Reborn To Tiger Demon

Reborn To Tiger Demon
Pergi Ke Medan Perang



“Pangeran keempat telah tiba!” teriak kasim dengan lantang.


10 prajurit yang memakai armor silver, berdiri tegap mengangkat tombak mereka. Lalu datanglah seorang pangeran dengan baju zirah silver menghadap Kaisar dan Ibu ratu di dalam ruangan yang megah itu.


Di setiap sisi ruangan, ada banyak sekali orang dari berbagai kalangan usia. Namun yang paling dominan adalah para puteri kaisar yang berjumlah 43 anak dan seorang anak laki – laki yang rambutnya di konde rapih.


Pangeran berbaju zirah itu kemudian berlutut di hadapan kaisar dan memberi laporan terakhirnya. “Lapor yang mulia, hamba, akan segera berangkat ke Utara, dengan ini meminta doa  restu Kaisar dan Ibu ratu agar dapat membawa kemenangan untuk Zhou.” Katanya dengan lantang.


Kaisar yang sudah tua, kelihatan penuh percaya diri. “Doa restu kami akan selalu menyertaimu nak, semoga kamu dapat membawa kemenangan untuk Zhou dan pulang dengan selamat.”


Sang pangeran tersenyum senang dan mengangkat kepalanya, tampak jelas matanya yang berbinar penuh semangat. Hingga tiba – tiba saja, ia langsung dihujani oleh pelukan dari adik – adik perempuanya.


“Waa!! Kak Anming!” rengek mereka semua.


Anming nama sang pangeran, ia sampai terjatuh ke lantai karena pelukan dari 43 orang adik perempuannya tersebut. Pegawai istana, pejabat istana, dan prajurit istana tersenyum manis melihat kelakuan mereka.


Tapi Ibu Ratu yang memiliki sifat sangat kaku, melototi ke 43 anak tirinya karena bertingkah tidak profesional dalam acara yang formal. Tapi mereka tidak mempedulikan sang ratu tua, dan masih  memeluk Anming sambil merengek, mengutarakan ketidak setujuan mereka terhadap Anming yang akan pergi ke utara.


“Kak, kumohon jangan pergi, orang – orang utara itu, mereka orang yang keji dan kasar!” rengek adik yang paling kecil.


“Iya, bagaimana kalau kakak kenapa – kenapa? bagaimana kalau kakak terbunuh?” regek adik yang lainya.


“Benar! nanti siapa yang akan bermain layang – layang bersama kami? Hiks …” rengek adik yang lainya lagi.


Anming tertawa dan berusaha sebaik mungkin untuk mengelus kepala mereka ber-43 secepat kilat. “Jangan khawatir, aku pasti akan kembali dan pada saat itu tiba, kita akan bermain layang – layang di taman istana seperti biasanya.” Katanya.


Ibu Ratu menggosok kening, “anak – anak, kapan kalian akan bersikap dewasa, padahal sebagaian besar dari kalian sudah mau berkeluarga.” Ujarnya.


Kaisar mendengus dan memenangkan ratunya, “tenanglah ratu, masyarakat Zhou juga sudah tahu betapa harmonisnya hubungan antara anak – anak kita. Wajar jika mereka tidak bisa membatasi diri untuk memeluk kakak kesayangan mereka.”


Ibu ratu menghela nafas “baiklah, kalau anda yang berkata seperti itu.” Jawabnya.


Setelah beberapa saat menenangkan adik – adiknya, akhirnya Anming bisa lepas. Ia lalu menghampiri adik laki – lakinya yang berusia 11 tahun dan merapihkan kerah baju mewahnya dengan sulaman burung bangau. “Xijiang, aku akan pergi cukup lama, jadi jangan terlibat dalam masalah karena aku tidak bisa membantumu.” Ujarnya.


Xijiang si adik kandung Anming, ia menyilangkan kedua tangannya sambil memalingkan wajah. “Huh? siapa juga yang akan terlibat masalah setelah kau pergi?” katanya.


Anming tersenyum lemah, ‘semenjak ibu pergi, aku berusaha untuk merawat Xijiang, tapi aku malah jadi memanjakannya dan tanpa sadar membuatnya menjadi anak yang nakal.’


Anming menggosok kepala Xijiang dan berdiri “awas saja kalau saat pulang, aku mendengar kamu terlibat masalah.” Katanya.


“Aku kan sudah bilang, aku tidak akan terlibat dalam masalah!” omel Xijiang yang hampir menangis. “Justru kalau kakak gak kembali, aku akan—, aku akan— Huaaaaa!!!”


Anming tersenyum pilu melihat adiknya yang menangis. “Jangan khawatir, aku pasti akan kembali.” katanya ‘aku pasti akan kembali untukmu, untuk kalian semua, dan untuk melingungi negara ini.’


