Rollercoaster Life

Rollercoaster Life
SATU



ALLINE


Mungkin bagi sebagian besar orang definisi keluarga adalah sebuah rumah ternyaman untuk pulang. Tapi menurutku, keluarga tak lebih dari sekumpulan orang asing yang memakai topeng tebal hanya agar terlihat harmonis di pandangan orang lain.


Namaku Deviana Alline Denandra, panggil saja Allin. Anak kedua dari pasangan Dewa Samuel Denandra dan Vallena Denandra, pengusaha sukses yang memiliki beberapa anak cabang perusahaan yang tersebar di kota-kota besar Indonesia. Aku duduk di bangku SMA kelas XII disalah satu yayasan elite di Surabaya.


Aku memiliki seorang kakak perempuan yang usianya tak terpaut jauh dariku, kami hanya selisih dua tahun, namanya Amalia Denandra, Ia melanjutkan study di suatu PTN terkenal di Surabaya. Sebenarnya Aku memiliki kembaran Ia bernama Devira Emellin Denandra, Ia memiliki kelainan pada jantungnya yang membuat dirinya sangat lemah. Saat itu usiaku masih 4 tahun, aku dan Ellin sedang bermain di halaman belakang rumah, entah dia kelelahan atau apa Ia jatuh pingsan dan akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit, tetapi sesampainya di Rumah Sakit Ia dinyatakan meninggal dunia.


Keluargaku adalah keluarga yang selalu terlihat kompak dan tampak manis di mata orang lain, sehingga banyak dari mereka yang menjuluki sebagai keluarga idaman.


Melihat profil keluargaku terlihat aku adalah anak yang sangat beruntung bukan? Keluarga Denandra tepatnya tanpa aku. Aku merasa sangat asing di dalamnya, bahkan sangat jauh dari prasangka baik semua orang.


Sampai saat ini aku tak bisa memahami apa arti rumah di sini. Mungkin bagiku rumah hanya tak lebih dari tempat untuk tidur.


Aku tak peduli kalian setuju dengan pernyataanku atau tidak, bahkan mengatakan aku yang kurang bersyukur hidup ditengah keluarga yang serba ada aku juga tak peduli. Karna kalian bukan Aku!


Sedari kecil hidup bagiku hanya soal perbandingan dan penilaian orang lain. Papa dan Mama tak pernah memperlakukanku dengan baik, mereka selalu saja membandingkan Aku dengan Kakakku. Ya, dengan Kakak kandungku sendiri. Anak dengan sejuta kemampuan yang dengan mudahnya membuat semua orang bangga kepadanya. Berbeda denganku yang terbilang biasa-biasa saja. Entah memang karna sebab itu atau ada sebab lain yang membuat mereka membedakan sikap kepada Aku dan Kakakku. Atau mungkin karena kematian saudara kembarku Ellin, sehingga mereka masih beranggapan aku yang salah atas kematiannya.


Aku tidak peduli apa pendapat mereka tentangku, mau sekeras apapun aku berjuang tetap saja mereka menganggapku rendah. Dulu ada Oma yang selalu mendukung dan selalu bangga apapun pencapaianku, dan itu yang membuatku semangat untuk menjadi unggul diantara teman temanku. Tapi sekarang Oma sudah menyusl Opa di surga, tidak ada lagi alasanku untuk berlari.


Karena sudah terlalu sering menjadi bahan perbandingan dan mendengar tutur kalimat yang membuatku tersengkur, saat ini aku merasa sudah sangat kebal dan acuh.


Bahkan dapat terbilang aku sekarang menjadi seorang anak perempuan yang tak tau aturan, selalu pulang sekolah malam, duniaku tak terkontrol. Itu pandangan mereka terhadapku. Biarlah Aku tak peduli mereka, toh mereka tak peduli aku. And now, I believe one word that is alone.


.


.


Alline


Hari ini murid kelas XII terakhir masuk sekolah setelah menjalani berbagai deret Ujian. Mereka hanya perlu menunggu waktunya nilai dan pengumuman kelulusan mereka keluar.


Alana dan Devi menghampiriku dan membuat rencana berlibur karena pengumuman masih akan tiba satu bulan lagi, jadi masih ada waktu yang sangat senggang untuk berlibur.


"Rencana liburan mau kemana nih guys? kita hangout bareng yukk!" seru Alana.


"Boleh!" jawabku dan Devi kompak.


"Gimana kalau kita ke Bali aja" usulku kayanya seru deh.


kedua temanku saling pandang seperti sedang berfikir dan kemudian mereka tersenyum dan menyerukan tanda setuju.


"gimana kalau kita berangkat lusa, backpakeran aja gitu biar seru, setuju nggak?" Ucap Devi mengusulkan idenya.


