
Rumaysha telah sampai di rumah Laila, sahabatnya sudah menunggu di depan pintu berwarna putih. Rumah bergaya minimalis modern. Laila gadis seusia Rumaysha bertubuh tinggi 160cm berkulit putih, mengenakan piyama kaos dan bergo menyambut sahabatnya sejak SMA dulu dengan senyum lebar.
"Assalamualaikum!" Ujar Rumaysha memasuki gerbang.
"Wa'alaikumsalam?" Jawab Laila menyambut tamu agungnya dengan cupika cupiki.
"Mana es cendolnya?" Tanya Laila menyambar plastik putih yang di bawa Rumaysha dan melongok ke dalam isi plastik.
"Eeh tapi tunggu dulu.. aku pinjem uang kamu, La. Aku belum bayar es cendolnya" sergah Rumaysha
"Lo belum bayar? Ngutang dong sama abangnya?" Tanya Laila minta penjelasan. Rumaysha hanya mengangguk sambil nyengir.
"Abis uang aku tinggal satu satunya. 50.000 gak ada kembaliannya" jawab Rumaysha.
"Yaudah masuk dulu. Nanti gue titip ke bi Inah aja skalian bi Inah pulang"ujar Laila
Laila membawa plastik es cendol menuju dapur dan diikuti Rumaysha dari belakang yang sesekali membenarkan letak kacamata minusnya.
Laila manaruh plastik di atas meja dan dan beranjak ke rak piring mengambil 2 buah gelas. Rumaysha menaruh tas dan buku nya di atas meja yang sama sambil mendudukkan tubuhnya di atas kursi.
Tak lama kemudian, suara motor terdengar dari arah gerbang yang tadi belum sempat di tutup rapat oleh Rumaysha.
Laila melongok ke arah jendela dapur matanya mengikuti ke arah suara motor.
"Looh... itu kan oom Hanan, kebiasaan ngedadak melulu datangnya!" segera membalikkan badannya dengan kedua tangan memegang 2 gelas dan 2 sendok.
"May.. sorry itu oom gue datang. Lo ke kamar aja duluan ya, nih bawa cendolnya sekalian!" Laila segera menyerahkan 2 gelas dan sendok tadi ke tangan Rumaysha dengan tergesa-gesa
"Loh.. ko kamu gak bilang sih..?" Rumaysha terlihat panik kerepotan membawa tas dan buku2nya.
"Udah tinggalin aja tas sama bukunya, nanti gue yang bawain" titah tuan rumah. Rumaysha mengangguk setuju dan segera berhambur menuju kamar Laila. Gadis berkacamata minus itu sudah hafal setiap sudut rumah sahabatnya itu.
Selang beberapa menit oom yang di maksud Laila sudah masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam.
Pemuda bertubuh tinggi 178cm, berkulit bersih itu bernama Hanan AlMakky, usianya 24th. Oom yang seusia dengan keponakannya.
"Assalamualaikuuum..?"
Pemuda berkaos putih dengan jaket biru hitam di lengannya celingukan mencari pemilik rumah hingga ke dapur.
"Wa'alaikumsalam.. ko datang gak ngabarin dulu sih, oom?" Sambil membawakan segelas air, terlihat penampilan oom mudanya yang berantakan karna perjalanan jauh.
"Emang kenapa? Gak boleh?"Jawab Hanan datar meraih gelas berisi air putih dingin dari tangan Laila, ia sudah faham minuman itu untuknya. Hanan menarik kursi untuk duduk dan meminumnya.
"Ada temen gue di kamar, dia mau nginep disini"
Hanan melihat tas berwarna krem dan buku di atas meja makan. Seperti nya dia pernah melihat tas itu.
"Ini tas temen Lo?" Tanyanya meyakinkan pertanyaan nya.
"Iya.." jawab Laila singkat
"Temen lo... pake jilbab krem, pake kacamata, badannya kecil?" Tanya Hanan memastikan lagi.
"Iya.. ko Lo tau, oom? Kaya dukun aja, Lo gak abis semedi di gunung Slamet kan?" Tanya Laila penasaran dengan mimik wajah serius.
"Ya gak laah.. gue semedi nya di sungai Citarum.." jawab Hanan nyolotasih dengan ekspresi datar, Laila cekikikan menutup mulutnya.
"Bilang sama temen Lu cendolnya udah gue bayarin" Hanan berdiri dan sambil meninggalkan Laila menuju ruang depan.
"Lo tadi ketemu temen gue di tukang es cendol?"
Laila faham, pasti tadi mereka sudah bertemu di tukang es cendol.
"iya" jawabnya singkat.
"Tar malem gua ke rumah Faqih, jadi temen lu bisa bebas ko disini, gua mau istirahat dulu" lanjutHanan tanpa menoleh.
"Asiaaaap..." Jawab Laila sambil membawa tas dan buku Rumaysha menuju kamarnya.
Hanan adalah paman Laila, namun sejak kecil mereka tumbuh bersama karna jarak usianya hanya terpaut 1tahun, Hanan anak bungsu dari neneknya yaitu Ambu Halimah. Papa Laila adalah anak sulung dari 6 bersaudara.
