Sacred Hoops

Sacred Hoops
BAB 3 PERTARUNGAN TAK TERLIHAT MEMBUATKU MASUK PUSAT REHABILITASI



Aku kembali terbangun diatas tempat tidurku, baju dan kasurku basah seakan aku baru saja mimpi buruk, aku ingat dimimpiku, kami makan bersama, aku, ibu, dan ayahku dengan kumis tipisnya, rambutnya coklat terang seperti milikku, kami makan bersama seperti dia tidak pernah meninggalkan keluarga ini, andai ini kenyataan, tapi aku ingat darimana aku mendapat mimpi itu, Marine. Aku terus bertemu dengannya dalam mimpi.


Sekarang sudah jam 7 malam, tidak ada suara apapun dirumah, berarti ibuku belum pulang juga. Aku turun dari tangga, semuanya terlihat kosong, bahkan meja makan masih terasa dingin. Diluar sedang hujan petir, aku takut ibuku tidak bisa menyetir dengan benar, apalagi suasana hatinya sedang buruk. Terdengar suara dari luar, bunyi mobil. Aku segera menuju ruang, memastikan kalau benar-benar ada orang di luar rumah. Itu mobil ibuku, dia langsung berlari membuka pintu. Aku begitu terkejut, baju ibuku basah kuyup seperti dia baru saja kehujanan, padahal ibuku bawa mobil. Aku kembali melihat keluar dan baru sadar kalau atau mobil ibuku sudah tidak ada, seperti di makan mahkluk yang besar sekali dengan gigi tajam karena seperti ada bekas gigitan pada atap mobil besi kami, siapa yang sanggup melakukan ini?


“Patrick…cepat masuk kamarmu, jangan keluar, dan gantung ini di dalam kamarmu” kata ibuku memberikan benda berbentuk bundar dengan jaring-jaring ditengahnya, ada bulu berwarna putih ditengah-tengah jaring, aku sepertinya pernah lihat ini, ini penangkal mimpi buruk, Dream Catcher.


“Untuk apa ini? aku tidak bermimpi buruk” kataku.


“Cepat masuk dan pasang saja, kalau ada yang mengetuk pintu jangan keluar walaupun kau dengar suara ibu” katanya lalu menggantung Dream Catcher itu di segala ruangan. Aku masih bingung, apa yang ditakutkan ibuku?


Petir berpendar, hujan semakin deras, kelihatannya akan ada badai besar. Suara dentuman terdengar keras dari arah pintu, aku langsung keluar kamar dan turun dari tangga. Ibuku terlihat berjaga dipintu dengan Dream Catcher yang dia gantungkan pada tangannya.


“Ibu kenapa?” teriakku.


“Patrick.. cepat masuk kamar, cepattt” teriak ibuku, seketika itu juga pintu terdobrak dengan kencang, ibuku terpental kebelakang, kepalanya terkena dinding, darahnya membekas di pada dinding corak bunga camelia, dia masih saja berkata “ Patrick masuk kamar” katanya pelan, aku tidak mungkin masuk kamar, aku menuruni tangga


dan melihat ibuku sudah pingsan, udara dingin dari luar terasa sangat kencang seperti memang ada badai, petir menggelegar, terlihat bayang-bayang hitam diluar pintu, aku terkejut. Bayangan hitam masuk melalui pintu, wajahnya tidak ada, hanya bayangan hitam yang besar menjulang, tangan-tangannya memanjang hendak menangkap ibuku. Aku berlari mengambil pisau ke arah dapur, dan melompat ke depan ibuku. Bayangan itu tertawa, dia tidak punya mulut tapi tawanya terasa sangat menggelegar. Aku mencoba mengibaskan pedangku tapi dia bayangan jadi hanya akan sia-sia karena tusukan ku hanya menembus badannya. Ini persis seperti di mimpiku.


“Mundur” teriak seorang gadis dari arah luar pintu, dia belari ke depanku. Ini benar-benar seperti di mimpiki, apa mimpiku jadi kenyataan lagi. Marine berdiri di depanku dengan memegang tas ransel di depannya, matanya seakan mencari sesuatu untuk dijadikan senjata.


