
Karena hari masih terang dan dia merasa sangat bersemangat, Anming langsung pergi ke kediam an Honghu yang ada di luar Kota Siluman. Dia diantar oleh 2 siluman kucing yang merupakan pengawal Shanni. Mereka sama-sama mengintip dari balik batu raksasa.
Tapi walau mereka tahu nama Anming, dia tidak tahu nama mereka.
“Ngomong– ngomong aku belum tahu nama kalian.” Ujar Anming sambil menatap dua siluman kucing yang kembar itu.
“Aku Maoyin.” Jawab yang di sebelah kiri Anming.
“Aku Maoshan.” Jawab yang disebelah kanan Anming.
Wajah Anming berubah tertekan. “Bagaimana aku bisa membedakan kalian kalau kalian semua mirip begini?”
“Kan ada hidungmu.” Ejek Maoshan.
“Benar, mengikuti nona Li sampai ke restoran saja kamu bisa, masa membedakan kami berdasarkan bau tidak bisa.” Tambah Maoyin.
Anming tertawa malu. “Iya juga ya. Aku sampai lupa soal itu.” Katanya.
Mereka sama – sama tertawa. Tapi kemudian seorang pelayan kediaman keluar dari pintu rumah tersebut. Ia membawa keranjang di tanganya dan sepertinya akan pergi ke suatu tempat.
“Tuan Honghu biasanya sedang istirahat di jam ini. Isterinya nyonya Sui juga pasti sedang sibuk membuat kue di dapur.” Ujar Maoyin.
Anming menatap Maoyin. “Ohya, Shanni berkata kalau tuan Honghu menolakku menjadi muridnya karena alasan pribadi. Apa menurut kalian dia marah padaku karena membuat longsor kemarin?”
Maoshan membalas “Hm… mungkin tidak. Mungkin ia merasa cemburu karena ada siluman harimau lain selain dia.”
Maoyin menyahut “Jangan sembarangan, tuan Honghu siluman yang baik, mana mungkin dia cemburu hanya karena ada siluman sejenisnya yang lain.”
“Apa siluman harimau begitu langka?” tanya Anming. Ia hanya menebak karena Maoshan berucap seolah siluman harimau hanya Honghu saja.
“Iya, lebih tepatnya sangat langka.” Jawab Maoshan.
“Siluman harimau salah satu siluman yang paling sering berbuat onar di dunia manusia. Mereka sering di buru dan di bunuh, lalu gigi taring serta kuku mereka di jadikan senjata untuk melawan bangsa siluman.” Tambah Maoyin.
Anming diam dengan gugup. “baiklah, itu agak seram juga.” Gumamnya. ‘Pantas saja Shanni begitu ketus menolakku keluar dari kuil. Tapi dalam perjanjian ini dia berkata akan mengijinkanku pergi, apa dia punya rencana lain seperti memantauku di Luoyang nantinya?’ tanya Anming dalam hati.
“Ayo.” Ujar Anming.
Maoyin dan Maoshan menatap Anming penuh teror. “Siapa? Kami?” ujar Maoyin.
“Kami gak ikut denganmu, kami akan pulang ke kuil.” Tambah Maoshan.
Rahang Anming menggantung “Tapi kukira kalian akan menemaniku.” Ujar Anming merasa di bohongi.
“Menemani ke rumahnya, bukan menemani ke dalam rumahnya.” Jawab Maoshan.
“Betul!” tambah Maoyin.
Anming membatin ‘Ah, berharap apa aku.’ Pikirnya. Ia lalu berdiri dan menghela nafas. “Baiklah, hanya perlu bebicara denganya, takut apa aku ini.” ujarnya.
Maoyin dan Maoshan mengangkat tangan kanan mereka yang dikepal, berusaha memberi semangat ke Anming. “Semangat Tuan Zhou.”
Anming merasa risih. “kalian tidak perlu memanggilku tuan Zhou, panggil saja kak Ming. Itu sapaan akrabku diantara teman dan keluargaku.” Ujarnya.
Maoyin dan Maoshan berbinar senang. “Baik kak Ming.” Ujar mereka kompak.
“Aku pergi dulu, terimakasih sudah mengantarku.” Ujar Anming. Ia berjalan pergi dan kedua anak siluman kucing itu menyorakinya.
