
"Abi?" Ucap Allin dengan melemparkan senyumnya tak terlihat sangat terpaksa.
"Kuat bukan perihal bisa menahan tangis kok Lin, kalo emang udah terasa berat nangis aja nggak papa biar plong" Ucapan Abi membuat Allin makin tak kuat menahan air mata yang Ia tahan sekuat tenaga agar tidak jatuh dihadapan orang lain.
"Ingin banget rasanya balik ke masa kecil dan bisa merubah semua yang menjadi awal buruk ini, semuanya terasa berat banget" ucap Allin lirih dengan tangis yang semakin terisak.
"Kamu kuat kok nyatanya kamu bisa bertahan sampai sekarang. Istirahat boleh tapi jangan nyerah ya" kata Abi sembari menepuk punggung Allin untuk menenagkannya.
Tanpa disadari Allin menyenderkan kepalanya di pundak Abi, Abi kaget dengan perbuatan Allin namun tak lama Ia menyadari bahwa gadis di sampingnya kini sedang sangat rapuh dan membutuhkan sandaran. Kini Abi hanya diam saja membiarkan Allin menangis dan menenangkan dirinya.
Setelah benerapa lama Allin sudah mulai tenang, isak tangisnya tak lagi terdengar. Abi menoleh dan ternyata Allin justru tertidur.
"kasian Dia, pasti bebannya masalahnya sangat berat sampe mau tidurpun harus nangis sampe kecapean gini" ucap Abi lirih dan mencoba membangunkan Allin dengan lembut agar Allin tidak kaget.
"Allin, bangun. Tidurnya di dalem kamar aja. Di sini dingin" ucap Abi sembari mengelus rambut Allin lembut.
Merasa tidurnya terusik Allinpun mengerjapkan matanya lalu membuka matanya pelan. Ia terangun lalu menatap Abi yang sedari tadi menemaninya.
"ehh maaf ya Bi, aku malah ketiduran di sini" ucap Allin kikuk.
Abi malah senyum melihat Allin yang terlihat gugup saat itu.
"Iya nggak papa, sekarang kamu masuk terus tidur. Istirahat ini udah malem" jawab Abi sembari menepuk pundak Allin sebelum beranjak pergi.
Entah sejak kapan garis lemgkung tercipta di bibir Allin melihat Abi berjalan menuju dalam rumahnya.
"Kok aku jadi kikuk gini sih" ucap Allin degan ekspresi bergidik,
Merasa kantuknya sudah tak tertahankan lagi Allin memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya dan menyusul kedua sahabatnya untuk istirahat.
.
.
Di tempat lain, Abi terbaring di atas ranjangnya sembari menatap langit langit. Tiba tiba bayangan wajah Allin muncul di depannya yang membuat Abi terperanjat.
Tangannya kini berada di atas dadanya dan ada gerakan jantung yang berdegup tak seperti biasanya.
"kok aku jadi aneh gini sih" batinnya.
"Allin cantik, dia bisa buat aku tak lepas untuk memandangnya" ucap Abi tiba tiba dengan senyumnya yang merekah.
Tersadar apa yang dipikirkannya sebuah kesalahan Abi langsung menepuk dahinya.
"Apaan sih Bi, dia itu cuma custumer kamu! dan kamu itu harusnya sopan sama dia!" ucap Abi mencoba menyadarkan diri.
Iapun bergegas untuk tidur, karena besok Ia akan mengantar tamunya untuk berkeliling pulau Bali itu.
.
.
Keesokan harinya Allin bangun lebih awal dari kedua sahabanya karena Ia tak mau antri kamar mandi karena kamar mandinya hanya ada 1. Ia bangun dan terduduk di gepi ranjang untuk beberapa detik bertujuan mengumpulkan nyawanya baru kemudian Ia beranjanjak ke kamar mandi. Selesai mandi Allin duduk di depan cermin hias, Allin memandangi kantung matanya yang sangat terlihat akibat menangis tadi malam. Langsung saja Ia menutupinya dengan riasan tipis Allin tak mau kedua sahabatnya tau kondisinya dan membuat suasane liburan ini jadi melow.
Merasa riasannya sudah pas Allin segera membangunkan Devi untuk segera mandi dan bersiap karena kalau di bangunkan bersamaan mereka suka sekali berebut :v.
"Dev, bangun yuk! Kamu mandi duluan nanti baru gantian Alana, dia masih ngorok soalnya" ucap Allin lembut.
Devi mengangguk lalu melirik ke arah Alana yang benar saja dia mengorok lalu kemudian nyengir menahan tawanya.
