Shadow of Death

Shadow of Death
Chapter 3



.


.


.


"Oh, Ava ya?"


Avania menelan ludah susah payah, gadis itu hanya bisa tersenyum paksa dan bergegas pergi dari sana.


"Maaf mengganggu anda, pak."


Nadanya mungkin terdengar tenang, tapi jauh di dalam lubuk hati dan pikirannya, Avania tidak bisa tenang sama sekali. Berjalan saja kakinya gemetaran, berlari rasanya tak mampu. Avania hanya bisa mengendap dengan langkah cepat dan pergi dari sana selagi pria tua itu terus memperhatikannya dengan kepala yang masih dibenturkan.


Avania tidak mau berpikir apa pun lagi. Gadis itu cepat-cepat menaiki tangga untuk sampai di lantai tiga dan bersembunyi di kamarnya. Apa yang dilihatnya barusan? Tetangganya yang tengah membenturkan kepala sampai berdarah? Avania tidak mau percaya dan berharap segala sesuatu yang dilihatnya salah.


Bisa saja pria tua itu mengalami penyakit tertentu seperti Demensia. Tapi gejala dari orang yang menderita Demensia bukan itu! Itu lebih seperti orang yang terkena gangguan jiwa. Setahu Avania tetangganya itu baik-baik saja dan masih segar bugar. Bahkan beliau pernah lari pagi beberapa hari lalu saat dia berangkat sekolah.


Ah! Sudahlah, jangan dipikirkan!


"Pikirkan dirimu dulu, Ava. lebih baik selamatkan diri," Avania bermonolog sendiri, tangannya gemetaran mengambil kunci di dalam tasnya untuk membuka pintu kamar.


Tepat setelah pintu kamar terbuka, gadis itu segera masuk dan langsung menutup pintu tak lupa menguncinya dari dalam.


Tepat sampai di dalam, Avania jatuh terduduk. Nafas gadis itu naik-turun tidak teratur seakan baru saja menaiki wahana ekstreem. Avania bahkan tidak percaya dan tidak mau percaya dengan apa yang dilihatnya dan berharap itu cuma imajinasi belaka. Pemandangan itu sungguh membuatnya ketakutan, trauma. Avania paling membenci darah. Mengingat darah dari kepala pria tua yang berceceran di tembok saja sudah membuatnya merinding setengah mati.


"Ah, sial!" Avania merutuk. Gadis itu melepas sepatu, meletakkannya di atas rak dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Satu hal yang dia pikirkan, sepertinya Narah harus cepat-cepat datang ke sini untuk menemaninya atau bahkan menginap untuk satu malam di sini. Avania tidak sanggup tidur sendirian jika mengingat-ingat apa yang dilihatnya tadi.


Baru saja ingin membuka pintu kamar mandi, ada yang mengetuk pintu kamarnya sore itu, membuat atensi Avania teralihkan. Gadis itu segera pergi ke arah pintu dan tak lupa mengeceknya. Dan tentu saja dia terkejut karena yang berdiri di depan pintu sana adalah tetangga yang longkap satu lantai dengannya, tepatnya di lantai 4, seorang ibu muda yang beberapa minggu ini melahirkan anak pertamanya.


Avania membuka pintu, tersenyum.


Wanita muda yang menunggu di balik pintu membalas senyumnya dengan manis. "Selamat sore, kamu Ava, kan?"


Avania mengangguk. "Dengan saya sendiri."


"Oh, ini..." Wanita muda itu mengeluarkan sesuatu dari saku dasternya. Dan ternyata benda itu adalah earphone merah muda milik Avania.


Avania sedikit terkejut. "Dari mana anda mendapatkannya?"


"Ah, saya menemukannya di kursi bus. Saya lihat kamu tertidur dan melupakan benda ini. Makanya, saya bawakan," Jawabnya disertai dengan senyuman manis.


Avania baru menyadari sesuatu. Itu adalah earphone kesayangannya yang biasa dia gunakan ketika belajar. Sayang jika tertinggal begitu saja di bus dan hilang, dia benar-benar melupakannya. Untung saja tetangganya ini sangat baik.


Avania mengambil earphone itu dengan senyuman di wajahnya. "Terima kasih, saya benar-benar lupa karena mengantuk tadi."


