Shadow of Death

Shadow of Death
Chapter 01



.


.


.


..."Ava, mulai hari ini kamu sendirian di rumah, ya. Mama ada tugas pekerjaan ke London selama satu bulan, terpaksa harus meninggalkanmu sendirian. Mama hanya ingin kamu jaga kesehatan dan makan secara teratur, jangan terlalu banyak begadang juga. Beberapa hari lalu mama belanja banyak, di lemari es banyak stock cemilan untukmu. Jika kamu merasa bosan, ajak saja Narah berjalan-jalan, mama akan kirim uang lebih. Semangat ya, sayang. Jaga kesehatanmu selalu." - Mama....


Avania, gadis dengan rambut ikal panjang itu hanya bisa terdiam sambil membaca setiap deretan huruf yang ditulis oleh sang ibu di dalam kotak pesan SMS.


Pipinya yang bulat menggembung, alisnya mengkerut. Dengan hembusan nafas kesal dia membuang wajah dan segera memasukan ponselnya kembali ke dalam tas.


"Sendirian lagi."


Manik coklat almondnya menelusuri sekitar. Ekspresi datar tak bisa lagi Avania sembunyikan ketika melihat barisan kursi bus yang tidak banyak diisi oleh orang. Kebanyakan dari mereka adalah lansia yang sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya ada suara musik barat jadul yang berasal dari ponsel seorang anak muda. Ditambah dengan para lansia yang duduk terdiam, kebanyakan dari mereka tengah tertidur atau membaca koran.


Pemandangan seperti ini seperti menjadi salah satu rutinitas kesehariannya. Setiap pulang sekolah, Avania menaiki bus yang sama tanpa ada teman pulang. Duduk sendirian tanpa ada yang menemani, terkadang ada seorang nenek tua bertongkat yang duduk tepat di sebelahnya. Tapi, itu cukup jarang terjadi.


Avania terlihat sulit didekati sembarang orang. Gadis dengan rambut ikal, kulit putih, dan bertubuh agak pendek itu terkenal sebagai murid paling pendiam di kelasnya.


Ah! Bukan hanya itu.


Dia dikenal sebagai 'gadis paling imut'.


Avania memiliki pahatan wajah yang unik. Bibirnya seperti buah plum, pipinya bulat dengan rona kemerahan alami. Jika orang-orang melihatnya secara langsung, tentu akan langsung terpesona.


Tapi, tentu saja seorang Avania Williams, gadis yang terkenal jutek dan cuek seperti itu mana mau mengurusi kehidupan orang-orang yang mengaguminya?


Kegiatannya hanya belajar, membaca buku, dan bermain ponsel selama di dalam kelas. Makan siang pun hanya ditemani satu orang.


Padahal Avania tidak banyak membaur. Tapi entah mengapa dia bisa mendapat julukan 'gadis paling imut' di kelas. Julukan yang aneh untuk di dengar dan hanya membuatnya iri karena teman-teman perempuan di kelasnya bertubuh tinggi.


Peringatan bus terdengar menggema, menandakan mereka hampir sampai ke halte terakhir di mana Avania harus turun.


Bus berhenti perlahan telat di sebelah halte. Orang-orang yang merasa ini adalah jalur pemberhentian mereka mulai berkemas dan bangun dari kursi. Para lansia mengambil tongkat mereka, berjalan tertatih keluar Bus.


Avania berada di barisan paling belakang, membiarkan para orang tua turun lebih dulu. Sesuai dugaannya, Bus hanya bersisa beberapa orang saja, sisanya turun di halte ini. Tidak heran juga, karena Avania mengenal para lansia yang turun dari bus ini. Mereka adalah tetangga rusunnya.


Bus kembali berjalan ketika Avania turun. Gadis itu menghela nafas panjang, dilihatnya langit jingga yang membentang luas di atas sana. Hari ini, pukul 5 sore akan menjadi hari yang melelahkan. Mengingat bahwa tadi pagi ibunya pergi berangkat ke luar kota untuk urusan pekerjaan dan dirinya ditinggal sendirian di rumah yang sepi.


