
Elron memasang wajah santai
yang
teduh, sedangkan Risa memasang wajah
tersenyum sedari 10 menit yang lalu.
Mereka seperti pemain drama
profesional.
Yang salah satunya berniat menjatuhkan
yang lain, dan yang lain berniat tidak
terpengaruh sama sekali.
Aku selalu salah menebakmu." Kata
Elron saat memutar tubuh Risa yang
ramping.
Tadi siang, dan malam ini, aku salah
menebak terus." Lanjut Elron.
" Aku juga sudah salah mengartikan
sesuatu." Jawab Risa saat terjatuh di
pelukan Elron.
" Kemarin dan sekarang, aku salah
mengartikan sesuatu. " Lanjut Risa.
" Kupikir kau akan menangis atau
mencekikku tadi. " Elron memainkan
kakinya sehingga senada dengan tarian
mereka.
" Tadinya aku mau begitu. " Risa dengan
sengaja mempercepat tariannya.
" Wah, kau sangat jujur." Elron menyadari
bahwa Risa sengaja mempercepat tarian
mereka agar dia lengah dan terjatuh.
Dengan cekatan Elron menarik pinggang
Risa lalu mengangkatnya.
Risa terkejut, Tingginya dan tinggi Elron
kali ini benar benar sama.
Risa diputar perlahan oleh Elron, kakinya
melayang, tangan Risa memegang pundak
Elron dengan kencang.
Orang orang terpukau, mereka tidak
pernah melihat Raja yang seromantis ini.
Wajah Elron sangat tampan karna rambut
emasnya ditarik kebelakang dengan rapi.
Elron sempat berfikir Risa terpukau
dengan ketampanannya. Namun makin
lama, Elron memperhatikan bahwa
ekspresi Risa bukannya terpukau...
tapi lebih seperti wajah...
ORANG YANG MUAL.
Elron mengehentikan dansanya, dengan
sigap dia menggendong Risa ala bridal.
Orang orang makin terpukau, Elron
berjalan cepat menuju taman Istana
bagian barat.
Semua orang akhirnya menganggap pesta
dansa utama telah selesai, dan akhirnya
mereka semua mulai berdansa bersama.
Sedangkan di mimbar Aula pesta, Jordan
malah berkomentar aneh.
" Anak anak zaman sekarang sangat
bergairah ya... " Ucap Jordan kepada Ivan.
Ivan sendiri terkejut, dari sudut pandang
lain, mereka berdua memang terlihat
sangat romantis. Namun Ivan sedikit ragu
bahwa itu semua bukan skenario.
Iya, yang mulia." Jawab Ivan sesingkat
mungkin.
" Kau pikir akan kemana mereka? Kamar?
Atau." Ucap Jordan sekali lagi dengan
muka memerah padam.
" Ekhem! " Ivan berdehem dengan sangat
keras namun singkat.
.Atau mungkin ke.." Jordan tidak
merisaukan Ivan yang mulai kesal.
и
EKKKHEEEM! " Ivan akhirnya berdeham
п
" Ivan, aku menyarankanmu meminum
air hangat malam ini, kau berdeham
dengan aneh." Jordan mengusir Ivan.
Ivan hanya memberi hormat sambil
berkata dalam hati, " dasar tidak peka".
" MGH---HUEEEK!!! HUEK! " Risa
memuntahkan air yang ada diperutnya di
samping bangku taman kerajaan, ya dia
tadi tidak makan siang.
Di pojok taman seorang pria berambut
emas menatapnya dengan kesal.
Risa berdiri lalu membersihkan
mulutnya, saat menoleh kebelakang,
tatapan maut langsung menghujamnya.
Kau tau apa yang baru saja kau berikan
muntahan? " Elron menunjuk sebuah
bunga yang bergerumbul.
" Iya. Itu mawar liar. " Risa dengan
entengnya menoleh lalu menyebutkan
nama tanaman itu.
Kenapa juga kau harus muntah disana?!
Elron membentak Risa.
" Ha!? Apa!? Kau menyalahkanku!!?
Baiklah! Ini faktanya! Kau mengangkatku
ke atas, memutar mutar tubuhku,
menekan pinggangku, aku mual, jika
saja kau hanya menurunkan ku aku pasti
akan baik baik saja!" Ucap Risa menahan
emosi.
" Coba saja kau makan tadi siang, itu
semua tidak mungkin terja- " Ucapan
Elron dipotong oleh Risa.
" Tapi kau malah menggendongku
sampai kesini! Kau tau bagaimana
susahnya aku menahan agar tidak
muntah dipakaianmu?!" Risa kembali
memojokkan Elron.
" Aku menggendongmu karna refle-"
Ucapan Elron kembali dipotong oleh Risa.
lalu saat sampai di taman ini, kau yang
menurunkanku didekat mawar liar ini
dasar bodoh!" Risa membela dirinya
sekuat tenaga.
Dengan cepat Risa memilih meninggalkan
taman itu dan Elron.
Elron baru pertama kali merasakan
diperlakukan seperti ini.
" Hahaha... Anak muda..." Jordan tiba tiba
muncul di balik pilar istana.
"A-ayah." Elron menoleh cepat.
Heheh, gadis tadi, mengingatkan ku
pada ibumu. Sifatnya sama persis. "
Jordan masih memperhatikan Rissa yang
susah payah berjalan sambil mengangkat
rok merah tebalnya yang berat.
" Iya, tapi dia hanya kopian sifat buruk
ibu. " Elron menatap bunga mawar liar
itu sekali lagi.
" Hem, bunga itu, bunga yang
kau dan ibumu 5 tahun yang lalu kan?
Jordan melirik mawar mawar merah itu.
ditanam
" Iya." Elron hanya menjawab ringan, lalu
meninggalkan taman itu.
Oh, Merina... Anak kita ternyata
mengulang kejadian kita saat pertama
kali bertemu dulu... Sungguh takdir yang
hebat." Jordan mendekati bunga mawar
liar itu dan melihatnya dengan tatapan
sayu.