“Baik!” “Semangat kak Ming!” sorak mereka dengan kompak.
\~\~**\~\~
Anming tersenyum lemah menatap mereka dan lalu menatap pintu rumah itu dengan gugup. ‘Walau aku bilang aku gak takut, tapi hatiku terasa deg – degan sekali.’ Ucapnya dalam hati. ‘Ini mengingatkanku pada saat pertama kali berperang.’
Ia ingat bagaimana ia mengibas tombak goloknya dan membunuh 2 orang prajurit musuh secara bersamaan. ‘Itu juga pertama kalinya aku membunuh orang dan rasanya aku telah merobek hati keluarga mereka di rumah.’ Gumam Anming dalam hati. ‘Bukan pengalaman yang baik tapi juga bukan pengalaman yang buruk. Tidak ada Zhou Anming si Jendral yang kuat kalau di hari itu ia tidak turun dalam medan perang.’
Beberapa menit berjalan, akhirnya ia sampai di depan pintu kediaman Hong. Ia lalu mengetuk pintu itu sebanyak 3 kali tapi tidak ada jawaban. Baru ketika ia mengetuk pintu lagi, seorang wanita tua menjawab dari dalam.
“Ya sebentar!”
Anming diam. ‘Duh, deg-degan!’ serunya dalam hati.
Tidak lama seorang wanita tua berambut oranye dengan sepasang telinga harimau membuka pintu. Ia memakai hanfu berbahan sutera yang baik dengan jubah berbulu yang hangat. Ia menatap kaki Anming pertama kali dan lalu menatap wajah Anming. Matanya membelalak dan Anming tersenyum lembut.
“Maaf mengganggu anda nyonya, saya Zhou Anming dari kuil Jinlong, saya ingin bertemu dengan tuan Honghu apa beliau ada?” tanyanya.
Wanita tua itu masih terus menatap wajah Anming. Tapi tiba – tiba ia meneteskan air mata. Anming melihatnya langsung panik dan menjadi gagap.
“N-nyonya! Kenapa anda malah menangis?” ujar Anming. ‘A-Apa aku salah bicara? A-Aku harus apa ini? Aku harus apa? Bagaimana cara menenangkan wanita yang menangis?? Membelikanya layang – layang? Engga! duh jangan samakan adik perempuanmu dengan wanita dewasa apalagi siluman!’ Seru Anming dalam hati.
Tapi kemudian wanita tua itu memeluk Anming. “Honghui, kemana saja kamu? kenapa kamu baru pulang ke rumah sekarang?” ujar wanita itu dengan isak tangis.
Anming membatu di tempat. ‘Ho-Hong Hui? HongHui siapa????’ tanya Anming dalam hati. Wanita tua itu lalu melepaskan pelukan dan tanpa angin dan hujan langsung menjewer telinga Anming dengan kuat dan meneriakinya.
“ANAK NAKAL! KENAPA KAU BARU PULANG SEKARANG HAH??”
Anming memekik kencang “Aaaaah!!! Aku salah apa???” pekiknya.
Wanita tua itu lalu meneyeret Anming tanpa ampun sambil mengomelinya. “Kami mencarimu kemana – mana selama 18 tahun! bagaimana bisa kamu baru ingat ayah dan ibumu setelah kau jadi lebih tinggi? Kau kira aku tidak akan langsung mengenalimu apa?” omelnya.
“Ampun! Ampun! Aku bahkan gak mengenal anda!!” sahut Anming sambil menangis. “Aku Zhou Anming yang tinggal di kuil Jinlong!!!”
\~\~**\~\~
Tuan Honghu yang sedang menikmati teh hangatnya di depan halaman latihan, menghela nafas lega. Ia tersenyum menatap langit yang cerah tanpa awan, tapi kemudian mendengar suara teriakan isterinya.
“Anak nakal ini masih mau mengelak?! Tunggu sampai ayahmu tahu, kau akan dihukum!” teriak isterinya itu.
Isterinya yang menjewer sambil menyeret Anming pun sampai ke hadapan suaminya. Ia melepaskan jeweranya pada Anming dan pria muda itu langsung berlutut di lantai sambil memegangi telinganya yang merah.
“Honghu! Lihat puteramu yang nakal ini! Dia baru pulang setelah 18 tahun pergi dan bahkan lupa padaku!” omel isterinya.
