Sacred Hoops

Sacred Hoops
BAB 1 AWAL MULANYA SEPERTI INI



Hai namaku Patrick McFlurry, ya seperti nama sebuah makanan terkenal dan memang nama itu terinspirasi dari ibuku yang bekerja di McRonald dengan penuh cinta terhadap pekerjaannya, dan sekarang nama itu benar-benar menjadi salah satu menu di McRonald, ibuku sangat senang sampai dia menempel poster menu itu di setiap dinding ruangan tapi sekarang restoran itu sudah menjadi rongsokan karena gasnya yang meledak, syukurnya ibuku tidak bekerja saat itu jadi masih baik-baik saja sampai sekarang, dia masih bekerja di McRonald hanya saja di


pindahkan ketempat yang lebih jauh, jadi aku dan ibuku akan pindah hari ini.


Kalian tanya di mana ayahku? Dia mungkin sudah di makan beruang liar, hanya itu yang ada di pikiranku saat kau benar-benar membenci seseorang maka kau akan berharap bencana buruk akan datang padanya, semoga Tuhan mendengar permintaanku. Aku tidak pernah bertemu dia semasa hidupku jadi kau tahu betapa bencinya aku dan kupikir dia tidak pernah ada di dunia ini, walaupun ibuku yang kucintai selalu bilang jangan menyumpahi ayah, aku akan tetap menyumpahinya sampai aku benar-benar bertemu langsung dengannya untuk melemparnya dengan rongsokan McRonald tempat ibuku bekerja dulu. Hari ini kami akan pindah ke kota Bristol, tempatnya tidak jauh dari sekolah ku sekarang, jadi lebih mudah dan biaya sewanya lebih murah dari tempat kami sekarang hanya saja tempatnya lebih sempit tapi itu tidak masalah bagiku.


“Patrik….dimana jaket bulu ibu?” teriak ibuku dari dalam rumah. Aku sedang berada diluar, mengambil kardus dan ransel ku dari dalam van biru milik tuan Bresley.


“Ada di kursi mobil, tapi aku sedang bawa kardus dan ransel” jawabku pada ibuku yang sedang berada di dapur.


“Ibu ambil sendiri”jawabnya dari arah bawah terdengar jauh, karena aku sudah berada di lantai atas, di kamar kecilku.


“Ayo jangan tidur, ibu buatkan bubur kacang merah kesukaanmu”kata ibuku, kepalanya muncul di balik pintu dengan senyumnya yang hangat. Aku bergegas menuruni tangga dan sudah ada tuan Bresley duduk dengan koran di lengannya, seperti rumahnya saja, aku tidak bilang kalau aku tidak menyukainya, hmm dia banyak membantu kami hanya saja aku berpikir dia tidak akan cocok dengan ibuku.


“Aku akan makan nanti malam” kataku kembali naik ke atas mengambil benda kesukaanku. Kau pikir apa permainan yang akan disukai anak laki-laki saat ini? tentu saja Skateboard, semua anak laki-laki akan suka ini. aku bergegas mengambil papan skateboardku dan turun melalui pinggiran tangga dengan meluncur. Berjiwa bebas.


Matahari sudah hampir terbenam, aku berniat untuk menghafal area wilayah ini bukannya harus tersesat di tempat yang sudah kulalui 3 kali, di depan sana ada Tomie dan geng nya sedang memalak bocah berkacamata berambut orange. Tomie teman sekolahku, namun dia bukan teman yang baik, aku tidak tahu siapa yang dia palak. Aku tidak mungkin kesana, aku harus memutar balik, jangan sampai dia melihatku.


“Hei, bocah laut kemana kau” teriaknya dari ujung sana, dan kutahu itu suara Tomie, habis lah aku. Aku berbalik, melambaikan tanganku dan tersenyum kikuk.


“Hai juga, aku harus makan malam” jawabku berbalik dan langsung menggunakan skateboardku.


“Kejar dia” kudengar Tomie memerintahkan temannya untuk mengejarku dan dia masih saja memalak anak tadi, syukur saja jalannya menurun jadi mereka tidak bisa mengejarku dengan sepeda mereka. Kali ini aku tidak tersesat, kulihat mobil tuan Bresley masih terparkir di depan rumahku dan dia kelihatannya sudah ingin pergi. Mungkin hari ini aku masih selamat, tapi besok adalah mimpi burukku di sekolah.


Aku terbangun dengan keringat mengucur dari dahi hingga perutku dan membuat kaosku basah. Hari ini umurku tepat 11 tahun, tapi aku malah bermimpi buruk, aku melihat Tomie dan temannya yang melemparkan bola basket seukuran kursi dengan tawa jahatnya, mungkin mimpi itu akan jadi kenyataan hari ini, karena itu yang selalu terjadi sebelumnya, kalau aku bermimpi buruk maka itu akan jadi kenyataan. Aku tidak ingin hari ulang tahunku menjadi mimpi burukku.


