mengingat banyak hal yang sudah berhasil ia lewati di tahun-tahun sebelumnya.


"Alisya, mandi" Adena baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah.


"Hmm, iya bentar" ketika hendak beranjak sebuah notifikasi chat masuk membuat alisya mengurungkan niatnya untuk mandi.


Cucu Thanos : hay buriq!


Cucu Thanos : eh salah, Hay syantikk :3


Alisya terkekeh pelan, dengan cepat tangannya segera menulis pesan jawaban.


alisyantik : hola Conos!


Cucu Thanos : apaan Conos? mentang-mentang anak bahasa sok-sokan bikin kosakata sendiri Lo!


Alisyantik : congor lu mrongos! :"))


Cucu Thanos : Anjer! kasar banget ni bocah siapa yang ngajarin coba :"((


Alisyantik : elu Bambang!


Alisyantik : Habis lo ngatain gue buriq sih!


Cucu Thanos : Becanda doang elah!


Alisyantik : cewek mah gampang perasaan Abang, huuu ga peka amat lu!


Cucu Thanos : Hla emang Lo punya perasaan? dan yang paling penting nih, emang kapan Lo transgender jadi cewek?"


Cucu Thanos : wkwkwk, tuan putri ngambek ni pasti


Alisyantik : bodo! mandi dulu gue, bye!


Cucu Thanos : pantesan dari tadi gue nyium bau terasi, dari ketek lu ternyata :P


Alisya meletakkan hpnya dan bergegas masuk ke kamar mandi sebelum Adena mulai berteriak-teriak.


Ctingg!!


Adena mengintip layar hp alisya yang Berkedip-kedip. ada sebuah pesan masuk, langsung saja Adena membuka pesan itu.


Cucu Thanos : Dih ngambek beneran ni bocah? gue kasih kabar bagus mau ga?


Cucu Thanos : GUE BAKAL BALIK KE INDONESIA SEBENTAR LAGI!! I MISS YU PUL MONYET SYANTIK, SEE YOU <3


Adena tertegun, membaca ulang pesan itu. tapi setelah berulangkali membaca pesan itu tak kunjung berubah juga.


"dia bakal balik ke Indonesia?"


***


"Oma, apa harus seperti ini? kita harus tanya Ridwan dulu Oma" mama Rosela menatap beberapa lembar foto yang berisi wajah gadis yang sama.


"Wes to sela! Manut Karo oma, awakmu Ki ga ngesakne to? Ridwan kui wes Mateng gae berumah tangga"


Oma memungut salat satu lembar foto berisi seorang gadis muda dengan wajah bulat kearab-arab an. "Cantik ya sela anak ini" mama Rosela mengangguk kikuk, menatap gadis berwajah mungil terbalik jilbab cokelat tengah tersenyum kearah kamera.


"Dia ini cucu dari sahabat oma, dia ini pintar sekali apalagi mengajinya, duh bagus sekali suaranya"


"Oma, Ridwan harus setuju dulu ya?" mama Rosela menggapai jemari oma, menggenggam penuh harap.


"Iya nanti Oma bilang"


tanpa mereka sadari seseorang dengan tubuh tegap tengah menempelkan telinganya pada daun pintu lantas mengeram kecil.


***


"Adena, Lo udah ngerjain tugas bikin puisi?" alisya berguling-guling di atas kasur yang lebar.


"Udah, kenapa? kemarin gue ngerjain sama andira" Adena sibuk memencet-mencet tombol remot tv berusaha mencari acara yang bagus buat di tonton.


"Ah! kalian kok ga ngajak gue sih? gue bingung ini mau nulis apa"


"Udah, daripada bingung mau ngapain mending makan pisang goreng krispi buatan chef Andira comel!" Andira yang baru saja dari dapur meletakkan beberapa potong pisang goreng crispy hangat di meja.


Langsung saja Adena dan alisya berebut untuk mengambil pisang goreng.


"Apaan sih Lo! gausah dorong-dorong!" Adena berusaha menyingkirkannya tangan alisya yang ga sopan mampir-mampir ke wajahnya.


"Apaan sih lo Dena! katanya nggak usah dorong-dorong ya nggak usah dorong kepala gue juga"


"habis Lo tuh! tangannya kemana-mana!"


"Makanya Lo minggir badak!" alisya bersikeras menerobos dari belakang sofa.


"Ya Lo harusnya lewat bawah gausah nangkring atas sofa!"


"gue ini lagi berjuang, ntar kalo ga gini di pisang goreng capek karena berjuang sendiri!"


"Apaan sih Lo kutil! ga jelas banget sumpah!"


"Iya sama, gue juga laper banget ini apalagi liat muka Lo yang ga jelas itu sumpah!


"Kalian!! Minggir!!" Andira mengambil kembali piring pisang goreng yang tadi ia letakkan di atas meja.


