Shadow of Death

Shadow of Death
Chapter 5



.


.


.


Telapak kaki Avania menyentuh lantai putih yang dingin. Wajah pucatnya terlihat jelas pada pantulan lantai yang bening bagaikan kaca. Pandangannya kosong melompong, bibirnya yang biasa berwarna merah muda kini selaras dengan kulit. Rambutnya lurus dan lepek. Tubuhnya yang kurus terbalut kaus putih selutut.


Netra coklatnya melirik ke sana-sini, berusaha mengenali tempat asing yang tidak pernah dia datangi sama sekali selama hidupnya. Dinding putih tanpa sudut, lantai putih transparan, dan satu-satunya objek di tempat ini hanyalah dirinya.


Tubuh kurus Avania bagaikan sebatang ranting di tengah danau. Gadis itu tidak sanggup bergerak atau bahkan terlalu lelah untuk sekedar mencari jalan keluar dari tempat seperti ini.


Keringat dingin menetes dari dahinya ketika Avania merasakan sesuatu pada pergelangan kakinya. Saat dia menoleh ke bawah, hanya ada lantai putih bening yang lama kelamaan dipenuhi cairan gelap. Pantulan wajahnya terlahap cairan hitam bagai tinta itu, menyebar sampai ke seluruh penjuru tempat.


Avania ingin berlari, dia ingin berteriak, tapi dia tidak mampu. Betisnya terasa dingin, ada sesuatu yang mencengkram kemudian merambat ke pundaknya. Itu sebuah tangan hitam kurus kering bagaikan akar pohon yang menjalar dari bawah tanah. Bukan cuma satu, lama kelamaan jumlahnya semakin banyak sampai-sampai kumpulan tangan panjang yang keluar dari lantai itu hampir memeluk tubuh Avania sepenuhnya.


Avania lagi-lagi tidak bisa melakukan apa pun. Tenggorokannya terasa kering, tubuhnya benar-benar kaku sampai rasanya menoleh saja dia kesulitan. Bibirnya tidak dapat terbuka, hanya bisa bergetar ketika tangan itu semakin merambat mencekik lehernya.


Seluruh tempat yang tadinya putih terang berubah menjadi hitam dan gelap. Avania sepenuhnya dilahap kegelapan, rasa takut dan gelisah tidak bisa dihindari lagi. Avania sendirian, Avania takut, Avania hanya ingin pergi dari sini.


Sejauh mata memandang tidak ada objek lain yang berdiri selain dirinya. Tapi, Avania dapat mendengar suara yang membisikki telinganya, begitu lembut namun menjerat ulu hatinya seperti duri. Mata Avania perlahan basah, setitik air mata lolos dari sana tanpa diperintah. Nafasnya semakin berat dan pandangannya semakin memburam seiring suara-suara itu menghujam pikirannya.


"Kau akan mati, Avania."


"Kami di sini menunggumu."


"Sampai kapan kamu akan bertahan?"


"Matilah! Berikan jantungmu padaku!"


"Avania, ikutlah dengan kami, biarkan kami mencicipi tubuhmu."


"Avania, anak yang baik, ayo kita lewati kegelapan ini bersama-sama."


Tubuh Avania semakin bergetar hebat. Nafasnya naik turun, Avania merasakan paru-parunya seakan berhenti bekerja. Keringat dingin bercampur dengan air mata, Avania tidak berani untuk sekedar berkedip. Suara-suara itu semakin kencang, meneriaki dan memanggil namanya.


Dadanya sakit, tubuhnya sakit, kepalanya pusing, pandangannya memburam.


Sampai akhirnya Avania hanya bisa melihat dunia yang berputar sebelum dia tidak sadarkan diri.


.


.


.


Kriiiiinggg!!


Avania terlonjak dari tidurnya. Gadis itu mengatur nafasnya yang memburu, keringat dingin membasahi tubuhnya bahkan sampai ke telapak tangan.


