Rollercoaster Life

Rollercoaster Life
TIGA



Sesampainya di stasiun Allin celingukan mencari kedua temannya, tak mau kebingungan sendiri Allin segera merogoh ponselnya di dalam tas lalu menelpon Devi.


"Hallo Dev, kalian posisi dimana?"


"Aku sama Alana di depan pintu check in tiket nih Lin"


"Okey, tunggu aku kesana ya" jawabku lalu menutup telpon Devi.


Allin bergegas menghampiri kedua temannya.


Setelah melihat kedua temannya Allin melambaikan tangan dan berjalan menghampiri mereka.


"Hai.... Aku lama banget ya? Jalanan padet banget nih tadi" ucap Allin yang datang paling akhir dibanding Alana dan Devi.


"Lumayan sih, tapi nggak papa kok belum telat juga" jawab Alana.


"Kita masuk aja yuk!" Ajak Devi


Allin dan Alana mengangguk bersamaan diiringi dengan senyum semangatnya. Kini mereka bertiga mengantri untuk check in tiket untuk masuk ke dalam ruang tunggu kereta.


Tak lama setelah mereka berada di dalam, terdengar suara pengumuman dari sistem bahwa kereta yang akan mereka tumpangi sudah datang dan diharap untuk semua penumpang bersiap untuk masuk ke dalam gerbong kereta. Dengan semangatnya Allin, Alana, dan Devi segera bersiap antri untuk masuk ke dalam gerbong kereta. Kini mereka telah berdiri di depan gerbong 3 yang merupakan gerbong yang mereka pesan.


Setelah masuk di dalam gerbong mereka mencari tempat duduk yang telah mereka pesan dengan melihat di tiketnya, tak lama kemudian Mereka bertiga menemukan tempat duduknya lalu menaruhkan barang bawaannya di bagasi atas tempat duduk lalu setelah itu mereka duduk di tempat masing masing. Mereka memesan tempat duduk yang berdekatan sehingga mereka tidak merasa sendirian di perjalanan karena mereka akan menempuh perjalanan dengan kereta selama kurang lebih 7 jam.


Di dalam kereta Allin, Alana, dan Devi bercerita, bercanda, dan tak jarang candaan mereka menimbulkan tawa yang tertahan karena mereka tak mau suara tawa mereka mengganggu penumpang lainnya. Melihat pemandangan di luar jendela yang tidak pernah membosankan membuat mereka bertiga tidak berniat memejamkan mata.


Setelah 7 jam lamanya mereka menempuh perjalanan akhirnya sampai juga mereka di salah satu stasiun yang berada di Banyuwangi. Dari stasiun menuju pelabuhan mereka memutuskan untuk jalan kaki saja karena jarak yang tidak begitu jaun dan memang kebetulan tenaga mereka masih full jadi memilih jalan kaki santai saja.


Sesampainya di pelabuhan mereka menunjukkan tiket yang telah mereka pesan melalu aplikasi online, kebetulan saat itu kapal yang akan mereka tumpangi sudah sandar dan Allin, Alana, dan Devipun diarahkan untuk segera maemasuki kapal. Perjalanan laut kali ini hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di pelabuhan Gilimanuk.


Kali ini mereka bertiga memutuskan untuk tidak duduk di dalam karena ingin menikmati suasana di luar dan melihat pemandangan laut sembari memesan makanan dan minuman yang tersedia di kantin kapal tersebut.


"Seru juga ya naik kapal kaya gini" ujar Alana antusias.


"Iya nih, Aku juga baru pertama kali naik kapal beginian" jawabku.


"Iya juga ya, biasanya kalo ke Bali pasti milih naik pesawat yang cepet sampai" timpal Devi.


"Walaupun memakan waktu yang lumayan lama tapi ini seru banget loh, bisa ketemu banyak orang dengan berbagai keunikannya gitu" ucap Allin.


"Setuju banget tuh. Ternyata keluar dari zona nyaman tuh kalo di nikmatin ya asik juga" setuju Devi.


"Bener, Lega banget rasanya" ucap Allin sembari memejamkan matanya merasakan hembusan angin yang menerpanya.


Devi dan Alana yang memahami apa yang dirasakan sahabatnya itu langsung memeluk Allin.


"Gimana ya kalo kalian udah sibuk sama masa depan kalian masing masing, Aku pasti bakalan kangen banget sama kalian" ucap Allin lagi yang membuat para sahabatnya mempererat pelukannya.


"Kita bakal tetep komunikasi baik ya kan bestie" Jawab Alana sembari melirik ke arah Devi dan di jawab anggukan pula oleh Devi.


