Shadow of Death

Shadow of Death
Chapter 4



.


.


.


Avania terdiam kaku, gadis itu bahkan tidak sempat berkata apa pun ketika pria tua itu pergi menjauh darinya dengan mata yang perlahan berubah menjadi normal.


Apa itu? Apakah Avania salah lihat? Jelas-jelas dia melihat bahwa wajah pria tua itu sekilas menjadi menyeramkan.


Narah menatap sahabatnya itu dengan heran, menepuk punggung tangan Avania untuk menyadarkan gadis itu.


"Ava, kamu baik-baik saja?" Narah bertanya dengan hati-hati, takut jika sahabatnya ini sedang mengalami suatu masalah.


Avania sedikit terkejut kemudian menggeleng. Gadis itu berusaha untuk berfikir jernih, menganggap semua yang ia lihat tadi hanyalah halusinasi semata yang disebabkan efek kelelahan.


Narah mendengus, pikirannya beterbangan ke sana-kemari melihat tingkah laku Avania yang semakin aneh. Jelas-jelas sahabatnya ini beberapa menit yang lalu terlihat baik-baik saja, tapi tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah menjadi ketakutan seakan melihat hantu. Narah tahu jika Avania bukan orang yang penakut, tapi kalau sudah begini mungkin Avania mengalami banyak masalah.


Narah menepuk punggung tangan sahabatnya itu, tersenyum. "Kenapa? Sedang banyak masalah, ya?"


Avania tersentak lagi. Oh, tidak. Untuk sekedar merespon saja dia kewalahan. Otaknya sekarang dipenuhi dengan segala kejadian aneh yang menimpanya sejak tadi sore, membuat Avania tidak fokus dan banyak melamun.


Avania merasakan kepalanya sedikit pusing, gadis itu bangkit dari kursi tanpa menjawab pertanyaan Narah.


"Narah, sebaiknya kita pulang, badanku terasa tidak enak."


Mendengar itu tentu membuat Narah sedikit heran. Kenapa tiba-tiba Avania bisa sakit? Ah, memang ada yang aneh dengan sahabatnya ini tapi entah mengapa Avania seakan menyembunyikan semuanya.


Narah tidak mengambil pusing. "Ah, kalau begitu ayo pulang. Kamu punya obat di rumah, kan?"


Akhirnya kedua gadis itu pergi meninggalkan cafe yang mulai sepi saat memasuki waktu malam hari. Jalanan sudut kota sepi nan lengang, hanya ditemani cahaya lampu remang-remang di pinggir jalan. Pantulan lampu temaram berasal dari deretan kamar di rumah susun yang malah memberikan kesan menyeramkan.


Avania maupun Narah berusaha untuk tidak terbawa suasana sunyi ini, maka mereka memutuskan untuk mengobrol selama perjalanan pulang.


Awalnya Avania khawatir karena Narah tidak menginap di rumahnya untuk malam ini dan memilih untuk pulang ke rumah, padahal rumah Narah cukup jauh dari rusun.


Narah tidak mempermasalahkan itu dan mengatakan bahwa dia dijemput oleh ayahnya dengan mobil. Untung saja kedua orang tua Avania tahu letak rusun yang ditinggali Avania, mengingat bahwa Narah lumayan sering bermain ke sana.


Sedang sibuk berbincang, mereka dibuat diam membisu ketika sesuatu terjatuh dari atas pohon. Avania mendengar suara benda jatuh yang terdengar kecil menabrak tanah. Dengan buru-buru gadis itu melihat apa yang terjadi, dan dia mendapati seekor anak burung yang ternyata jatuh dari sarangnya.


Namun naasnya, sayap kecil anak burung terluka parah dan menyebabkan hewan itu tidak bergerak setelah menabrak tanah.


"Ava, apa dia masih hidup?" Tanya Narah sambil terus menatap anak burung yang tergeletak di telapak tangan sahabatnya.


Dada Avania berdenyut nyeri, mengetahui bahwa anak burung itu tidak lagi hidup. Mungkin saja anak burung ini benar-benar langsung mati setelah terjatuh ke tanah.


Avania menggeleng dengan lemah, menatap anak burung itu dengan pandangan lesu. Begitu juga dengan Narah, tiba-tiba saja gadis itu merasa sedih. Dia memiliki anjing kecil di rumah, dan Narah termasuk seseorang yang mencintai binatang lucu. Saat dia melihat salah satu dari mereka mati, rasanya sangat sedih.


Avania dan Narah menunda perjalanan pulang mereka dan memutuskan untuk mengurus mayat burung kecil itu.