“Dream Catcher, ambil itu, aku akan menahannya” katanya, aku langsung berlari menuju ruang makan, mengambil Dream Catcher dan melemparkannya pada Marine, dia menangkapnya dan menunjukkannya pada monster bayangan, dan lagi-lagi bayangan itu tertawa, tertawa lebih keras lagi.


“Kenapa tidak bekerja?” kata Marine masih menunjukkan Dream Catcher itu.


“Itu untuk apa?” tanyaku, aku masih menggunakan pisauku yang terus menembus badannya, bayangan itu hanya tertawa seakan dia hanya bermain dengan kami.


“Ini untuk menangkapnya, pisau itu tidak akan berguna meskipun kau menusuknya jutaan kali”katanya.


“Iya aku tahu ini tidak akan bekerja, tapi bagaimana cara kerja benda itu?” tanyaku menunjuk Dream Catcher yang masih dia pegang.


“Hanya bisa di lakukan oleh para penangkap, dan mereka sudah habis terbantai” jawabnya.


“Jadi bagaimana?” tanyaku, apa kami harus menunggunya sampai pagi, saat cahaya muncul, itu tidak mungkin, kami akan mati bersama sebelum matahari terbit, bahkan kami bisa saja mati dalam 5 menit. Bayangan itu sudah tidak tertawa lagi, membuatku dan Marine semakin melangkah mundur karena bayangan itu semakin mendekat, aku mencoba melindungi ibuku karena bayangan itu terlihat ingin mengambil ibuku. Tangan panjangnya mencekik Marine dan mendorongnya kebelakang menghantam dinding, dia berusaha melepas tangan hitam itu, tapi tidak berhasil, tangan satunya melemparku ke samping dengan keras hingga dahiku terkena kaki meja, tapi hanya luka kecil, aku mencoba berdiri, Marine masih mencoba melepas pegangan bayangan hitam.


“Ambil ini” katanya melempar Dream Catcher itu padaku, aku mengambilnya.


“Bagaiamana cara kerjanya? Apa ada tombol disini?” aku masih melihat Dream Catcher itu, tidak ada apa-apa, bagaimana benda ini bisa melawan mahkluk itu?


Makhluk itu terlihat tak peduli padaku, mungkin dia tahu aku memang tidak ada gunanya. Dia mengambil ibuku dan Marine, aku harus apa? Percuma jika gunakan pisauku, yang ada dia malah membuatku mati, tapi aku tidak bisa membiarkan dia membawa ibuku, aku harus lakukan sesuatu, walaupun aku mati setidaknya aku aku sudah lakukan sesuatu.


“Hei monster jelek” teriakku, dia berbalik, mungkin dia tidak suka di bilang jelek. Aku tidak bisa berpikir apapun.


“P-p-pakai.. i-itu” kata Marine terbata-bata, nafasnya hampir habis. Aku menunjukkan Dream Catcher itu , dia mendekat, aku harus apa?


“KUTANGKAP KAU MONSTER…AAAAAAA……” teriakku.


Aku membuka mataku, badai petir sudah usai, Marine dan ibuku terlihat tergeletak dilantai. Aku berhasil, aku berhasil. Aku menatap Dream Catcher itu dengan ngeri, berarti bayangan itu sudah terserap kedalamnya. Aku menatap ibuku dan Marine yang tergeletak dilantai, tidak mungkin aku membawanya seorang diri ke dalam kamar.


“Kenapa bisa seperti ini?” kata tuan Bresley memasuki pintu kami yang sebenarnya sudah tanpa pintu, hanya dia yang bisa ku mintai tolong.


“Bantu aku bawa ibuku” kataku, aku mengangkat Marine ke kamarku karena kamar ibu pasti tidak muat, tuan Bresley masih menatapku seperti bilang “Kau berhutang cerita padaku”, aku membaringkan Marine di kasurku yang sudah mengering, lingkar di bawah matanya semakin terlihat jika di lihat dari dekat, kupikir dia tidak tidur beberapa hari. Sekarang sudah hampir jam 9, yang berarti kami melawan bayangan itu selama hampir 2 jam, aku tidak tahu betapa melelahkannya ini sampai aku ingin tertidur tapi ada Marine di kasurku. Aku memutuskan turun dari tangga, mungkin aku bisa tidur di sofa depan. Tuan Bresley terlihat menunggu ditangga, mungkin dia mengira ada beruang atau sejenisnya karena pintu kami yang sudah tidak berpintu, bahkan aku bisa melihat jalanan gelap yang hanya


disinari lampu jalanan melalui pintu itu.


