Rollercoaster Life

Rollercoaster Life
ENAM



Suara pintu terbuka,


"Surpriseee"


DEG!


Saat Allin dan sahabat sahabatnya meneriakkan kata surprise kepada seseorang yang baru saja masuk untuk memberinya kejutan, bukannya orang itu yang mendapat kejutan melainkan Allin dan kedua temannya yang terpaku mematung tak percaya apa yang mereka lihat.


Yang benar saja, target mereka si Juan justru masuk ke dalam apartemen dengan merangkul mesra seorang wanita yang sangat mereka kenal, Ya Juan masuk bersama Lia, kakak kandung Allin sendiri.


Tak kalah terkejut kini Juan dan Lia juga hanya mematung tak bergerak.


"Sayang?"


"ehh, Allin?"


"kokk..k, kam,,mu?"


Allin tak bisa mengeluarkan sepatah katapun, bibirnya terasa kaku, sekujur tubuhnya kini terasa lemas bak tubuh tanpa tulang, rasanya kebas.


Ia tersenyum kecut dan mulai berjalan pelan menuju sepasang manusia paling kejam yang pernah Ia temui. Kekasihnya yang selalu Ia anggap sebagai rumah untuk pulang nyatanya tak lebih dari seorang pembunuh, ya, membunuh perasaan yang telah Allin berikan tanpa sisa. Bahkan Ia mengesampingkan perasaannya sendiri demi Juan, tapi apa yang didapatnya sekarang? Penghianatan.


Tepat di hadapan Juan, Allin menatap mata Juan dalam dalam.


"Kaget aku disini? Kamu ngerti nggak, aku disini buat apa? Buat siapa?"


"Biar aku jelasin dulu" jawab Juan kebingungan.


"Apa? kalimat apa yang bakal kamu keluarin buat membela perbuatan kamu? Aku pikir kamu beneran sibuk loh sampai kamu nggak sempet kasi aku kabar" jawab Allin memburu dengan menahan air mata yang sudah hampir jebol.


"Bilang aja dong sayang, kamu jujur aja sama dia sih" ketus Lia.


"Allin, maafin aku, aku.." Juan masih mencoba untuk menjelaskan.


"Aku sama Juan pacaran, udah lama, awalnya dia deketin kamu tuh cuma buat deketin aku aja, tapi ternyata kamu nggak cukup cerdas dalam segala hal ya, mana mungkin sih seorang Juan yang cerdas dan sukses mau sama kamu yang nol prestasi gini hah?" sahut Lia dengan nada yang pedas.


"Selamat ulang tahun" ucap Allin lirih lalu memberikan senyum hambarnya dengan tatapan yang tajam menuju Juan.


Allin segera beranjak keluar karena matanya kini telah penuh dengan air mata yang rasanya ingin segera meluncur ke pipinya.


Kedua sahabatnya tak menyangka bahwa orang yang sahabatnya anggap sebagai manusia spesial itu tega menghianati, apalagi main belakangnya dengan kakak kandung sahabatnya sendiri. Mereka langsung bergegas menyahut tas selempang Allin yang tadi Ia letakkan di atas kursi lalu menyusul Allin keluar apartemen.


Tepat di depan Juan Devi terhenti,


"Aku bener bener nggak nyangka kalian tega kaya gini ke Allin, sebenernya salah dia tu apa ke kalian? sampai kalian injek dia sampai bener bener remuk kaya gini?"


"Dan kamu Juan! Allin udah kasi semua hatinya cuma buat kamu! kok bisa gitu kamu bales sama penghianatan menjijikkan ini" tutur Devi panjang lebar membuat Juan terdiam.


.


.


Beberapa tahun yang lalu, saat Juan dan Lia masih duduk di bangku SMP.


Juan sangat mengagumi sosok Lia yang menjadi siswa populer di sekolahnya karena parasnya yang cantik dan kecerdasannya yang luar biasa membuat siapapun kagum terhadapnya. Namun Lia memiliki sifat sombong, Ia hanya mau menanggapi kaum kaum good looking saja. Juan yang saat itu masih biasa biasa saja, walaupun kecerdasannya tak kalah jauh dengan Lia tetapi Juan yang dulu adalah seorang yang cupu, jadi Lia selalu menghiraukan keberadaannya.


Karena terobsesi untuk memiliki gadis incarannya itu, Juan memutuskan untuk mendekati adik kandung Lia yang kebetulan merupakan adik kelasnya. Mendekati adiknya akan lebih mudah dan bisa membuatnya dekat dengan kakaknya, fikir Juan saat itu.


Namun berjalannya waktu mereka berpacaran Juan melupakan niat awalnya yang ingin mendekati Lia, karena rasa nyaman yang Ia dapatkan dari seorang Allin. Semasa SMA Juan dan Lia tidak bersekolah di tempat yang sama sehingga perasaannya terhadap Lia benar benar terkubur. Dan Juan tak pernah sekalipun menceritakan bahwa dirinya pernah menyukai kakaknya.