"Pasti baju kotor menumpuk lagi," Avania menghela nafas pasrah, membenarkan tali tas yang sedikit menggeser di pundaknya.


Pandangannya teralihkan pada sebuah gedung berukuran tidak terlalu besar yang berdiri tepat di seberang halte bus. Gedung itu memiliki 7 lantai, dengan jendela besar yang kebanyakan dari mereka tertutup.


Avania mengenal tempat itu sebagai tempat tinggalnya sekarang. Sudah dua minggu lebih dia pindah ke rumah susun ini dan semuanya berjalan dengan normal. Ibunya kembali bekerja, meninggalkannya sendirian di rumah seperti biasanya.


Semenjak ayahnya meninggal, Avania tinggal berdua dengan sang ibu. Sebagai anak tunggal, ia harus belajar dengan rajin agar kelak dirinya tidak menyusahkan sang ibu di kemudian hari.


Avania melangkahkan kakinya memasuki gerbang rumah susun. Suasana sore yang sepi dengan tiupan lembut angin menjadi pemandangan lumrah. Kawasan ini memang terkenal sepi dan tenang, tidak banyak orang berjualan dan beraktivitas seperti di pusat kota. Hanya ada satu minimarket dan dua buah cafe yang terlihat di seberang jalan.


Baru saja hendak memasuki gerbang, Avania dikejutkan dengan seorang kakek tua renta yang berdiri tepat di depan gerbang hitam rusun.


Avania bisa menebak dengan jelas bahwa rambut putih kakek tua itu hampir tidak bersisa di kepalanya, bahkan itu terlihat jelas walaupun ia mengunakan topi hitam. Tubuhnya yang pendek dan bungkuk berbalut sweater hijau tebal. Wajahnya terus tersenyum ramah, semakin memperlihatkan kerutan di beberapa bagian wajahnya, bahkan matanya terlihat terpejam saat ia tersenyum.


"Anak manis, mau ke mana? Mau mencoba minuman yang kubawa ini?" Sapanya dengan suara serak lembut.


Avania menghentikan langkahnya, sekarang ia baru menyadari bahwa kakek tua misterius itu membawa satu box minuman kemasan di tangannya. Ia membawanya seakan begitu ringan. Avania sedikit bingung, selama tinggal di sini dia belum pernah melihat kakek ini sekali pun. Apakah dia tinggal di rusun ini juga? Bisa jadi karena Avania memang jarang keluar rumah.


Avania tersenyum dan menggeleng. "Terima kasih, pak."


Kakek tua itu terlihat tidak mempermasalahkan apa yang Avania ucapkan. Gadis itu baru saja menolak barang jualannya, tapi tentu itu adalah tindakan yang wajar. Pembeli tidak harus dipaksa, bukan.


Avania melangkah masuk ke dalam rusun tanpa mempedulikan bahwa ada sepasang suami istri yang tengah membeli minuman kakek tua itu.


Lorong yang pengap dan gelap dengan deretan pintu kamar di lantai satu merupakan pemandangan yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Avania telah beradaptasi dengan lingkungan ini dengan baik dalam waktu 2 minggu. Tentunya sebagai seorang perantau dari kota lain membuat Avania sedikit kesulitan dalam mengenal lingkungan sekolah dan tempat tinggalnya, dan syukurlah itu tidak bertahan lama.


Setelah menaiki tangga dan berhenti tepat di tengah lorong lantai tiga, akhirnya Avania telah menemukan kamar rusunnya. Suara pintu terbuka terdengar jelas menggema di dalam lorong yang kosong melompong, ditambah dengan suasana sepi karena semua pintu di sini tertutup seakan tidak berpenghuni. Yah, kebanyakan dari mereka yang tinggal di sini itu adalah orang sibuk.


Tanpa basa-basi, Avania masuk ke dalam kamar rusun yang ia kenal sebagai tempat tinggalnya sekarang. Di dalam rusun hanya memiliki dua ruangan dan satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu berada di ruangan yang sama.