“Pangeran keempat, akan segera berangkat!” teriak kasim.


Anming berdiri dan berjalan keluar dengan gagah dari dalam ruang utama. Di hadapanya, berjejer 200 pasukan yang akan dia pimpin menuju camp Utara. Diantara ratusan prajurit itu, ada beberapa jenderal pangkat rendah yang bertugas dibawah perintah Anming.


Yunjin sang jenderal yang masih muda, melihat Anming baru keluar dari ruang utama istana. Ia mengangkat tinggi tangan kananya untuk melambai dan memekik “Yo, jenderal Ming! Kalau gak buru – buru camp utara keburu di renggut loh!” teriak Yunjin dari kuda hitam kebanggaanya.


Zhangmiao yang ada di sebelah kiri Yunjin langsung meneriaki-nya karena tidak sopan “bocah ini! sopan sedikit!” teriaknya. Zhangmiao lebih tua 10 tahun dari Yunjin dan mereka tidak pernah akur.


“Oh ayolah jenderal Zhang, aku tidak suka formalitas, jenderal kita kan juga tida suka formalitas berlebih.” kata Yunjin.


Zhangmiao memukul bahu Yunjin dengan busurnya “junior bodoh! bukan berarti kamu bisa gak sopan begitu di acara formal begini! Akan ku pukul kepalamu dengan busur ini! huft! Rasakan! rasakan!”


“Eh— ampun, ampun!” sahut Yunjin menangkis pukulan busur Zhangluo.


Anming yang melihat kelakuan dua jenderal bawahanya menggelengkan kepala. “Ya … aku sudah terbiasa melihat Yunjin di pukuli oleh jenderal Zhang hahaha…” gumam Anming dalam hati.


Ia pun berjalan cepat dan menaiki kuda putihnya yang di pakaikan baju besi. “Sudah, sudah, Yunjin benar, kalau kita tidak cepat berangkat, camp utara akan di renggut oleh Negeri Meng.” Katanya.


Yunjin tersenyum lebar karena merasa di bela, tapi Zhangmiao tidak terima. “Tuanku, maaf menyela, aku tahu ucapan Yunjin benar, tapi anak nakal ini paling tidak harus di hukum atas ketidak sopananya.” Ujarnya sambil memberi Yunjin tatapan membunuh.


“tentu saja aku akan menghukumnya, tapi sebelum itu terjadi kita harus sampai dulu di camp.” Jawab Anming.


Yunjin menjulurkan lidah ke arah Zhangmiao yang memendam rasa kesalnya kepada anak muda itu.




Berminggu – minggu melewati hutan, padang rumput, dan desa, akhirnya mereka sudah sampai di wilayah Utara yang Dingin, tapi tidak bersalju. Besok mereka hanya tinggal melewati kota terbengkalai dan akhirnya sampai di Camp Utara, lokasi tujuan mereka.



Malam menjelang, Anming melempar sepotong ranting ke perapian sederhana sedangkan prajruit lainya ada yang beristirahat dan ada juga yang berjaga. Zhangmiao tidur sambil menyender pohon sedangkan Yunjin berbaring di atas tanah dikelilingi oleh bunga sehingga ia terlihat seperti orang mati.



Baru ketika Anming menambah beberapa ranting, Yunjin terbangun. Ia agak bingung kenapa dia tidur dikelilingi bunga. Tapi dia tahu ini kerjaan Zhangmiao dan prajurit lainya sehingga ia balik mengisengi mereka dengan mencoret wajah mereka menggunakan tanah.



Anming yang melihat kelakuan jenderalnya itu tersenyum lemah. “Yunjin, kau memang suka mengerjai orang ya?” ujarnya.



Yunjin tersenyum iblis. “Hoho .. prinsipku adalah mengerjai semua orang di sekitarku.” Jawabnya. Anming mendengus sambil menggelengkan kepala. Dia juga sering di kerjai oleh Yunjin dan anehnya pria yang seumuran denganya itu tidak pernah kapok dihukum.



Setelah selesai, Yunjin mendekati Anming dan duduk di depanya. “Jadi jenderalku yang tampan, kenapa masih belum istirahat?” Tanyanya. Ia memberi Anming tatapan genit. “Oh tunggu, jangan bilang kamu gak bisa tidur karena memikirkan Aku?”



Anming mengernyit kesal. “Bisa gak sih bercandanya jangan kelewatan begitu?” tegurnya. Yunjin tertawa puas melihat ekspresi kesal Anming. Baginya ekspresi kesal Anming adalah sesuatu yang tidak bisa dibayar dengan uang.



Anming menghela nafas sabar. “Aku hanya gak bisa tidur, itu saja.” Jawabnya. “Akhir – akhir ini aku kepikiran tentang kapan perang antara 2 negara ini akan berakhir.”