Tak mengerti apa maksudnya, saat Juan masuk perguruan tinggi. Betapa kagetnya ternyata Ia kembali bertemu dengan Lia dan mereka satu prodi bahkan satu kelas yang sama, Juan yang sudah tidak seculun dulu pastinya Lia mau menanggapinya dan lagi lagi Ia jatuh cinta lagi dengan Lia. Dari situlah mereka menjalin cinta, Juan menceritakan bahwa Ia akan memutuskan Allin, tapi dilarang oleh Lia. Ia sengaja, dan mungkin kejadian hari ini tepat di ulang tahun Juan juga merupakan rencananya.


.


.


Sakittt, sesak, bingung, kecewa semua rasa bercampur aduk untuk Allin. Bertahun tahun Ia mempercayakan hatinya untuk orang yang salah, bahkan tubuhnyapun telah Ia serahkan seluruhnya kepada manusia bereksek itu. Ketakutan Allin selama ini terjadi, kehilangan mahkota yang jelas tidak mungkin bisa kembali lagi sekaligus kehilangan seorang yang telah merenggut mahkotanya. Meminta waktu berputar mundur? Jelas tidak mungkin.


Allin terduduk di bangku yang berada di rooftop apartemen Juan, merasakan hembusan angin malam yang menusuk dan menikmati rasa sakit yang tak terdefinisikan olehnya.


Dari kejauhan Alana dan Devi memperhatikan Allin yang sedang terduduk lemah di sebuah bangku. Mereka mengawasi Allin dari kejauhan, ingin menengkan tapi takut memperburuk perasaannya, membiarkan Allin menenangkan diri dengan caranya sendiri akan lebih baik.


"Aku nggak tega liat dia kaya gini" ucap Alana sembari menyenderkan kepalanya di bahu Devi.


.


.


Beberapa saat setelah lumayan lama Alana dan Devi hanya memperhatikan Allin dari jauh akhirnya memutuskan untuk mengajak Allin pulang. Malam ini mereka akan bermalam di rumah Devi, karena sebelum kemari tadi sudah ke rumah Devi terlebih dahulu untuk menitikan barang barang bawaannya yang dibawa ke Bali.


"Lin," panggil Alana lirih sembari mengelus pundak sahabatnya lembut.


"Kita pulang yuk, istirahat. Kamu pasti capek" ajak Devi lembut.


Allin tersenyum kecut merasakan dirinya yang berantakan malam ini.


"Maaf ya" hanya itu yang bisa terucap dari mulut Allin lalu memeluk erat kedua sahabatnya itu.


"Kamu masih punya kita kok Lin" ucap Devi.


"Iya bener kita bakal selalu ada buat kamu kok Lin" susul Alana.


Mereka bertiga akhirnya beranjak menuruni lift dan pergi dari apartemen Juan menaiki taksi online yang Alana pesan menuju rumah Devi.


.


.


"waahh, ada yang patah hati banget nih"


Setelah semalam menginap di rumah Devi pagi ini Allin pulang dan tiba tiba saja disambut dengan kurang menyenangkan oleh kakaknya, lebih tepatnya pelakor. Allin benar benar malas menanggapi ucapan rusuh Lia, karena yang pasti jika Ia menanggapi itu pasti akan ada satu pasukan yang akan menyerangnya. Allin berjalan juek ingin menuju kamarnya.


"Sebenernya mau kamu apa sih kak? apa yang kurang dari hidup seorang Amelia Denandra yang selalu mendapatkan segalanya yang dia mau dengan entengnya? kasih sayang orang tua yang sangat lengkap, nilai ples dari semua orang karena dia sangat mengagumkan"


"Dan herannya dengan segala kesempurnaan yang sudah dia miliki, bahkan untuk mendapat yang lebih aja gampang, kenapa harus rebut kebahagiaan orang yang jauh dibawahnya"


"Nggak nyangka ternyata seleranya rendah juga ya, seorang Amalia Denandra jadi pelakor seorang gadis bodoh, teledor, dan sepele sepertiku"


Ucap Allin panjang lebar dengan tatapan kosong. Ia tak peduli setelah ini apa yang akan terjadi, yang pasti Allin berhasil membuat emosi Lia memucuk.


"Kurang ajar ya kamu! Beraninya ngomong kaya gitu!" jawab Lia dengan nada tinggi.


"Jangan dikira selama ini aku diem berarti aku ngalah sama kelakuanmu menjijikan itu kak!" sahut Allin yang tak kalah tinggi. Kali ini emosinya benar benar memucuk seperti di ubun ubun.


"Ehhh, ada apa sih ini pagi pagi ribut!" tiba tiba suara Vallen setengah berteriak.


"Allin! apa apaan sih baru pulang sudah buat ulah aja! Kemarin nggak ada kamu tenang tenang aja kok!" Ucap Vallen yang membuat hati Allin semakin teriris.


"Ada apa sih ma?" Suara Dewa mendekat.


"Ini loh pa, pulang pulang si Allin udah bikin ulah aja" ucap Vallen.


"Aku nggak akan kaya gini kalo bukan kak Lia yang mulai!" ucap Allin mencoba menjelaskan tapi dipotong oleh Lia.