Sinar matahari merambat memasuki jendela, mewarnai lantai kamarnya yang kusam. Udara terasa begitu sejuk. Alarm yang berdering dari ponselnya begitu memekakkan telinga, angka pada layar sentuh menunjukan pukul 07.00.


Setelah sekian menit menenangkan diri, Avania mengusap wajahnya dengan gusar. Ada sedikit rasa lega ketika dia mengetahui apa yang dialaminya tadi hanyalah mimpi belaka.


Gadis itu melirik ke arah ponselnya yang terletak di meja nakas dan langsung mematikan alarm.


Pagi yang sunyi, hanya ada suara kicauan burung. Selama 10 menit, Avania hanya terdiam di kasur, duduk dan enggan berdiri.


Seluruh tubuhnya lemas dan berkeringat seperti orang yang tengah mengalami demam tinggi. Ditambah posisi tidurnya yang salah membuat tubuhnya menjadi sedikit sakit.


Semalaman Avania tidur terduduk di pojok ranjang, dengan posisi memeluk lutut dan selimut tebal yang melapisi dirinya. Dia ingat bahwa kejadian menyeramkan itu memaksanya untuk terlelap pukul 3 pagi.


Jika diingat-ingat lagi itu membuatnya merinding setengah mati. Bahkan Avania berharap bahwa kejadian itu hanyalah salah satu bagian mimpi buruknya. Tapi, sepertinya itu terlalu nyata untuk sekedar mimpi. Apakah Avania mengalami lucid dream ?


Sulit untuk dipercaya.


Gadis itu tetap memaksakan diri untuk sekolah. Langit yang cerah mewarnai kehidupannya yang suram. Avania melangkah memasuki kamar mandi, menatap pantulan wajahnya sendiri pada cermin lebar.


Gadis itu cemberut ketika melihat lingkaran hitam di bawah matanya, menandakan dia kurang istirahat. Tentu itu membuat penampilannya terlihat lebih lesu.


Lagi dan lagi, Avania berharap apa yang terjadi semalaman hanyalah mimpi buruk. Dan mulai hari ini semuanya berjalan seperti sedia kala.


.


.


.


Pukul 08.05 pagi, langit yang semula cerah berubah menjadi mendung. Jalan raya di depan rusun terlihat lebih sepi belakangan ini karena cuaca yang tidak menentu.


Avania keluar dari kawasan rusun, menyebrang untuk sampai di halte bus. Avania mengecek jam tangannya, menyadari bahwa kelas baru akan dimulai pukul 08.50. Yah, semoga saja bus yang biasa ditumpanginya datang tepat waktu.


Avania menyadari bahwa dirinya sendirian selama menunggu bus, tidak seperti biasanya banyak para lansia yang tinggal di rusun menunggu bersamanya di halte bus.


Gadis itu sibuk mengutak-atik ponsel, tapi kemudian pandangannya malah teralihkan pada sesuatu yang janggal.


Yaitu, kuburan kecil anak burung yang dibuatnya bersama Narah semalam.


"Apa-apaan ini?" Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Avania.


Dilihatnya gundukan tanah di bawah pohon yang sekarang acak-acakkan seakan ada yang menggalinya menggunakan cakar. Bagian dalam isi gundukan tanah terlihat kosong, tidak ada mayat burung yang baru semalam dia kubur. Ke mana anak burung itu? Siapa yang mengambilnya?


Avania semakin dibuat heran ketika suara sirine mobil polisi terdengar dari kejauhan. Tepatnya beberapa meter dari rumah rusun, terlihat ada dua buah mobil polisi dan satu ambulance, terlebih lagi ada beberapa orang yang mengerumuni tempat itu.


Sebuah jasad terbaring di atas tanah, tangannya yang pucat dan gemuk mencuat dari balik kain putih. Avania dapat melihat pemandangan itu dengan jelas, terdiam kaku tepat di seberang jalan.


