Shadow of Death

Shadow of Death
Chapter 2



.


.


.


Kaki kecilnya melangkah dengan cepat. Avania tersenyum senang, mengintip dari balik tembok di mana dia bisa melihat sosok sang ibu yang sekarang tengah memasak makan malam.


Tawa kecil keluar dari mulutnya, Avania mencoba untuk mencuri kesempatan mendekati ibunya dan mengejutkannya dari belakang.


Avania kecil yang masih berusia 5 tahun itu mencoba untuk menjahili sang ibu yang tengah memasak.


Setelah jaraknya cukup dekat, Avania menjerit kegirangan, melompat dan memeluk kaki jenjang ibunya dengan erat.


"Mama!" Jeritnya sambil tertawa, mencoba untuk membuat sang ibu kaget.


Tidak ada reaksi apa pun, hening. Avania bingung, dengan rasa penasaran kepalanya mendongak mencoba untuk mendapatkan reaksi ibunya.


Tapi, bukan itu yang Avania harapkan. Gadis itu berdiri kaku tidak bergerak ketika melihat dengan jelas kepala ibunya berputar dengan perlahan ke belakang. Tubuhnya tetap membelakangi Avania, hanya kepalanya yang berputar dan menatapnya dengan pandangan dingin.


Saat itulah Avania baru menyadari bahwa orang itu bukanlah sosok 'mama' yang Avania kenal selama ini.


.


.


.


Suara gemercik air menggema di dalam kamar mandi. Sunyi melahap pagi, embun dingin menyelimuti jendela. Pukul 6 pagi adalah waktu yang tepat untuk memulai aktivitas.


Avania masih berdiri diam di depan cermin, menatap wajahnya lekat-lekat tanpa ekspresi. Bahkan keran air yang menyala sejak tadi tidak dihiraukan sama sekali.


Helaan nafas panjang keluar dari mulutnya. Avania menggeleng, berusaha untuk fokus bersiap-siap ke sekolah. Jangan sampai dia telat hari ini hanya karena menatap pantulan wajahnya selama berjam-jam.


Gadis itu mulai melakukan kegiatan yang sama setiap paginya. Membasuh wajah, sikat gigi, mandi, dan sarapan. Tentu jadwalnya tidak berubah dan tetap sama. Tapi, sekarang rasanya ada yang beda.


Avania merasakan bagaimana bulir air menyerap ke dalam pori-pori wajahnya. Baguslah, setidaknya dia bisa mendinginkan pikirannya yang dari tadi acak-acakkan. Mungkin itu efek belajar semalam.


Tangannya menarik handuk kecil yang menggantung di sebelah cermin. Sambil terus menggosok wajahnya, dia berdecih.


"Mimpi sialan."


Ya, Avania mengalami mimpi buruk, tentu itu adalah hal yang biasa. Namun, kenapa hanya saat dia sendirian mimpi buruk itu bisa terjadi?


Ditambah sosok menyeramkan di dalam mimpinya menduplikat ibunya seakan mempermainkan Avania di dalam mimpinya sendiri.


Mimpi itu bunga tidur, Avania mencoba untuk tidak mengambil pusing.


Tapi, jika dipikir-pikir lagi, itu malah membuatnya semakin merinding dan ketakutan. Mimpi itu terasa jelas dan nyata. Jika saja itu terjadi di kehidupan nyatanya, Avania pasti sudah pingsan di tempat.


Tunggu, Avania jadi berpikir kalau...


Bagaimana jika orang-orang yang hidup di sekitarmu...


Sebenarnya tidak hidup di sekitarmu.


Bagaimana jika mereka itu hanya bayangan?


Sebenarnya kau hidup sendirian di dunia ini dan terus ditemani dengan bayang-bayang semu.


Avania menampar pipinya sendiri. Untuk apa berfikir seperti itu? Yang ada hanya membuang waktu. Dunia yang dia injak sekarang saja terasa nyata. Pikirannya terlalu konyol.


