Rumaysha

Rumaysha
Bab. 5 Mengenang kembali



Sepulang dari butik Rumaysha langsung menuju Masjid tempat ia mengajar TPA. Sebuah Masjid yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, kira-kira 200meter dari rumahnya.


Satu setengah jam Rumaysha mengajarkan anak2 mengaji, menghafal surat pendek dan hadits pendek dan amalan2 ibadah.


Menjelang Maghrib Rumaysha baru tiba di rumahnya yang masih kosong. Ibu dan kakak laki-lakinya Bang Ilham belum pulang bekerja, sedangkan Raisya katanya pulang telat karna masih di rumah teman sekolahnya.


Hingga Isya tiba, anggota keluarga mereka satu persatu pulang. namun, Rumaysha hanya menjumpai Raisya yang langsung masuk kamar, dan Ibu yang sengaja ke kamar kedua gadisnya untuk menyapa.


"Kalian sudah makan? ini ibu bawakan martabak keju susu.." Ibu mengulurkan plastik berisi kotak martabak.


"Asheeek.. aku bawa ke luar ya ka?" Raisya melompat hampiri Ibunya dan meraih martabak kesukaannya.


"eeeh.. sini, Kaka minta 3potong dulu" Rumaysha segera merampas martabak dari tangan adiknya, dan mengambil 3potong di taruh diplastik yang di gunakan untuk melapisi martabak.


Malam kian larut. Di sampingnya terbaring gadis muda memeluk guling, tak lain adalah Raisya. Rumaysha memang 1 kamar dengan Raisya. kipas angin yang menggantung di dinding menoleh ke kanan dan kiri, memberikan suasana sejuk malam itu.


tubuhnya lelah, tapi mata Rumaysha enggan terpejam, mengingatkan kembali masa SMP yang menurutnya memang kenangan terindah. Senyum manis terlukis di wajah ayunya. Terlebih di kelas 9.


**Flash back on


*Di ruang kelas berukuran 5m x 5m, riuh suara siswa siswi berseragam putih biru. Di baris pertama tepat di depan meja guru, siswa berkerudung putih dan teman2nya berkerumun membentuk kelompok. Di kelas itu hanya 1 siswa yang mengenakan hijab.


ya.. saat ini tengah pelajaran IPS, guru memberi tugas kelompok membuat peta dunia. 1 kelompok terdapat 6 orang. disana terdiri dari 3 siswa dan 3 siswi.


"jadi patungan berapaan?" tanya salah satu siswa*


"5000an per orang ya" jawab seorang siswa yang di tunjuk sebagai ketua kelompok


"buat beli spidol, kertas karton dll" lanjut Randi selaku ketua


"wah.. masih ada sisa tuuh!" celetuk siswa bernama Hanan.


"iya bener" Sahut Rangga siswa bertumbuh tambun tapi bersih terawat.


"Sisanya buat bikin es.. konsumsi.. hehehehe" jawab ketua kelompok.


"uangnya di kumpulin sama Maysha, tugas kalian yang cewe belanja.. okeh!"


" kalo gitu ada transport nya doong!" celetuk siswi berambut ikal sebahu, Marwah namanya. di ikuti anggukan 2 siswi lainnya. Maysha dan Riri.


"astaghfirulloohal'adziim.. tukang poto kopi tuh di depan gerbang sekolah. masa pake transport segala sih. dasar cewe gak mau rugi banget" celetuk Hanan.


Rumaysha menetap Hanan sambil tertawa kecil, penampilan Hanan terlihat rapih tapi omongannya selalu ceplas ceplos. dinikuti tawa teman2 yang lain.


Dikala jam kosong, ke 6 siswa siswi ini sering ngeriung di meja Rumaysha dan Marwah. Selain mengerjakan tugas dari guru, ada saja lelucon yang mereka buat, tebak-tebakan yang mebuta mereka tertawa lepas.


pertemanan mereka murni berteman, mengalir apa adanya. Tidak membedakan status sosial, membuat Rumaysha nyaman berteman dengan mereka. Mereka saling membantu kala kesulitan memahami pelajaran sekolah.