Avania menghela nafas berat tatkala melihat sesuatu menumpuk di depan kamar mandi. Ya, itu adalah pakaian kotor. Sepertinya hari ini akan menjadi hari paling melelahkan. Anggap saja bayaran dari semua ini adalah makan cemilan yang ada di kulkas.


Avania bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tanpa dirinya sadari ponsel yang tadinya berada di atas meja berdering seketika.


.


.


.


Hari berganti malam. Avania selesai dengan pekerjaannya. Gadis itu menghembuskan nafas puas setelah melihat pakaian yang dijemur rapih. Lelah sekali mencuci sendirian saat sore hari.


Langit sudah gelap, bulan mulai mengintip dari balik awan tipis. Ini adalah waktu yang tepat untuk belajar dan menonton film. Avania menutup jendela balkon, dan segera menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


'Triiiiing...!'


Avania lekas menoleh, didapatinya ponsel yang tergeletak di atas meja tengah berdering. Tanpa basa-basi ia langsung melihat siapa nama yang meneleponnya malam-malam begini, dan tentu saja itu....


'Narah'


Hanya satu nama itu yang tertulis di layar telepon.


Avania menghela nafas berat, mengangkat telepon itu dan mulai menyapa sahabatnya, Narah.


"Halo, Ava! Besok jadi belajar kelompok bersama, kan?" Terdengar suara Narah yang menyambur dari seberang telepon.


Avania terkekeh. "Besok, selesai pulang sekolah. Sesuai janji kemarin aku akan mengajarkanmu rumus-rumus yang tidak dipahami."


Terdengar suara Narah yang kegirangan. "Ah! benarkah?! Wah, aku sangat beruntung bisa berteman dengan si rangking pertama di kelas! Terima kasih atas bantuanmu, Ava!~"


Avania hanya tersenyum kecil. Sikap Narah memang tidak pernah berubah. Mereka sudah berteman cukup lama sejak kelas 1 SMP sampai sekarang, tepatnya kelas 1 SMA.


Avania merupakan seorang gadis lugu dan pendiam, sedangkan Narah merupakan seorang gadis yang cerewet dan mudah bergaul. Keduanya saling melengkapi, bagaikan seorang saudara. Bahkan Narah sering menginap di rumahnya dan dekat dengan ibunya. Terakhir kali gadis itu membantunya pindah rumah. Narah memang seseorang yang ceria dan polos, Avania sangat bersyukur bisa berteman dengannya.


"Kamu sedang apa? Belajar lagi? Sudah makan malam? Mau kubawakan makanan? Ah! ibumu ke luar kota lagi, ya?" Seperti biasa, Narah melemparkan seribu pertanyaan yang bahkan tidak dapat Avania jawab satu persatu.


Avania berdeham, merasa bingung harus menjawab dari mana. Tapi, gadis itu tentu tahu betul sikap Narah dan sudah terbiasa dengannya.


"Ya, mama ke London untuk sebulan kedepan. Aku sendirian di rumah. Sekarang waktunya makan malam, jadi aku memasak sesuatu yang spesial."


Terdengar Narah yang terkejut di seberang telepon. "Sesuatu yang spesial? Apa itu?"


Avania yang senang sekali meledek sahabatnya itu tertawa. "Hanya mie dengan kecap manis, keju, dan-"


Tok, tok, tok!


Avania lantas menoleh karena terkejut. Tentu itu adalah suara ketukan pintu yang terdengar sangat jelas. Karena hal itu pembicaraannya dengan Narah jadi terpotong.


"Ava, ada apa?" Narah bertanya dari seberang telepon, terdengar khawatir.


Avania terdiam, menutup mulutnya rapat-rapat. Selama beberapa detik suara pintu itu tidak lagi diketuk, tapi muncul lagi setelahnya. Padahal sudah malam, siapa yang mengetuk pintu kamarnya? Avania tidak mengerti karena sepengetahuannya, orang-orang yang tinggal di rusun ini kebanyakan adalah orang sibuk dan lansia. Bahkan dia tidak mengenal tetangganya sendiri.


"Ah, maafkan aku, sepertinya ada tamu di luar," Avania mencoba untuk tenang, tetap mempertahankan telepon di telinganya agar bisa mendengar suara Narah dengan jelas.


