
Kami memasuki gedung itu, gedung tua dengan bau lumut, rasanya aku pernah kesini atau hanya imajinasiku saja. Gedung ini bisa di bilang besar juga hanya saja terlihat tua dari luar tapi dalamnya lumayan juga, seperti rumah sakit pada umumnya. Tuan Bresley terlihat berbicara dengan salah seorang wanita, dia menatapku sekilas lalu memberikan kertas kepada tuan Bresley.
“Ini isi formulir” kata tuan Bresley memberikan kertas itu.
“Tapi kenapa aku harus isi ini?” tanyaku, aku pikir aku tidak ada masalah dengan kejiwaan apalagi riwayat pengguna narkoba, aku hanya anak kecil biasa.
“Nanti akan kami jelaskan, isi saja” kata Marine yang terlihat kesal, aku terpaksa mengisi formulir ini atau aku akan
seperti pensil Melinda karena dia dari tadi memegang pensil miliknya. Aku mengisi formulir yang berisi nama, umur, tempat tanggal lahir, sekolah, dan nama orangtua, memberikannya pada tuan Bresley dan dia memberikan pada wanita tadi, wanita itu menatapku, menyipitkan matanya dan seperti mengucapkan sesuatu, “memang mirip” itu yang kulihat dari membaca gerak mulutnya. Tuan Bresley membawaku keluar, berjalan di jalan kecil berbatu tidak kusangka ini lebih besar lagi dari dugaanku, masih ada bangunan lain selain gedung tua itu, gerbangnya lumayan besar dan tinggi, terlihat kokoh, di gerbang tertulis “Asrama”. Kami masuk kedalam, tempat ini jauh lebih bagus dari gedung tua itu, di tengahnya ada pohon ek yang terlihat sudah tua, anak-anak lain banyak yang bermain dan berbicara di kursi taman, mereka terlihat normal, tidak ada yang seperti gangguan kejiwaan. Seorang anak laki-laki mendatangi tuan Bresley, dia mengenakan kaos putih bergambar macan, rambutnya di semir pirang ditengahnya,
dia terlihat seperti anak punk yang kutu buku.
“Ada anggota baru?” tanyanya dan dijawab anggukan oleh tuan Bresley. Tuan Bresley membawa kami berkeliling, anak tadi ikut juga bersama kami, menjelaskan bagian-bagian gedung bersama tuan Bresley. Kami duduk di kursi taman, banyak sekali yang ingin kutanyakan, seorang laki-laki sekitar umur 16 atau 17 tahun berteriak dari arah lapangan, dia mengajak Joe untuk untuk bermain baseball, karena tidak ada diantara kami yang namanya Joe jadi dipastikan anak punk kutu buku ini yang namanya Joe, dia berdiri.
“Aku pergi dulu” katanya lalu pergi kearah mereka.
“Jadi ini tempat apa sebenarnya?” tanyaku, melihat Joe dan temannya sedang bermain baseball, mereka tampak normal seperti anak lainnya.
“Ini asrama, khusus para Lucid Dreamer. Kami membangunnya agar kita semakin mudah berkomunikasi, dan wilayah ini tempat paling aman karena langsung berhadapan dengan matahari, mimpi buruk tidak akan bisa kemari, ini wilayah terlarang bagi mereka. Aku yakin kau sebenarnya sudah paham kan tentang Lucid Dreamer” jelasnya.
“Hmm… ya aku tahu, tapi aku tidak berpikir itu nyata” jawabku.
“Setelah bayangan itu melawan kita sebanyak 2 kali dan kau pikir ini tidak nyata?” tanya Marine, dia mengeluarkan cincin batu merah itu dari tas ranselnya, “ini milikmu” katanya memberikan cincin itu, aku mengambilnya, cincin yang diberikan ibuku, ternyata ada laba-laba kecil di dalam batu merah ini.
“Tidak apa-apa, ibumu akan baik-baik saja tanpa cincin ini” kata Marine melunak, mungkin dia melihat wajah murungku saat mengamati cincin.
“Kita meninggalkan pria itu di mobil” kataku, aku teringat pria yang kami bawa dari rumah kecil itu.
“Dia sudah dibawa petugas kesehatan tadi” kata tuan Bresley.
“Sebenernya siapa dia? Kenapa kita harus bawa dia?” tanyaku.