Di bawah pohon rindang tempat burung itu jatuh, terdapat tanah berlahan kecil. Avania memutuskan untuk menggali tanah itu dan mengubur anak burung tersebut dibantu dengan Narah.


Tidak memerlukan waktu lama untuk menggali kuburan dengan batu. Melihat gundukan tanah kecil di hadapannya membuat Avania semakin bungkam. Entah mengapa dia merasa sedih sekarang begitu pula dengan Narah.


Narah menepuk punggung sahabatnya itu dengan senyum menenangkan. "Kita tinggalkan dia di sini, besok aku akan bawakan karangan bunga kecil untuknya. Ah! Ava, kita selalu melakukan itu ketika melihat hewan mati, kan? Bahkan saat serangga di rumahmu mati waktu itu kita langsung menguburnya dan memberi karangan bunga."


Avania hanya bisa tersenyum kecil mendengar cerita masa lalu mereka. Bahkan Narah sesekali tertawa ketika mengingat mereka pernah menangis keras saat melihat seekor belalang mati di depan jendela rumah. Narah yang memang pecinta binatang mulai membuat karangan bunga kecil dan mulai menaburkannya di makam serangga kecil tersebut.


Kalau dipikir-pikir, masa lalu mereka indah juga. Lucu di saat bersamaan.


"Ava, aku hanya bisa mengantarmu sampai sini, ya." Ujar Narah sambil bersandar di gerbang rusun.


Avania tersenyum, mengangguk. "Aku harap kamu berhati-hati di perjalanan pulang."


Narah yang mendengar itu menyengir, memperlihatkan layar ponselnya yang sekarang tengah menelepon seseorang. "Tenang saja! Ayahku akan datang 10 menit lagi!"


Avania terkekeh mendengarnya, gadis itu berpamitan masuk ke dalam rusun dan meninggalkan Narah di depan gerbang rusun. Sekarang gadis itu malah khawatir karena lorong rusun menuju kamarnya terasa lebih sunyi dan gelap.


"Kenapa hari ini begitu aneh?"


.


.


.


Cafe di sudut kota mungkin tidak buka selama 24 jam, mereka menutupnya setiap pukul 12 malam, itu pula jika pelanggan banyak yang datang. Cafe kecil ini terancam tutup karena tidak mungkin beroperasi di sudut kota yang sepi seperti ini. Anak muda jarang ada yang tinggal di sini, terlebih rusun tua yang berdiri di seberang mereka hanya ditempati para lansia yang sedikit dari mereka mampir ke cafe untuk meminum kopi.


Pukul 11 malam, satu jam sebelum cafe tutup. Hanya ada dua orang yang mengurus cafe malam ini. Salah satu meja cafe yang paling pojok ditempati empat orang anak muda yang sekarang tengah mengobrol sambil bermain kartu, setidaknya itu lebih baik daripada tidak ada pengunjung sama sekali.


Bel pintu cafe terdengar lagi, membuat dua orang yang bekerja di sana mulai bersemangat kembali menyambut pengunjung.


"Selamat malam, ada yang mau dipesan?"


Dua orang masuk ke dalam cafe. Mereka memiliki tinggi berbeda dengan gender berbeda pula. Satu seorang gadis dengan tinggi sekitar 169 cm yang berdiri tepat di sebelah lelaki jangkung yang memiliki wajah tampan rupawan.


Pakaian mereka terlihat senada, berwarna serba hitam. Lelaki jangkung yang berdiri lebih depan daripada gadis di sebelahnya mengenakan topi hitam yang sepertinya membantunya menutupi wajah.


Seorang gadis di belakangnya memiliki model rambut dikuncir setengah dengan potongan sepundak. Tubuhnya dibalut dengan kaos longgar dan celana cargo selutut serba hitam. Tak lupa sebuah tas gitar yang tersangkut di punggungnya.


Lelaki jangkung yang berdiri tepat di depan meja kasir terlihat sedang memilah menu yang tersaji pada tablet di hadapannya.


"Espreso satu, lalu.... Xia, kamu mau apa?"


"Strawberry milkshake!" Gadis di belakangnya menyahut dengan semangat.


Lelaki jangkung itu mendengus lelah. "Ah, ya. Strawberry milkshake-nya satu."


Selagi temannya sedang memesan minuman, gadis bernama Shi Xia itu menoleh ke sana-kemari seakan mencari sesuatu. Mata kucingnya melirik ke sana kemari, sampai akhirnya netranya menangkap figur seorang pria tua gemuk yang duduk tepat di pojok ruangan dengan kepala menunduk, bahkan wajahnya tidak kelihatan sama sekali. Pria tua itu seakan sedang tertidur.