Wanita muda itu hanya terkekeh, mengendikkan pundak seakan tidak masalah. "Disimpan baik-baik ya."


"Nyonya Williams sedang pergi, ya?" Tanya wanita muda itu dengan kepala menanggak, berusaha melihat ke dalam ruangan demi mencari sesuatu. Avania baru ingat bahwa tetangganya ini sangat mengenal ibunya, mereka terbilang lumayan akrab.


"Iya, mama akan pulang bulan depan," Jawab Avania seadanya.


Wanita muda itu mengangguk. "Baiklah, kalau begitu. Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik, Ava."


Avania melemparkan senyum, bersiap menutup pintu ketika wanita muda itu pergi menyusuri lorong untuk sampai di lantai empat. Tapi, ada sesuatu yang tertangkap di netra Avania sehingga membuat gadis itu lagi-lagi terdiam kaku.


Wanita muda itu berjalan tidak jauh darinya menuju tangga lantai empat, tapi ada yang tidak biasa dari pergerakannya. Pinggangnya meliuk-liuk ke kanan-kiri seperti ular, sangat lentur seperti karet. Bahkan kepalanya hampir menyentuh betisnya sendiri.


Bola mata Avania melotot sempurna seakan tidak mau berkedip. Lemas sudah seluruh ototnya hanya untuk sekedar menompang tubuh sendiri.


Avania masuk kembali ke dalam, mengunci pintu. Gadis itu meringsut di balik pintu, menutup mulut sendiri dengan nafas terengah. Apa-apaan yang tadi itu? Kenapa orang-orang di rusun ini mendadak menjadi aneh?


Avania jadi merinding. Terlebih suara seperti bola jatuh bersahutan dari lantai atas, disusul dengan suara bayi menangis dan kemudian sunyi.


"Sialan! Apa yang terjadi sih!" Avania bingung sendiri, gelisah. Gadis itu menggigit ujung kukunya, pergi ke meja makan di mana dia meletakkan ponselnya di sana.


Tanpa basa-basi, Avania langsung menekan kontak orang yang tentu datang hari ini. Ya, Narah. Dia ingin sahabatnya itu segera datang untuk menemani.


.


.


.


Di lain tempat, suara musik pop barat terdengar menggema di dalam ruangan yang terpasang dari radio seorang gadis.


Narah masih asyik mengenakan masker jawahnya, bersenandung mengikuti irama musik favoritnya. Sore yang hangat ditemani dengan musik dan makanan yang dibawakan ibunya tadi membuatnya tambah menikmati hari. Hah, dunia memang menyenangkan.


Baru saja hendak mengambil body scrub yang tergeletak di atas meja rias merah mudanya, suara dering ponsel tiba-tiba saja berbunyi seakan mengalahkan suara musik yang menggema di dalam kamarnya.


Narah segera mengambil ponsel itu, membaca nama pemanggil yang tertera di layar ponsel. Oh, ternyata Avania sahabatnya.


Tanpa berlama-lama, Narah langsung menjawab panggilan itu dan menyapa duluan seperti biasa.


"Halo, Ava."


Terdengar nafas Avania yang memburu di seberang telepon. "Narah, kamu bisa ke sini sekarang?"


Narah mengerutkan kening. Gadis itu menatap layar ponsel dengan wajah kebingungan. Lekas saja tangannya mengecilkan radio musik dan berusaha fokus untuk mendengarkan Avania.


"Huh? Sekarang?" Narah menoleh ke arah lain tepatnya ke arah jam dinding yang tertempel di dekat pintu kamar.


"Tapi ini masih jam 6."


"Tolong, Narah. Sekarang saja ya, aku benar-benar takut ditinggal sendirian saat ini," Avania terdengar memelas, membujuk sampai rasanya hampir menangis.


Narah gelagapan. "Ah! A-Ava, jangan menangis, oke? Aku akan ke sana secepatnya. Mau titip makanan?'"


"Tidak, kita bisa membelinya bersama."


"Oke, 10 menit lagi, ya! Aku datang!'"


Telepon terputus begitu saja. Narah mendengus, padahal masker wajahnya baru saja dipakai, tapi mau bagaimana lagi? Gadis itu segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah Avania. Lagi pula dia juga khawatir Avania mengalami masalah.