“Dia ayahmu” jawab tuan Bresley santai, dan aku terdiam karena kaget. Kenapa ibuku membiarkan ku menyelamatkan orang yang tidak pernah merawatku? Aku ingin marah tapi juga ingin menangis.
“Kupikir tidak tepat mengatakan yang seperti itu” kata Marine memegang pundakku.
“Tapi itu kebenarannya” jawab tuan Bresley, dia melambai pada seorang wanita berambut orange.
“Lalu, kau tidak dengan ibuku?” tanyaku, aku berusaha menenangkan diri.
“Tidak, kami teman kecil, tidak lebih dari itu, ibumu hanya ingin menyembunyikan hal ini darimu, tapi takdirmu tetap
berada disini, aku sudah punya pacar, lihatlah wanita cantik itu” katanya menunjuk wanita yang tadi dia sapa, lalu pergi meninggalkan kami untuk bertemu wanita itu.
“Lihatlah dia meninggalkan kita” kataku,“Eh.. kenapa harus pusat rehabilitas?”
“Karena kita biasanya punya masalah dengan bawah mata dan badan yang lesu, banyak yang mengira bahwa kami adalah pecandu awalnya karena kami menahan ngantuk sampai berhari-hari agar tidak bermimpi buruk, kau juga begitu kan? Bawah matamu sangat gelap” kata Marine, dia membuka buku tua yang dia keluarkan dari tasnya, mengamati sebuah diagram yang aku tidak tahu apa, tulisannya terlihat asing dan dia mengamati dengan serius.
“Tanggal berapa hari ini” tanyanya.
“12” jawabku, “Apa yang kau baca?”
“Ternyata memang kau”, lihat ini, katanya menunjukan buku itu, walaupun dia tunjukan aku tetap tidak mengerti. “Oh iya kau orang baru, akan ku jelaskan, ini bisa di bilang kalender, kalender suci klan matahari dan bulan, kami menyebutnya ramalan bulan, aku sebenarnya tidak percaya ramalan, tapi setelah kau datang kupikir buku tua ini ada benarnya” jelasnya.
“Jadi apa yang diramalkan dibuku itu?” tanyaku, pikiran ku tidak sepenuhnya fokus pada penjelasan Marine, karena aku masih memikirkan ibuku dan ayah, aku tidak pernah berpikir untuk menyelamatkan ayahku.
“Tret…..” terdengar bunyi terompet, bunyinya sangat keras, anak-anak berlarian masuk kedalam gedung, Marine juga menarikku untuk masuk. Kami berkumpul di satu ruangan, ada meja putih dan 3 kursi yang berjejer di depan, seperti persidangan. Salah seorang wanita berpakaian kaos putih memasuki ruangan, dia terlihat sekitar berumur 40 tahunan, disebelahny ada seorang wanita berambut pendek, dia menuntun seorang nenek untuk duduk di kursinya, nenek itu terlihat sangat tua, dia mengenakan baju panjang dengan hiasan bulu-bulu dirambutnya, rambutnya dikuncir kecil-kecil, dan membawa seperti sebuah kitab tua bersampul matahari. Mereka bertiga duduk kursi persidangan tadi, pintu ruangan ditutup oleh salah satu penjaga, mereka berjaga di depan pintu. Seorang anak perempuan maju kedepan dia melebarkan lengannya, lalu berlutut, dia menaruh kedua lengannya didepan dadanya.
“Salam Gunasula”katanya menunduk, lalu dia kembali berdiri, “Upacara pembukaan akan dimulai” teriaknya, aku tidak mengerti apapun tapi tuan Bresley menyuruhku bersiap pada ramalan yang akan dia terima.
“Pendatang baru, maju kedepan” teriaknya lagi, Marine mendorongku kedepan, ternyata ada 2 anak lainnya yang maju kedepan dan aku kenal salah satunya, si rambut orange yang di tindas Tomie, aku yakin dia mengenalku juga, dan ada seorang gadis berkulit coklat berdiri diantara aku dan si rambut orange, rambutnya coklat terang di kepang kecil-kecil dengan jepit rambutnya yang warna-warni, dia jauh lebih tinggi dariku. Nenek yang duduk ditengah berdiri, dia membawa sebuah gelas cawan berwarna putih, nenek itu menyuruh si rambut orange untuk maju kedepan lalu menaruh jempol nya pada dahinya, dia menatap air pada cawan, lalu berkata “penenun” suaranya terdengar lemah. Si rambut orange mendatangi si gadis yang memimpin.