“Aku sangat lelah, kau tidak akan percaya apa yang kukatakan, sebaiknya kau pulang saja, ini sudah malam, aku


sudah tidak kuat” kataku, lalu membaringkan diri di sofa, aku tidak tahu tuan Bresley pulang atau tidak, tapi keliatannya dia pulang.


Aku kembali lagi kesini, tempat wahana pink-biru dengan awan yang mengelilingiku. Semua orang terlihat sibuk, berlarian kesana-kemari, aku bisa melihat dari jauh toko yang kudatangi kemarin, aku harus kesana, tapi ada tulisan tutup saat aku sudah disana. Orang-orang masih berlarian, terdengar suara auman hewan dan teriakan dari luar. Seseorang menabrakku.


“Aww” katanya, dia yang menabrak tapi dia juga yang jatuh.


“Kubantu kau berdiri” kataku mengulurkan tanganku, dan lagi-lagi dia, Marine, apa kami selalu ditakdirkan bertemu setiap saat.


“Kau yang kemarin kan, toko sedang tutup” katanya.


“Aku sudah lihat, kenapa kalian sibuk sekali?” tanyaku memperhatikan orang-orang yang masih sibuk membawa berbagai buah-buahan dan sayur yang mereka taruh diatas nampan besi.


“Akan ada ritual, kau sebaiknya ikut aku kepondok” katanya, aku menuruti karena tidak ada orang lain yang kukenal selain dia. Dia terlihat tidak mengingat apapun hal yang terjadi padanya dan bayangan hitam di dunia nyata, dan dia juga seperti orang yang benar-benar berbeda di sini.


Kami sampai disebuah kuil besar yang terbuat dari marmer putih, tiang-tiangnya lumayan tinggi, dengan ukiran-ukiran yang tidak kumengerti menghiasi pintunya, bangunannya terlihat seperti istana negara, dikejauhan terdengar irama aneh dan bunyi lonceng-lonceng. Di kuil sudah ada kerumunan orang-orang berjubah putih yang terlihat membawa buah-buah dan sayuran segar diatas nampan, menaruhnya di depan sebuah patung besar, sebuah patung wanita yang terbuat dari marmer putih, dia mengenakan mahkota emas berbentuk laba-laba berhias berlian yang terlihat berwarna merah karena pantulan cahaya bulan merah dari lubang besar diatas kuil.


“Kuil apa ini?” tanyaku.


“Kami menyebutnya tempat perkumpulan, ini pondok merpati” jawabnya. Dia bersujud, dia terlihat mengucapkan mantra yang tidak kumengerti. Mereka semua mengucapkan kalimat yang sama, seorang wanita memimpin mereka, aku harus apa? Apa aku harus mengikuti mereka juga?


Mereka semua mengucapkan hal yang sama, melakukan gerakan aneh dengan bulu-bulu di lengan mereka lalu menebar manik-manik warna-warni di lantai. Aku ikut bersujud tapi tidak melakukan apapun. Mereka terlihat sudah selesai melakukan ritual mereka, Marine lalu berdiri dan ikut mengajakku berdiri, semua orang menatap ke arah kami.


“Ada orang baru tapi dia belum diresmikan” katanya. Mereka semua bertepuk tangan, sepertinya mereka senang kalau ada orang baru. Mereka lalu membentuk 2 kubu, seorang wanita memimpin di depan mereka. Marine terlihat masuk ke salah satu kubu.


“Saya Lalula, kami dari klan merpati. Marine terimakasih sudah membawa orang baru kemari” kata wanita berjubah putih, rambutnya panjang berwarna coklat terang, banyak perhiasan di lengannya. Marine mengangguk.


