Sacred Hoops

Sacred Hoops
BAB 2 MIMPI dan BAYANGAN



Aku terbangun menatap langit-langit kamar yang dipenuhi stiker berbentuk bulan dan bintang, ini akan sangat indah saat aku mematikan lampu. Kali ini mimpiku bagus, tidak ada monster atau Tomie dengan bola basketnya, hanya ada aku dan  ibu yang menyiapkan susu coklat hangat dan cookie aroma kayu manis, aku mengingat mimpi itu dengan jelas. Terdengar ibuku mengetuk pintu.


“Patrick…sudah bangun?ayo turun dan makan” katanya dari luar. Aku melompat dari tempat tidur, meluncur dari tangga dengan wajah gembira.


“Bu, dokternya sangat manjur”kataku mengacungkan dua jempolku.


“Dokter apa?”tanya ibuku bingung, padahal dia yang mengajak ku kemarin.


“Dokter yang kemarin, di gedung tua jelek, penuh lumut itu, ibu membawaku kesana kemarin, dan bilang akan membuatku bermimpi indah” jawabku menggebu-gebu. Wajah ibuku masih sama bingungnya seperti tadi, aku mengambil kalender di atas meja, hari ini tanggal 11, aku membolak-balik kalender dan memang tanggal 11, hari ini ulang tahunku.


“Jangan berkhayal dan cepat mandi, kau harus masuk sekolah” perintah ibuku. Aku masih terdiam kaku, memegang kalender tahun 2020, bagaimana bisa? Aku bermimpi? Berarti hari ini mimpi terburukku, Tomie. Aku tidak ingin masuk sekolah.


“Ibu bilang akan memindahkan sekolahku”


“Kita sudah pindah rumah di dekat sekolah mu, jadi tidak ada alasan untuk pindah, cepat mandi dan ibu akan mengantarmu kesekolah”, jawab ibunya mendorong bahuku menuju kamar mandi, jadi semua itu hanya mimpi? Aku dengan pasrah terdiam dibawah air shower yang mengalir, air seakan semakin dingin menusuk kulitku mengingat aku akan dilempari bola basket sebesar kursi belajar. Aku menuju kamar ku dengan lunglai, kehilangan semangat hidup, semua mimpi indah ku hilang dalam sekejap. Ibuku terdengar sedang menelepon seseorang, nada suaranya terdengar marah, aku kembali turun dan mencoba menguping, kulihat wajah ibuku sudah mulai resah lalu aku kembali menyembunyikan diriku di balik tembok agar bisa menguping, “Kau sudah sepakat Patrick akan bersamaku, aku tidak akan membiarkan kau membawanya” katanya lalu menutup ganggang telepon dengan keras. Aku langsung berlari menuju kamarku, apa maksudnya? Siapa yang akan mengambilku dari ibuku?


Aku duduk di kursi belakang, raut wajah ibuku sudah tenang sangat berbeda saat tadi dia bertelepon, tapi matanya masih terus melirik kekanan dan kekiri dan sesekali melihat kaca spion untuk melihat kebelakang, dia hampir saja menabrak sebuah mobil yang terparkir di depan syukur saja dia sempat menginjak rem dan membuat kami menukik kedepan.


“Ada apa? Ibu terlihat tidak sehat” tanyaku panik dan kaget juga.


“Ibu baik-baik saja, hanya sedikit stress, sekolah mu ada di depan, ibu akan antar sampai disini, kau bisa jalan sendiri?” tanya ibuku lemah dan aku hanya mengangguk pelan, tidak mungkin memaksa ibuku untuk masuk saat dia hampir saja menabrak sebuah mobil. Suasana hatinya sedang buruk. Aku keluar dari mobil dan ibuku langsung berputar balik, menatap mobil itu melesat jauh, berbelok ke jalan yang berlawanan dari jalan menuju rumah kami, tapi bisa saja dia bekerja, lebih baik aku memikirkan cara agar tidak bertemu dengan Tomie, atau hari ini aku akan mulai menjadi budak selamanya.


Aku menghela nafas di depan pintu kelas, murid terdengar ribut dari dalam sana, seakan mereka menunggu mangsa masuk ke dalam kandang singa. Aku membuka pintu kelas dan semua murid menatapku dan kembali dengan aktivitas mereka, dan tidak ada Tomie, dia tidak ada, Tuhan mendengar doaku. Aku duduk di kursiku dengan tenang.