“Jerry, klan penenun” teriak gadis itu mereka berpegangan tangan lalu menaikan tangan mereka keatas. Si gadis berkepang maju kedepan, dia sedikit menunduk karena tubuhnya yang terlalu tinggi jadi si nenek tidak dapat menyentuh dahinya, “penenun” katanya lagi.
“Sonata, klan penenun” teriak gadis itu lagi, anak-anak lain terlihat bersorak senang. Marine justru terlihat gugup. Nenek itu menyuruhku maju kedepan, sekarang aku tahu apa yang dia lihat, dia menatap bayang-bayang air yang ada dicawan, ada 3 bola didalamnya, hitam, putih, dan kuning. Nenek itu agak terkejut lalu kembali tenang “laba-laba” ujarnya, ruangan seketika menjadi sunyi, tidak ada lagi anak-anak yang bersorak sorai, aku mendatangi gadis tadi, dia diam sejenak lalu menanyakan namaku.
“Patrick, klan laba-laba” teriaknya, aku kembali keposisiku, anak-anak lain melihatku dengan aneh, apa seburuk itu
mejadi klan laba-laba, dan dimana temanku yang lain, anak-anak lain terlihat mendatangi si rambut orange dan si rambut berkepang lalu menyambut mereka, kenapa tidak ada yang mendatangiku?
“Hei” kata Marine.
“Kau klan laba-laba juga?”tanyaku.
“Bukan, aku klan merpati” jawabnya, membuatku semakin murung.
“Jadi dimana temanku?” tanyaku lagi, dia terlihat bingung, aku yakin ini bukan hal yang bagus untuk didengar.
“Tidak ada, hanya kau dan ayahmu tadi” katanya, aku hanya menatap murung, tapi aku memang tidak punya teman dari kecil jadi apa yang membuatku sedih?
“Maaf” katanya lagi.
“Tidak apa-apa, bukan salahmu” jawabku, tuan Bresley mendatangi kami lalu menepuk pundakku, aku menyingkirkan badanku dengan wajah kesal.
“Kau harus lepas kalung itu, kami akan membuat yang baru” kata tuan Bresley, aku langsung melepas kalung yang pakai dari tadi, aku saja tidak ingat masih mengenakan kalung ini.
“Nih”, aku memberikan kalung itu pada tuan Bresley.
Aku dan Marine berkeliling gedung, menyaksikan anak-anak yang melanjutkan permainan baseball mereka lalu duduk di bawah pohon ek yang lumayan besar ditengah taman. Disini terasa sejuk karena sudah pukul 4 sore, jadi matahari sudah tidak terik lagi, seorang laki-laki mendatangi kami, badannya tinggi, berkacamata, rambutnya hitam legam, dan menggunakan kemeja kotak-kotak, umurnya mungkin sekitar 17 tahun karena dia terlihat lebih dewasa dari kami, dia duduk disampingku, Marine langsung memasang wajah malas.
“Kau klan laba-laba kan?” tanyanya, aku langsung menatap Marine, mataku menyuarakan “siapa orang ini?”
“Hmm.. iya, hai” jawabku, aku tidak tahu harus apa lagi.
“Kau cepat juga dekat dengan dia, padahal dia biasanya menyendiri” katanya, lagi-lagi aku tidak mengerti apa yang di bicarakan.
“Marine, dia adikku” katanya lagi, aku langsung menatapnya, ya kupikir mereka memang mirip, apalagi rambut hitam legam mereka, hanya saja kakanya terlihat lebih ramah sedangkan Marine lebih misterius.
“Aku Patrick, kami satu sekolah” jawabku mengulurkan tangan.
“Ya aku tahu, Lilian sudah menyebut namamu tadi, aku Hendrick Leonard” katanya menggapai lenganku.
“Sedang apa kau?” tanya Marine, dari nada bicaranya kau bisa mendengar kalau dia sedang kesal, dan kakanya pasti tahu itu karna dia langsung terkekeh.
“Hanya menyapa teman baru, siapa tahu kita bisa berteman baik” jawab Hendrick merangkul ku. Temannya dari jauh meneriaki namanya, dia lalu berdiri.
“Kita akan bicara lain kali” katanya lalu kabur, bukannya mendatangi temannya dia malah berlari ke arah berlawanan, teman yang meneriakinya malah ikut mengejarnya “kejar dia” teriaknya.