Atmosfir diantara mereka tiba – tiba berubah menjadi serius



“Gak akan pernah berakhir menurutku.” Balas Yunjin.



Anming menatap Yunjin. “Kenapa begitu?”



Yunjin mengembang senyum. “Selama Raja Ming dan Raja Zhou memiliki ambisi untuk menguasai wilayah milik orang lain, peperangan tidak akan pernah usai.” Jawabnya. “Tapi ngomong – ngomong, besok kita akan melewati reruntuhan kota Tiananmen. Kamu pernah dengar cerita tentang reruntuhan angker itu?”



Anming tersenyum lemah. “Itu hanya legenda Yunjin, kau benar – benar suka mengalihkan pembicaraan ke hal yang aneh ya?”



Yunjin mengibas tanganya keatas seperti anak kecil. “Itu bukan legenda! Itu serius! aku gak lagi membual loh!!” Jawabnya.



Anming tertawa. “Haha .. Terus kau mau apa? kota itu terlalu luas dan butuh waktu setengah hari kalau kita ingin memutarinya, mau gak mau kita melewati reruntuhan yang kau bilang angker itu.” Katanya.



Wajah Yujin berubah cemberut seperti anak kecil.



Lalu datanglah Zhangmiao yang wajahnya cemong oleh tanah\. Pria berusia 30 tahun itu  berjongkok di belakang Yunjin dengan mata melotot\. “Anak \*%^@\*Q” Bisiknya di telinga Yunjin\.



“AH!” Teriak Yunjin karena kaget.



~~~~••••~~~~



Keesokan harinya, diwaktu pagi – pagi buta, mereka semua berangkat Setelah berjam – jam melakukan perjalanan, akhirnya mereka sampai di kota Tiananmen.



Itu adalah pertama kalinya Anming disana. Tumpukan tulang – belulang manusia bertebaran di sepanjang jalan. Beberapa rusak termakan oleh usia dan cuaca yang ekstrim. Tapi memang benar, suasana disana lebih seram dari apa yang dia pikirkan.



Yunjin kelihatan tidak berhenti melihat kiri dan kananya, sedangkan Zhangmiao dan prajruitnya kelihatan sangat tidak nyaman. “Ini pertama kalinya aku kesini, aku gak menyangka akan semengerikan ini.” Kata Zhangmiao tiba - tiba.



Yunjin tersenyum jahil. “Eh Jenderal Zhang takut ya?” candanya.



Zhangmiao mengomel “Si-siapa bilang aku takut?!” Teriaknya.



Anming tersenyum lemah. “Mereka gak pernah bisa akur ya?” Gumamnya.




“Biar aku saja, aku cukup tahu cerita horor dari reruntuhan ini.” Kata Anming. Zhangmiao dan Yunjin menatap pria itu. “Pernah ada perampok yang datang ke reruntuhan ini untuk mencuri perhiasan dan barang – barang peninggalan penduduknya. Tapi mereka mendapati berbagai kejanggalan seperti bertemu wanita yang memakai baju tipis duduk diatap rumah padahal sedang turun hujan salju, patung ular raksasa di reruntuhan kuil yang bisa mendesis, target panah yang bisa bergerak sendiri, sepasang mata yang bercahaya, dan masih banyak lagi.”



Salah satu prajurit kelihatan gugup sekali. “Se-seram.” Gumamnya.



“Wanita itu pasti arwah yang terkena penyakit Khusth di kota ini.” Sahut prajurit lain. “Kudengar kota ini dulunya adalah bagian dari negeri Meng. Karena suatu hal penduduknya menerima kutukan dari Dewi yang menyebabkan seluruh penduduknya terkena penyakit khusth.”



Yunjin tersenyum senang. “Wah, cerita yang ku dengar juga sama. Tapi yang paling menakutkanya lagi adalah karena sang dewi menurunkan kutukan kepada rakyatnya sendiri, penduduk kota membalasnya dengan membunuh para biksunya. Mereka lalu menuangkan darah para pengikut setianya tersebut di lantai kuil!”



Prajurit lain menatap Yunjin penuh ketakutan. “Hah? serius? I-itu itu serem banget.”



“Iya kan.” Sahut Yunjin.



Anming mendengus mendengar cerita Yunjin “kau tahu banyak ya soal reruntuhan ini” Ujarnya.



Yujin tersenyum lebar. “Tentu saja aku tahu banyak.”



Tepat setelah Yujin bilang begitu, Seorang penunggang kuda tiba – tiba muncul dari balik tembok di sebelah Anming. Semua reflek menolehkan kepala dan Zhangmiao melepaskan anak panah secepat yang ia bisa. Anak panah itu melesat ke perut kuda musuh dan membuat mereka terjatuh.



“LINDUNGI JENDRAL ZHOU!” Teriaknya.



Tapi perintah Zhangmiao terlambat karena prajurit negeri Meng keluar dari balik tembok reruntuhan menembakkan anak panah.



“AGH!!!” Teriak prajurit yang tertusuk anak panah musuh.



Anming menjatuhkan dirinya ke tanah bersalju dan menyerang musuh yang ada di dekatnya menggunakan tombak bergolok. Tapi Yunjin menusuk Anming dari belakang dengan pedangnya.



“Aku tahu banyak tentang tempat ini karena aku sudah melakukan survei.” Ujar Yunjin.



Zhangmiao yang melihat ajudan-nya ditusuk dari belakang membelalak kaget. “YUNJIN!!!!” Teriaknya. Ia mengangkat busur dan anak panahnya, tapi seorang pria muda dengan ikat kepala berlambang kepala serigala menembakkan anak panah ke kepala Zhangmiao.



Pria itu tewas dengan anak panah yang menembus keningnya. Anming yang sadar telah dikhianati menatap Yunjin dengan sinis.



“KAU?!” Ujarnya.



Yunjin mengibas pedangnya kesamping dan lalu menyarungkanya di pinggang. Seorang prajurit lalu menyelimuti punggung Yujin dengan jubah bulu serigala. “Lapor pangeran, musuh telah di eliminasi. Tidak ada satupun yang selamat.”



Anming membelalakkan mata. “Pangeran?” Gumamnya. Ia menatap wajah Yunjin dengan teliti, tapi tidak ada satupun bagian fisiknya yang mirip dengan prajurit Meng. Justru dia sangat mirip dengan orang – orang dari negara Zhou.



“Siapa kau sebenarnya?” geram Anming.



Yunjin mengangkat bahu. “Karena kau bertanya, akan ku jawab. Mengfu adalah nama asliku, dan aku adalah pangeran ke-11 dari Negeri Meng.” Katanya. “Batalion serigala adalah pasukan baru kami, dan tugas kami adalah menggunakan fisik kami yang mirip dengan orang Zhou untuk menyamar, lalu menjatuhkan kalian dari dalam.” Katanya.



Anming mengepalkan tangan. “Gak bisa dimaafkan.” Geramnya.



Anming bangkit dengan sisa tenaganya untuk memukul wajah Yunjin, yang ternyata bernama asli Mengfu. Tapi 5 prajurit Mengfu menusuk tubuh Anming dengan tombak mereka.



“Simpan tenagammu, ayahku ingin menyiksamu dulu sebelum dibunuh.” Kata Mengfu yang tersenyum sinis.



Tubuh Anming bersimbah darah, tapi anehnya dia masih bisa memberontak dan membuat prajurit Meng kewalahan dan harus menambah orang. Itu membuat Mengfu semakin tertarik denganya.



“Waw! Ternyata apa yang penduduk bilang soal kekuatan dan staminamu tidak di lebih – lebihkan. Kalau ku hitung, tubuhmu sudah di tusuk 6 kali, tapi masih bisa memberontak dan membuat prajuritku kewalahan.”



“Aku akan mengingatmu.” Geram Anming.



Mengfu tersenyum lebar. “Bawa dia dan jaga dia agar tidak kabur dan tetap hidup.” Katanya sambil membalikkan badan. “Kalau dia sampai mati apalagi kabur, kalianlah yang akan ku jadikan makanan harimau.”



“Baik!” Sahut prajurit Meng.