Allin merasa bersyukur memiliki sahabat yang sebaik mereka berdua, mereka sudah allin anggap sebagai keluarga sendiri bahkan lebih dari keluarga kandungnya sendiri.


"Aku sayang kalian" ucap Allin lirih.


"Kita berdua juga sayang banget kok Lin sama Kamu" ucap Alana di ikuti anggukan Devi.


"Udah kita nggak boleh mellow dong, kita kan liburan mau seneng seneng" tambah Devi.


Tak terasa 1 jam berlalu dan merekapun sampai di pulau Bali. Setelah menuruni kapal dan berada di halaman pelabuhan Alana menelpon agen travel yang akan mengantarkan mereka liburan selama berada di Bali. Kebetulan supir travel tersebut juga sudah menunggu di kawasan pelabuhan.


"Hallo,."


"Iya ini saya di depan pintu masuk"


"Baik saya tunggu" ucap Alana yang kemudian mematikan ponselnya.


Mereka bertiga menunggu jemputan di depan pintu masuk agar lebih mudah ditemukan sang supir travel.


"Dengan Kak Alana?" tanya seorang laki laki dengan usia yang masih muda, mungkin hanya berselisih beberapa tahun diatas kami bertiga.


"Iya saya, Masnya dari agen travel?" Jawab Alana yang merasa namanya dipanggil.


"Iya Kak, Perkenalkan nama saya Abirama Daraka biasa dipanggil Abi, saya yang akan mendampingi kakak kakak selama di sini" Abi memperkenalkan diri dengan senyum ramah dan sopan.


"Saya Alana, ini sahabat sahabat saya Allin dan Devi, oh iya Mas Abi panggil kita nama aja biar lebih akrab" ucap Alana memperkenalkan para sahabatnya.


Abi tidak menjawab hanya mengangguk paham disertai senyum sopannya.


"Mari" ajak Abi menuju mobil jemputan mereka.


Sesampainya di mobil mereka lalu memasukkan tas mereka ke dalam bagasi mobil bagian belakang.


Tujuan awal mereka hari adalah penginapan untuk memaruh barang bawaan mereka dan beristirahat. Keliling wisata akan dilakukan besok karena hari juga sudah cukup malam.


Di dalam mobil Allin, Alana, dan Devi duduk di kursi bagian belakang semua. Dari depan Abi diam diam memperhatikan Allin yang menurutnya aura wajahnya berbeda dari teman temannya. Sorot matanya seperti menandakan bahwa Ia adalah orang yang kesepian dan butuh sosok pendengar, penyemangat, dan orang yang mampu mendukungnya.


Sadar ada yang memperhatikannya sedari tadi Allin melihat ke arah center miror, dan benar saja Allin menemukan mata Abi yang diam diam menatapnya. Setelah melihat bahwa yang diperhatikan sudah sadar Abi mengerjapkan matanya dan kembali fokus ke jalanan.


"Kenapa Abi ngeliatin aku kaya gitu ya?" tanya Allin dalam hati.


Di perjalanan Alana dan Devi terpejam mungkin karena kelelahan setelah menempuh perjalanan yang lumayan memakan waktu. Dari pelabuhan menuju penginapan memerlukan waktu hampir 1 jam.


.


.


Matanya tertuju ke wajah cantik Allin yang berada bagian tengah dihimpit teman temannya.


"cantiknya natural banget" ucap Abi dalam hati.


Baru saja tangannya ingin menyentuh tangan Allin berniat membangunkan tiba tiba Allin membuka matanya, dan berhasil membuat Abi gugup.


"Eh maaf, saya mau bangunin kamu tadi. Kita sudah sampai" ucap abi gugup.


Allin hanya tersenyum dan mengangguk lalu membangunkan Alana dan Devi. Abi keluar mobil terlebihdulu lalu menurunkan barang bawaan custumernya itu.


Allin dan sahabat sahabatnyapun keluar dari mobil, lalu berjalan mengekori Abi yang masuk ke sebuah komplek. Di depan sebuah bangunan mereka disambut beberapa orang.


"Bu, ini kakak kakak yang akan tinggal sementara di villa kami" ucap Abi sembari mencium tangan wanita separuh baya dengan baju khas Bali.


"Selamat malam, Selamat datang di villa keluarga kami, saya Bu Asih semoga kalian semua betah selama di sini" Sapa Bu Asih ramah.


"Selamat malam Bu," ucap Allin dengan ramah sembari menundukkan kepalanya menghormati penyambutan Bu Asih.


"Mari saya antar" ucap Abi lalu berjalan menuju kamar mereka.