Ada beberapa wartawan yang tengah mewawancarai polisi dan warga sekitar demi mencari saksi mata. Avania yakin bahwa kejadian seperti ini akan diproses menjadi berita di televisi.


Dan yang membuatnya heran, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada orang yang baru saja kecelakaan? Atau bunuh diri? Selama dia tinggal di sini lingkungan terlihat aman dan tentram, tapi kenapa sekarang berubah?


Pikiran Avania berkecamuk. Gadis itu dikagetkan dengan kemunculan bus yang sekarang berhenti tepat di depan halte. Avania berlari menjangkau bus sebelum mobil besar itu kembali berjalan. Jangan sampai dia lolos hanya karena ketinggalan kendaraan.


Seperti hari-hari biasanya, Avania duduk di kursi paling belakang. Tempat itu seakan sudah membuatnya nyaman. Selain karena jarang orang yang duduk di sana dan memilih duduk di depan, entah mengapa bagian pojok belakang bus membuatnya merasa hangat di tengah udara pagi yang dingin.


Dan kali ini terasa aneh. Tidak ada satu pun orang yang masuk ke dalam bus sampai kendaraan itu kembali berjalan meninggalkan halte. Avania sedikit heran, tapi tidak mempedulikan itu sama sekali. Toh, yang naik bus ini penumpangnya kan itu-itu saja. Mungkin sopir bus itu sudah hafal dengan penumpangnya sendiri.


Seperti biasa Avania memutuskan untuk menyetel musik dari ponselnya. Langit mendung berwarna kelabu di atas sana mendorongnya untuk menyetel musik slow yang mungkin saja bisa membuatnya terlelap seketika.


Avania memasang earphone-nya, mendengarkan setiap lantunan melodi yang keluar dari ponselnya. Perjalanan ke sekolah masih sedikit lama, lebih baik dia merehatkan tubuh di sini, kan?


Mata Avania baru saja ingin terpejam, tapi ada yang menghalanginya kala itu. Gadis itu mencium bau tak sedap yang menguar di udara, menusuk hidungnya.


Awalnya Avania tidak mau tahu, mungkin saja dia salah menghirup sesuatu. Tapi lama kelamaan baunya tidak mau hilang.


Terpaksa Avania mengubah posisi duduknya demi mencari asal dari bau amis busuk tersebut. Gadis itu menoleh ke sana-sini, sampai akhirnya dia menemukan tempat di mana bau itu berasal.


Avania mencondongkan tubuh sedikit, sampai wajahnya benar-benar dekat dengan kursi bus di hadapannya. Tubuhnya membungkuk, Avania mengintip ke bawah kursi bus, mencoba melihat benda apa yang mengeluarkan bau busuk seperti itu.


Deg!


Avania tersentak, jeritannya tertahan. Gadis itu buru-buru menaikkan kedua kakinya ke atas kursi ketika melihat apa yang ada di bawah sana.


Sebuah benda berbulu putih dengan bercak darah yang mengalir sampai ke lantai bus yang kusam. Benda itu kecil, hanya seukuran dia telapak tangan, terbaring kaku di bawah kursi bus dengan bercak merah yang mengotori bulu putihnya.


Apa itu? Kucing? Anjing?


Ah...


Avania baru mengingat sesuatu. Kemarin sore ada anak anjing kecil yang terus menggonggong tanpa henti ke arahnya. Bulunya putih bersih tanpa cela. Akhirnya anjing itu berhenti menggonggong setelah dibawa tuannya agar tidak mengganggu penumpang yang lainnya. Setelah keluar dari bus pun, Avania tidak melihat anjing itu sama sekali.


Kenapa? Kenapa ini terjadi?


Kenapa anjing kecil itu terus-terussan menggonggong ke arahnya? Kenapa tiba-tiba anjing itu menghilang?


Apakah anak anjing itu merasa terancam makanya dia menggonggong untuk meminta bantuan?


Karena Avania tidak tahu, apa yang telah dilihat anjing tersebut.