“Kemana Tomie?”tanyaku pada seorang gadis yang duduk di depanku, Melinda. Dia terlihat terganggu karena aku bertanya padanya yang sedang mengosip dengan temannya.


“Dikeluarkan”jawabnya, lalu kembali bergosip ria dengan temannya.


“Kenapa?”tanyaku, dan dia hanya menatap tajam.


“Tidak tahu, jangan tanya lagi atau kubuat kau jadi anak perempuan” katanya sambil menunjukkan guntingnya, aku tidak berani berkutik atau dia akan akan membuatku jadi anak perempuan.


Guru memasuki ruangan, dia membawa gulungan besar yang biasanya dia bawa, gulungan peta, siapa lagi kalau bukan Mr. Prismone, guru geografi kami tercinta. Semua siswa langsung berlarian kembali ke tempat duduk mereka.


“Tomie di keluarkan karena ketahuan meminta uang anak kelas 4, saya sangat malu saat rapat. Dipastikan dikelas saya tidak ada lagi siswa yang menyimpang, kalau kalian menemukan hal seperti ini maka kalian harus lapor saya” katanya lalu mengeluarkan kapur warna-warni dari dalam laci meja, dia menggambar sebuah bentuk yang tidak terlihat seperti bentuk, pastinya suatu daerah yang tidak pernah kuperhatikan, aku akan menggambar saja.


“Teng..teng..teng”Bel istirahat berbunyi, bunyinya seperti bel bandara penerbangan yang biasanya ku dengar juga saat di terminal bawah tanah. Bel yang mutifungsi. Semua murid terlihat senang sedangkan Mr. Prismone terlihat murung tapi tetap membereskan buku-bukunya lalu keluar. Seorang gadis tak di kenal memasuki kelas kami, aku


tidak ingat dia ada di kelas kami sebelumnya, seorang guru mengikutinya dan dia memperkenal kan diri sebagai siswa baru, “Namaku Marine Leonard”, perkenalan yang sangat singkat, dia duduk menggantikan Tomie di kursi miliknya, lalu tidur. Terlihat lingkaran gelap di bawah matanya yang berarti dia sangat mengantuk tapi tidur bukanlah hal yang bagus untuk siswa baru. Melinda dan kedua temannya terlihat berdiri dan menghampirinya, menghalangi sinar matahari yang masuk melalui jendela dengan badan tinggi mereka. Gadis itu masih tidak bangun juga, Melinda membelai rambutnya dan langsung menariknya kebelakang, membuat gadis itu mendongak, dia tidak terkejut, hanya terlihat kesal karena ada yang membangunkan tidurnya.


Dia membuka hodie yang dia kenakan, terlihat rambut hitam kelam terurai, Melinda dan gangnya mundur selangkah, lalu mereka tertawa kikuk. Gadis itu mengambil pensil dari kursi belakangnya, lebih tepatnya meja Melinda.


“Kalau, kalian menggangguku lagi, kalian akan seperti ini” ancamnya lalu mematahkan pensil itu dengan kedua jarinya lalu berjalan keluar. Mereka membisu, menatap pensil Melinda yang terbelah menjadi dua.


“Pensilkuuuuu, kubeli dengan harga mahallllll” Melinda menangis, temannya berusaha menenangkannya. Tidak kusangka orang galak itu akan menangis seperti bayi hanya karena pensilnya.


Aku sepertinya pernah melihat gadis itu sebelumnya, tapi tidak di dunia nyata, lebih tepatnya di dalam mimpi, si gadis no.3. Aku berlari keluar dan menemukan dia tertidur di kursi taman, di bawah pohon rindang, aku ikut duduk


disampingnya, udara yang sepoi-sepoi ikut membuatku mengantuk, aku tidak berani membangunkannya kalau saja dia membuatku jadi anak perempuan atau lebih parahnya lagi aku akan di buat tak bernyawa seperti pensil Melinda, lebih baik menunggunya saja, aku mencoba untuk menahan kantuk ku di bawah pohon rindang yang terlihat bergoyang-goyang ditiup angin seakan menari untukku agar aku ikut tertidur, tapi aku tidak boleh tertidur, tapi tidak ada salahnya juga menunggunya bangun sambil tidur kan.