Anming menatap wanita tua itu. “Anda salah orang Nyonya! Aku bukan puteramu, dan namaku Zhou Anming bukan Honghui!” sahutnya.
Wanita itu semakin marah dan memukul kepala Anming dengan cepat. “Tuhkan! Kau benar – benar anak jahat! Gak tahu diri! Gak berbakti!!!” teriaknya.
Anming juga ikut berteriak karena kesakitan. “Aaaah!! kenapa malah jadi aku yang dipukul??!!” teriaknya.
Honghu agak gagap melihat kejadian itu dan menhan tangan isterinya. “Te-tenanglah sayang, ja-jangan dipukul lagi.” Ujarnya.
Bukanya dapat sambutan manis, malah Honghu ikut di tampar oleh isterinya sampai pipinya merah dan bercetak tangan. “Suami jahat! Anak gak nurut bukanya di hukum malah dibela!” omel isterinya itu.
Honghu ikutan berlutut bersama Anming dengan ekspresi shok. Ia memegangi pipinya yang bekas di tampar dengan wajah yang pucat. Anming menatapnya penuh teror ‘Lah, bahkan suaminya saja gak berdaya di depan isterinya?’ ucap Anming dalam hati.
“Dasar orang – orang jahat!! Malam ini gak ada makan malam buat kalian berdua!” Teriak isterinya sambil menahan airmata. Tapi pada akhirnya ia terisak nangis dan lalu berlari pergi. Honghu berdiri.
“Sayangku ..” rayu Honghu pada isterinya, tapi dia tetap berlari pergi.
Anming ikut berdiri sambil memegangi telinganya yang merah.
“Haduh…” gerutu Honghu sambil menggelengkan kepala.
“Anu …” ujar Anming.
Honghu langsung menatap Anming. “Apa isteriku yang menyeretmu dari kota sampai kesini?” tanyanya.
Anming terpingkal bingung “Engga—?” jawabnya dengan nada menggantung di akhir.
Honghu menghela nafas lega. “Oh syukurlah,” jawabnya, “tapi ada apa kau datang ke rumahku? Apa nona Li butuh sesuatu?”
Honghu duduk di kursi santainya dan mempersilahkan Anming juga duduk di kursi sebelah meja teh. Anming masih menggosok telinganya yang merah bekas di jewer. ‘Paling tidak minta maaf atas perlakuan isterimu padaku kek.’ Gerutu Anming dalam hati.
“Ah ya, soal itu, bukan Shanni yang menyuruhku, tapi aku sendiri ada keperluan dengan anda.” Jawab Anming.
Honghu menuangkan teh ke cangkir baru untuk Anming. “Ada apa?” tanyanya.
“Tuan Honghu, aku mungkin tidak mengenalmu tapi aku mendengar dari yang lain kalau anda adalah pelatih terbaik di kota ini. Untuk itu, aku ingin anda menerimaku sebagai muridmu dan membantuku mengendalikan kekuatan silumanku.” Jawab Anming.
Honghu terhenyak dan teh yang ia tuang di cangkir penuh. Anming tentu melihatnya dan merasa tersindir. (Tuan rumah yang menuangkan teh dalam cangkir untuk tamu sampai penuh, memiliki arti kalau tuan rumah mengusir tamunya secara halus)
“Aku tidak mampu untuk melatihmu nak, sebaiknya kau mencari guru lain.” ujar Honghu.
Anming berlutut dihadapan Honghu. “Bagiku tidak ada guru lain yang cocok untuk melatihku selain anda.” Ujarnya.
Honghu mengkerutkan kening. “Aku sudah tua dan aku tidak bisa mengajar bela diri lagi, sebaiknya kau pergi mencari guru lain atau muridku di tembok kota.” Katanya.
Anming diam dan masih berlutut. Honghu yang melihat Anming bersikeras pun berdiri.
“Pergi sekarang, aku menolakmu.” Ujarnya. Kali ini ia menolak Anming dengan terang – terangan dan juga keras.
“Aku tidak akan pergi sebelum anda menerima saya menjadi murid anda.” Jawab Anming.
“kalau begitu berlutut disana selamanya, aku tidak akan pernah menerimamu.” Balas Honghu.