"Apa sih, Juan yang milih Aku! salah?" Bentak Lia.


"Lagian harusnya kamu dong yang tau diri! Juan itu anak yang cerdas dan sukses, mana cocok sama kamu! Udah bener dia sama kakak kamu!" Ketus Vallen.


"Iya Papanya Juan itu sahabat Papa, dan akan lebih baik jika Juan sama kakak kamu, karena itu bagus untuk kelangsungan kedua perusahaan ini" Jelas Dewa.


"Jadi kalian juga udah tau?"


"Ya, kami tau dan kami setuju mereka bersama" jawab Vallen.


"Karena kalau membiarkan Juan sama kamu, sama saja itu akan membuat keluarga kami malu!" Tukas Dewa.


"Keluarga kami? yang benar saja? Apa Aku bukan keluarganya?" Batin Allin.


Allin tersenyum kecu mendengar tuturan orang tua dan kakaknya, memilih berjalan menuju kamarnya.


"heh! orang tua ngomong itu didengerin!" bentak Vallen, tetapi Allin tak menghiraukan dan terus berjalan menuju kamarnya.


Sampai di kamar Allin langsung bergegas mengambil koper dan memasukkan semua yang dianggapnya berharga dengan pundak yang masih menggendong carrier yang sejak kemarin Ia bawa liburan ke Bali.


Selesai berkemas, Allin keluar menghampiri orang tua dan kakaknya.


"Allin pergi" ucapnya lirih kepada orang tuanya.


"Pergi aja sana, palingan juga nggak sampai tiga hari udah balik lagi nggak bisa makan di luaran" jawab Vallen ketus.


Allin melirik ke arah papanya yang menunjukkan wajah tak peduli, lalu melirik ke arah Lia yang menampakkan wajah kemenangannya.


"Mungkin mereka akan jauh lebih bahagia jika tidak ada aku" batin Allin lalu segera beranjak keluar meninggalkan rumahnya.


Di depan rumah, tepat saat Allin keluar dari halaman rumahnya Ia melihat taksi yang lewat lalu memanggil taksi tersebut.


Sebelum memasuki taksi tersebut Allin menoleh ke arah rumahnya. Sakit, hanya itu yang Allin rasakan saat itu.


"Tujuannya kemana ya mbak?" tanya supir taksinya.


Allin menunjukkan alamat Devi. Ia benar benar tidak punya siapa siapa lagi kecuali sahabat sahabatnya.


Di perjalanan Allin hanya menatap kosong luar jendela air matanya menetes dengan derasnya.


Yang benar saja, saat ini Ia hanyalah barang bekas pakai yang tak berguna. Keluarganya tak menganggapnya sebagai anggota keluarga, kekasihnya yang telah Ia beri semuanya tega menghianatinya.


Dunia yang terlalu keras atau dirinya yang terlalu lemah!


Kali ini dirinya benar benar kehilangan arah. Terkesan lebay memang, tapi benar ini yang dirasakannya.


Dan bukankah setiap orang memiliki porsi kesedihannya masing masing?


Mereka yang tidak merasakan tidak akan paham,


Mereka yang tidak mengalami tidak akan mengerti.


Jadi jangan pernah menghakimi batas kemampuan seseorang untuk menahan sakitnya, karena mereka belum tentu sekuat sesakit ini.


Belasan tahun Ia tak merasakan yang namanya kasih sayang orang tua, selama belasan tahun juga Ia harus menghadapi penghakiman orang sekitar mengenai dirinya sendiri.


Bahkan setelah Ia bertemu seseorang yang Ia anggap paling berharga dalam hidupnya, yang mampu menerangi harinya yang suram, mampu menjadi wadah keluh kesahnya, dan ahh sudahlah. Memang tidak ada gunanya berharap pada manusia. Sesempurna apapun manusia dia pasti akan luput juga.


Entah akan bagaimana kedepannya, yang jelas Ia harus melanjutkan hidupnya. Ini bukan kali pertama Allin mendapatkan rasa sesak di hatinya bukan? Dirinya sudah bertahan sejauh ini, mana mungkin Ia berfikir untuk menyerah.


"Ini awal yang baik untuk memulai semuanya Allin, lepas dari mereka semua mungkin akan lebih mempermudah hidupmu" batin Allin sembari mengusap air matanya yang membasahi pipinya.


"sudah sampai mbak" ucap pak supir taksi yang telah memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah megah milik keluarga Devi.


"mmm pak, bantu saya cari apartemen yang minimalis tapi nyaman saja pak. Nanti saya tambah cashnya" ucap Allin berubah pikiran.


"baik mbak,"


"saya ada beberapa rekomendasi apartemen yang mungkin bisa mbak sewa, apa mbak minat?" tawar pak supir taksi


"boleh pak, bisa survei dulu"


"baik,"


Mobil taksi tersebut melaju menyusuri jalanan kota Surabaya menuju apartemen yang di sebutkan pak supir tadi.


Tadinya Ia ingin ke rumah Devi, namun terhenti karena Ia tak mau kedatangannya akan merepotkan sahabatnya