“Kau jangan dekat dengan kakaku” kata Marine,“atau kau akan dikejar oleh mereka”
“Siapa itu?” tanyaku yang memang tidak mengenal satupun anak yang ada disini.
“Dia pasti menipu lagi, jadi kau jangan berteman dengan dia. Sebentar lagi jamuan makan malam, aku akan antar kau ke tuan Bresley, mungkin dia sudah mengurus kamarmu” katanya berdiri, aku mengikutinya mendatangi tuan Bresley di salah satu ruangan, ruangannya tertutup dengan banyak tirai, tuan Bresley terlihat berbicara dengan salah satu wanita yang tadi duduk di kursi sidang, mereka berdua menatap kami dan berhenti berbicara.
“Patrick belum dapat kamar” kata Marine.
“Oh iyaa, ini kuncinya” kata tuan Bresley memberikan kunci kayu bertulis no.16.
“Kau akan sekamar dengan anak penenun” kata tuan Bresley lagi.
Marine mengantarku menuju kamarku, disini tidak ada batasan jika perempuan ingin ke kamar laki-laki atau sebaliknya, bahkan kadang-kadang gadis yang punya pacar akan menginap di kamar pacarnya. Kami melewati lorong, melewati beberapa pintu yang terbuka, anak-anak berkumpul dalam satu ruangan bersama gengnya, ada yang membaca, bergosip, mengumpulkan prangko, dan yang memutar musik rock, asrama masih penuh saat siang hari.
“Mereka beristirahat menunggu makan malam, jadi kamar selalu penuh”kata Marine yang menatapku menatap kamar yang terlihat penuh kertas.
“Kamar Fransisca, Lena, dan June, mereka klan matahari dan bulan jadi mereka memang selalu begitu, kamar mereka penuh kertas ramalan dan cerita zaman dulu” katanya.
“Ini kamarmu” kami berhenti di depan pint no.16, pintunya tertutup tapi tidak terkunci, berarti sudah ada yang menempati. Marine memberikan kunci kayu itu padaku, aku membuka ganggang pintu, ada seorang anak laki-laki berambut hitam kelam sedang mengenakan headphonenya, dia terlihat tidak peduli padaku yang membuka pintu, seorang lagi sedang membuka koper abu-abu miliknya yang dipenuhi snack, aku sekamar dengan Jerry, anak yang
“Hai..” sapaku kikuk, tidak ada balasan, Marine menyuruhku untuk masuk.
“Aku akan kesini lagi nanti, sebelum makan malam” katanya meninggalkanku didepan pintu. Aku masih berdiri kikuk, menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal.
“Sedang apa disana? Masuk” kata laki-laki berambut hitam, dia sudah melepas headphone, suaranya terdengar datar. Aku menuruti dan mendatangi Jerry yang menundukan kepalanya, laki-laki rambut hitam itu kembali memakai Headphonenya.
“Syukur saja Tomie dikeluarkan, kau bisa lebih tenang” kataku padanya, dia menatapku.
“Aku tidak berteman dengan Tomie, jadi santai saja” kataku tersenyum, setidaknya aku menghilangkan gambaran anak nakal dari pikiran Jerry. Aku menuju kasur yang tersisa, terbaring menatap langit-langit, aku berada di pusat rehabilitas dan tidak ada yang yang kukenali selain Marine, tuan Bresley dan Jerry, semua ini membuatku lelah, aku tidak percaya ini terjadi saat ulang tahunku tapi inilah kenyataannya, aku terbaring diasrama pusat rehabilitas, hadiah ulang tahun yang sangat mengejutkan.
“Jangan tidur, nanti masuk alam mimpi” kata laki-laki berambut hitam itu, dia mendekat ke arahku, dan duduk dikasur miliknya yang berada di seberang kasurku, lalu membaca buku bergambar. Kami terdiam sesaat, tapi ini akan membuatku mengantuk, aku harus bicarakan sesuatu.
“Siapa namamu?” tanyaku memulai.
“Ronald” jawabnya singkat masih membaca bukunya. Aku tidak tahu harus bertanya apa lagi jadi aku hanya menatapnya yang membaca didekat jendela, wajahnya lumayan tampan, badannya tinggi, dan rambutnya hitam kelam, kupikir umurnya sekitar 16 atau 17 tahun. Dia terlihat pendiam tapi memiliki aura yang mematikan jadi aku tidak berani coba-coba berbicara lagi. Jerry tiba-tiba menawarkan snack keju yang dia makan, tentu saja aku mau, siapa yang menolak kalau ditawari.