~~~~••••~~~~



“*Salah satu penyesalanku adalah aku terlalu mempercayai orang lain*”



~~



Tubuh Anming di dorong oleh seorang penjaga hingga terjungkal kedepan. Pengaja itu lalu menutup pintu dan menguncinya sambil mengutuk.



“Mati dengan penyesalan bedebah barat! Hahaha!”



Anming bangkit dengan kondisi luka lebam dan lecet, kedua tanganya juga diikat sangat kuat sampai lecet cukup parah.



“HAHAHAHAHA!!! Lihat bukan? Aku berhasil menangkap jenderal Zhou yang sangat kuat itu!” teriak raja Meng dari atas langit – langit terbuka. Raja Meng yang gendut,  menenggak minuman keras dan memakan buah anggur yang di suapi oleh selirnya yang masih muda.



Anming mengernyapkan mata ‘mataku perih karena keringat.’ Gumamnya.



Di luar jeruji besi, Anming melihat sosok Mengfu yang memandang ke arahnya dalam kegelapan. Melihat wajah musuh bebuyutanya itu, emosi menyeruak hati Anming.



“PENGHIANAT!” teriak Anming.



Ia berlari mengejar Mengfu, tapi di tengah jalan seekor harimau putih melompat ke arah Anming sambil mengaum. Anming menoleh dengan kaget dan matanya membelalak memantulkan kepala harimau itu.



~~~~••••~~~~



“*Apapun yang terjadi, aku harus kembali! aku harus kembali ke negeri Zhou*!”