Dari pada terus terpaku pada pemikiran anehnya, Avania memutuskan untuk membuat sarapan sebelum berangkat sekolah. Tapi, entah mengapa pandangannya malah beralih ke box berisi minuman yang dari semalam menetap di pojok ruangan.


Ah, kalau dipikir-pikir dia jadi bingung sendiri. Untuk apa kakek itu memberinya minuman sebanyak ini tanpa dia harus membayar. Lagi pula, ini barang dagangannya, untuk apa diberikan ke orang lain.


Ini membuatnya pusing. Avania juga penasaran dengan rasa minuman itu, tapi sepertinya itu tidak cocok diminum pagi hari. Jadi, dia mungkin akan membawanya ke sekolah.


.


.


.


Seperti hari-hari biasanya, Avania menumpangi bus untuk sampai ke sekolah. Hari yang melelahkan akan segera dimulai.


Gadis itu hanya melirik jendela bus yang langsung mengarah pada jalanan sepi nan lengang karena hari masih terlalu pagi. Perlahan pandangannya beralih ke langit oranye cerah, membayangkan apa yang sedang ibunya lakukan selama di luar kota. Bus melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri pemandangan damai di pagi hari.


.


.


.


"Ava! Akhirnya kamu datang!" Narah menyambut dari depan pintu kelas. Gadis periang itu berpenampilan sama seperti hari sebelumnya. Rambutnya yang hitam panjang dikuncir kuda dengan poni bulan yang menutupi dahinya, membuat wajahnya yang bulat terlihat lebih imut.


Avania tersenyum ketika Narah menghamburkan pelukan erat terhadapnya. Sahabatnya ini memang kerap bertingkah layaknya anak kecil, Avania harus memaklumi itu.


"Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?" Narah bertanya dengan wajah berseri-seri. Dia mengingat dengan jelas bahwa mereka berbicara sampai larut malam lewat telepon, bahkan Avania yang tadinya sedang belajar malah tidak fokus dan berakhirlah gadis itu ketiduran dengan posisi masih menelepon.


Dan untungnya Narah mengerti bahwa sahabatnya itu terlalu kelelahan setelah menjalani ekstrakulikuler.


Avania tertawa kaku, sedikit tidak enak hati. "Aku tidur dengan nyaman, bagaimana denganmu? Kau tidak marah setelah aku bilang bahwa aku mengantuk, kan?"


Narah yang mendengar itu justru tertawa sambil melambaikan tangannya. "Jangan terlalu dipikirkan, aku justru senang jika kamu tidur dengan nyaman. Sepertinya insomnia mu sudah mendingan."


Avania membalas dengan senyum kecil. Narah mengajaknya masuk ke dalam kelas sambil terus mengobrol. Kondisi kelas yang kosong melompong membuat suara mereka terdengar sangat jelas menggema di dalam ruangan.


Avania meletakkan tasnya di atas kursi. Gadis itu merenggangkan otot lengannya yang terasa pegal karena membawa tas yang cukup berat, padahal jarak rumahnya terbilang jauh sampai harus naik bus pulang-pergi.


Narah tersenyum, duduk di sebelahnya. Mereka duduk bersebelahan, sama seperti waktu SMP. Narah sangat menempel dengan sahabatnya itu sampai-sampai tidak mau pisah tempat duduk. Avania yang paling bisa meladeni sifat kekanak-kanakkan sahabatnya ini hanya bisa pasrah dan tidak bisa berbuat apa pun. Toh, Narah cuma teman satu-satunya.


"Kamu sudah mengerjakan PR Fisika?" Tanya Narah sesaat setelah Avania mengeluarkan buku dari tas untuk dibaca.


Mata Avania memicing. "Aku tahu maksudmu."


Narah terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehe, maaf ya, aku lihat dulu."


Avania mendengus, dengan malas mengeluarkan buku tugas Fisikanya dan meletakkannya di depan Narah.


Gadis itu tersenyum senang seakan mendapatkan undian. Narah bertepuk tangan sekali, menyengir. "Terima kasih Ava, kamu sudah menyelamatkan hidupku."