"Lo satu" ia memberikan 1 pisang goreng kepada adena begitupun juga kepada alisya.


"Kok cuma 1 doang si? pelit amat Lo!" Adena kembali melayangkan protes.


"Mau ga? kalo ga mau ya sini balikin!" sontak Adena dan alisya menggeleng cepat.


"Yaudah gausah ribut! ganggu suasana aja emang!" mereka berdua menatap kepergian Andira yang membawa sepiring pisang goreng.


"Gara-gara Lo sih dena pake ga mau minggir segala!" alisya memajukan bibirnya monyong. "apaan sih Lo nyalahin gue? yang ada itu elo bikin ribut aja!" Adena melotot tak terima, kemudian berdiri dan berjalan ke arah balkon.


"Dasar badak hamil!"


"Dasar kutil miskin!" Adena mengibaskan rambutnya tepat di depan pintu.


alisya kembali merebahkan tubuhnya. sepotong pisang goreng di tangannya sudah kandas.


"Gue bikin puisi tentang apa ya?"


"Habisnya kamu seakan-akan berfikir bahwa aku itu mahluk primitif yang ga punya teman!"


cling, muncul sebuah bohlam di atas kepala alisya persis seperti di film kartun. dengan cepat tangannya langsung merajut kata di atas kertas putih.


***Lentera dalam petang


bumi memanggil mentari untuk bersembunyi dari kejaran malam yang pekat menyelimuti.


dari kejauhan tampak mata sayu


dengan wajah ayu


duduk bersandar di sebuah pagar kayu


tangisnya mendayu mengusik dinding kalbu


jiwa yang merasa sendiri


jiwa yang bergelung dalam sepi


jiwa yang pintunya terkunci


aku datang menjemputmu dalam ikatan suci


bersama lentera api***.


"Nah udah jadi deh" alisya membalikkan tubuh menghadap langit-langit kamar. kedua tangannya ia telusupkan di bawah kepala sebagai bantal.


"Lo lagi ngapain ya disana? gue rindu"


tiba-tiba Hp alisya berdering menampilkan nama pemanggil di layarnya.


"Cucu Thanos is calling"


alisya memutar bola matanya malas. tapi tetap saja ia menerima panggilan dari sahabatnya itu.


"Assalamualaikum" alisya membuka suara.


"Subhanallah... kalem sekali janda lampir hari ini, waalaikuumsalam Syantikk"


"Janda kaki Lo kutilan! pacar aja ga punya Lo bilang janda!"


"Nenek Gambir apaan! Lo pikir gue jualan kerupuk gambir!?"


"Wadidaw ngomongin krupuk Gambir gue jadi pengen kripik singkok Deket rumah deh"


alisya melotot ke layar ponselnya seakan-akan Sahabat Begonya itu bisa takut melihat pelototan sarinya.


"Lama-lama makin oon Lo ya ric? jangan kebanyakan belajar ah, gue takut Lo jadi gila ni" alisya bergidik ngeri.


"Cie takut... takut makin rindu apa takut makin sayang ni?" alisya benar-benar sudah membayangkan wajah nyebelin Ricky, sahabat masa kecilnya.


"Serah lu aja deh, ga bakal kelar ni kalo ga nurut sama Lo"


"Adek pintar.. cini-cini Abang cium dulu buat hadiah"


Alisya terbelalak. "Jijik lu ah! najis tingkat mugholadzoh! ih!" pada detik berikutnya terdengar suara Ricky tertawa keras.


"Kapan sih Lo pulang ke Indonesia kampret? kenapa betah banget sih di sana? punya pacar bule Lo ya? kenalin ke gue dong!"


"Ahahah, apaan sih lo? gue ke sini itu nyari ilmu bukan nyari cewek seksi berbikini" alisya ikut tertawa mendengar Ricky.


"Idih, Gapapa tau ada pepatah mengatakan sambil menyelam minum air sekalian"


"Yee.. udah gausah ngomongin pepatah ah ntar dia keselek lagi gara-gara Lo gibahin. gue balik Minggu depan princess ini udah selesai kuliahnya. Lo itu sekolah dulu yang bener! jangan maen cinta-cintaan dulu ya adek kutil, kalo punya pacar harus laporan dulu ke gue"


"Bener? wah asyik! traktir gue gado-gado perempatan ya kalo udah pulang!"


"Iya gampang itu mah, pokoknya Lo harus lapor ke gue kalo punya pacar"


"Idih, ngapain gue lapor Lo? yang punya hubungan gue kok yang ngurus elo, udah kayak satpam komplek aja ih!"


"Pokoknya harus dong! sebagai kakak yang baik harus selalu tampil tampan dan menawan apalagi juga harus gentleman"


"Ahahahah, geblek Lo emang ric! udah dulu ya gue laper pengen beli makan di luar nih" alisya menepuk-nepuk perutnya.