.


.


.


Narah masuk ke dalam rumah Avania, membuka sepatunya dan hidungnya dapat mencium aroma makanan lezat yang menguar dari arah dapur. Tentunya Narah merasa tergiur karena sebelum ke sini dia belum memakan apa pun.


"Masuklah, aku memasak sesuatu yang spesial untukmu."


Narah tersenyum kegirangan. Gadis itu tentu tahu potensi Avania dalam memasak, bahkan sering sekali memuji hasil masakan Avania yang lezat itu. Apa pun yang dimasak Avania pasti enak, pada dasarnya Avania memang memiliki keahlian dalam memasak.


"Kenapa menyuruhku datang tiba-tiba? Ada yang salah di rumahmu?"


Mendengar pertanyaan Narah, Avania berhenti mengaduk sup di dalam panci. Pandangan matanya seketika berubah menjadi kosong. Sungguh, dia tidak ingin mengingat apa pun tentang kejadian-kejadian aneh hari ini, tidak akan mau. Tapi, jika disimpan sendiri, maka itu akan menjadi beban untuknya. Rasanya seharian ini Avania seperti hidup di dalam mimpi.


"Ada banyak kejadian aneh yang terjadi, entah itu hanya imajinasiku atau apa," Avania mematikan kompor, membawa dua mangkuk sup di tangannya.


"Aku harap kejadian ini cuma imajinasi, ya hanya imajinasi," Lirihnya hampir tak terdengar.


Seketika Avania menyadari sesuatu. Tunggu, hanya imajinasi? Kalau benar begitu, berarti saat ini Avania mulai gila?


Tawa kecil keluar dari mulut Avania, tawa yang terdengar kaku seakan sedang menenangkan diri sendiri.


Di hadapannya Narah memiringkan kepala dengan bingung. Sebenarnya ada apa dengan Avania? Gadis yang terkenal paling pintar di kelasnya itu tampak sangat berbeda hari ini.


Avania mempersilahkan Narah untuk makan terlebih dahulu sementara dia menyiapkan minuman. Dan benar saja, Avania membawa dua botol minuman Kokkini yang tentunya disukai Narah.


"Nih, untukmu."


Narah tersenyum lebar, mengambil botol minuman itu. "Terima kasih."


Avania hanya membalasnya dengan senyum tipis. Gadis itu duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Narah dan membuka minumannya. Sirup merah cair terlihat jelas mengambang di dalam botol, dengan aroma menyengat yang sangat mirip dengan bau obat.


Avania sebenarnya agak ragu untuk meminumnya, tapi melihat Narah yang minum sekali tegukan dengan nikmat membuatnya penasaran, seperti apa rasanya?


Tanpa aba-aba, Avania yang terkenal akan kebenciannya dengan obat mulai meneguk minuman itu. Aroma menyengat dari minuman bernama Kokkini itu menguar di dalam mulutnya, menusuk hidung. Ini seperti memakan wasabi secara langsung. Avania paling membenci itu. Akhirnya gadis itu menyerah dan hanya meminum setengah botol.


Lebih baik minum air putih atau susu.


Tapi kenapa Narah bisa menyukainya? Mungkin karena selera orang berbeda-beda.


Mereka makan dengan tenang, sesekali mengobrol seputar hal-hal yang terjadi selama sekolah hari ini.


"Bagaimana alergimu? Sudah mendingan?" Tanya Avania di tengah obrolan mereka.


"Sudah, aku minum obat tadi," Narah menunjukan ruam di tangannya yang mulai memudar. Avania mengangguk, bagus jika sahabatnya itu minum obat tepat waktu. Sudah tahu alergi salmon malah makan makanan yang tidak dianjurkan.


"Hari ini mau ke mana? Cafe? Toko kue? Mau beli minuman juga?" Seperti biasa, Narah selalu bertanya beruntun membuat Avania susah menjawab.


"Cafe saja untuk hari ini," Avania menjawab seadanya.


"Oh! Oke, menurutku itu ide yang bagus. Nanti ajari aku rumus fisika juga, ya? Hehe."


"Ya, sesuai permintaanmu."


.


.