Avania hanya terkekeh. "Dasar, lain kali kerjakan sendiri."


Narah hanya bisa tertawa kaku. Ya, inilah kebiasaan buruknya yang kadang membuat Avania geram, mencontek tugasnya apalagi kalau soal pelajaran Fisika dan Matematika. Narah sangat membenci pelajaran itu, tapi tidak dengan Avania yang benar-benar menyukainya. Mungkin saja Narah bisa mengerjakan PR itu sendiri jika saja gurunya tidak masuk saat jam pertama.


Tiba-tiba, pandangan Narah teralihkan pada sesuatu yang diletakkan Avania di atas meja.


"Kamu bawa minuman?"


Avania menoleh. "Ya, aku sedikit bingung karena minuman ini terlalu asing, aku bahkan tidak pernah meminumnya."


"Oh, iya?" Narah mengambil botol minuman berukuran mini itu, melihatnya dengan teliti.


"Ah!" Sepertinya Narah menemukan sesuatu.


"Aku punya satu box di rumah, ini kesukaan ibuku!" Ujar Narah dengan nada kegirangan.


"Aku juga menyukainya, Ava ini enak. Kamu mau mencobanya?" Narah membuka tutup botol minuman itu, menyodorkannya di hadapan Avania. Tapi, Avania langsung menghindar karena aroma minuman itu lebih mirip seperti obat demam.


"Ah, tidak. Kau saja yang minum," Avania tahu dia membenci segala jenis obat. Mau itu yang manis atau yang pahit, dia membencinya. Maka dari itu akan lebih bagus jika dia memberikan semua minuman itu untuk Narah.


Narah terkekeh, mengangguk. Dia tahu sahabatnya itu anti obat. Dengan sekali tegukan dia menghabiskan isi minuman itu. Rasanya lebih seperti ceri.


Seketika Avania menoleh dengan wajah keheranan. "Kokkini?"


"Oh, nama minumannya Kokkini. Sepertinya itu bukan merk melainkan tulisan asal yang ditulis di sini. Aku tidak peduli dengan siapa yang menulisnya, minuman ini tetap enak," Narah menunjuk sebuah tulisan di pojok botol yang seperti ditulis menggunakan bolpoin secara asal.


Avania mengendikkan baju, tidak peduli. "Aku punya satu box di rumah, mau ambil?'"


"Benarkah? Ah, Ava memang baik sekali~" Narah terharu, memeluk lengan sahabatnya itu dengan manja.


.


.


.


Bel istirahat berdering. Pelajaran ketiga berakhir hari ini, guru-guru yang mengajar segera pergi meninggalkan kelas untuk merehatkan diri setelah mengajar seharian. Seluruh murid bisa bernafas lega, akhirnya setelah perjuangan mengerjakan rumus-rumus rumit akhirnya mereka bisa beristirahat juga.


Avania merapihkan buku-buku di atas mejanya, memasukannya ke dalam tas. Rencananya hari ini dia ingin makan siang bersama dengan Narah, seperti biasa.


"Ava, hari ini menunya apa?" Tanya Narah masih fokus merapihkan bukunya.


"Hari ini kentang dengan daging, untuk pencuci mulut sepertinya ada-" Ucapan Avania terpotong ketika gadis itu berhasil menangkap sesuatu di matanya.


Punggung tangan Narah ada bekas bercak merah ruam. Apakah Narah sakit?


"Narah, tanganmu..." Avania menunjuk dengan ragu.


Narah menyadari itu, dengan cepat menutup punggung tangannya. "Haha, jangan khawatir. Kemarin aku makan salmon, padahal aku alergi. Ini cuma ruam biasa, kok."


"Ah... begitu, ya?" Ada sedikit rasa tidak yakin, tapi Avania berusaha untuk percaya.


Narah sepertinya tidak menghiraukan itu. Gadis itu malah memeluk lengan sahabatnya, dan mereka berjalan menuju kantin bersama. Dan rencananya, Narah ingin pergi ke rumah Avania nanti malam.