“Saya Mantaruk, kami dari klan penenun” kata seorang pria, badannya tinggi, rambutnya orange terang, dan banyak menggunakan gelang manik-manik berbagai bentuk dan warna. Aku masih tidak mengerti ini, mimpi ini terlalu nyata untuk di bilang mimpi.


“Dia masih terlihat bingung, Marine kau ajak dia berkeliling besok, tunggu klan bintang dan bulan menyelesaikan ritual mereka, untuk sementara kau bisa tinggal disini” kata wanita yang benama Lalula tadi.


☼⸙○


Sudah pagi, kurasakan air dingin menyentuh kulit wajahku, sudah ada Marine di depanku, ia memegang botol air mineral dingin yang dia gunakan untuk membangunkanku. Rumah masih kacau, pintu masih terbuka karena


memang tidak bisa ditutup lagi. Aku berlari menuju kamar ibuku, dia masih belum bangun, Marine berdiri di belakangku dengan ekspresinya yang memang susah ditebak. Ibuku menggerakkan tangannya, aku langsung menggenggamnya, aku tidak tahu harus apa kalau keluargaku satu-satunya pergi. Ibuku terbangun dan langsung mendekapku.


“Kau tidak apa-apa?” tanyanya, menyentuh lengan, badan, dan luka kecil yang tertinggal didahiku kemarin karena terkena kaki meja.


“Dahi mu tidak apa-apa? Tanyanya lagi.


“Aku tidak apa-apa” jawabku tersenyum. Ibuku melihat Marine yang berdiri dibelakangku, ibuku pasti tidak tahu kalau dia juga ikut melawan monster bayangan kemarin karna dia pingsan sebelum Marine datang.


“Klan merpati?”tanya ibuku menatap Marine, aku sebenarnya tidak mengerti tapi itu sama dengan yang ada di mimpiku tadi malam.


“Iya, darimana anda tahu? Tanya Marine, dia langsung mendekat kesampingku. Ibuku mengeluarkan seperti cincin dari batu yang dia keluarkan dari kantong berbahan goni, warna besinya hitam dan ada batu merah mengkilap di tengahnya. Marine terlihat kaget.


“Ambil ini, jangan sampai hilang” kata ibuku pada Marine, ia langsung mengambil dan menaruhnya dalam tas ranselnya.


“Apa itu?” tanyaku, Marine menengok “Nanti saja” katanya,


“Pergi ke alamat ini, tuan Bresley akan mengantar” kata ibuku lagi. Aku tidak mengerti yang mereka katakan, tapi


keliatannya mereka sudah tahu apa yang terjadi.


“Baik” kata Marine. Dia menyuruhku untuk menelpon tuan Bresley.


Suara klakson mobil terdengar dari luar, aku ingat kalau aku ada hutang cerita dengannya. Melinda langsung keluar, aku tidak mungkin bisa meninggalkan ibuku, apalagi setelah kejadian aneh tadi malam, aku terduduk menggenggam tangan ibuku.


“Pergi bersama gadis itu, mereka mengincarmu, ibu akan baik-baik, ini ada hadiah untukmu, maaf tidak bisa membelikan kue” katanya pelan, dia mengeluarkan cincin dengan batu putih, aku mengambilnya dan memasukkannya dalam saku bajuku.


“Siapa maksud ibu? Kenapa mereka mengejar kita?”tanyaku, kini aku sudah menangis. Ibuku memegang wajahku, mengusah pipiki yang basah.


“Jangan menangis, ibu tidak mengira mereka akan mengejar kita, kau harus hidup dan ibu akan hidup disini” katanya, dia melepas genggaman tanganku. “Pergi Patrick, mereka tidak mengincar ibu lagi” katanya lagi.