"bisa bisanya dia senyaman itu tidur di tempat asing" ucap Devi.
"mungkin dia kecapean kemarin perjalanan jauh" tukasku.
"bisa jadi sih, dia kan jarang banget olahraga tiba tiba buat perjalanan jauh kaget deh tu badan" ucap Devi setengah mengejek.
Devi dan Allin terperanjat menahan tawa karena tubuh Alana yang sedang ia gosipkan itu tiba tiba pindah posisi menjadi terlentang dan menampakkan wajah polos Alana.
"udah sana kamu mandi duluan, nanti kalo udah Alana bangunin ya! Aku pengen keluar nih cari hawa pagi" Pesan Allin,
Devi mengangguk paham kemudian beranjak dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju kamar mandi sedangkan Allin berjalan keluar kamar.
Di luar Allin menghirup udara dalam dalam dan menghembuskannya pelan. Udara pagi itu sangat sejuk dan terasa ringan, mungkin karena polusi yang tak separah kotanya yang termasuk dalam kota besar.
Sedang menikmati udara pagi tiba tiba hidung Allin mencium aroma masakan yang sangat sedap, Ia langsung menuju sumber aroma tersebut. Ternyata Bu Asih sedang memasak berbagai hidangan yang akan disuguhkan untuknya dan kedua sahabatnya.
"Ehh dik Allin kok sudah cantik aja masih jam segini?" puji Bu Asih.
"Iya nih Bu, aroma masakan Bu Asih yang narik saya cepet cepet bersiap" ucap Allin dengan senyum khasnya yang manis.
"Allin boleh bantu, Bu?" tanya Allin.
Bu Asih sebenarnya ingin menolak karena terkesan tidak sopan tamu malah ikut repot.
Tapi melihat sorot mata Allin yang sepertinya sangat ingin masak bersamanya Ia tak bisa menolak dan hanya mengangguk menyetujui saja.
"boleh banget Dik, saya malah seneng" ucap Bu Asih yang berhasil menciptakan senyum sumringah di wajah Allin pagi ini.
"Dik Allin keliatannya suka sekali memasak, pasti di rumah sering masak masak sama ibunya"
Mendengar ucapan Bu Asih yang sangat tidak mungkin Ia lakukan di rumah hanya bisa tersenyum kecut.
"Enggak kok Bu, saya malah nggak pernah masak sama Mama saya" ucap Allin enteng yang membuat Bu Asih mengerutkan dahinya.
"maaf Dik saya nggak tau kalo ibunya Dik Allin sudah tidak ada" asal Bu Asih yang berhasil membuat Allin tertawa kecil.
"Mama saya masih ada kok Bu, tapi kami tidak pernah ada waktu bersama" jawab Allin memelankan suaranya.
"maaf ya Dik kalo Bu Asih jadi sok tau" ucap Bu Asih segan.
"nggakpapa kok Bu, tapi aku seneng banget di sini bisa bantuin Bu Asih masak kaya gini Bu, serasa kaya masak sama Ibu aku sendiri" ucap Allin dengan senyuman mengembang di bibirnya dan membuat Bu Asih kemudian memeluk Allin.
Mata Allin berkaca kaca merasakan pelukan Bu Asih yang hangat dan tulus. Ia tak pernah merasakan pelukan seorang ibu selama ini.
Bu Asih mengurain pelukannya dan menatap Allin.
"Bu Asih yakin, apapun masalah yang Dik Allin hadapi, pasti Dik Allin bisa menghadapinya" ucap Bu Asih seakan paham bahwa Allin sedang tidak baik baik saja. Allin tak menjawab hanya membalasnya dengan anggukan dan senyum tipis.
Allin dan Bu Asihpun melanjutkan memasak mereka terkadang diselingi obrolan ringan dan candaan yang membuat keduanya tertawa.
Dari kejauhan ada Abi yang memperhatikan Ibunya sedang bercanda tawa dengan seorang gadis yang semalam memenuhi pikirannya. Ya, Allin. Siapa lagi.
Gadis itu membuat Abi sulit tidur semalam karena terus berperang menyangkal perasaannya.
Tak mau keberadaannya ketahuan abi bergegas menuju kamar mandi yang memang tujuan awalnya Ia ingin mandi.
.
Makanan sudah siap di meja makan, kini Devi dan Alana juga sudah berkumpul di meja makan bersama Allin, Bu Asih, Pak Darma, dan juga Abi. Mereka semua sarapan pagi bersama.
"Masakan kamu enak juga loh Dik" puji Bu Asih saat menyuapkan sayur yang tadi dimasak oleh Allin.