Aku membuka mataku, udara masih terasa nyaman untuk tidur, apalagi di bantal yang empuk ini, tapi bagaimana bisa ada bantal di taman, aku langsung beranjak bangun lalu bergeser sejauh-jauhnya darinya sampai mencapai ujung kursi.


“Kau tidur di bahu orang sembarang”katanya, dia tidak terlihat marah atau memang raut wajahnya yang susah di tebak.


“Aku menunggu kau bangun”katanya lagi. Seharusnya aku yang menunggu dia kenapa malah dia yang menungguku tertidur, apalagi di bahu dia, hilanglah sudah nyawaku, pengganti Tomie tentu saja yang seperti dia. Tapi dia malah berdiri dari tempatnya dan berjalan kembali ke koridor. Aku berlari mengikutinya “Tunggu”kataku, dia menoleh “Apa?”katanya.


“Aku merasa pernah bertemu kau sebelumnya” kataku.


“Dimana?”tanyanya, kami berjarak sekitar 2 meter tapi aku masih bisa mendengar suaranya karena koridor yang sempit jadi suaranya agak bergema. Aku tetap memilih berdiri di tempatku dan dia juga berdiri di tempatnya, tidak ada yang mau mendekat.


“Aku tidak yakin itu mimpi atau bukan tapi di gedung tua yang depannya penuh lumut”jawabku, dia langsung melangkah mendekatiku dan semakin dia mendekat, aku semakin memundurkan langkahku, auranya terlihat seperti ingin berperang seakan membuat koridor yang sempit ini mejadi semakin sempit.


“Terus kau lihat apa lagi?” tanyanya tepat di depanku, karena aku tidak bisa mundur lagi atau aku akan terus mundur hingga ke lapangan rumput.


“Kau masuk ke ruang No. 3, ruang dokter mesin pengering” jawabku karena aku lupa nama dokternya, dia hanya memasang tampang kesalnya lalu berbalik.


“Sial, orang itu memanfaatkanku lagi”umpatnya lalu meninggalkan aku yang mematung, apa dia tau kalau aku hampir saja pipis di celana.


Aku memutuskan untuk kembali ke kelas, sudah ada Ms. Ruth, guru matematika kami, dia menatapku tajam “Habis dari mana kau?”tanyanya, “Kamar mandi bu, sakit perut”bohongku, dia masih menatap tajam lalu menyuruhku duduk. Gadis itu tidak kembali ke kelas, dia meninggalkan tas ungunya yang terlihat sudah terbuka, padahal dia tidak ada mengeluarkan bukunya, pasti perbuatan Melinda.


Pelajaran sudah usai, aku mengambil tas ku dengan tidak semangat, melihat tasnya yang masih tertinggal di kelas. Siapa yang peduli? Aku ingin pulang, makan hamburger dan tidur dikasur kecilku. Aku berjalan keluar menyusuri koridor yang sudah sepi, kenapa hati dan pikiranku selalu tak sejalan, aku kembali ke kelas dan mengambil tasnya, menuju gerbang sekolah, menunggu ibuku menjemput. Kulihat gadis itu berdiri di depan gerbang, menatap tasnya yang berada di tanganku.


“Ini tasmu” kataku mengulurkan tasnya, dia mengambil cepat tasnya dan pergi, bahkan dia tidak bilang terimakasih. Mobil van biru milik tuan Bresley terlihat di kejauhan, dia berhenti tepat di depanku, menurunkan jendela mobilnya yang memperlihatkan wajah bulatnya, ia mengisyaratkan untuk masuk, aku menurut saja.


“Ibumu tidak bisa menjemput, jadi dia memintaku menjemputmu”katanya.


“Seharusnya kau bilang terimakasih, lagipula aku akan jadi ayahmu sebentar lagi”


“Terimakasih” kataku. Apa gunanya membantu kalau dia tidak akan menghargaimu, seharusnya kubiarkan saja tasnya di dalam kelas dan dia bisa ambil sendiri. Aku menyandarkan badanku pada kursi, dan memejamka mataku, mencoba berpikir semua akan baik-baik saja.


