
*Gasp!*
Anming membelalakkan matanya dan melihat langit – langit bangunan yang terbuat dari batu granit. Ia duduk di atas tempat tidur beralaskan kulit hewan dan tubuhnya diselimuti oleh selimut bulu yang tebal.
“Dimana?” ujarnya tanpa sadar.
Ia bisa mencium bau obat yang lembut dan suara percikan api dari perapian batu.
“Kuil Jinlong.” Jawab seorang wanita.
Anming menoleh dengan cepat dan melihat seorang wanita muda berpakaian serba putih sedang membawa kendi. Wanita itu juga memakai kerudung panjang berwarna putih yang menutupi seluruh rambutnya.
“Siapa kamu?” tanya anming.
Sekejap ia merasakan dadanya terasa dingin dan ia melihat dada bidangnya terbuka. Ia reflek menutup dadanya dengan tangan karena malu.
‘Bisa – bisanya, ini memalukan aku bisa disangka berbuat tidak senonoh kepadanya.’ Pikirnya.
“Pemilik kuil, panggil saja Shanni.” Katanya, “aku yang menemukanmu diantara tumpukan tulang manusia di negeri Meng.”
Anming membelalak kaget. “Negeri Meng?! Tidak tunggu, aku harusnya kan ...”
“Mati?” Potong Shanni.
“???” Anming terpaku.
“Memang benar. Lagipula manusia mana yang bisa bertahan hidup setelah dimakan harimau?” Kata Shanni.
Anming berkedip beberapa kali. ‘Itu ...’ Pikirnya.
Shanni menaruh kendi di samping alas tempat tidur anming dan berlutut dengan sopan. “Takdirmu lebih buruk dari kematian di medan perang. Bekali – kali di siksa tapi kamu masih bisa bangkit, bahkan ketika mereka mulai mengoyak dagingmu kamu juga masih hidup.” Ujarnya, “Dan sekarang kau malah berakhir menjadi siluman.”
Anming mengkerutkan alis. “Maksudnya?”
“Kau sekarang adalah Siluman Harimau.” Jawab shanni.
Anming mulai merasa tersindir. “Kau terus berkata bahwa aku ini siluman dan itu sungguh tidak sopan.” Serunya. ‘Untung kamu wanita dan menyelamatkanku jadi ku ampuni.’
Shanni tidak berekspresi apapun dan hanya menatap anming dengan sepasang bola matanya yang berwana hijau seperti permata jade. Itu membuat anming merasa aneh. ‘Bo-bola matanya, warnanya aneh.’ Pikirnya.
“Suka atau tidak, memang itu kenyataanya. Tapi berkatnya kamu masih bisa hidup sekarang.” ujar shanni. Ia menatap anming dari ujung kepala hingga kaki. “walau bukan sebagai manusia lagi.”
Anming tercengang atas ucapan shanni, tapi wanita itu berdiri dan berjalan pergi.
“Kendi itu berisi nektar dari taman kahyangan, 1 suap bisa membuatmu kenyang selama 1 hari penuh tanpa daging.” ujarnya. “Lagipula siapa juga yang mau kamu memakan orang – orangku disini.”
Anming menyipitkan sebelah matanya. “HAH?” ujarnya.
Rumbai manik – manik gantung bergoyang di pintu setelah Shanni pergi. Anming masih bingung dengan ucapan Shanni jadi ia menatap isi kendi yang berisi madu keemasan.
“Siluman? aku? Gak salah tuh?” gumamnya.
Ia lalu berdiri dan berjalan melewati kaca full body. Dari pantulan kaca, ia melihat pantulan dirinya yang sangat berbeda dari apa yang ia ingat tentang dirinya. Matanya membelalak kaget.
“Hah...?” ujarnya.
Ia mendekat ke cermin full body itu dan menatap kulit wajahnya yang kelihatan putih pucat, rambut panjangnya yang berwarna putih keperakan, dan kuku jarinya yang hitam dan lancip. Namun yang paling parah adalah sepasang bola mata pipih seperti kucing berwarna biru terang dan juga sepasang telinga harimau di kepalanya.
“APA YANG TERJADI???!!!” pekiknya.
\~\~\~\~****\~\~\~\~
Shanni memasuki ruangan baca dan mengabaikan teriakan anming yang menggelegar itu.