“Mau?” tanya Jerry pada Ronald, dia menggeleng. Kupikir tidak ada yang akan menolak snack keju tapi kupikir Ronald tidak suka ini.
“Bagaimana sekolahmu?” tanyaku pada Jerry yang menaruh ring snack keju pada jarinya.
“Baik saat tidak ada Tomie, tapi ayahku tetap memaksaku untuk pindah sekolah” jawabnya lalu memakan ring snack keju yang dia taruh di kelingkingnya.
“Ayahmu tidak apa-apa kau pergi ke pusat rehabilitasi?” tanyaku lagi.
“Tidak, awalnya dia ingin memindahkan sekolahku tapi seseorang datang kerumah untuk berbicara dengan ayahku, dan dia malah membawaku kesini, malah aku yang sebenarnya bingung pada awalnya dibawa ketempat seperti ini, tapi disini keliatannya lebih baik dari pada kesekolah” katanya.
“Tapi kita masih sekolah kan?” tanyaku.
“Ya masih, ayahku tidak jadi memindahkan sekolahku, aku ingin diasrama saja dibanding pergi kesekolah” katanya.
Terdengar ketukan dari arah pintu, terlihat Marine yang sudah berdiri disana dengan rambut yang dikuncir kuda, kupikir dia sudah mandi karena dia sudah mengenakan pakaian kaos yang berbeda dan dia berbau seperti aroma citrus.
“Makan malam sedikit lagi, sebaiknya kita keruang makan” katanya.
“Ini masih jam 6, kalian makan jam segini?” tanyaku, karena aku biasanya makan malam diatas jam 7.
“Kita ambil pakaianmu dulu pada tuan Bresley di gedung depan, kau tidak mungkin memakai pakaian itu setiap hari kan” katanya.
“Aku ambil pakaian dulu, kalian duluan saja nanti ke ruang makan” kataku pada Jerry dan Ronald dan hanya Jerry yang menangguk masih memakan snack keju yang taruh di jarinya.
Gedung depan lumayan jauh kalau berjalan kaki, mungkin butuh waktu sekitar 10 menit, tadi siang jalanannya terang dan sekarang justru menakutkan, jalan di jalanan berbatu tanpa penerangan apapun, hanya ada cahaya bulan yang membantu kami berjalan agar tidak terjatuh di jalanan yang tidak rata ini, Marine memimpin, tentu saja dia lebih dulu disini tidak mungkin aku yang memimpin. Aku hampir saja terjatuh kalau Marine tidak menahanku, dia mengeluarkan ponselnya untuk membantu penerangan, kenapa tidak dari tadi dia keluarkan ponselnya?
Gedung ini benar-benar mengerikan saat malam hari, saat siang saja sudah terlihat usang dengan tumbuhan menjalar, apalagi saat malam hari, seperti bangunan lama yang tak terurus, tanpa adanya penerangan dari depan gedung seperti lampu atau lain-lain. Kami masuk kedalam, ruang pendaftran sudah tutup karena lampunya sudah padam atau memang sebenarnya tidak ada lampunya, aku mengikuti Marine menaiki tangga menuju lantai atas,
Marine mematikan ponselnya karena lantai atas sudah memiliki lampu, kami menuju salah satu ruangan bertirai putih, atasnya tertulis Gunasula, nama si nenek yang tadi.
“Salam Gunasula” kata Marine menunduk, ia menaruh lengannya dibelakang kepala ku agar aku menunduk juga.
“S-s-salam Gunasula” kataku juga. Nenek itu tersenyum mempersilahkan kami masuk, ada tuan Bresley yang sedang menunggu pria yang kami selamatkan kemarin, kata tuan Bresley itu ayahku, tapi aku tidak peduli.
“Mana pakaianku?” tanyaku pada tuan Bresley, entah mengapa moodku jadi buruk setelah melihat pria yang tidur tenang ini, menatap wajah kurusnya membuatku kasihan karena aku seharusnya tidak kasihan padanya.
“Hmm.. ini” kata tuan Bresley memberikan koperku, koper yang penuh dengan stiker spiderman, superhero kesukaanku.