"Tamu? Ini sudah masuk waktu malam hari," Bahkan Narah terdengar kebingungan.


"Ava, hati-hati..."


Avania terkekeh, Narah terlalu penakut.


"Tidak apa-apa, aku akan mengeceknya dulu."


Avania berjalan ke arah pintu dengan perlahan, bahkan derap langkahnya hampir tidak terdengar sama sekali. Padahal pintu itu tertutup, padahal jaraknya dengan luar pintu terhalang dinding. Tapi kenapa dia merasa takut seakan-akan ada sesuatu yang berdiri di balik pintu?


"Narah, jangan tutup teleponnya, oke."


"Oke."


Avania mengangguk, merasa aman sekarang jika ia membutuhkan pertolongan. Perlahan dirinya semakin dekat dengan pintu. Pintu di rusun ini memiliki kaca kecil akses pengelihatan ke luar pintu, dan Avania bisa tahu siapa yang tadi mengetuk pintu tanpa harus membukanya.


Dan...


Kosong.


"Ava, kamu baik-baik saja, kan? Ava?"


Avania tidak merespon panggilan Narah dari seberang telepon. Tubuhnya mematung, nafasnya hampir terhenti. Ah, tidak ada orang di sana. Jadi, siapa yang mengetuk pintu? Orang jahil? Anak kecil? Setahu Avania, selama dia tinggal di sini, penduduk rusun yang paling muda adalah dirinya.


Avania menelan ludah dengan susah payah. Tangannya memegang knop pintu dengan perasaan ragu.


Buka.


Jangan.


Buka.


Jangan.


BUKA!


Avania membuka pintu dengan perlahan, mengintip dari sela-sela kecil berharap menemukan sosok normal yang berdiri di depan pintu. Tapi, tentu dia tidak menemukannya sama sekali. Lorong gelap dan sunyi tersaji di hadapannya.


Nafas Avania tercekat. Kalau saja dia bisa lari, dia ingin lari sekarang. Tapi, dia tidak memiliki alasan kuat dan merasa pengecut karena takut dengan sebuah ketukan pintu.


Sejenak Avania mengira itu hantu, tapi dia tidak lagi berfikir demikian. Matanya melorong ke bawah di mana satu box berisi minuman tergeletak di bawah sana.


Avania mengenali minuman itu. Itu adalah minuman yang dibawa kakek tua tadi untuk dijual. Kenapa ada di sini?


Akhirnya gadis itu memberanikan diri membuka pintu lebih lebar. Dilihatnya box minuman itu dengan pikiran berkalut.


Avania celingukan, menoleh ke sana-sini demi menemukan sosok kakek tua bertubuh bungkuk yang menjajakan minuman ini di depan rumah susun, tapi nihil. Dia tidak menemukannya sama sekali.


Entah mengapa dirinya penasaran dengan box minuman itu. Avania berjongkok, mendapati secarik kertas di atas box minuman yang bertuliskan....


'Untukmu, ambilah.'


Ya, hanya itu. Bahkan Avania sampai tidak berkedip. Kalimat singkat tapi membingungkan. Untuk apa dia menyimpan box ini di rumahnya? Minumannya juga terlihat seperti selera orang tua. Lebih mirip seperti botol minuman energi karena terbungkus dari kaca tebal berwarna gelap.


"Ava! Kamu tidak menjawabku!" Narah terdengar kesal dari seberang sana, membuat Avania lekas terkejut setengah mati.


"Astaga..." Avania menghela nafas lelah, tertawa pelan. Gadis itu kembali masuk ke dalam dengan membawa satu box minuman di tangannya.


"Maaf~ tadi cuma orang usil."


Percakapannya dengan Narah kembali seru seakan Avania melupakan kejadian yang baru dialaminya tadi. Tapi, gadis itu tidak menyadari bahwa box kardus berisi minuman yang ia bawa memiliki celah robek di sisi kanannya. Di sebelah celah robek itu tertulis sesuatu menggunakan tinta hitam.


'Death'


-Bersambung