Seringai tipis tercetak di bibir Shi Xia, gadis itu kembali beralih pada pria jangkung di sebelahnya dan menyenggol lengan yang jelas lebih besar darinya itu.


Senyum Shi Xia semakin melebar, matanya menatap tajam manik rekannya itu. "Instingmu tidak salah, kita menemukan orangnya."


Shi Xia tertawa. "Tapi kali ini aku percaya, Steven memang benar, kau ahlinya."


Pria jangkung itu lagi-lagi memutar bola mata malas. Diambilnya pesanan yang sudah siap di hadapannya. Kedua orang misterius itu memutuskan untuk memilih bangku yang letaknya tidak jauh dari pria tua gemuk yang ditetapkan sebagai target mereka.


Shi Xia menghela nafas panjang, membanting tubuhnya ke atas kursi. "Yang benar saja! Kenapa harus di tempat seperti ini? Lebih baik kita menjalankan misi di hutan, kan?"


Mata Shi Xia yang tadinya terpejam kembali terbuka, melirik rekannya yang hanya diam tidak menjawab.


"Hei, Jin Woo."


Jin Woo, pria berdarah Korea itu hanya menatap Shi Xia dengan dingin, setelahnya membenarkan letak topi yang miring di kepalanya. Dagunya lancip dengan rahang kekar, matanya yang sipit memiliki ujung tajam seperti rubah. Pandangan Jin Woo seakan sedang mengintimidasi.


"Jin Woo, kau mendengarku?"


"Sebaiknya tutup dulu mulutmu," Jin Woo berucap dengan dingin, menyodorkan segelas milkshake stroberi pesanan Shi Xia ke hadapan gadis itu sampai Shi Xia sendiri bertepuk tangan kegirangan.


Sementara itu, matanya tidak lepas dari pria tua gemuk yang perlahan dapat dilihat dengan jelas tingkah anehnya.


Setetes air liur jatuh dari mulut pria tua itu, seringai lebar tergambar jelas di sana membuat Jin Woo merasa menang karena tebakannya benar.


"Kau lihat itu?"


Shi Xia yang sedang asik menikmati milkshake-nya beralih pada Jin Woo. Dilihatnya wajah tampan Jin Woo yang seakan sedang memberinya petunjuk. Bola mata Jin Woo bergerak ke sudut beberapa kali, memberi kode pada Shi Xia untuk melihat ke arah di mana incaran mereka sedang duduk diam di pojok cafe.


"Heh!" Shi Xia terkekeh, gadis itu mengulum sendoknya sambil terus melirik pria tua gemuk.


"Menarik."


Jin Woo tidak bereaksi apa-apa. Wajahnya yang sedatar tembok perlahan terangkat, pandangannya menyusuri pemandangan dari jendela lebar cafe yang mengarah langsung ke seberang jalan di mana dia bisa melihat bangunan tua yang berdiri tepat di depan cafe.


Sebuah rusun kumuh.


"Di sana juga banyak," Jin Woo berucap dengan cuek, menyandarkan tubuhnya di kursi sambil terus menatap rusun di seberang jalan.


"Ada puluhan."


Shi Xia yang mengerti apa yang dimaksud Jin Woo mulai beralih pada pria itu. "Kalau begitu kenapa Steven tidak mengirimkan perintah ke sana?"


"Dia akan mengirimkannya kalau situasi semakin parah, kau tahu sendiri sifat Steven seperti apa," Jin Woo menjawab dengan acuh tak acuh kemudian menyeruput kopi Espreso panas miliknya.


Pria tua gemuk di hadapan mereka tiba-tiba semakin aneh, dia berdiri di atas meja. Kakinya yang pincang harusnya berdiri menggunakan tongkat, tapi ini tidak. Matanya merah menyala, taring keluar dari sudut bibirnya, suara geraman seperti binatang buas keluar dari mulutnya.


Melihat itu, Shi Xia tertawa pelan. Gadis itu merogoh tas gitar yang terletak di bawah kakinya dan mengeluarkan sesuatu. Ujung jarinya menyentuh gagang pedang.


"Tanganku gatal, rasanya aku ingin cepat-cepat membunuhmu."


.


.


.


Lorong lantai tiga yang biasanya lebih terang dari lorong yang lain sekarang tidak ada bedanya. Lampu temaram berkedip beberapa kali, memberikan kesan menyeramkan di dalam ruangan panjang dengan dinding tanpa cat itu.


Avania mempercepat langkah. Keringat dingin mengalir deras di keningnya. Bahkan untuk sekedar menoleh ke belakang, Avania tidak berani melakukannya.