"Dia emang pinter kalo masak, Bu" timpal Devi.
"heem" suara Alana disertai anggukan yang bersemangat.
"Iya loh, Bapak itu nggak pernah mau makanan selain yang di masak Bu Asih, tapi lihat deh Bapak kaya lahap banget" Ucap Bu Asih sedikit mengejek suaminya yang super susah kalo masalah makanan.
"Hehe, iya Dik. Kalo masakannya seenak ini ya Bapak doyan" ucap Pak Darma.
Allin yang mendengar pujian mereka hanya tersenyum manis dan itu membuat pipinya memerah. Disini Abi tidak memberi komentar apapun, Ia hanya ikut senyum senyum sendiri melihat wajah Allin yang menahan malu
Selesai makan, seperti kemarin semuanya ikut membantu membersihkan meja makan lalu setelah itu bersiap siap untuk keliling.
Abi sudah menunggu para customernya di mobil. Lagi lagi Ia terbelalak melihat Allin yang mengenakan dres berwarna putih dengan panjang sebawah lutut yang terlihat sederhana namun tampak anggun. Berbeda dengan kedua temannya yang emngenakan baju pantai kekinian yang serba mini.
"Eh Mas Abi udah nungguin dari tadi?" tanya Alana yang tak sengaja melihat Abi menggeleng gelengkan kepalanya. Ia kira Abi menggelengkan kepalanya karena menunggu lama. Padahal Abi hanya terkagum melihat paras indah Allin.
"Enggak papa kok, belum lama" jawab Abi gugup.
Setelah semuanya sudah berkumpul, Abi memasukkan bawaan mereka bertiga yang dipacking jadi satu tas itu ke bagasi belakang lalu semua masuk ke dalam mobil. Allin dan devi masuk ke kursi bagian tengah seperti kemarin. Tapi kali ini Alana duduk di kursi penumpang bagian depan, Ia merasa di sini Ia lah yang paling mengenal Abi, karena Ia yang mencari travel ini dan juga lumayan lama berkomunikasi dengan Abi. Mereka semuapun berangkat. Destinasi pertama yang dikunjungi adalah pantai yang berada di pulau kecil danterdapat spot snorkling, untuk menuju ke pulau tersebut memerlukan jarak tempuh yang lumayan lama.
Sengaja memilih destinasi tersebut karena menurutnya tempat itu menyuguhkan experience yang lengkap, selain bisa menikmati pemandangan pantai yang indah, juga bisa melihat pemandangan bawah laut yang pastinya tak kalah indahnya.
Tawa canda gurau ketiga sahabat sahabat itupun memenuhi ruang mobil yang sedang melaju ke ujung barat pulau Bali itu sehingga suasana tak membosankan. Dan tak terasa mereka semua telah sampai di dermaga dimana mereka harus menaiki kapal kecil untuk menuju ke pulau kecil tujuan itu.
"Kita parkirnya disini, setelah itu kita haru menyebrang ke pulau di depan sana" tutur Abi menjelaskan. Abi turun terlebih dulu untuk mengambil tas ransel yang ada di bagasi mobil. Alana dan teman temannya juga menyusul keluar mobil dan melihat sekeliling.
"Harusnya sih ini sepi karna kita dateng pas weekday" Ucap Alana.
"Iya juga, seru nih kalo sepi jadi bisa bebas foto tanpa harus ada tambahan beckground lain dibelakangnya kan" seru Devi.
Allin yang berniat meminta tas ransel bawaan mereka ternyata sudah digendong oleh Abi.
"Eh kok tasnya kamu yang bawa?"
"Sini aku bawa aja" ucap Allin.
"Nggak papa aku bawain aja" Jawab Abi sembari melempar senyumnya.
Allin tak menjawab apapun lagi dan beranjak menuju kedua sahabatnya.
"Saya tinggal ke loket sebentar untuk ngurus tiket lokasi sama kapalnya dulu ya" pamit Abi.
"Eh kok jadi Mas Abi yang bawain tasnya?" Tanya Alana.
"Nggak papa" Ucap Abi kemudian berlalu menuju loket.
Tak lama setelahnya Abi melambaikan tangannya untuk memberi kode agar tiga bersahabat itu menuju dirinya.
"Kita sekarang naik ke perahu yang itu" ucap Abi sembari menunjuk salah satu kapal yang bersandar di pinggir dermaga lalu berjalan menuju kapal itu.
Alana sahabat sahabatnya mengangguk lalu mengekori Abi menuju kapal yang akan ditumpanginya.