Avania merasakan mual pada perutnya, luar biasa sakit. Gadis itu menahan muntah yang akan keluar dari mulutnya, pelupuk matanya basah, nafasnya naik turun tidak teratur.


"Aku... mau pulang...aku mau pergi dari sini... " Avania melirih, sedikit terisak setelah rasa mual benar-benat membuncah perutnya.


Kenapa ini sangat aneh? Kenapa hari-harinya berubah 180 derajat dari yang dulu?


Avania seakan hidup di dunia yang berbeda sekarang. Dunia yang suram dan dipenuhi dengan segala hal yang menyeramkan. Segala hal yang dapat membuatnya gila.


Entah yang dialaminya sekarang nyata atau tidak, Avania mulai berpikir bahwa perlahan-lahan dirinya akan mati di tengah bayangan kegelapan ini.


.


.


.


"Bagaimana selanjutnya? Kita pulang?"


Jin Woo yang dari tadi sedang santai menikmati pemandangan di atas gedung rusun terpaksa harus mengalihkan pandangannya ke arah Shi Xia yang sekarang duduk manis. Kaki gadis itu sengaja diayun-ayunkan.


Tangan dan wajah Shi Xia dipenuhi darah, tapi tidak ada luka yang dialami gadis itu setelah pertempuran semalam yang terasa menegangkan. Tapi untuk Jin Woo mau pun Shi Xia, itu terasa membosankan.


"Steven belum menyuruh kita untuk kembali," Jin Woo mengecek kotak pesan di ponselnya, tapi dia tidak menemukan pesan apa pun dari seniornya itu. "Mungkin akan ada misi di tempat yang sama."


Shi Xia mendengus, dengan kesal dia mengambil pedang yang tergeletak tepat di sebelahnya dan mulai mengelap noda darah pada besi pedang itu dengan sapu tangan.


"Melelahkan sekali, padahal aku mau istirahat."


Jin Woo tidak menjawab, pria itu masih sibuk melihat ke sekitar. Kulit wajahnya berwarna putih pucat dengan ekspresi sedatar tembok. Matanya yang seperti rubah melirik ke sana-sini, mengecek apakah ada aroma aneh di sekitarnya.


Hidung mancung Jin Woo mengendus-endus seakan dia telah menemukan aroma yang aneh.


Shi Xia yang menyadari adanya perubahan dari raut wajah Jin Woo segera bertanya. "Ada apa? Kau merasakan sesuatu?"


Jin Woo tidak menjawab, matanya melirik ke kanan dan kiri dengan tajam. Hidungnya semakin cepat mengendus, Mata Jin Woo melotot dengan kosong.


"Bertambah lagi."


Hanya itu yang dapat Jin Woo katakan. Ia menatap dengan tajam atap rusun yang sekarang tengah dipijaknya. Jin Woo merasakan aura negatif dari tempat ini.


"Ah..." Shi Xia menghela nafas. Gadis itu seketika menyeringai lebar, tanpa sadar dia menjilat bibir sendiri.


"Tambah banyak ya? Berarti harus cepat-cepat dimusnahkan, dong?'"


.


.


.


Pagi hari yang mendung itu masih berlanjut. Tepat pukul 08.40, Avania sampai di sekolah. Kelas akan dimulai beberapa menit lagi, jadi dia harus bersiap. Namun sepertinya Avania terlihat berbeda hari ini.


Bus berhenti tepat di depan halte. Avania turun dari kendaraan itu dengan pandangan kosong. Bahkan ia tetap diam di halte sampai kendaraan itu kembali melaju meninggalkannya.


Pandangan Avania kosong, kantung matanya memerah seperti habis menangis. Terlebih lagi bibirnya yang pucat dan rambutnya yang sedikit acak-acakkan. Terlihat dari kondisinya, sepertinya Avania baru saja mengalami masalah besar.