"Hati-hati di godain Abang siomay!"


"Dipikir Abang siomaynya kayak Lo yang suka gombal? Udah ah, bye! assalamualaikum"


Tut!


alisya memutuskan panggilan secara sepihak bahkan sebelum ricky menjawab salamnya.


perutnya begitu keroncongan minta di isi, ia ingin makan bakso beranak hari ini. "Guys, gue keluar dulu cari makan" alisya menyambar cardigan berwarna dusty yang tersampir di sebelah pintu.


"Jangan lupa pulang bawa oleh-oleh sya!" Adena berteriak dari dalam sebelum alisya menutup pintu.


"Gue bawain Abang pentol depan komplek mau ga Lo? yang gundul-gundul gitu tipe Lo kan den?"


"apa sih? anjer! ga jadi nitip! pergi Lo ah!" Adena melemparkan bantal ke arahnya tepat setelah alisya menutup pintu lalu terkikik geli.


Alisya bersenandung kecil menikmati sore yang hampir menghilang tergantikan malam. rasanya akan lebih baik jika Ricky ada di sini dan menemaninya makan bakso beranak seperti dulu.


"Ah Ricky gue kangen banget sama Lo" kini alisya sudah berdiri disebuah kedai khusus bakso.


Di daftar menu yang tertempel di tembok ada berbagai macam menu seperti bakso ikan, bakso mercon, bakso beranak aja, bakso beranak mercon, dan bakso bulat.


alisya baru sadar sesuatu, ternyata nama menu di sini memang agak tidak realistis. "Bakso beranak mercon? enak tuh kayaknya"


"Pak bakso beranak aja satu"


"Pak bakso beranak mercon satu"


spontan alisya menoleh heran karena ada suara yang memesan bersamaan dengannya.


"Alisya?"


"elo?"


Kini mereka saling menunjuk wajah masing-masing. "Astaghfirullah, kenapa sempit banget sih dunia? kenapa harus ketemu Lo lagi?"


Ridwan tersenyum geli. "Ini takdir yang sedang menyamar"


"baik mbak, mas, silahkan duduk" suara penjual itu menyadarkan mereka. mereka berjalan berdampingan sebelum akhirnya Ridwan memutuskan berbelok dan akan duduk di bangku yang berseberangan dengan alisya.


"Sebangku aja sama gue, gausah jauhan gitu! udah kayak sama orang asing aja" alisya menarik lengan Ridwan untuk duduk di sebelahnya. Ridwan tersenyum, entah kenapa ia sering sekali tersenyum akhir-akhir ini.


"Kamu sendirian?" Ridwan membuka topik obrolan. "Nggak" mendengar jawaban alisya Ridwan celingak-celinguk mencari orang yang di maksud alisya.


"Mana? katanya kamu ga sendiri"


"Emang gue ga sendiri, gue kan sama Lo sekarang" tangannya mencomot krupuk udang dari toples.


"Aku pikir sama teman kamu"


"Ya Lo teman gue kan?"


Ridwan tak menyangka bahwa alisya benar-benar menganggapnya sebagai teman. "Gue mau ambil minum di kulkas ya" alisya beranjak menuju kulkas yang terletak di sudut ruangan cukup jauh dari bangku mereka.


Drtttt..


Ah tunggu! alisya meninggalkan hpnya di atas meja dan ada yang menelpon. Ridwan melirik nama pemanggil.


Cucu Thanos <3 is calling..


melihatnya membuat hati Ridwan mencelos. ada sebuah tanda love setelah nama si pemanggil. tangannya ingin sekali mengangkat dan bertanya siapa ini, namun Ridwan cukup sadar diri ia dan alisya hanya berteman.


tak lama kemudian alisya kembali dengan 2 botol kemasan teh dengan merk yang cukup terkenal. Tepat saat panggilan itu terputus.


"Ni buat Lo" salah satu botol ia serahkan kepada ridwan. "Terimakasih nanti aku ganti"


"Gausah, anggap aja gue traktir karena kemarin Lo rela temenin gue bolos di kantin,hehe"


"Alisya, tadi ada yang telepon tapi kamu belum kembali"


"siapa?" alisya mengangkat hpnya melihat siapa yang baru saja menelponnya. "Kok ga kamu angkat?" tanya alisya setelah melihat tulisan "1 panggilan tidak terjawab dari Cucu Thanos <3"


"Itu hp kamu dan aku tadi belum minta ijin, jadi aku ngerasa kalau mengangkat telpon itu bukan hakku" tangan Ridwan membuka tutup botol teh yang seret.


Di luar dugaannya alisya justru tertawa renyah. "Astaghfirullah, alim banget lu dah! gapapa lagi temen-temen gue biasanya begitu, kalo ada telpon tapi gue ga ada ya angkat aja siapa tahu penting"


"Oh, aku ga tau itu penting atau nggak"


"Hahahahah, si kampret ini mah mana penting" alisya menghela nafas perlahan memberi jeda pada ucapannya.