“Bagaiman ibuku?” tanyaku lagi lalu duduk di sebelah Marine yang sedang berhadapan dengan nenek itu, mereka terlihat membicarakan sesuatu, tenatang buku yang Marine keluarkan kemarin.
“Dia baik, dia menanyai keadaanmu, kau sebenarnya bisa saja pulang kalau mau tapi ibumu menyarankan untuk tinggal disini” kata tuan Bresley duduk disebelahku.
“Ibu sudah mengemas barangku, jadi aku akan disini” jawabku, entahlah aku tidak tahu menetap disini merupakan pilihan yang bagus atau tidak tapi kalau itu pilihan ibuku tentunya lebih aman. Aku menatap Marine yang mencocokan buku yang dia bawa kemarin dengan buku si nenek. Keliahatannya itu bahasan yang penting karena Marine terus saja mengerutkan keningnya. Buku itu terlihat sama, sampulnya berwarna coklat yang terlihat seperti kulit lembu atau apapun itu, dan tebal buku nya juga sama, kertasnya terlihat sudah usang.
“Buku apa itu?” tanyaku pada tuan Bresley.
“Ramalan kuno, tapi kelihatannya Marine menemukan buku lainnya” jawab tuan Bresley. Mereka berdua menutup buku mereka bersamaan, Marine memasukan buku itu kedalam ranselnya, menatapku dengan tatapan yang tidak kumengerti, dia mau membunuhku atau apa?
“Ayo makan malam” ajaknya, aku hanya menuruti, dia masih memasang tampang aneh dan berjalan mendahuluiku, langkahnya lebih cepat sampai aku tertinggal jauh dibelakang.
“Tunggu” kataku, dia berhenti, aku berlari mengejarnya.
“Kenapa lambat sekali” katanya.
“Kau yang terlalu cepat”jawabku, dia masih berjalan dengan cepat lalu berhenti.
“Kau tahu darimana aku dapat buku itu?”tanyanya dan pastinya aku menggeleng.
“Dari rumah ayahmu, saat kau keluar dengan kalung itu, aku melihat buku ini ditaruh dibawah bantalnya, jadi kuambil saja sekalian” jelasnya, dan sebenarnya aku tidak terlalu peduli.
“Oh… aku lapar” jawabku, dia langsung mempercepat jalannya tahu bahwa aku tidak peduli dengan apa yang dia katakan.
Kami sudah diruang makan. Ruang makan ini seperti ruang makan mahasiswa kuliahan, ada banyak kursi dan meja yang berjejer beraturan dan ada makanan yang dapat kita ambil sendiri, aku harus mengantri untuk mendapatkan makanan, Jerry terlihat sedang makan dimeja pojok belakang, tidak ada yang menemaninya tapi dia makan dengan lahap seperti belum makan beberapa hari, Ronald juga makan sendiri di meja yang berbeda, kenapa mereka tidak makan bersama saja. Aku menunggu antrianku, Marine mengambil semua menu makanan dengan cepat, matanya berbinar, syukurnya dia masih menungguku yang memilih makananku, aku tidak suka daging sapi, tapi tidak ada daging lain, dan aku juga tidak makan sayur, jadi aku makan telur dan nasi saja.
“Lama sekali dan hanya makan telur dan nasi”kata Marine yang piringnya penuh dengan nasi, daging sapi, salad sayur, dan telur. “Kau bawakan makananku, aku akan ambil minum”, aku menuruti saja dan duduk didepan Jerry, dia menatapku dengan pipinya yang penuh dengan makanan, lalu meneguk makanannya.
“Kau banyak makan juga” katanya menatapku yang membawa 2 piring. Marine mendatangiku dengan 2 gelas es limun.
“Ini milik dia” kataku menaruh piring Marine didepannya, dia langsung melahap makanannya, tidak jauh dari Jerry tadi, mereka terlihat mirip saat makan. Entah mengapa aku tidak selera makan atau makanan disini yang tidak membuatku ingin makan, aku memakan makananku dengan lesu, aku ingin makanan buatan ibuku.
“Kau cuma makan telur? Kenyang?” tanya Jerry yang sudah menghabiskan makanannya, piringnya licin tanpa sisa mungkin dia juga menjilati piringnya.
“Tidak makan daging sapi, dan aku tidak suka sayur” kataku memakan telur goreng yang terlihat tidak menggungah selera tapi aku tetap menghabiskan makananku.