Papa Laila menikah dengan Mama Laila saat sang nenek muda menimang bayi mungil usia 4bulan. Setahun kemudian Laila lahir sebagai anak sulung. Jadi Laila dan Hanan di sebut cunak, cucu dan anak buat Ambu Halimah.
Selama SMP Hanan tinggal bersama keluarga Laila di Jakarta dan di biayai oleh kakak sulungnya yakni Papa Laila. karna Hanan seorang yatim sejak usia Balita. Tetapi ketika melanjutkan SMA Hanan ingin tinggal bersama ibunya di Bogor hingga sekarang. Dengan alasan ingin menjaga sang Ibu.
*flash back off.
*******
Di kamar Laila. Usai sholat isya, Rumaysha yang sudah melepas hijabnya menampakkan rambut hitam sepinggang dengan dress kaos dan legging, membenahi kasur Laila yang berukuran besar di lantai dan segera merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Di susul sahabatnya, si pemilik kasur empuk yang duduk sambil menyandarkan punggungnya tembok. Kasur itu tanpa dipan, tergeletak rapih beralaskan Permadi. Laila lebih suka perabotannya lesehan.
"May.. es cendol nya udah di bayarin sama oom gue katanya" ujar Laila
"Hmmmp.. omm kamu?" Mata Rumaysha membulat yang tadinya sudah sempat terpejam menatap Laila meminta penjelasan. Laila mengganggukan kepala.
"Tadi Lo ketemu cowok ganteng gak di tukang es cendol?" Tanya Laila
"Cowok ganteng?" Matanya menerawang ke langit kamar sambil mengingat-ingat.
"Iya tadi ada cowo yang nyelang pesenan aku, katanya dia udah haus banget. Itu oom kamu? Ko kaya seumuran kita?" Terkejut.
" Iya.. dia oom gue.. keren kan?" Ujar Laila merasa bangga, melirik Rumaysha yang membalas tatapannya.
"Ah biasa aja, " jawabnya sambil memejamkan mata kembali. Seingatnya, laki-laki yang ia temui tadi sore gak ganteng2 amat, lecek gitu.
"Waaah.. kayanya Lo harus ganti kacamata deh, may.. itu oom gue yang paling keren tauuu.." ujar Laila tak terima omm nya di bilang biasa saja.
Rumaysha tak menghiraukan ocehan sahabatnya yang memang cerewet sejak lahir
"Hey.. emang cowo ganteng versi Lo kaya gimana sih? Penasaran gue, semua cowok Lo bilang biasa aja. Lo normal kan?" Gadis berambut lurus sebahu itu menempelkan punggung telapak tangannya di kening Rumaysha.
"La.. aku ngantuk banget, udah aaah gak usah bahas oom kamu. Gak mutu" jawab Rumaysha masih memejamkan mata sambil membelakangi Sahabatnya. Rambut yang terurai menutupi wajahnya.
"Tapi kan es cendol Lo dia yang bayarin, ucapin terima kasih sono!" Titah Laila menyikut punggung Rumaysha. Gadis bertubuh mungil itu terpaksa membalikkan badannya menatap wajah Laila. Menghela nafas berat.
"La.. yang tamu itu kan aku, kalian berdua tuan rumah. Udah wajar dong bayarin tamunya, kamu juga makan cendolnya" Ujar Rumaysha tanpa berdosa, Laila mendengus kesal.
Tok.. tok.. tok..
Pintu kamar Laila di ketuk dari luar.
Kedua gadis tanpa hijabpun kaget, kompak menoleh ke arah pintu kamar.
"La.. Laila.." suara Hanan terdengar dari luar kamar. Kedua gadis itu panik mencari hijabnya yang tiba2 menghilang dan langsung berlari ke pintu. Laila membuka pintu, sedangkan Rumaysha berdiri menempel di dinding di balik pintu.
"Udah pada makan belum? Gua mau beli nasgor sekalian ke rumah faqih. Lu mau nitip gak?" Hanan melongok sebentar ke dalam kamar.
" Mau lah.. " jawab Laila singkat mengikuti arah mata Hanan. "Hayo.. cari siapa?"
"Hehehe.. engga.. temen Lo kemana?" Tanya Hanan
"Tuh!" Laila memanyunkan bibirnya ke arah di balik pintu. Mata Laila dan Rumaysha bertemu, tanpa bersuara.
"Ooh yaudah, gua pesenin nasgornya 2 ya.. nanti gua gantung aja ya di gerbang. Ambil sendiri di luar, nanti gua telpon." Hanan berbalik dan berjalan menjauh dari kamar.
"Okkeeeh!" Laila membulatkan jari jempol dan telunjutnya. Rumaysha bernafas lega, karna sempat jantungnya berdetak cepat hampir mau copot di sebabkan kaget dan panik mencari hijabnya.
"Ooom.. kata temen gue makasih" Teriak Laila, tapi di balas pukulan di pundak oleh Rumaysha. "Auw!"
Hanan mengangkat tangan kanan menunjukkan jempolnya ke atas tanpa menoleh lagi.
****
Mohon maaf ya jika bahasanya sedikit kurang nyaman. Maklum author penulis amatiran.. minta like dan komen ya.. beri saran yang membangun
🙏🥰