Aku menuju kamarku, mengambil jaket dan turun menuruni tangga, kulihat Marine sudah berdiri di ambang pintu, dia meminta agar aku cepat. Tuan Bresley langsung mengantar kami, kelihatannya dia membicarakan sesuatu dengan Marine, tuan Bresley terlihat terus menengok kaca spion, dia melajukan mobilnya seperti kami sedang di kejar seseorang. Tiba-tiba sesuatu menghantam sisi mobil dengan keras, sehingga membekas di mobil, bentuknya


seperti lengan yang besar, aku terkejut, tuan Bresley kaget, dia lalu kembali terfokus melajukan mobilnya, Marine terlihat memeluk erat tas ranselnya, aku berusaha fokus dan tidak bertanya, aku tahu itu hanya akan menganggu mereka. Kami berhenti di depan rumah kecil, tuan Bresley menyuruh kami keluar. Kami berusaha masuk tapi pintunya terkunci, tuan Bresley berusaha mendobrak pintu, dan akhirnya terbuka, dia menutup pintu dengan meja dan kursi, terlihat mobilnya di luar yang terhantam tiba-tiba, Marine mengajak ku lari seperti mencari suatu ruangan.


“Kesini” katanya menarik lenganku. Tuan Bresley masih menahan pintu, dia terlihat seperti menahan sesuatu yang besar untuk masuk.


Aku melihat seorang pria terbaring di atas kasur, tubuhnya kurus kering, jenggot dan kumisnya belum di cukur, dia seperti tertidur lama. Marine mendekatkan telinga ke arah wajah pria itu, “Masih bernafas” katanya, dia lalu keluar memberitahu tuan Bresley kalau pria itu pingsan.


“Harus kita apakan dia?” tanyaku.


“Kita harus bawa dia, tapi kita tidak akan sanggup” jawabnya, walaupun pria itu kurus tapi kami hanya 11 tahun, tidak akan kuat membawa seorang pria apalagi ada sesuatu yang besar menunggu kami di luar. Darrr… terdengar suara dari arah pintu, tuan Bresley sudah terpental kebelakang, pintu sudah lepas dan aku tidak melihat apapun, seperti pintu itu terlempar dengan sendirinya. Marine melepas kalung milik pria itu, kalung dari akar-akar pohon dan ada seperti lilitan putih ditengahnya.


“Pakai ini” katanya memberikan kalung itu.


“Untuk apa?”


“Cepat pakai saja” katanya, aku memakai kalung itu, Marine memintaku keluar, aku menuruti dan seketika terdengar suara teriakan besar lalu menghilang.


“Apa itu barusan?” tanyaku, Marine berlari mendatangi tuan Bresley, dia terlihat kesulitan untuk berdiri. “Akan ku antar kalian, kita bawa tuan Hemerus, kalian tunggu di mobil” katanya. Kami berlari ke luar, melihat mobil tuan Bresley yang sudah kehilangan atapnya seperti mobil ibuku, mungkin monster itu suka mengambil atap mobil. Tuan Bresley membawa pria itu keluar, menaruhnya di kursi belakang bersamaku. Kami melesat lurus, jalannya sepi hanya ada pohon pinus menjulang tinggi di sepanjang jalan, jalannya semakin gelap karena awan yang semakin mendung, kami akan kebasahan jika tidak cepat-cepat.


Kami berhenti di depan sebuah gerbang kayu yang terlihat tua, tuan Bresley berteriak.


“Ini Bresley, buka gerbang cepat” teriaknya, pintu gerbang pun terbuka, kami harus menyusuri jalan kecil lagi, tuan Bresley terlihat memberi pesan kepada penjaga gerbang, mereka terlihat memasang sebuah gembok berwarna emas, dan membaca sesuatu dari buku tua yang mereka bawa.


“Sudah aman” kata Marine dan tuan Bresley bersamaan, mereka menghela nafas.


“Apa itu tadi?” tanyaku.


“Nanti saja di asrama, ceritanya terlalu panjang” kata tuan Bresley masih melajukan mobilnya di jalan kecil berbatu ini, membuat kami semakin lambat, bisa-bisa kami kebasahan karena awan semakin mendung. Aku bisa melihat sebuah gedung besar tua dari kejauhan. Kami berhenti di depan gedung tua itu, ada tulisan di atas gedungnya “ Pusat Rehabilitasi”, oke mereka berpikir aku pecandu dan aku akan masuk ke pusat rehabilitasi, apa tidak ada yang lebih buruk dari ini?