Ibuku masih belum juga, aku selalu membawa kunci cadangan di sakuku karena ibu memang sering pulang malam. Aku melempar sembarang tasku, hari ini tidak ada apa-apa, tidak ada bola basket atau sebagainya, tapi aku merasakan kepalaku berat sampai benar-benar ingin tidur, padahal aku tidak biasa tidur siang.


Aku menatap danau kelam yang terlihat di antara hutan lebat, walaupun gelap tapi airnya terlihat sangat jernih. Aku berjalan di dermaga tua yang ditumbuhi tumbuhan menjalar, ingin menatap pantulan wajahku sendiri melalui air. Seorang gadis terlihat keluar dari dalam danau, tubuhnya agak berlendir namun aku tidak terlalu memperdulikan itu karena wajahnya sangat memesona seperti ada kilauan cahaya dari wajahnya, dia hanya menggunakan penutup dada yang terbuat dari kerang, bibirnya merah darah seperti delima, dia memanggilku, aku tanpa sadar mendekatkan kepalaku seperti terhipnotis, sedikit lagi wajahku menyentuh air danau sampai ada seseorang menarik kerah kaos ku menjauh dari danau, aku terlempar kebelakang, orang itu berdiri di depanku, rambutnya hitam panjang diekor kuda. Aku kembali tersadar. Melihat gadis danau tadi membuat otakku terasa kosong sampai ingin mengikutinya menuju danau.


Gadis danau itu terdengar menggeram, dia naik keatas bagai bayangan tapi hanya setengah badannya, setengahnya lagi tertahan di danau seperti ada perekat yang membuatnya tidak bisa keluar dari sana. Gadis rambut hitam tadi melepas tas ranselnya, gadis danau menyerang, tangan bayangannya terlihat memanjang


berusaha menariknya menuju danau, dia melawan dengan tas ranselnya, senjata yang bagus. Dia memukul ranselnya kekanan-kekiri, mencoba memberontak, namun selalu tembus, seperti memukul angin saja. Aku berdiri dari tempatku, mencoba mencari sesuatu yang  bisa kupakai untuk menolongnya, hanya ada batu kerikil kecil, aku melempari gadis danau itu, semua kerikil yang kulempar hanya menembus badannya, aku masih melempari kerikil


untuk mencoba mengganggunya dan malah mengenai si gadis rambut hitam, dia berbalik namun kembali fokus melawan gadis danau dengan ranselnya namun tetap saja selalu menembus, ini akan sia-sia. Aku mencoba mencari akal, gadis danau itu terlihat seperti bayangan gelap yang berarti dia hanya akan hilang saat malam hari.


“Bagaimana kau bisa menahannya sampai malam hari?” teriakku masih melempari kerikil. Dia berbalik, “Aku tidak tahu” balasnya berteriak. Aku mencoba melempari danau dengan kerikil, dia terlihat sedikit terganggu walaupun sedikit. Gadis itu sudah hampir terseret ke danau, aku mencari batu sebesar mungkin untuk kulempar ke dalam danau.


“Darrrrr” Aku melempar batu itu sekuat tenaga. Air terlihat membuat gelombang yan lumayan besar membuat gadis danau tadi melepaskan tangan bayangannya dari gadis itu.


“Lari” teriakku, gadis rambut hitam berlari menjauh dari danau, gadis danau terlihat mencoba menariknya lagi tapi tangannya tidak sampai karena setengah tubuhnya tertahan di danau, gadis danau itu kembali masuk ke danau dengan wajah yang terlihat marah. Gadis rambut hitam mendatangiku dengan tas ransel yang sudah hampir putus talinya.


“Kau”teriakku, dia hanya menoleh bingung.


“Kenapa? Ahh… tasnya harus diganti”katanya. Dia Marine, gadis yang muncul di mimpiku dan sekarang jadi teman sekelasku.


“Kau Marine?”tanyaku, dia langsung terkejut dan menoleh.


“Darimana kau tahu namaku?”tanyanya.


“Kita teman sekelas”jawabku.