Honghu berjalan pergi, tapi didepanya malah ada isterinya yang datang membawa sepiring kue Lotus. Suasana hening sesaat dan Anming memasang ekspresi shoknya. ‘Oh ..’ gumam Anming dalam hati.
Isterinya menjatuhkan piring dan lalu menampar suaminya sambil berteriak. “SUAMI JAHAT!! BAGAIMANA BISA KAU MENGUSIR PUTERAMU SENDIRI?!” teriaknya. Honghu melindungi kepalanya dari pukulan bertubi – tubi isterinya.
“Tenanglah sayang!” ujar Honghu berusaha menenangkan isterinya.
“Kau Gila?! Bagaimana aku bisa tenang saat aku melihat kau mengusir puteraku?!” teriaknya. “18 tahun aku menunggunya pulang dan setelah dia pulang kau seenaknya ingin mengusirnya dari rumah kita?!”
Honghu menahan kedua tangan isterinya dan membalas dengan penuh emosi. “Sui! Honghui kita sudah meninggal!” katanya.
Ucapan Honghu itu membuat Anming dan isterinya membelalak kaget.
‘M-meninggal?’ pikir Anming.
Mata isterinya berkaca – kaca dan emosinya melunak. “Siapa? Honghui belum meninggal.” Ujarnya. Ia melepaskan tanganya dari cengkraman Honghu dan lalu berlutut di lantai memungut kue – kue lotus yang ia jatuhkan sebelum memukul suaminya. “Honghui belum meninggal, dia sudah pulang, aku membawa kue kesukaanya.” Gumamnya.
Honghu diam dengan mata berkaca – kaca, dan ia mengepalkan tanganya.
“Terima kenyataan itu Sui, Honghui Sudah meninggal 18 tahun lalu.” Kata Honghu dengan suara lirih. Ia menginjak salah satu kue lotus buatan isterinya dan lalu berjalan pergi.
Sui nama isterinya, dia diam ketika melihat kue yang diinjak itu. Ia ikut memungutnya dan memeluknya sambil menangis. “Kau suami bodoh! Honghui-ku belum meninggal!” gumamnya. “Dia masih hidup, dia sudah pulang, dia pulang kerumah.”
Anming yang merasa tidak enak membantu Sui berdiri dan membantunya duduk di kursi. “Honghuiku belum meninggal …” gumam Sui sambil menangis. Anming sebenarnya antara panik dan tidak tahu harus berbuat apa.
“Nyonya, tolong kuatkan hatimu.” Kata Anming. ‘A-Aku gak tahu harus berkata apa, mungkin hanya itu saja yang bisa ku katakan.’
Sui menatap Anming dan lalu menyentuh pipinya. Ia mengelusnya dengan lembut dan menangis “Lihatlah, Honghui-ku sudah pulang, dia ada di depanku.” Ujarnya. Anming diam, dia ingin membantah ucapan wanita itu, tapi dia sendiri merasa tidak enak harus berkata jujur.
“Kau jadi tinggi dan tampan sekali seperti ayahmu. Benarkan? Sudahku bilang kau akan lebih mirip ayahmu dibanding aku.” Ujarnya. Tapi kemudian ia menangis lagi dan memeluk Anming. “Kau meninggalkanku begitu lama, tolong jangan pergi lagi. jangan pergi lagi dariku.”
Anming membatu ‘I-Ini gimana? Aku harus gimana???’ pikirnya gagap.
Sui melepaskan pelukanya dan mengelus kepala Anming. “Kau jangan khawatir, ibu akan bicara pada ayahmu jadi kamu gak akan diusir olehnya. Kau tetap disini ya? jangan pergi lagi.” ujarnya. Sui lalu berjalan pergi dan Anming kaku di tempat karena gak tahu harus berbuat apa.
‘I-Ini aku harus gimana????’ Serunya dalam hati. Ia berjongkok di lantai dan baru sadar akan sesuatu. ‘Tunggu, aku bisa memanfaatkan ini untuk membuat tuan Honghu menerimaku sebagai muridnya.’ Pikirnya.
Tapi kemudian ia teringat oleh wajah Sui yang menangis ‘T-tapi bagaimana aku bisa memanfaatkan hati seorang Ibu? ARGH!!!’ seru Anming dalam hati.