Lampu di dalam lorong berkedip lagi, membuat detak jantung Avania semakin bertabuh bagaikan gendang. Gadis itu akhirnya menemukan kamarnya yang terletak di paling tengah lorong, membuka pintunya dan langsung masuk ke dalam tanpa aba-aba.


Pikiran Avania kalut, kepalanya tidak lagi bisa berfikir jernih. Avania tidak tahu harus berbuat apa pun lagi selain mengirim pesan kepada sang ibu kalau dia takut sendirian di rumah, dan berharap bahwa mama tidak pergi selama itu. Dia tidak ingin hidup sendirian, dia ingin pergi dari tempat aneh ini.


"Aku harap ini semua cuma mimpi," Avania bergumam, menyembunyikan wajahnya di balik lutut. Ah, kalau saja ini semua cuma mimpi, dia tidak perlu khawatir lagi dan ingin cepat-cepat bangun dari tidur.


Keadaan menyeramkan dengan orang-orang yang aneh seperti ini hampir membuatnya gila. Avania tidak bisa berlama-lama di situasi seperti ini. Atau besok dia menginap di rumah Narah saja?


Karena lelah berfikir, Avania memutuskan untuk pergi ke kamar dan tidur. Masa bodoh dengan seluruh pelajarannya besok, yang pasti dia sangat kelelahan dan ingin hari berganti pagi secepatnya. Malam begitu suram, angin dingin terus berhembus dari segala arah walau pun Avania tidak menyalakan pendingin ruangan.


Gadis itu meringkuk di atas kasur, menutupi tubuhnya dengan selimut. Avania hanya bisa tertidur selama 10 menit kemudian terbangun dan berusaha untuk tidur lagi. Namun, tidurnya selalu terpotong dan terpotong membuat kepalanya sakit.


Jam menunjukkan pukul 2 dini hari, waktu yang sedikit lagi mendekati pagi dan dia harus sekolah. Rutinitas yang melelahkan.


Avania tidak bisa tidur, pikirannya dipenuhi segala hal menyeramkan. Ingatannya berputar kembali pada saat di mana dia menemukan seorang kakek tua yang tinggal di lantai dua membenturkan kepalanya. Dan juga seorang ibu muda yang meliuk-liukkan tubuhnya seperti karet elastis. Sungguh, pemandangan seperti itu bisa saja membuat mentalnya terganggu.


Insomnianya lagi-lagi kambuh. Avania kesal dibuatnya.


Dug!


Avania hampir saja loncat dari kasur ketika mendengar suara debam aneh yang berasal dari jendela balkon. Tidak ada suara apa pun lagi di balik jendela, tapi Avania bisa melihat dengan jelas bahwa gorden coklat yang melapisi jendela terlihat bergerak samar.


Avania menegup ludah susah payah, gemetaran di pojok kasur sambil menutupi tubuh dengan selimut. Seluruh tubuhnya bagaikan batu yang tidak dapat bergerak. Avania selalu ingin lari dan melawan rasa takutnya, namun semua itu terasa sia-sia.


Matanya kembali membola ketika melihat bayangan raksasa yang menempel di jendela, bentuknya tidak terlalu jelas karena tertutup gorden. Terdengar suara menghisap dan air yang menetes, sungguh menjijikan. Walau pun tidak terlihat itu sosok apa, tapi Avania bisa menebak itu seperti laba-laba raksasa yang ukurannya bahkan melebihi orang dewasa.


Terlihat dari bayangannya yang besar dan lebar seperti laba-laba gemuk. Kakinya ada empat, merangkak di jendela balkon dan perlahan naik ke balkon lantai 5.


Nafas Avania kembali tercekat, suasana sunyi membuat udara yang masuk ke paru-parunya semakin sedikit. Gadis itu hanya bisa meringkuk, menangis demi menghalau rasa takut.


Namun, rasa takutnya dibuat makin menjadi-jadi ketika dia mendengar berbagai barang berat jatuh di lantai atasnya, disusul dengan suara bayi menangis yang terdengar sangat nyaring.


Avania menjerit tertahan, menutup kedua telinganya dan membenamkan wajahnya di antara lipatan kakinya. Sialan! Dia tidak tahan! Dia mau pergi dari sini dan berharap ini semua cuma mimpi!


Saat dirinya tengah dilanda kebingungan, terdengar suara langkah kaki dari arah balkon. Avania dapat melihatnya secara langsung, ada bayangan seseorang dari balik gorden. Sosok manusia normal yang membawa sesuatu di tangannya.


Otak Avania berhenti berpikir saat itu juga. Melihat bagaimana panjang dan tajamnya benda yang sosok itu bawa di tangannya.


"Apa aku akan mati malam ini?"


.


.


.