“Nak, tidak sekolah? Bajumu basah…. kenapa?” tanya ibuku yang panik memasuki kamar dengan nampan berisi roti selai strawberry dan susu putih hangat.


“Hanya mimpi buruk”jawabku dan ibuku terlihat lebih panik lagi karena dia tahu kalau mimpi burukku akan jadi kenyataan.


“Seperti apa?” tanyanya lagi sambil memegang tanganku.


“Temanku melempariku bola basket sebesar kursi, dan dia orang yang kutemui kemarin di taman saat bermain skateboard” jawabku, raut wajah ibuku mulai melembut.


“Ingin pindah sekolah?”tanyanya.


“Bu, aku sudah banyak merepotkan jadi tidak usah” jawabku.


“Hadiah ulang tahun”jawabnya lagi dengan senyumnya. Aku masih bingung mengapa ayahku meninggalkan wanita yang lemah lembut ini, dia bahkan selalu menuruti apa yang ku minta.


Ibuku mengantarku ke sebuah bangunan tua, dindingnya masih terbuat dari batu bata dan baunya seperti lumut basah, di dalamnya ada kira-kira 4 ruangan dengan tirai-tirai putih, terlihat seperti rumah sakit. Di setiap ruangan ada papan kayu berukir nama yang di taruh diatas tirai, semua namanya bergelar Dr. apa ibuku akan mengantarku ke rumah sakit jiwa?


“Bu, kita dimana?” tanyaku. Ibuku masih mengambil tiket antri, terlihat ada 3 orang yang antri lebih dulu, di depanku ada seorang anak perempuan mengenakan hodie hitam, bawah matanya terlihat berkantong seperti punyaku, mungkin dia kurang tidur.


“Membuatmu dapat bermimpi indah”jawab ibuku, dia menyuruhku duduk di belakang anak perempuan tadi dan di belakangku sudah ada anak laki-laki lain, rambutnya orange terang, badannya kurus dan mengenakan baju hijau bergambar kodok, dia yang di palak Tomie kemarin.


“Hai, kau mengantuk?”tanya gadis itu tiba-tiba, mungkin karena melihat bawah mataku yang sama gelapnya dengannya.


“Hmm…tidak, tadi malam aku tidur hanya saja bermimpi buruk”jawabku.


“Uhh…sial kalau kita harus menahan ngantuk karena tidak ingin mimpi buruk”keluhnya, apa dia bisa membaca pikiranku, atau dia juga mengalami masalah yang sama? “ NO. 2, RUANG 3” teriak petugas wanita yang mengenakan baju putih bergambar pelangi kecil di sudut bawah kerahnya, maksudku di wilayah yang biasanya ada


kantongnya.


“Aku masuk dulu” katanya, dia hilang dia balik tirai putih nomor 3, ruang Dr. Drinner Mashcine, terdengar seperti nama pengering pakaian.


Beberapa menit kemudian, wanita itu meneriaki namaku untuk menuju ruang no.2, ruang Dr. Louder Dutchwell, kenapa nama mereka semua terdengar asing. Aku melewati wanita tadi, ia menatap tanpa ekspresi, bintik-bintik di wajahnya semakin terlihat jika di lihat dari dekat, dan di bajunya tertulis Ms. Magenta. Aku membuka tirai dan terlihat seorang pria tua bertubuh gemuk duduk dengan santainya sambil menyeruput minumannya, dia menggunakan seragam yang sama, seragam putih dengan pelangi kecil di dadanya, dia menurunkan sedikit kacamatanya untuk melihatku lebih jelas, mungkin dia rabun dekat. Dia memintaku duduk dengan cara menepuk pelan mejanya, wajahnya masih terlihat tenang.



“Ada masalah apa?”tanyanya dengan suara beratnya yang terdengar lembut tapi juga dalam, suaranya seperti terdengar jauh di ujung ruangan.


“Hmmm.. tidak ada”jawabku kikuk, dia hanya mengerutkan keningnya.


“Ibumu membawa mu kemari, berarti ada masalah anak pintar” jawabnya masih dengan raut wajah yang tenang.


“Kupikir aku bermimpi buruk” jawabku dan dia hanya mengangguk, dia seperti terbiasa menangani hal sepert ini, pergi ke dokter karena bermimpi buruk, hal yang tidak masuk akal.


“Ingin mengendalikan mimpimu?” tawarnya, “Kau tidak akan bermimpi buruk lagi”


“Memangnya bisa?”tanyaku.


“Tentu bisa”


“Oke, boleh juga” inilah awal dari kebodohan ku.