“Aih... nona Shanni, seharusnya anda menjelaskan anak muda itu dengan lebih detail. Kasihan sekali dia, masih sangat awam dengan dunia kita.” Ujar seorang pria tua yang duduk di kursi minum teh.
“Kalau memang dia ingin tahu, dia akan mencariku.” Jawab Shanni.
\~\~**\~\~
Disisi lain, Anming terus menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya kelihatan
sangat shok dan juga tidak percaya.
\~\~**\~\~
Shanni kembali menatap Taoshu dengan tenang. “Lagipula dia butuh waktu untuk bisa terbiasa dan menerima dirinya yang sekarang.” lanjutnya.
Pagi menjelang dan burung bernyanyi diluar kamar Anming yang sepi.
“Hari ke 2 setelah aku bangun di kuil Jinlong aku habiskan berdiam di dalam kamarku dengan perasaan berkecambuk.” “Ini masih menjadi pertanyaanku, kenapa penampilanku berubah? Rambutku memutih, mataku aneh, dan kukuku tetap lancip walau aku sudah memotongnya berkali – kali. Lalu parahnya, muncul sepasang telinga baru di kepalaku.” “apa ini semacam hukuman karena aku sering menguping gossip di kedai?”
Anming mengambil sisir yang ada diatas lemari dan menyisir rambut putihnya selembut mungkin. Tapi tiba – tiba saja sisir tersebut patah, ia tidak kaget tapi dia kelihatan menyesal telah merusaknya.
“Beberapa benda yang ku pegang tanpa sengaja patah, walau memang ini bukan pertama kalinya sih.” “Tapi rasanya kekuatan superku bertambah!” “Padahal sebelum – sebelumnya tidak pernah sampai segininya.”
Anming menyingkirkan sisir itu ke pinggir alas tidurnya dan mengambil kendi berisi madu yang kemarin Shanni berikan. Ia mencolek isinya dengan jari telunjuk lalu mengemutnya sambil termenung.
“Madu yang shanni berikan juga aneh. Entah kenapa aku tidak merasa lapar setelah memakanya.”
Anming lalu berdiri dan mengambil jubah bulu putih yang di gantung di tiang dan memakainya di bahu. Ia berjalan keluar dari ruanganya dan menatap hamparan salju putih menghiasi halaman depan kamarnya. Hari itu tidak ada badai salju dan langit kelihatan sedikit lebih cerah.
“Kuil Jin Long,” gumam Anming, “aku gak pernah mendengar nama kuil ini sebelumnya, apa ini bagian dari Zhou? Atau bagian dari Meng?.” Wajah anming berubah lesu. “Ohya ... aku telah gagal mempertahankan Camp Utara Zhou. Wilayah Tiananmen dan Bing’an pasti sudah di curi oleh negara Meng.”
Anming kembali termenung.
“Sudah berapa lama ya aku ada di kuil ini?”
~*~
“Baobao! Berhentilah berlari dan ayo cepat pulang!” panggil seorang anak perempuan.
Mata anming bergerak kekiri, dan dari kejauhan 100 meter dia bisa melihat seorang anak perempuan bertelinga kelinci putih yang berlari ke arah halaman dengan sangat jelas. Anming sangat kaget dengan apa yang bisa ia lakukan tadi.
“apa ini? mataku kok jadi aneh?!” gumam Anming.
Tidak lama, di depan anming ada anak laki – laki bertelinga kelinci putih yang berlari dengan girang sekali.
“Gak mau! aku masih mau bermain!” teriak anak laki – laki itu.
Anming berjalan kedepan dan menginjakkan kakinya diatas salju tanpa alas kaki. Seketika bulu kuduknya berdiri karena dingin.
“DINGIN!” batinya shok.
“WAA! ada harimau!” teriak si anak laki – laki.
Anming mengangkat pandanganya dan melihat anak laki – laki itu menatapnya penuh kehororan. Si anak perempuan langsung menarik adiknya pergi.
“Tuh kan! ayo cepat pergi!!” seru si anak perempuan.
Anming hanya bisa diam dan menoleh sepenjuru arah. Tidak ada siapapun disana selain dia seorang. Ia lalu termenung berusaha mencerna sebutan apa yang anak laki – laki itu serukan.
“Harimau? Aku?” gumamnya.
Anming langsung menatap kedua tanganya yang berkuku hitam.
“Kenapa anak itu menatapku sambil menyebutku begitu?” “Apa benar yang Shanni katakan? Aku Siluman Harimau?”