Saat masuk ke kelasnya pun, Avania masih berpenampilan sama. Teman-teman sekelasnya mulai heran dan saling berbisik, bertanya-tanya mengapa Avania terlihat begitu berbeda hari ini. Anak yang terkenal paling pintar di kelas dengan penampilan rapih dan wangi sehingga auranya terlihat berwibawa itu terlihat berubah. Orang-orang memandangnya dengan bingung, mengira bahwa Avania mungkin akan menjadi sosok lain di kelas hari ini.


Sementara itu Avania tidak mempedulikan segala ocehan dari teman-temannya, bahkan dia mendengar dengan jelas bahwa ada beberapa orang yang menghinanya. Tapi Avania tidak menghiraukan itu seakan itu semua hanyalah angin lewat. Gadis itu berjalan ke tempat duduknya dengan pandangan kosong.


Di sana sudah ada Narah, gadis yang terkenal dengan keceriaan dan rambutnya yang selalu dikuncir kuda itu seketika terkejut melihat penampilan Avania.


"Astaga, Ava! Apa yang terjadi denganmu?" Narah menghampiri Avania, khawatir dengan penampilannya yang berantakan. Ia tahu betul bahwa Avania itu pecinta kerapihan dan tidak menyukai sesuatu yang berantakan.


Avania hanya tersenyum tipis ketika Narah mengusap rambutnya yang terlihat acak-acakkan.


"Kamu tidak menyisir rambutmu? Kenapa penampilamu berubah? Ava, kamu sakit?" Narah bertanya dengan khawatir, mengusap punggung tangan Avania demi membuat sahabatnya itu merasa sedikit nyaman karena Avania lebih terlihat seperti orang tegang.


Avania yang menyadari itu terpaksa tersenyum. "Aku baik-baik saja, Narah."


Narah tentunya tidak percaya. "Kamu sakit, kan? Sepertinya kamu baru saja mengalami mimpi buruk. Tubuhmu panas, kepalamu pasti pusing, aku ambilkan sesuatu di tas."


Narah pergi tanpa diperintah, membuat Avania kewalahan karena ia merasa begitu merepotkan Narah. Tentunya dia tidak bisa berbohong karena kepalanya begitu terasa sakit, tapi dia bisa mengobatinya sendiri.


"Narah, jangan-"


"Ah, untung aku membawa minyak angin, kamu bisa memakainya," Avania membuka tasnya, mengeluarkan sebotol kecil minyak angin dari dalam tas.


"Ava?" Seketika volume suara Narah berubah. Gadis itu terkejut melihat perubahan raut wajah Avania.


Tubuh Avania bergetar hebat, matanya melotot sempurna dan mengarah tepat pada tas Narah yang terbuka. Nafasnya kembali tersengal, kepalanya pusing.


"Ava, apa yang terjadi-"


Ucapan Narah terpotong dengan suara petir menyambar dari seberang jendela kelas, disusul dengan angin kencang yang menerbangkan ranting pohon.


Avania mengeluarkan isi perutnya saat itu juga. Rasa mual yang mengaduk lambungnya saat itu akhirnya keluar tanpa diperintah.


Avania jatuh terduduk, merasa lemas dengan air mata yang membanjiri pipinya. Hari itu seluruh mata kelas tertuju padanya. Ada yang kebingungan, ada yang memanggil guru, ada yang bergosip tanpa menolongnya. Avania tidak mempedulikan semua itu.


Narah panik, dengan cepat dia menghampiri Avania dan memeluknya.


"Ava! Apa yang terjadi denganmu?! Ada apa?!"


Avania tidak menjawab. Tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan Narah. Dengan susah payah Avania berbisik tepat di telinga Narah, membuat sahabatnya itu terdiam seribu bahasa.


"Narah... apa yang..." Nafas Avania terputus-putus, dia berusaha untuk menahan mual sambil terus melanjutkan perkataannya.


"Apa yang kau bawa di dalam tasmu? Baunya... busuk..."


.


.


.


-Bersambung