Mereka bertiga memang memesan 1 kamar besar untuk bertiga agar lebih seru.


"Ini kamarnya, kalau perlu bantuan bisa panggil saya"


"Oke, makasih" Alana menerima kunci kamar yang diberikan Abi.


"Mari" ucap Abi sopan, sebelum beranjak mata Abi melihat ke arah Allin yang ternyata sedang melihat ke arah Abi dan betapa kagetnya ketika mata mereka bertemu. Abi langsung menundukkan kepalanya lalu berlalu pergi.


Allana masih tak paham dengan tingkah Abi hanya geleng geleng tak mengerti.


Kini waktu menunjukkan pukul 7 malam. Allin, Devi, dan Alana sudah berada di dalam kamar yang super besar. Ranjang ukuran super besar, kamar mandi dalam, ruang ganti, dan terdapat pintu menuju privat taman yang memiliki kolam renang. Mereka bertiga merebahkan diri ke ranjang super besar itu.


"Villanya keren, dengan satu pintu tapi dalemnya lengkap banget" ucap Devi kagum.


"Ini sih diatas ekspektasi kita" ujar Alana.


"Iya nggak nyangka bakal dapet villa se wow ini sih" tambah Allin.


"Udah, Aku mandi duluan ya" ucap Allin sembari beranjak dari ranjang lalu menuju ke kamar mandi.


Alana bergantian mandi lalu Devi. Setelah mereka semua selesai mandi mereka keluar dari kamar untuk makan malam yang telah dipersiapkan Abi dan Bu Asih.


"Malem Dik, ini makanannya sudah siap silahkan makan" sapa Bu Asih.


"Terimakasih Bu," ucap Allin.


"Saya tinggal ya Dik" tambah Bu Asih.


"Bu Asih, Bapak, sama Abi nggak sekalian makan bareng di sini aja?" tanya Allin.


"Iya Bu, makan bareng aja biar rame" tambah Alana.


Devi mengangguk setuju dengan perkataan kedua sahabatnya.


"Tapi Dik, nggak sopan mengganggu tamu" ucap Bu Asih.


"Kita bertiga nggak ngerasa keganggu kok Bu, iya kan temen temen?" Ucap Alana.


Allin dan Devipun menganggukkan kepala sembari tersenyum.


Bu Asih dan Pak Darma suaminya serta Abipun akhirnya ikut makan bersama, di sertai dengan cerita dan canda tawa.


Di sini Allin merasa sangat lepas, Ia bisa tertawa lepas tanpa ada beban. "Apa seperti ini rasanya punya keluarga?" batin Allin.


Setelah selesai makan Allin, Alana dan Devi ikut membantu Bu Asih untuk membereskan sisa makanan yang ada di meja makan. Bu Asih sudah melarang karena Ia merasa tidak enak tapi Allin dan sahabat sahabatnya memaksa ingin membantu Bu Asih karena memang malam itu mereka tidak ada kegiatan apapun.


Selesai beberes meja makan dan dan mencuci piring Allin, Alana dan Devi berpamitan untuk masuk ke dalam kamar untuk beristirahat karena besok mereka akan mulai mengexplore pulau Bali.


.


.


Alana dan Devi langsung bisa tidur dengan pulasnya mungkin mereka kelelahan. Sebenarnya Allinpun merasa sangat lelah hari ini tapi ntah kenapa Ia tidak bisa tidur. Allin memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan mencari angin di luar.


Di depan kamar terdapat bangku menghadap ke kolam ikan yang dihiasi lampu berwarna hangat sehingga menambah kesan klasik kolam tersebut.


"Kenapa suasana seperti ini nggak pernah aku rasain di rumah keluargaku sendiri?"


"Kenapa justru orang lain yang tidak ada hubungan darah denganku justru bisa memberiku kenyamanan"


"Di sini Aku ngerasain yang namanya diperhatiin, disayang, dianggap tanpa harus dituntut menjadi orang lain"


Ucap Allin lirih sembari memejamkan matanya. Pertanyaan pertanyaan random keluar dengan sendirinya dari mulut Allin. Tak terasa butiran bening meluncur di pipi Allin, Ia tersenyum kecut tak bisa mendefinisikan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. "Ku kira aku kuat, tapi nyatanya masih cengeng juga" ucap Allin disertai kekehan menertawai dirinya sendiri.


"Apapun bentuk masalahnya, Aku yakin kamu mampu melewatinya dengan baik" Suara yang tak asing tiba tiba terdengar dari samping Allin.


Allin menundukkan kepalanya lalu mengusap wajahnya agar tangisnya tak terlihat orang lain, lalu menoleh ke sumber suara.