.


.


.


Di lain tempat...


"Kau sudah melacaknya? Bagaimana hasilnya?"


Lampu kuning temaram menyinari lorong gelap. Suara langkah kaki terdengar begitu jelas, mengisi kekosongan di dalam lorong yang panjang.


Seorang pria muda dengan surai emas menyandarkan punggungnya pada dinding lorong. Bibir merah mudanya yang tipis membentuk senyum tipis, matanya hijau terang bagaikan seekor elang.


"Sulit ya kalau berurusan dengan makhluk abnormal."


Pria yang tadi menghampirinya memiliki surai hitam legam, dengan wajah putih pucat. Maniknya seperti langit malam tanpa bintang, seluruh tubuhnya terbalut pakaian serba hitam dengan baju turtleneck.


"Yah, apa kubilang kemarin, kita harus mencari penawarnya."


Pria muda berambut emas tertawa. "Tim kita juga sedang melakukan hal yang sama, jangan khawatirkan itu. Terlebih lagi sepertinya Xia dan Jin Woo telah menemukan kemajuan."


"Ah, bagus kalau begitu." Pria dengan surai hitam mengangguk.


"Semoga kita bisa menyelamatkan dunia ini."


.


.


.


Sore hari yang hangat adalah waktu yang sangat melelahkan. Sekolah berakhir, akhirnya para murid bisa pulang ke rumah mereka dengan aman. Termasuk Avania yang sekarang tengah menunggu bus.


Narah sudah pulang lebih dulu karena gadis itu dijemput orang tuanya. Narah berjanji akan datang ke rumah Avania nanti malam dan mereka akan berjalan-jalan bersama.


Avania terkadang merasa dirinya begitu jahat mengingat bahwa dia iri dengan kehidupan Narah. Keluarga lengkap dan harmonis, ekonomi yang bagus, juga paras Narah yang terbilang cantik dan pintar bergaul. Avania hanya memiliki ibu yang harus bekerja ke luar kota untuk menghidupi dirinya, sedangkan ayahnya meninggal sejak dia masih kecil. Mengingat itu semua saja sudah sedih. Kenapa dia bisa berteman begitu akrab dengan Narah padahal kehidupan mereka sungguh jauh berbeda.


Bus datang tidak lama kemudian. Avania naik tanpa berlama-lama karena dia sudah terlalu lelah dan memilih kursi paling belakang seperti biasa.


Dan yah, inilah pemandangan yang terus terulang. Bus yang ditumpangi oleh para lansia dan anak kuliahan. Sepertinya tidak ada anak sekolah yang menaiki bus ini selain dirinya.


Avania hanya bisa menikmati lagu dari ponselnya seperti biasa karena tidak ada yang menemaninya selama perjalanan pulang.


Baru saja memejamkan mata untuk menikmati setiap alunan musik yang masuk ke telinganya, suara gonggongan anjing kecil malah mengagetkannya.


Avania membuka mata, menemukan seekor anjing kecil spesies Mini Pom berwarna putih bersih menggonggong terus menerus di bawah kakinya. Alis Avania sedikit mengerut, kenapa ada seekor anjing di sini? Siapa yang pemiliknya?


Belum lagi semua pertanyaannya itu terjawab, seorang wanita tua bertubuh gemuk yang duduk tepat di hadapannya meraih anjing kecil itu dan menjauhkannya dari Avania. Ah, Avania tahu, mungkin itu pemiliknya. Tapi, suara gonggongan anjing itu semakin keras terdengar, sehingga musik yang didengar Avania lewat earphones saja tidak dapat terdengar jelas.


Karena pusing, Avania mengeraskan suara musiknya, mengganti musik yang tadinya melantunkan melodi slow menjadi pop. Gadis itu memejamkan mata, bersandar pada kursi dan mencari posisi paling nyaman. Untuk sementara ini dia tidak ingin diganggu karena merasa sangat kelelahan. Sampai pada akhirnya, suara anjing kecil itu menghilang dilahap kesunyian suasana bus, dan itu membuat Avania bisa tidur dengan nyaman.