"Wah iya tuh seru juga, naik transportasi umum yang ada jadi bisa ketemu orang banyak tambah temen deh" seruku menyetujui ide Devi.


"PENGUMUMAN UNTUK ANAK-ANAK KELAS XII SMA HARAPAN BANGSA HARI INI KALIAN DIPERBOLEHKAN PULANG PUKUL 10.00 WIB. TERIMAKASIH" Terdengar suara pengumuman dari speaker yang terletak di setiap koridor dan di sudut kelas para siswapun menjadi ramai kesenangan karena hari ini pulang lebih awal.


"Wahhh jam 10.00 udah boleh pulang nih, gimana kalau kita ngopi dulu di Cafe Angkasa!" Ajak Alana.


"Boleh banget tuh! aku juga males banget jam segini udah pulang" tukasku.


Devi dan Alana sepertinya paham yang kurasakan mereka langsung saja setuju.


.


.


Sepulang sekolah kami bertiga menuju Cafe Angkasa dan langsung saja memesan makanan dan minuman untuk teman nongkrong mereka. Suasana siang itu diisi dengan candaan dan suara tawa kami bertiga yang lepas, tidak peduli ada orang yang tidak menyukai mereka.


"Lin apa rencana kamu setelah hasil kelulusan keluar nanti?" Tanya Alana mulai dengan nada serius.


"Pokoknya aku pengennya lanjutin study atau mungkin kerja di tempat yang jauhhhhhhhh banget yang nggak pulang ke rumah" jawabku dengan entengnya.


Keluar dari rumah itu adalah cita-citaku sejak lama. Ia ngin hidup di lingkungan yang dapat membuatnya berkembang dan menghargainya.


"Kalo rencana kalian apa?" tambahku.


"Mungkin aku bakal lanjut study di New York ikut Bang Ali" jawab Alana yang akan melanjutkan studynya menyusuk kakaknya.


"Kalau aku sih rencana mau lanjut study di Singapure aja sih sekalian di suruh Papa buat belajar bisnisnya yang disana" Jelas Devi.


Allin manggut-manggut mendengar rencana sahabat-sahabatnya yang tertata rapi. Ada sedikit rasa sakit di hatinya karna Ia tak seberuntung para sahabatnya.


"Apa aku nikah aja kali ya! biar nggak perlu pulang ke rumah" ucapku asal yang berhasil membuat kedua sahabatku itu melongo menghadapku.


.


.


AUTHOR


Pukul 7 malam Allin baru saja sampai di rumah, walaupun Ia pulang sangat awal Ia sangat malas untuk masuk ke dalam tempat asing itu. Allin memasuki pintu utama dan berjalan menuju tangga, Ia melihat ke arah ruang keluarga, ada Mama Papa dan Kak Lia yang sedang menonton film bersama dengan diiringi canda tawa yang renyah.


"Huuffffffttttt" Alline menghela nafas panjang setelah memasuki kamarnya.


Ia langsung menaruh tasnya lalu menuju kamar mandi dan bersih-bersih. Selesai membersihkan badan tiba-tiba Ia mendengar notif di ponselnya.


....dddrrrrttttt....


"malem sayang, besok jalan yuk" tulis pesan di layar ponsel Alline yang bertuliskan -Mine-


Melihat pesan dari kekasinya itu Alline langsung tersenyum lalu mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"bolehh" jawab Alline.


Juan Prayoga pacar Allin yang dulunya adalah kakak kelas Alline sewaktu Ia masih duduk di bangku SMP, mereka pacaran sudah 4 tahun, cukup lama bukan. Saat ini Juan melanjutkan stydy di Perguruan Tinggi Negeri yang sama dengan kampus kakaknya sembari menjalankan bisnis Ayahnya, karena sang Ayah sedang sakit saat ini jadi Ayahnya meminta Juan untuk membantu mengurus perusahaan tersebut.


Kesibukan Juan membuat Ia dan kekasihnya jarang bertemu dan terasa seperti LDRan padahal satu kota.


Alline memutup ponselnya dan segera merebahkan badannya ketempat tidurnya lalu mulai memejamkan matanya. Ia tak mau pikirannya berkecamuk maka Ia memutuskan untuk segera tidur agar cepat besok dan bertemu kekasinya.


.


.


Keesokan harinya,


Allin menatap dirinya di cermin Ia mengenakan dres selutut berwarna biru denim rambutnya yang terurai dan sedikit polesan make up tips diwajahnya yang membuat penampilannya makin fresh.


...dddrrrrrttttt...


"Aku udah di depan yang" terlihat pesan masuk dari kekasihnya.