"Dia nggak cuma penting tapi lebih dari penting buat gue"


sekali lagi Ridwan merasakan nyeri dalam dadanya. entah, padahal ia belum mengkonfirmasi rasa apa yang ia simpan untuk alisya.


"Tapi gapapa kalo Lo ngangkat telepon dari dia pas gue ga ada, dia telpon paling cuma gara-gara iseng kalo ga ya kangen tapi dia ga pernah ngomongin hal yang penting banget menurut gue"


Drtttt...


Mereka berdua melirik layar ponsel alisya bersamaan. Cucu Thanos <3 is calling...


Nama pemanggil yang sama masih tertera di sana.


"Assalamualaikum, apaan si Lo kucrut?! telpon terus dari tadi?" alisya buru-buru menekan tombol hijau dan mengaktifkan speaker agar Ridwan juga bisa mendengarnya.


"Kenapa di speaker sya?" rasanya Ridwan enggan mendengarkannya kalau isi dari telpon tersebut cuma ungkapan kerinduan dari sepasang kekasih yang sedang LDR.


"Princess sama siapa? lagi dimana?" tuhkan dari nadanya saja Ridwan sudah muak. "Gue lagu makan bakso beranak mercon ni, kesukaan kita dulu" setelah itu, tak lama kemudian seseorang datang dengan sebuah nampan coklat berisi 2 mangkuk bakso beranak.


"Makasih mbak" mereka berdua kompak mengucapkan bersamaan. "Princess Lo sama siapa? kok gue denger bau cowok di situ?"


"apaan si Lo? denger bau gimana maksud Lo? denger pake telinga membau pake hidung, emang hidung sama telinga Lo gabung?"


"wkwkwk, diladenin aja omongan gue, maksud gue denger suara cowok Lo sama siapa disana?"


"Gue sama temen guelah, namanya Ridwan"


alisya melirik Ridwan yang sibuk menuangkan kecap ke dalam mangkuk baksonya.


"Wadidaw, dangerous area ni"


"Dangerous apaan? yang ada kalo gue sama Lo itu baru Dengerous! hahaha"


"Lo berusaha mengganti posisi gue sebagai teman makan terasyik?"


alisya menggeleng kecil seakan Ricky akan tahu. "Nggaklah, Lo itu ga akan pernah terganti, selamanya ric"


Jleb! itu seakan menjadi tamparan mutlak bagi ridwan, dia sudah tidak punya harapan sekarang. Ridwan melirik wajah alisya yang tampak tenang.


"Beneran ya? awas aja Lo boongin gue! gue cium sampe pingsan!"


Jleb! apa? cium? jadi mereka sudah?


rentetan pertanyaan mengantre di kepalanya meminta jawaban.


"Hidih ogah! udah ah gue makan niz bye!"


alisya memasukkan hpnya ke saku celana. memandang Ridwan yang tengah memandang bingung ke arahnya.


"Kenapa Lo?"


Ridwan gelagapan. "aku? aku ngg.. nggak papa kok, yuk makan!" ia tersenyum kikuk.


"Ambilin gue sambel dong"


dengan cepat ia mengangguk. mungkin karena kaget ridwan malah menyodorkan botol teh pada alisya.


"Gue minta sambel Abang!" alisya mengulangi permintaannya. "Kok Lo tiba-tiba grogi gini sih? kenapa? kebanyakan makan kecap Lo! jadi ikut butek pikiran lo"


"Ah, maaf"


sejujurnya ia tengah memikirkan pembicaraan alisya dengan Cucu Thanos dalam telepon tadi.


"Makan buruan, keburu dingin ga enak ntar"


alisya menuangkan sedikit kecap ke dalam mangkuknya.


"iya"


Ridwan tengah berpikir keras haruskah ia bertanya pada alisya siapa tadi yang menelpon atau bertahan untuk penasaran semalaman.


"Sya, tadi yang nelpon kamu siapa?" akhirnya Ridwan memberanikan dirinya untuk memilih opsi pertama.


"Oh, itu Ricky sahabat gue yang sekarang ada di Amerika dia mau balik ke Indonesia katanya" alisya mulai melahap baksonya.


"oh, aku kira pacar kamu" ada perasaan lega mendengarnya. "ah, syukur deh bukan pacar ternyata" batinnya.


"Nggak, gue ga kenal sama istilah itu, gue ga pernah pacaran yah walaupun sebenarnya gue juga ga alim-alim banget sih" peluh mulai membanjiri kening alisya.


"Gue udah nutup hati gue buat siapapun sejak 5 tahun yang lalu" alisya memandang lurus. "Gue ga mau kenal cinta lagi" ucapnya kemudian.