.


.


.


Radio bus mengumumkan halte terakhir tempat pemberhentian mereka yang bertepatan dengan rusun di sudut kota. Musik yang diputar Avania terhenti, membuat gadis itu terbangun dari tidur. Mengetahui bus sudah berhenti di halte terakhir, Avania bergegas merapihkan barang-barangnya dan pergi ke luar bus di mana orang-orang mulai berhamburan ke luar.


Namun, ada satu hal yang aneh. Anjing kecil itu tidak kelihatan di mana pun, bahkan para penumpang yang turun tidak ada satu pun yang membawa anak anjing. Apakah itu tadi hanya mimpi? Tapi rasanya terlalu nyata untuk sekedar mimpi.


Masa bodo dengan pemikirannya yang membuatnya tambah pusing, Avania memutuskan untuk tidak peduli dan turun dari bus sebelum kendaraan itu kembali berjalan.


Tidak seperti biasanya, rusun lebih sepi hari ini. Langit yang mendung dan udara dingin yang menyelimuti mendukung suasana menjadi lebih mencekam. Entah ini hanya perasaannya atau benar-benar nyata, pikiran Avania mengatakan bahwa ada sesuatu yang aneh di sini.


Tepatnya di tengah lorong rusun yang sepi, berceceran banyak kertas putih bersih tanpa tulisan. Avania tidak tahu itu semua milik siapa, jadi dia memutuskan untuk memungut semua kertas itu dan membawanya. Tepat di tengah lorong, tepatnya di bawah lampu remang-remang, dia menemukan sesuatu.


Sosok kakek tua berkepala botak bertubuh gemuk itu adalah orang yang Avania kenal sebagai penduduk rusun ini. Pria tua itu tinggal di lantai dua rusun tepatnya longkap satu lantai dari kamar Avania. Tentu Avania mengenalnya sebagai tetangga.


"Permisi, pak."


Pria tua itu terdiam, tubuhnya membelakangi menatap dinding. Di sebelahnya tergeletak tas berukuran sedang yang isinya dipenuhi dengan buku dan kertas. Avania jadi heran, bahkan pria tua ini tidak mendengarnya sama sekali. Ah, apa karena faktor orang tua, ya?


"Permisi," Avania buka suara lagi, berusaha menatap wajah pria tua yang tertutup bayangan.


Lagi-lagi tidak ada respon. Tiba-tiba saja ada yang membuat Avania terkejut sampai tidak bisa bergerak.


Bam! Bam! Bam!


Pria tua itu membenturkan kepalanya sendiri pada tembok dengan keras berkali-kali. Bahkan rasanya kepalanya yang beradu seakan ingin pecah. Suara debam menggema di dalam lorong yang sunyi, mengalahkan jalur udara.


Nafas Avania menggantung di tenggorokan. Rasanya seluruh tubuhnya mengeras seperti batu. Gadis itu mundur beberapa langkah ke belakang, menjatuhkan kertas putih polos itu ke atas lantai dengan lemah. Tidak, pemandangan apa yang dia lihat barusan itu? Bahkan sekarang bercak darah di tembok tidak bisa lagi ditutupi. Pria tua itu tidak berhenti membenturkan kepala sampai keningnya terluka parah.


Selembar kertas yang dijatuhkan Avania mendarat di bawah kaki pria tua itu. Sekali lagi Avania hanya bisa terdiam, takut jika hidupnya berakhir malam ini tanpa tahu apa yang terjadi.


Pria tua itu memandang kertas putih di bawah kakinya dengan pandangan kosong. Perlahan kepalanya menoleh ke arah Avania, menatap gadis itu secara langsung.


Keringat dingin mengalir di kening Avania, membasahi leher dan tangannya. Gadis itu tidak bisa berkata apa pun lagi ketika seringai tipis membentuk di bibir pria tua itu.


"Oh, Ava ya?"


.


.


.


-Bersambung