Tanpa membalas Allin langsung saja mengambil tasnya dan memasukkan ponselnya lalu keluar kamar. Di tangga Ia melihat ke sekeliling rumah "sepi" batinnya,karena orang rumah sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Tanpa berlama-lama Allin segera keluar menemui kekasihnya yang sudah menunggu.


"Hai, lama nunggunya?" Tanya Allin. Juan menggeleng lalu tersenyum melihat Allin yang terlihat manis pagi itu. "yuk!" tambahnya.


Mereka berdua kemudia mmasuki mobil, Juan berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu untuk Allin. Allin tersenyum tanda terima kasih.


Mobil melaju membelah kota, kini mereka sedang perjalanan menuju salah satu mall yang ada di Surabaya untuk menonton bioskop.


"Aku besok mau ke Bali sama temen-temen Ay" ucap Allin.


"Besok itu?" Jawab Juan bertanya lalu Allin mengangguk.


"Berapa hari di sana?" Tanyanya lagi.


"Belum tau sih mau berapa harinya mungkin 3-4 harian aja" jawab Allin.


Juan manggut-manggut Ia paham pasti Allin tidak betah untuk menghabiskan waktu liburnya jika harus di rumah, "Ya udah tapi hati-hati ya" ucap Juan sembari mengelus kepala Allin lembut.


"Besok aku juga akan fligt ke Batam ada sedikit urusan di sana" Ucap Juan


"Kamu juga hati-hati ya jangan lupa jaga kesehatan jangan sampai sakit" Ucap Allin khawatir karena kekasihnya itu sangat sibuk dngan pekerjaannya.


"Tenang aja Bu Bos, aku akan selalu jaga kesehatan aku biar bisa temenin Bu Bos jalan-jalan terus" Jawab Juan dengan kekehannya.


Setelah hampir setengah jam akhirnya merekapun sampai juga di suatu mall yang ada di kota Surabaya. Mereka segera memasuki area bioskop lalu membeli cemilan untuk teman nonton mereka nanti, karena Ia sudah membeli teket bioskop melalui online jadi mereka tak perlu lagi mengantri. Tak lama kemudian terdengar suara pengumuman dari center bahwa pintu teater 3 tang merupakan ruangan mereka menonton telah dibuka. Allin dan Juanpun segera menuju pintu teater tersebut lalu duduk di kursi yang telah Ia pesan.


Merekapun menikmati film yang ditayangkan di layar bioskop.


.


.


Setelah filmnya selesai Allin dan Juan memutuskan untuk mencari bahan makanan lalu akan masak-masak di apartemen Juan hari ini. Mereka menuju pusat perbelanjaan yang ada di dalam mall lalu Allin memilih apa saja yang akan Ia masak hari ini.


Serasa puas berbelanja merekapun memutuskan ke apartemen Juan. Hanya obrolan ringan yang mengisi perjalanan mereka di tambah dengan suara musik yang diputar di audio milik Juan.


Jarak mall ke apartemen Juan tak terlalu jauh, setibanya mereka di basement Juan langsung mengeluarkan belanjaan mereka lalu berjalan menuju lift dan menekan angka 7.


Apartemen Juan cukup tinggi sehungga dari sana bisa melihat pemandangan kota Surabaya yang panas namun terlihat bersih dan rapi.


Sesampainya di depan pintu apartemen Allin menekan kode sandinya lalu membukanya, Allin mengetahui sandi pintu apartemen Juan karena memang Ia sering kemari.


Mereka berdua masuk, Allin langsung saja melepas tasnya lalu menuju wastafel untuk memcuci sayuran yang mereka beli tadi. Saat Allin sedang mempersiapkan sayuran yang sedang dicuci Juan justru malah menghampiri Allin dan memeluk Allin dari belakang.


"Aku kangen kamu sayang" Ucap Juan tepat di telinga Allin sehingga menciptakan hembusan hangat di teling Allin. Merasa geli dengan perlakuan Juan Ia mematikan kran air wastafel lalu berbalik menghadap Juan.


"Uuuuu bayi kecilku ini kenapa manja sekali" ucap Allin meledek sembari mengalungkan tangannya ke leher Juan. Tanpa menjawab Juan langsung mengangkat tubuh Allin dan mendudukkannya di samping wastafel agar tinggi mereka sejajar, lalu Juan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Allin. Hembusan hangat nafas mereka berdua beradu, Juan lalu menempelkan bibirnya di bibir merah Allin, Allin yang dengan senang hati menerima cuiman dari Juan membuat ciuman lembut dan hangat berubah menjadi ciuman yang panas. Keduanya saling mengadu lidah didalam sana, hingga keduanya terbawa suasana.


Tangan Juan yang tadinya memegang kepala Allin kini mulai bergerak dengan lihainya di tubuh Allin.