Malam ini langitnya terlihat bagus, bintang bersinar terang ditutupi sedikit awan gelap, sekarang sudah pukul 8 malam aku tidak berniat untuk tidur tapi yang lainnya sudah terlihat menguap apalagi Jerry yang dari tadi berusaha untuk tidak tidur, mungkin karena duduk ditaman dengan angin dingin malam yang membuat rasa ngantuk mereka semakin bertambah.
“Teng...” terdengar bunyi lonceng dari ruangan yang tidak kutahu dari mana arahnya, Marine berdiri dan anak-anak lain yang masih berada ditaman juga berdiri, pergi ke asrama mereka.
“Bel tidur, kita harus tidur bersamaan” kata Marine, Aku membawa Jerry yang setengah tertidur ke kamar, aku masih 100% tersadar dan bisa dibilang aku tidak mengantuk sama sekali, tapi entah mengapa saat membaringkan tubuhku dikasur dingin ini membuatku langsung tertidur seketika.
☼⸙○
Sudah tidak asing bagiku untuk bangun di wahana yang dipenuhi awan ini, bisa dibilang tidak ada gunanya tertidur karena kami tetap akan beraktivitas dialam mimpi, jadi kupikir ini hanya akan membuatmu tambah kelelahan dipagi hari.
Anak-anak lain terlihat sedang berbaris dibawah sebuah pohon tua besar dengan daun berwarna kuning, aku mendekat kesana dan ternyata itu bukan daun tapi emas yang menyerupai daun, anak-anak lain berseragam putih dengan lambang pelangi kecil didada mereka, aku dan Jerry hanya menggunakan kaos yang kami pakai tadi.
“Heii.. upacara penerimaan akan dimulai, kalian berdirilah didepan sana” kata seorang gadis yang berdiri didepan, gadis yang memimpin upacara tadi siang. Aku dan Jerry pastinya menurut saja, tidak ada yang dapat kami lakukan karena kami tidak tahu apapun.
“Teng…” terdengar bunyi lonceng dan kicauan burung secara bersamaan, pandanganku tidak terlalu terlihat jelas karena tertutupi kabut, entah ini kabut atau awan, tapi yang jelas aku hanya dapat melihat pohon tua yang menjulang ini, bahkan aku tidak bisa melihat kakiku sendiri.
“Upacara penerimaan akan dimulai” kata gadis itu berteriak, kupikir dia ketua klan.
“Kalian maju lah kedepan, lalu menunduk” bisik gadis itu, kami menurut saja. Aku tidak dapat mendengar apapun, seperti kami berada diantara kabut tebal tanpa suara, aku juga tidak dapat melihat Jerry, hanya merasakan diriku seorang diri. Seseorang berdiri didepanku tapi aku tidak bisa melihat, hanya pakaian balutan kain hitam yang dapat kulihat, dia seperti memakai sesuatu dilengannya yang berbunyi “tring..tring…”
“Ini adalah titah, seseorang mengutus yang hidup untuk membawa jiwa dari gerbang gading, kau adalah yang terikat dengan darah yang mengalir, hidupmu dan hidupnya ada ditanganmu, diantara kalian ada yang mati jika tidak mendengar perintahku” suara ini bergema, seperti aku ada disuatu ruangan tertutup, aku tidak kenal suara ini sama sekali, suara tegas dari seorang wanita yang terdengar lebih seperti mengancam, seperti suara yang berkata “Kubunuh kau kalau tidak kau lakukan”
“Apa yang kau dengar?” tanya nenek Gunasula tepat didepanku, aku bisa melihat jelas sekarang, Jerry dan gadis berkepang.
“Entahlah, dia menyuruhku melakukan sesuatu” jawabku.
“Siapa?” tanya nenek lagi.
“Seorang wanita, aku tidak bisa melihat wajahnya, bajunya hitam dan dia memakai gelang lonceng dilengannya” jelasku, nenek Gunasula mengambil cawan berisi air, menuangkan sebuah serbuk emas, lalu dia menyuruhku untuk melihat pantulan air pada gelas itu.
“Seorang gadis hilang ingatan dan anak berkaki kurus katak akan membantumu membawanya kembali, diantara kalian akan ada yang tertinggal”kataku membaca pantulan serbuk yang membentuk tulisan lalu buyar menyatu dengan air. Nenek Gunasula menatap gadis itu lalu menangguk.
“Upacara penerimaan sudah selesai” teriaknya. Kami bertiga kembali kebarisan kami.