.


Hari mulai malam, matahari berselimut di arah barat. Langit gelap bertabur bintang menjadi pemandangan yang indah untuk mereka berdua. Avania maupun Narah bergegas pergi ke Cafe seperti janji mereka tadi, sekalian mengerjakan tugas yang diberikan guru. Avania membawa buku paket yang berisi banyak rumus fisika, tentunya dia akan mengajari Narah seperti yang dijanjikan tadi.


Mereka hanya perlu berjalan kaki karena letak cafe tidak terlalu jauh dari rusun, hanya melewati halte bus dan supermarket tepat di seberang rusun berdiri sebuah cafe kecil yang tidak banyak dikunjungi orang.


Bahkan saat Avania dan Narah masuk ke dalam, hanya ada beberapa anak muda yang mengunjungi cafe. Yah, harap dimaklumi. Di sudut kota seperti ini jarang ada anak muda dan kebanyakan dihuni oleh lansia, berbeda dengan ibu kota yang bahkan ramai dikunjungi orang.


"Americano seperti biasa?" Narah bertanya, menoleh dengan senyuman manisnya.


Avania hanya terkekeh. "Kau tahu seleraku, ya."


"Seleramu tidak pernah berubah sejak dulu, Ava," Narah tertawa dan mulai memesan.


Mereka berencana untuk minum di sini saja sekalian mengerjakan tugas, mengingat bahwa di dalam rusun itu termasuk pengap dan gerah. Avania hanya ingin mencari udara segar di luar rumah, duduk di cafe berdua dengan Narah seperti ini contohnya.


Dua gelas Americano dingin dan Vanilla Perfait favorite Narah melengkapi meja bundar kecil mereka.


Sesekali menyeruput kopinya, Avania mengajarkan beberapa rumus yang tidak dapat Narah pahami di sekolah dengan penjelasan lebih mudah. Narah memang masih tidak paham, tapi lama kelamaan gadis itu bisa paham dan mengerjakan dengan perlahan di buku latihannya. Avania melihat tugas yang dikerjakan Narah, ada beberapa yang salah tapi sisanya benar. Narah termasuk cepat dalam memahami pelajaran.


"Andaikan guru fisikanya kamu, pasti aku sudah jadi anak pintar," Narah cemberut, di saat bersamaan dia malah tersenyum konyol dan mengedipkan sebelah mata.


Avania menghela nafas malas. "Ya, sayangnya aku masih terlalu muda untuk menjadi guru."


"Kan kubilang 'seandainya' kau menjadi guru!" Narah kesal, bibirnya manyun ke depan.


Avania menaikkan alis, mengambil segelas Americano miliknya. "Maaf, aku tidak dengar kata-kata awal tadi."


Pelajaran fisika yang diberikan Avania berakhir begitu singkat tergantikan dengan Narah yang sekarang semangat membicarakan gosip-gosip terkini yang didapatkannya di sekolah.


Avania hanya mengangguk sambil mendengarkan, tidak berkomentar banyak karena dia tidak mau ikut campur urusan gosip. Masalahnya akan panjang nanti. Toh, dia juga tidak terlalu mempedulikan gosip-gosip aneh itu. Hanya bahan obrolan sementara yang akan terganti setiap harinya.


Sedang asik-asiknya bercerita, tiba-tiba saja ada yang menyenggol kursi Avania dari belakang. Narah saja bahkan sampai menghentikan ceritanya dan beralih pada seorang kakek tua gemuk yang berjalan sempoyongan sampai harus menabrak kursi sahabatnya.


Avania menoleh, mendapati wajah seorang pria tua bertubuh gemuk yang baru saja menyenggol.


"Ah, maaf," Hanya itu yang diucapkan pria tua.


Avania hanya tersenyum, tidak mempermasalahkan apa yang terjadi. Mungkin saja kakek tua itu memiliki masalah pengelihatan di usianya yang mulai senja, itu adalah gejala yang wajar untuk para lansia.


Namun, Avania malah dikejutkan dengan tatapan ganas dari kakek tua itu. Mata semerah darah dengan taring runcing yang mencuat dari bibirnya seketika membuat Avania tidak bisa bergerak dari tempatnya.


.


.


.


-Bersambung