“Aku tidak ingat, kita harus cepat keluar dari sini, sudah hampir malam” katanya berjalan duluan, aku hanya mengikutinya keluar dari hutan. Terlihat cahaya-cahaya kecil di kejauhan, kami hampir sampai hanya saja ini bukan di hutan lagi lebih seperti taman bermain hanya saja terlihat lebih cerah dominan warna pink dan biru muda. Kami masuk melewati gerbang, ada penjaga berbadan besar yang berjaga di kiri-kanan gerbang, mereka mengenakan seragam pink dengan pita biru dilehernya, celananya terlihat seperti celana badut, mereka membiarkan kami masuk dengan senyum ramah lalu kembali menutup gerbang.


Ak terdiam begitu masuk, suasana yang amat berbeda, taman bermain ini di penuhi awan, bahkan langit-langit tak lagi gelap, semuanya berwarna pink biru, aku seperti berjalan di atas kabut tipis, awan di sekelilingku, begitu banyak taman bermain dan terlihat taman permen menjulang tinggi di kejauhan. Ini seperti dunia khusus anak-anak.


“Hei sedang apa? Ayo sini!” katanya berbalik, menatapku yang masih terdiam mengamati sesuatu yang terlihat tidak masuk akal ini. Aku berjalan mengikutinya, dia memperkenalkan segalanya dengan ramah, sangat berbeda dengan Marine yang kukenal disekolah, gadis bermata panda, dengan wajah datarnya.


Dia terlihat berhenti di depan salah satu toko “Dream Store”, dan menyapa salah satu pegawai yang berjaga. Dia menggenakan seragamnya, seragam putih dengan pelangi kecil di dadanya, seragam yang waktu itu dipakai dokter dan suster di gedung tua itu.


“Kau ingin beli mimpi seperti apa?” tanyanya, aku tidak mengerti maksud dari ucapannya.


“Beli apa?” tanyaku.


“Kalau kau kemari berarti kau seorang Lucid Dreamer”, jawabnya, aku sudah tahu mengenai Lucid Dream, orang yang bisa mengendalikan mimpi kan.


“Maksudmu aku bisa mengendalikan mimpiku?” tanyaku lagi.


“Pengendali mimpi itu sebenarnya membeli mimpinya, jadi kau bisa dapatkan mimpi sesuai yang kau ingin kan, tapi kau harus membayar” katanya menunjukkan botol-botol kecil berisikan bubuk di lemari-lemari kaca di belakangnya.  Tertulis banyak hal di kertas kecil yang di tempel pada botolnya, mulai dari “Mimpi berkencan dengan kekasih”, “Mimpi menjadi aktor” sampai “Mimpi menjadi orang paling kaya sedunia”, aku menatap botol-botol kecil itu tidak percaya, di belakangku ada seorang laki-laki yang terlihat mengantri.


“Kau tidak punya Sterea kan? Menyingkirlah kesamping” katanya, aku langsung menurut saja. Laki-laki itu maju dengan sekantong koin pink-ungu transparan yang di letakknya di atas meja.


“Hei..Thomas, Ingin mimpi apalagi?”tanya gadis itu.


“Hmm..ini boleh juga”katanya menunjuk botol kaca yang bertuliskan “Mimpi menjadi aktor”, gadis itu langsung memberikan botol itu.


“Oke, Stereanya pas, datang lagi nanti” kata gadis itu, laki-laki itu langsung pergi, aku hanya menatap mereka bingung. Gadis itu lalu bergeser tepat di depanku.


“Ingin coba?” tanyanya, “Akan kuberikan satu gratis, tapi jangan bilang-bilang”


“Coba apa?” tanyaku.


“Anak laki-laki biasanya datang kemari untuk  meminta mimpi itu” katanya, aku tahu dia sedang menggodaku.


“Aku masih dibawah umur” jawabku, dia langsung tertawa.


“Kami tidak mungkin menjual yang seperti itu bodoh” katanya.


“Kau bilang anak laki-laki sering minta mimpi itu” jawabku.


“Hmmm.. sebenarnya sih bisa, hanya saja kau harus minta sendiri, kami tidak memajang nya disini, kau tertarik?” tanyanya lagi.


“Tidak, yang itu saja”aku menunjuk botol yang bertuliskan “Mimpi makan malam keluarga”, dia langsung mengambil botol itu untukku.


“Yakin tidak ingin mimpi lain?” tawarnya, aku menggeleng, “Ini, taburkan saja di atas kepalamu, maka kau akan bermimpi indah”