Walaupun mereka dipertemukan baru di kelas 9 ini, tapi teman-teman baru Rumaysha mampu membuat senyum gadis berhijab itu bersemi kembali. Tawa gadis itu renyah, sehingga menimbulkan tawa dari teman yang lain.


Gadis itu tumbuh remaja, polos, apa adanya. Dia bahagia memiliki teman-teman seperti mereka.


Marwah gadis yang ramah walau anak orang kaya, Riri gadis pendiam karna bicaranya cadel tapi asyik suka bikin tebak-tebakan.


Sedang di kubu siswanya Randi si ketua kelompok siswa paling cerdas di kelas tapi enggak sombong dan humoris rapih cuma sampai jam istirahat saja. Rangga, biasa di Panggil di Gendut, biar gendut tapi ganteng kulitnya putih bersih dan bibirnya ngepink. Sedangkan Hanan, siswa berpenampilan selalu rapih dari berangkat sekolah sampai pulang sekolah, tapi ceplas ceplos, isengnya gak ketulungan.


kriliiiiing... kriliiiiing... kriliiiiing...


beberapa menit kemudian mereka bertiga kembali ke kelas membawa es teh dan beberapa buah gorengan dijadikan 1 kantong plastik.


di depan pintu kelas Hanan sedang berdiri entah siapa yang dia cari. Marwah dan Riri memasuki kelas di ikuti Maysha di belakang karna pintu terhalang Hanan.


"Buat gua ya.. makasih!" dengan cekatan Hanan merebut es teh yang di bawa Rumaysha, gadis itu mengerjap karna hampir saja es nya tumpah. Hanan segera berlari ke dalam kelas.


"Hanaaaaan... es gue.." Rumaysha mengejar Hanan yang sudah duduk di kursinya sambil menyedot es teh hampir tandas.


"Udah mau abis.. Lo mau? niiih...!" Hanan menyodorkan plastik es yang isinya kurang dari setengah.


Rumaysha menatapnya tajam, marah, kesal. Ingin sekali gadis itu memarahinya.


"Lo tau gak siiih.. gue ngantri, kejempet-jempet. terus Lo main rebut gitu aja.. pokoknya ganti!!!"


gadis itu meluokan kekesalannya dengan suara bergetar, dengan deru nafas yang menggebu-gebu.


"Hehehehe.. sory may.. gue haus bangeeet"


"kenapa Lo gak beli sendiri?" Rumaysha masih berdiri di hadapan Hanan sambil melotot.


"hehehehe.. gue males ngantrinya"


Hanan segera bangkit sambil nyengir kuda dan melambai2-lambaikan tangan melangkah keluar kelas.


Teman sekelasnya yang lain tak menghiraukan keributan antara Hanan dan Rumaysha. Karna itu hal biasa terjadi, sebentar lagi juga haha hihi bareng.


Rumaysha tak menghiraukan tingkah Hanan, kemuadian mendirikan diri di kursinya.


"Nih.. roti gorengnya" ujar Marwah dengan suara pelan.


Ya.. Rumaysha tidak pernah marah dengan siapapun meski ia di sakiti. Tapi, entah kenapa Hanan selalu bisa membuatnya marah.


Rumaysha memakan roti gorengnya dengan nikmat bersama Marwah dan Riri. Tak lama kemudian Hanan mendekati nya dan menyodorkan es teh nya. Rumaysha dan teman2nya mendongak menatap Hanan bersamaan.


"eh ninja Hatori, nih es teh nya gue ganti" ujar Hanan dengan menyunggingkan senyum*.


"apa??? ninja Hatori??" Rumaysha reflex berdiri ketus


*Kriliiiiing... kriliiiiing... kriliiiiing...


bel berbunyi kembali, pertanda jam istirahat.sudah selesai.


Tatapan Rumaysha dan Hanan bertemu beberapa detik. Yang satu menatap kesal dan yang satu lagi menatap tanpa berdosa*.


"Hanaaan.. Kau sungguh ter-la-lu" Randi dan Rangga menepuk pundak Hanan dari sisi kanan dan kiri.


*Flash back off**


"Hanan.. kenapa kamu selalu begitu sama aku?"


matanya berat dan terpejam, menutup wajahnya dengan bantal.


*****


Salam dari Author 🙏🥰